Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.
Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.
Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Di kediamannya, Zavran sedang duduk mematung di tepi kolam dengan secangkir kopi.
Ayahnya baru saja keluar dari kamar. Melihat sang putra duduk di luar, ia pun melangkah mendekat lalu duduk di sebelah Zavran.
"Zavran..." panggil Ayahnya pelan.
"Iya, Yah."
"Soal usulan perjodohan yang Ayah bilang kemarin... apakah kamu sudah benar-benar yakin, Nak?"
Zavran menghela napas panjang, lalu menoleh menatap sang ayah. "Kalau Ayah yakin dia wanita baik-baik... Zavran terima, Yah."
Ayahnya menatap lekat putranya. "Kamu tidak merasa terpaksa, kan? Ayah tidak mau kamu mengorbankan perasaanmu sendiri."
Zavran menggeleng pelan. "Saat ini fokus paling penting bagi Zavran cuma kesembuhan dan kebahagiaan Devan, Yah. Zavran akan berusaha sebaik mungkin untuk belajar mencintai dan menghormatinya sebagai istri."
Ia memajukan tubuhnya. "Dua hari lagi kita kan sudah harus terbang pulang ke Indonesia. Kita temui keluarganya langsung...dan urus segala keperluan untuk pernikahan kita."
Ayahnya menghela napas haru. "Jodoh dan takdir memang Allah yang menentukan, Zav. Semoga kamu memang berjodoh dengannya dan bisa menjadi istri serta ibu yang baik untuk kamu dan Devan."
Namun, sang ayah menahan jemari Zavran, menatapnya penuh arti. "Tapi sebelum ayah memberi kabar kepastian ini ke teman ayah, Ayah mau tanya secara jujur... Kamu benar-benar tidak sedang menyimpan calon lain kan? Atau masih menunggu Bella? Atau... wanita yang menolong kamu kemarin?"
Zavran tersenyum tipis. "Tidak ada, Yah. Bella sendiri yang memutuskan pertunangan kita. Dan... wanita yang menolong Zavran kemarin, dia kelihatan masih sangat muda. Zavran tidak mau membebaninya dengan kehidupan rumah tangga dan hidup bersama pria seperti Zavran."
Papanya mengusap bahu Zavran. "Kamu pria yang bertanggung jawab, Nak. Allah pasti punya jalan terbaik."
Tepat saat itu, langkah kaki kecil berlari ke arah Zavran. Devan baru saja pulang dari sekolah, diantar oleh Leo. Anak kecil itu langsung menubrukkan tubuhnya ke pangkuan Zavran seraya memeluk erat boneka rajut dari Aisha.
Zavran berlutut di hadapan Devan, mencium kening putranya hangat. "Yey...,anak papa sudah pulang...Kamu masih membawa boneka ini? Kamu sangat menyukainya?"
Devan mengangguk pelan, jemari kecilnya meremas telinga boneka itu. "I-iya, Pa... P-punya... Ma... Mama..."
"Oh iya, Mama yang kasih ya. Kalau begitu, kamu ingin segera melihat Mama?"
Devan mengangguk cepat. "M-mau... Ma... Mama..."
"Iya, Nak... Kita akan segera bertemu Mama. Semoga kamu suka sama calon Mama kamu nanti," tutur Zavran lembut.
Ia lalu memegang bahu Devan. "Dua hari lagi Papa sama Opa mau pergi sebentar ke Indonesia untuk menjemput mama dan menetap di sana sekitar satu minggu. Devan di sini dulu sama Paman Leo, ya? Jangan nakal."
"I-iya, Pa! D-Devan... j-jadi anak p-pinter!" seru Devan polos.
Zavran memeluk erat putranya. Sang ayah tersenyum haru melihat anak dan cucunya yang terlihat bahagia.
***
Sore harinya di gedung kantor Edinburgh, suasana riuh santai menyelimuti ruang divisi saat para karyawan merapikan meja kerja mereka. Aisha sedang bersandar di tepi meja Chloe, memegang cangkir hangat seraya tertawa kecil.
"Beneran, Chloe! Aku masih nggak nyangka bakalan dapat tambahan cuti," ujar Aisha dengan mata berbinar riang.
"Rencananya besok aku sudah mulai cuti dan lusa langsung terbang pulang ke Indonesia."
"Kamu beruntung banget, Sha. Pak Anton itu padahal terkenal pelit soal jatah libur. Sebelas dua belas sama Bos besar kita, pelitnya minta ampun. Tapi buat kamu, mendadak jadi bos paling dermawan sejagat raya."
"Ah, masa sih?" sahut Aisha menyengir polos, sama sekali tak menyadari sosok pria berjas gelap yang sudah berdiri kaku di ambang pintu ruangan sejak tadi, mendengarkan percakapan mereka.
Beberapa staf lain di sudut ruangan yang menyadari keberadaan sang atasan seketika membeku. Mereka buru-buru berdiri dari kursi masing-masing dengan raut panik.
"S-selamat sore, Pak Anton!" sapa salah satu staf dengan suara bergetar kaku.
Aisha dan Chloe tersentak kaget! Mereka berputar cepat. Aisha nyaris menyenggol cangkir di mejanya begitu melihat Anton berdiri di pintu dengan kedua tangan terbenam di saku celana, menatapnya lurus.
