Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!
Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!
Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?
Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OGMTM-02
Suasana tegang di lobi utama Mahardika Tower perlahan mencair begitu langkah kaki tegap sang CEO berlalu menuju lift khusus eksekutif. Hazel mengembuskan napas lega yang sempat tertahan. Setelah menyelesaikan sesi administrasi singkat di ruang HRD dan menerima seragam barunya atasan kemeja bernuansa krem dan celana kain gelap Hazel resmi melangkah menuju lantai dasar, tempat ruang pantry pusat berada.
Bau harum seduhan kopi hitam dan aroma pembersih lantai beraroma pinus menyambut Hazel begitu ia mendorong pintu kaca buram bertuliskan Staff Rest Area & Pantry. Di sana, tiga orang berseragam sama sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing.
"Permisi... Selamat pagi, Semuanya," sapa Hazel dengan nada ramah dan senyum manis yang mengembang penuh ketulusan.
Seorang wanita bertubuh jenjang dengan tatanan rambut tersanggul rapi menoleh lambat. Ia menatap Hazel dari ujung sepatu ketsnya yang sedikit kusam hingga ke wajah polosnya tanpa polesan make-up. Dialah Luna. Bukannya membalas sapaan, Luna justru melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan menilai yang dingin.
"Jadi kamu anak baru yang lolos lewat jalur darurat itu?" sahut Luna dengan nada angkuh. Ia menuangkan air panas ke dalam cangkirnya tanpa mengalihkan pandangan dari Hazel. "Posisimu di sini cuma gantiin OG yang resign mendadak. Jangan pikir karena kamu masih muda, kamu bisa santai-santai di sini. Kerja di Mahardika Group itu standarnya tinggi, bukan tempat main-main."
Belum sempat Hazel merespons sikap dingin Luna, seorang wanita lain berpipi sedikit chubby yang sedang memotong spons cuci piring ikut menyela dengan nada nyaring dan tanpa tedeng aling-aling.
"Halah, Lun, dipanjang-panjangin amat ngomongnya!" cetus Vita. Ia menunjuk Hazel menggunakan ujung pisau dapur tumpul yang dipegangnya, membuat Hazel spontan mundur satu langkah karena terkejut.
"Hei, Anak Baru! Namamu siapa? Kamu kelihatan kecil dan lembek banget begini, yakin sanggup ngangkat galon air ke lantai lima belas? Kalau cuma bisa nangis pas disuruh lembur, mending pulang aja dari sekarang deh daripada bikin repot!"
Hazel berkedip beberapa kali, terpaku oleh teguran blak-blakan Vita yang meluncur cepat bagaikan tembakan senapan mesin. Mentalnya sempat menciut sejenak. Namun, mengingat bayangan lembaran tagihan rumah sakit ibunya, Hazel menyerap sindiran itu sebagai lecutan semangat.
"Santai, Mbak-Mbak sekalian! Namaku Hazelia Verlita Putri, panggil saja Hazel," balas Hazel dengan kekehan kecil yang spontan keluar untuk mencairkan ketegangan. "Soal angkat galon, jangankan satu galon, Mbak saya angkat ke lantai lima belas juga saya sanggup kok kalau kepepet!"
Vita terperanjat mendengar selorohan Hazel, lalu terkekeh sembari menggelengkan kepala. Sementara Luna hanya mendesis pelan, merasa kepemimpinannya di *pantry* tidak mempan mengintimidasi budak baru tersebut.
"Sudah, sudah. Jangan ditakut-takuti begitu kasihan anak orang."
Sebuah suara berat memecah keheningan. Seorang pria muda berseragam rapi melangkah masuk dari pintu samping sembari membawa troli kebersihan. Wajahnya Tampan,dengan garis rahang tegas mata honey dan Alis yang tebal dipadu dengan senyuman tulus yang seketika menghembuskan rasa aman di hati Hazel.
"Kenalkan, saya Akbar, senior di divisi kebersihan ini," ucap pria itu sembari mengulurkan tangan yang disambut hangat oleh Hazel. "Jangan dimasukkan ke hati omongan Vita sama Luna, ya. Mereka sebenarnya baik, cuma ritme kerja di sini memang agak keras."
Akbar dengan sabar mulai membimbing Hazel. Pria itu menunjukkan letak penyimpanan bahan pembersih, membagikan jadwal piket per lantai, hingga menjelaskan tata cara menyajikan minuman untuk para manajer area. Sikap Akbar yang sangat perhatian dan cekatan membuat Hazel merasa tidak sendirian di tempat asing ini.
"Hari pertama ini kamu ikut saya dulu keliling area lobi dan lantai tiga," ujar Akbar seraya menyerahkan sebuah kain mikrofiber bersih pada Hazel. "Pegang ini. Senjata utama kita di sini adalah kebersihan dan kerapian."
Hazel menerima kain itu dengan penuh semangat. "Siap, Mas Akbar! Hazel siap bertugas!"
Beberapa jam berlalu, Hazel bekerja tanpa lelah. Dari mengelap kaca-kaca besar lobi hingga memastikan setiap sudut marmer mengilap tanpa noda. Semangat dan keramahan Hazel yang tak segan menyapa setiap staf yang lewat mulai menarik perhatian beberapa karyawan. Namun, di sudut ruangan, mata Luna terus mengawasi gerak-gerik Hazel dengan tatapan tak suka yang kian dalam.
Saat jam menunjukkan pukul dua siang, Akbar menghampiri Hazel yang baru saja selesai membersihkan koridor utama.
"Kerja bagus untuk hari pertama, Hazel," puji Akbar tulus. "Tapi ingat, ujian sebenarnya buat office girl di sini bukan cuma lantai lobi."
Hazel menaikkan sebelah alisnya bingung. "Hah??,Maksudnya gimana, Mas?"
Akbar mendekat dan berbisik pelan, matanya menatap ke arah lift eksekutif yang tertutup rapat. "Mulai besok, kamu dapat jadwal giliran membersihkan area lantai dua belaslantai khusus jajaran direksi dan ruang kerja Tuan Mahrup. Di sana, satu kebasatan kecil saja bisa bikin kamu dipecat tanpa pesangon."
"Mas jangan nakut nakutin deh"