NovelToon NovelToon
Dekapan Atasan Suamiku

Dekapan Atasan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

cafe dibawah hujan

Nayla berdiri di bawah kanopi lobi apartemen dengan jas Raka masih menyampir di bahunya.

Kain jas itu hangat, sedikit berat, dan membawa aroma yang samar. Bukan aroma menyengat seperti parfum yang menempel di kemeja Arga, melainkan wangi bersih yang membuat Nayla merasa anehnya lebih tenang.

Hujan kembali turun.

Tidak deras seperti semalam, tetapi cukup rapat hingga jalanan di depan apartemen tampak berkilau tertimpa cahaya lampu. Beberapa orang berlari kecil sambil menutupi kepala dengan tas. Kendaraan berhenti sebentar di depan lobi, lalu kembali melaju.

Nayla memandangi hujan tanpa benar-benar melihatnya.

“Aku tidak tahu harus ke mana,” katanya tadi.

Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.

Selama tiga tahun, apartemen di belakangnya adalah tempat ia pulang. Tempat ia memasak, menunggu, tertawa, dan membayangkan masa depan bersama Arga. Namun malam ini, hanya membayangkan kembali ke sana saja sudah membuat dadanya terasa sesak.

Raka berdiri dua langkah darinya.

Pria itu tidak terburu-buru bicara. Ia juga tidak menatap Nayla dengan rasa kasihan yang berlebihan. Raka hanya berdiri diam, seolah memberi ruang bagi Nayla untuk memutuskan sendiri apa yang ingin ia lakukan.

“Kafenya tidak jauh,” ucap Raka akhirnya. “Kalau kamu masih ingin ke sana.”

Nayla menunduk.

“Apa saya tidak merepotkan Bapak?” tanyanya pelan.

Raka mengerutkan kening tipis. “Kamu tidak merepotkan.”

“Tapi ini bukan urusan Bapak.”

“Benar.” Raka mengangguk. “Ini bukan urusan saya. Tapi kamu sedang tidak baik-baik saja, dan saya tidak akan pura-pura tidak melihat.”

Jawaban itu sederhana.

Namun Nayla tidak ingat kapan terakhir kali seseorang mengucapkan kalimat seperti itu kepadanya.

Arga selalu melihat ketika Nayla lelah, tetapi memilih menganggapnya tidak penting.

Arga selalu tahu ketika Nayla sedih, tetapi menyuruhnya berhenti membesar-besarkan keadaan.

Sedangkan Raka, yang bahkan tidak mengenalnya dekat, hanya melihat air mata di wajah Nayla dan memilih untuk tidak meninggalkannya sendirian.

Nayla mengangguk kecil.

“Baik,” katanya.

Raka tidak tersenyum lebar. Ia hanya membuka payung hitam yang dibawanya dan menggesernya sedikit ke arah Nayla.

“Mari.”

Mereka berjalan berdampingan menuju sebuah kafe kecil di seberang jalan. Raka menjaga jarak yang cukup, tetapi payung itu tetap melindungi Nayla dari hujan. Sesekali, angin membawa percikan air mengenai ujung celana Nayla. Raka langsung mengarahkan payung lebih condong ke arahnya.

Gerakan kecil itu membuat Nayla merasa bersalah.

“Bapak sendiri jadi kena hujan,” ucap Nayla.

“Saya tidak apa-apa.”

“Kita bisa lebih dekat sedikit ke tengah.”

Raka menoleh singkat. “Kalau kamu nyaman.”

Nayla langsung merasa pipinya menghangat. Ia tidak menjawab. Raka pun tidak memaksa. Ia hanya tetap berjalan dalam diam sampai mereka tiba di depan kafe.

Kafe itu tidak terlalu ramai. Lampu-lampu kuning dari dalam membuat suasananya tampak hangat, berbeda dengan udara dingin di luar. Beberapa meja terisi pasangan muda dan pekerja yang masih membuka laptop. Musik instrumental terdengar pelan dari pengeras suara.

Raka memilih meja di sudut, dekat jendela.

Nayla duduk di kursi yang menghadap ke jalan. Ia masih mengenakan jas Raka. Ketika hendak melepasnya, pria itu mengangkat tangan sedikit.

“Pakai saja dulu. Kamu kedinginan.”

Nayla mengangguk.

Seorang pelayan menghampiri mereka.

“Mau pesan apa?” tanya Raka.

Nayla sebenarnya tidak ingin makan atau minum. Perutnya terasa penuh oleh kecemasan. Namun tenggorokannya kering karena terlalu banyak menangis.

“Teh hangat saja,” jawabnya.

Raka memesan kopi hitam dan beberapa makanan ringan. Nayla ingin berkata bahwa ia tidak lapar, tetapi Raka sudah lebih dulu menatapnya.

“Kamu belum makan, kan?”

Nayla terdiam.