Wajah Aisha seketika memerah menahan malu. "P-Pak Anton..."
Anton mengangguk pelan, berusaha memasang raut wajah sedatar mungkin demi menutupi fakta bahwa ia tertangkap basah mendengarkan gosip stafnya.
"Sore. Silakan duduk lagi, lanjutkan pekerjaan kalian," tutur Anton. Pandangannya lalu mengunci sosok Aisha.
"Aisha, ikut ke ruangan saya sebentar."
"B-baik, Pak," jawab Aisha patuh.
Chloe melempar pandangan menggoda penuh arti saat Aisha merapikan pakaiannya dan berjalan membuntut di belakang langkah tegap Anton.
Begitu pintu ruangan kerja Anton tertutup rapat, suasana mendadak menjadi hening dan begitu canggung. Anton melangkah ke belakang meja kerjanya, merapikan tumpukan folder seraya berdehem beberapa kali.
"Silakan duduk," ujar Anton mempersilakan Aisha duduk.
Aisha menarik kursi di depan meja Anton, mendaratkan tubuhnya dengan sangat kaku. Kedua tangannya meremas jemari di atas pangkuan.
"Soal tambahan cuti kamu..." ucap Anton, menatap Aisha lekat. "Semua dokumen persetujuan dari divisi HRD sudah saya tanda tangani sore ini dan saya sudah buat laporan ke pusat. Jadi, masa cuti resmi kamu terhitung mulai besok."
"Thank you so much, Sir! Saya benar-benar berterima kasih atas kebaikan dan pengertian Bapak."
"You are welcome," balas Anton datar. Ia terdiam sejenak, memutar-mutar pulpen di jemarinya seperti sedang mengumpulkan keberanian besar.
"Ehem... Karena besok kamu sudah mulai cuti," sambung Anton, "bagaimana kalau malam ini kita makan malam bersama? Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan ke kamu."
Aisha tersentak pelan. "E-eh? Ada yang ingin Bapak sampaikan? Kenapa tidak disampaikan di sini saja sekarang, Pak?"
Anton menggelengkan kepalanya pelan seraya menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. "Tidak bisa di sini, Aisha. Hal ini hanya bisa saya katakan saat makan malam."
Aisha makin canggung, memutar otak mencari alasan halus. "Tapi, Pak... sepertinya malam ini saya harus beres-beres koper di apartemen untuk penerbangan lusa. Bagaimana kalau makan malamnya nanti saja... setelah saya kembali dari Indonesia?"
"Setelah kamu balik, saya yang kemungkinan tidak ada di sini, Aisha," celetuk Anton pelan.
"Maksud Bapak?"
"Baru saja jam empat sore tadi, saya dapat tugas mendadak langsung dari pusat... dari Tuan Zavran," jelas Anton dengan raut wajah sangat serius.
"Saya diperintahkan untuk turun tangan mengurus perusahaan cabang di luar kota dan harus menetap di sana selama kurang lebih dua bulan. Kondisi cabang di sana sangat terbengkalai dan butuh pembenahan total."
"Dua bulan, Pak?!"
"Iya, dua bulan," tegas Anton. "Artinya, begitu kamu selesai cuti dan kembali ke kantor ini, saya belum kembali ke sini. Jadi... ini mungkin kesempatan terakhir kita sebelum saya pergi untuk waktu yang cukup lama."
Aisha tertegun kaku. Perasaan tidak enak mendadak menghimpit dadanya. Rasanya sangat jahat jika ia menolak ajakan pamitan dari atasannya sendiri yang sudah begitu baik memberinya izin cuti, apalagi Anton bilang ada hal penting yang ingin dituturkannya.
"Lagipula... anggap saja makan malam ini sekaligus untuk melunasi utang saya kemarin," tambah Anton.
"Utang apa, Pak?"
"Iya. Kemarin siang kan saya meninggalkan kamu sendirian di tengah-tengah makan siang karena ada rapat mendadak," tutur Anton beralasan.
"Saya merasa sangat tidak enak. Jadi malam ini, biarkan saya membayar utang makan siang kemarin dengan benar. Gimana?"
Aisha menggigit bibir bawahnya pelan.
"Tapi... Pak Anton tidak merepotkan diri kan?" tanya Aisha ragu-ragu.
Anton terkekeh pelan. "Sama sekali tidak. Justru saya yang sangat senang kalau kamu mau."
Aisha akhirnya mengangguk pasrah seraya menyengir canggung. "Ya... ya sudah kalau begitu, Pak Anton. Saya mau. Tapi...."
"Tapi...?" Ulang Anton.
"Saya boleh ajak teman? Biar rame, Pak. Kalau berdua aja, saya masih agak canggung." Jawab Aisha jujur.
"Oh, iya. Saya tahu keraguan kamu, tapi... Nanti malam tidak hanya kita berdua, saya juga mengajak Tania. "
"Ada Miss Tania juga, Pak? Syukurlah. Saya pikir hanya kita berdua tadi. Baik, Pak. Kalau begitu saya setuju."
"Bagus. Tunggu saya lima belas menit lagi di lobi bawah. Kita berangkat bersama."
"Baik, Pak. Saya permisi merapikan meja dulu," pamit Aisha.
'Sebenarnya hal penting apa yang ingin disampaikan Pak Anton sampai tidak bisa dikatakan di kantor?'