Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Darah di Celah Serigala
Kobaran api belerang membubung tinggi menghantam dinding tebing basal Celah Serigala. Lidah api berwarna biru keemasan melahap kain perban dan zirah tembaga prajurit Kota Yunjiang. Jeritan kesakitan melengking di antara kepulan asap hitam yang merayap di atas lumpur basah. Bau sangit daging terbakar menyengat hidung.
Jian Yue merangkak kaku di atas tanah berlumpur. Wajahnya yang pucat ternoda jelaga hitam dan cipratan darah kental dari kudanya yang tewas terbakar. Bahu kirinya berdenyut hebat. Bekas luka tebasan racun lama yang belum sembuh total kini kembali terbuka, meneteskan darah kehitaman di atas tanah basah.
Ma Huang melangkah menembus tirai api belerang. Jubah birunya yang terkoyak ditiup angin panas, menyingkapkan dada yang penuh bekas luka bakar kaku. Pedang Tulang Hitam di tangan kirinya terangkat melintang. Dari ujung bilah pedang hitam itu, uap racun Ular Hijau berdesis nyaring setiap kali terkena percikan api.
Jian Yue menyapu darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Matanya melotot liar menatap sosok Ma Huang yang kian mendekat. "Kau... kau belum mati di Istana Bawah Tanah!" jeritnya parau.
Ma Huang menghentikan langkahnya empat depa dari Jian Yue. Sepasang matanya memancarkan kilatan merah yang dingin tanpa riak emosi. "Makam itu milik leluhurku. Zhao Feng sudah membusuk di sana. Sekarang giliranmu."
Jian Yue menggeretakkan giginya kencang. Rasa takut di dadanya berubah menjadi amarah liar. Ia mencabut pedang perak bersulam emas dari sarung pinggangnya. Bilah pedang tipis itu bergetar kencang, memancarkan pendar energi keemasan sisa peninggalan teknik Sekte Pedang Suci.
"Aku adalah putra Tuan Kota Yunjiang!" raung Jian Yue kencang. "Rakyat kota dan ribuan prajurit akan memburu kepalamu sampai ke ujung bumi!"
Jian Yue menjejakkan kaki kanannya kencang ke atas lumpur. Tubuhnya meluncur mendatar. Pedang perak di tangannya melancarkan lima tusukan beruntun secepat kilat. Tusukan presisi itu mengincar mata, leher, dada, dan kedua paha Ma Huang secara bersamaan.
Ma Huang tidak memiringkan badannya untuk menghindar. Ia memajukan langkah kaki kirinya setengah jengkal. Pedang Tulang Hitam diputarnya melingkar di depan dada, menciptakan perisai angin beracun yang tebal.
Ting! Ting! Cring!
Benturan keras logam memercikkan bunga api kebiruan di udara malam. Setiap kali pedang perak Jian Yue menyentuh bilah Pedang Tulang Hitam, lapisan asam racun Ular Hijau merembes melahap ukiran emas di pedang tersebut. Bilah perak kebanggaan Jian Yue berjelaga hitam dan terkikis kasar.
Getaran tenaga dalam membuat lengan kiri Jian Yue gemetar kaku. Rasa panas menyengat merambat cepat menembus pergelangan tangannya. Jian Yue menarik mundur langkah kakinya tiga depa, menatap kaget ke arah permukaan pedangnya yang melengkung cacat.
"Kultivasimu..." desis Jian Yue dengan napas memburu. "Kultivasimu melompat jauh!"
Ma Huang melangkah maju menekan. Ia tidak memberikan jeda satu hembusan napas pun bagi Jian Yue untuk memperbaiki pijakan kakinya. Pedang Tulang Hitam diayunkannya dari atas ke bawah, membawa bobot kejam Inti Bencana Hitam-Keemasan.
Tebasan mematikan itu membelah uap belerang di udara. Jian Yue terpaksa mengangkat pedang peraknya melintang dengan kedua tangan untuk menahan serangan dahsyat Ma Huang.
Brak!
Dentuman keras menggoncangkan tanah berlumpur di bawah kaki mereka. Lutut kanan Jian Yue ambles terperosok dua jengkal ke dalam lumpur basah akibat daya dorong pukulan Ma Huang. Tulang paha Jian Yue berderak kencang menahan beban berat tersebut.