Ia memang belum makan sejak sore. Namun entah bagaimana, Raka bisa menebaknya.

“Hanya sedikit,” jawab Nayla.

“Pesan sup jamur dan roti panggang,” kata Raka kepada pelayan.

Nayla menoleh cepat. “Tidak usah, Pak.”

“Anggap saja saya tidak bertanya.” Nada Raka tetap datar, tetapi tidak terdengar kasar. “Kamu harus makan.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Nayla hampir tersenyum.

“Bapak selalu menyuruh orang seperti itu?” tanyanya tanpa sadar.

Raka menatapnya beberapa detik. “Tidak.”

Jawaban itu membuat Nayla segera mengalihkan pandangan.

Ia tidak tahu harus berkata apa lagi.

Setelah pelayan pergi, keheningan kembali mengisi meja mereka. Namun kali ini, keheningan itu tidak terasa menekan. Raka tidak memaksa Nayla menceritakan semuanya. Ia tidak menyuruh Nayla berhenti menangis. Ia hanya duduk di hadapannya, membiarkan Nayla menarik napas panjang dan mencoba menata pikirannya.

Akhirnya, Nayla berbicara lebih dulu.

“Bapak sudah tahu tentang Arga dan Siska dari kapan?”

Raka menatap hujan di balik jendela sebelum menjawab.

“Saya mulai curiga sekitar tiga minggu lalu.”

“Tiga minggu…” Nayla mengulang perlahan.

Selama tiga minggu, Nayla masih menunggu Arga pulang dan percaya pada alasan lembur.

“Saya beberapa kali melihat mereka keluar bersama saat jam kerja,” lanjut Raka. “Awalnya saya mengira mereka membahas tugas. Tapi pekerjaan mereka mulai terbengkalai. Ada laporan yang tidak selesai, kunjungan klien yang tidak tercatat, dan beberapa dana operasional yang penggunaannya tidak jelas.”

Nayla menegang. “Dana operasional?”

“Saya belum bisa menyimpulkan apa pun. Tim audit sedang memeriksa,” jawab Raka. “Namun saya tidak ingin membahas itu terlalu jauh malam ini. Kamu sudah cukup banyak menerima kenyataan dalam satu hari.”

Nayla menggenggam ujung lengan jas yang masih dipakainya.

“Kenapa Bapak menelepon saya?” tanyanya.

“Karena saya tahu kamu berhak mengetahui bahwa Arga tidak selalu seperti yang dia ceritakan.”

“Bapak tidak takut saya marah? Atau menganggap Bapak ikut campur?”

“Saya sempat mempertimbangkannya.” Raka menghela napas pendek. “Tapi saya lebih takut kamu terus dibiarkan hidup dalam kebohongan.”

Kalimat itu membuat mata Nayla kembali panas.

Ia segera menunduk, berpura-pura membetulkan letak sendok di atas meja.

“Semua orang mungkin menganggap saya bodoh,” katanya lirih. “Saya selalu percaya sama dia. Padahal tanda-tandanya sudah banyak.”

Raka langsung menatapnya.

“Tidak ada yang bodoh karena percaya kepada orang yang dicintainya.”

Nayla tidak mengangkat wajah.

“Yang salah adalah orang yang menggunakan kepercayaan itu untuk menyakiti,” lanjut Raka.

Kata-kata tersebut perlahan menembus dinding pertahanan Nayla.

Selama ini, ia terus bertanya apa kekurangannya. Apakah ia terlalu membosankan? Apakah ia tidak cukup menarik? Apakah Arga mencari perempuan lain karena Nayla tidak lagi bisa membuatnya bahagia?

Namun Raka tidak mengatakan Nayla kurang apa pun.

Pria itu justru mengingatkan bahwa kesalahan Arga adalah pilihan Arga sendiri.

Pelayan datang membawa pesanan mereka. Teh hangat diletakkan di depan Nayla. Sup jamur dan roti panggang menyusul beberapa saat kemudian. Nayla mengucapkan terima kasih pelan, lalu memegang cangkir dengan kedua tangan.

Uap hangat menyentuh wajahnya.

“Boleh saya tanya sesuatu?” ucap Nayla.

Raka mengangguk.

“Kenapa Bapak tampak sangat membenci pengkhianatan?”

Pertanyaan itu membuat Raka terdiam.

Nayla langsung menyesal. “Maaf. Tidak perlu dijawab kalau saya terlalu lancang.”

“Tidak.” Raka menggeleng. “Kamu tidak lancang.”

Tatapan Raka turun pada cangkir kopinya. Untuk pertama kalinya, Nayla melihat sesuatu selain ketegasan di wajah pria itu. Ada kesedihan lama yang sangat singkat, tetapi cukup jelas.

“Saya pernah bertunangan,” kata Raka akhirnya.

Nayla tidak menyela.