Ma Huang memutar pergelangan tangan kirinya. Sisi tumpul Pedang Tulang Hitam dihantamkannya kencang ke arah wajah Jian Yue.
Jian Yue memiringkan kepalanya cepat. Sisi pedang Ma Huang menghantam bahu kiri Jian Yue yang terluka.
Krak!
Jeritan histeris pecah dari tenggorokan Jian Yue. Tulang bahunya yang belum pulih remuk seketika. Pedang perak di tangan kirinya terlepas, terlempar tiga depa jatuh ke dalam parit minyak yang membara.
Jian Yue merangkak mundur di atas lumpur dengan panik. Tangan kanannya merogoh bagian dalam jubahnya, menarik keluar sebuah panah rahasia berlengan tiga yang terpasang di pergelangan tangannya.
Cring!
Tiga jarum tembaga beracun disemburkan secara mendadak dari balik lengan jubah Jian Yue dari jarak dekat. Jarum-jarum tipis itu meluncur lurus mengincar dada Ma Huang.
Ma Huang menyalurkan gelombang racun dari Dantiannya lurus ke telapak tangan kanan yang bebas. Hawa dingin pekat membeku di udara, membentuk lapisan kristal racun tipis di hadapan dadanya.
Tiga jarum tembaga membentur kristal racun tersebut, patah berkeping-keping sebelum sempat menyentuh jubah biru Ma Huang.
Jian Yue membelalak lebar. Wajahnya yang berdarah pucat pasi tanpa tersisa warna kehidupan. Ia mencoba merangkak bangun untuk melarikan diri ke arah lorong tebing barat.
Ma Huang melesat maju bagaikan bayangan hitam. Langkah kakinya tak bersuara di atas lumpur basah. Tumit kirinya menghantam dada Jian Yue kencang-kencang, melemparkan tubuh pemuda itu menghantam dinding tebing basal yang keras.
Brak!
Jian Yue memuntahkan gumpalan darah kental. Tubuhnya terkulai lemas di dasar tebing, terperangkap di antara dinding batu dan kobaran api belerang.
Ma Huang berdiri kaku di hadapannya. Ujung Pedang Tulang Hitam yang meneteskan racun asam menempel rapat di tenggorokan Jian Yue.
"Jangan... jangan bunuh aku..." desis Jian Yue parau. Tangannya yang gemetar mencoba memegang bilah pedang hitam Ma Huang, namun kulit jarinya meleleh terbakar oleh asam racun. "Ayahku punya ribuan batangan emas... Aku bisa memberimu seluruh wilayah perbatasan ini!"
Ma Huang menatap wajah Jian Yue tanpa kedipan mata. "Keluarga Ma tidak bisa dibeli dengan emas."
Ma Huang mengayunkan Pedang Tulang Hitam melintang dalam satu gerakan bersih tanpa ragu.
Srettt!
Bilah pedang hitam memotong leher Jian Yue secara sempurna. Darah kehitaman menyembur basah, menyiram dinding tebing basal sebelum tubuh Jian Yue roboh kaku tak bernyawa di atas lumpur.
Di sekeliling celah tebing, suara pembantaian melandai perlahan. Pasukan zirah berat Kota Yunjiang yang terjebak di antara tembok api dan jebakan parit dihancurkan total oleh panah-panah api Feng Ni.
Dari arah lorong bawah tanah tebing timur, Tie Shan muncul bersama seribu prajurit zirah berat Serigala Hitam. Kampak kembar di tangannya lumuran darah kental prajurit musuh. Mereka membantai setiap sisa prajurit Kota Yunjiang yang mencoba melarikan diri ke garis belakang.
Jeritan tangis dan raungan pasrah prajurit musuh mati ditelan gemuruh api belerang yang perlahan surut menjadi asap tebal berbau busuk. Ratusan jasad prajurit zirah berat terhampar kaku di atas tanah berlumpur yang menghitam.
Tie Shan melangkah menembus asap hitam, menghampiri Ma Huang yang berdiri tegak di samping jasad Jian Yue. Kampak besinya ditancapkan kencang ke tanah.
"Musuh di celah ini telah rata dengan tanah, Tuan Muda!" laporkan Tie Shan dengan suara parau yang penuh kekaguman. "Tiga ratus prajurit zirah berat dan empat puluh murid sekte telah kita bantai habis! Tidak ada satu pun yang tersisa!"
Feng Ni melompat turun dari puncak tebing basal. Langkah kakinya menyusuri tumpukan jasad prajurit musuh sebelum berhenti dua depa di samping Ma Huang. Wajah cantiknya yang dingin ternoda jelaga hitam. Tangannya memegang sebuah gulungan kain sutra merah yang diambil dari kantong pinggang jasad komandan meriam musuh.
"Tuan Muda," kata Feng Ni. Tangannya menyerahkan gulungan kain sutra merah itu ke hadapan Ma Huang. "Prajurit pengintai menemukan surat komando rahasia ini dari jasad komandan meriam."
Ma Huang membuka gulungan kain sutra merah dengan tangan kirinya yang basah oleh darah.
Di atas kain sutra itu, terukir stempel merah darah milik Tuan Kota Yunjiang dan lambang rahasia Aliansi Sekte Jalur Hitam. Isi surat itu menegaskan bahwa penyerangan ke Lembah Batas hanyalah pengalihan perhatian semata.
Tiga ribu prajurit inti Aliansi Jalur Hitam bersama sisa kekuatan Sekte Pedang Suci saat ini telah bergerak mengitari pegunungan perbatasan. Mereka mengepung benteng lama Pasukan Serigala Hitam di Desa Qingshan melalui jalur belakang yang tak terjaga.
Di sana, Master Han, Pertapa Gu Mo, dan seluruh perbekalan obat serta warga sipil Keluarga Ma yang tersisa sedang bertahan tanpa perlindungan pasukan utama.
Ma Huang mencengkeram kain sutra merah itu hingga remuk di dalam genggamannya. Hawa dingin dari Dantiannya membakar kain tersebut menjadi abu kehitaman dalam sekejap mata.
"Mereka sengaja memancing kita ke celah ini," kata Feng Ni dengan mata menyipit tajam. "Jika benteng belakang jatuh, seluruh jalur pasokan logistik dan obat penawar racun kita akan terputus total."
Tie Shan mengepal jemarinya kencang. "Tuan Muda! Izinkan aku memimpin seribu prajurit zirah berat untuk melesat kembali ke Desa Qingshan malam ini juga!"
"Kuda-kuda kita terlalu lelah untuk menembus lumpur perbatasan dalam satu malam," potong Ma Huang dingin.
Ia menoleh ke arah tebing selatan yang menjulang gelap di bawah siraman hujan gerimis. Sepasang matanya yang merah memancarkan kilatan pembunuh yang kian pekat.
"Kita tidak akan kembali ke Desa Qingshan," ujar Ma Huang dengan suara berat yang menghenyakkan dada.
Tie Shan dan Feng Ni terperanjat, menatap pimpinan muda mereka dengan raut kaget.
"Tuan Muda... jika kita tidak kembali, Master Han dan Pertapa Gu Mo akan dikepung oleh tiga ribu prajurit musuh!" pangkas Tie Shan cemas.
Ma Huang mengusap darah Jian Yue dari bilah Pedang Tulang Hitam menggunakan kain jubahnya yang terkoyak. Ia menyarungkan pedang hitamnya kencang-kencang.
"Tuan Kota Yunjiang telah mengosongkan seluruh pertahanan Kota Yunjiang demi mengepung benteng belakang kita," kata Ma Huang tanpa keraguan. "Kita gerakkan tiga ribu Pasukan Serigala Hitam untuk langsung merebut Kota Yunjiang malam ini."
Ia memutar badannya menatap seluruh prajurit Serigala Hitam yang berdiri kaku di atas tanah berlumpur.
"Kita potong akar mereka dari belakang. Saat mereka menyadari benteng utama Kota Yunjiang telah jatuh ke tangan kita, tiga ribu prajurit musuh di Desa Qingshan akan menjadi kawanan anjing tanpa tuan."
Tie Shan dan Feng Ni saling bertukar pandang. Rasa takjub menyelimuti dada kedua panglima tersebut saat menyadari keberanian dan kecerdasan taktis pimpinan baru mereka.
"Kumpulkan seluruh kuda dan perbekalan!" teriak Tie Shan kencang melintasi lapangan pertempuran. "Malam ini kita ratakan Kota Yunjiang!"
Namun, dari balik tebing utara yang gelap, suara dentuman guntur membahana keras di langit malam, diiringi oleh kibaran obor merah pasukan misterius yang mulai bergerak mendekati pintu keluar Celah Serigala.