“Hubungan itu berjalan hampir lima tahun. Saya percaya kami akan menikah.” Suara Raka terdengar tenang, tetapi justru ketenangan itu membuat Nayla tahu luka tersebut tidak pernah benar-benar hilang. “Lalu saya mengetahui dia menjalin hubungan dengan rekan bisnis saya.”

Nayla menatapnya.

“Saya tidak tahu selama berapa lama. Saya juga tidak ingin mencari tahu lebih jauh.” Raka mengangkat wajah. “Yang saya tahu, pengkhianatan tidak hanya menghancurkan hubungan. Kadang, itu membuat seseorang mempertanyakan dirinya sendiri.”

Nayla menelan ludah.

“Itu yang saya rasakan,” katanya pelan.

“Saya tahu.”

Dua kata itu membuat Nayla terdiam.

Bukan karena Raka benar-benar tahu semua rasa sakitnya. Tidak mungkin ada orang yang bisa benar-benar merasakan luka orang lain. Namun karena ia tahu bahwa Raka pernah berdiri di tempat yang sama: ditinggalkan oleh seseorang yang ia percaya.

Untuk beberapa saat, Nayla tidak merasa sendirian.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Nama Arga muncul di layar.

Nayla menatap panggilan itu cukup lama.

Satu panggilan terlewat.

Lalu panggilan kedua.

Lalu pesan masuk.

**Arga:** Kamu di mana? Aku mau bicara.

**Arga:** Jangan membuat aku khawatir.

**Arga:** Pulang sekarang.

Nayla membaca pesan terakhir itu dengan dada kembali sesak.

*Jangan membuat aku khawatir.*

Seolah selama ini Arga pernah benar-benar khawatir saat Nayla menunggunya sendirian setiap malam.

“Tidak perlu diangkat kalau kamu belum siap,” kata Raka.

Nayla menatap pria itu.

“Saya takut kalau saya tidak pulang, dia akan semakin marah.”

“Kalau kamu pulang karena takut, itu bukan keputusan yang baik.”

Nayla terdiam.

Raka melanjutkan, “Kamu boleh pulang kalau kamu memang ingin pulang. Tapi jangan kembali hanya karena merasa tidak punya pilihan.”

Kata-kata itu membuat Nayla memegang cangkirnya lebih erat.

Selama ini, ia selalu menganggap rumah tangga harus diperjuangkan apa pun yang terjadi. Ia selalu percaya seorang istri harus sabar, harus mengalah, harus bertahan.

Namun Raka membuatnya melihat sesuatu yang belum pernah ia pikirkan.

Bertahan bukan berarti harus terus menerima luka.

Ponsel Nayla kembali bergetar.

Kali ini bukan pesan, melainkan panggilan video dari Arga.

Nayla menatap layar itu hingga panggilan tersebut berhenti sendiri.

Beberapa detik kemudian, pesan baru masuk.

**Arga:** Kalau kamu tidak pulang malam ini, jangan salahkan aku kalau aku datang mencari kamu.

Wajah Nayla memucat.

Raka menangkap perubahan ekspresinya.

“Ada apa?”

Nayla ragu sejenak, lalu menyerahkan ponselnya kepada Raka.

Pria itu membaca pesan Arga tanpa mengubah ekspresi. Namun rahangnya mengeras.

“Dia tidak berhak mengancam kamu,” ujar Raka.

“Dia mungkin cuma emosi,” Nayla mencoba membela, tetapi suaranya sendiri terdengar tidak yakin.

“Emosi bukan alasan untuk membuat kamu takut.”

Nayla menunduk.

Raka mengembalikan ponselnya. “Malam ini kamu tidak perlu kembali ke apartemen.”

“Aku bisa ke rumah Mama,” kata Nayla cepat. “Tapi rumah orang tua saya cukup jauh.”

“Saya antar.”

“Tidak perlu, Pak. Saya bisa pesan kendaraan.”

“Hujan. Sudah malam. Dan Arga mungkin sedang menunggu di apartemen.” Raka menatap Nayla lurus-lurus. “Saya antar kamu sampai rumah orang tua kamu. Setelah itu, kamu bisa memutuskan apa yang akan dilakukan besok.”

Nayla ingin menolak.

Namun ia membayangkan kembali ke apartemen dan berhadapan dengan Arga dalam keadaan seperti sekarang. Ia membayangkan suaminya memaksa penjelasan, meminta maaf, lalu menyalahkan Nayla karena pergi bersama Raka.

Ia tidak sanggup.

Akhirnya, Nayla mengangguk.

“Baik,” katanya pelan. “Tapi hanya sampai depan rumah.”

Raka berdiri lebih dulu.

“Tentu.”

Nayla ikut bangkit. Saat ia hendak melepas jas Raka, pria itu berkata, “Pakai sampai kamu masuk rumah.”

Nayla mengangguk lagi.

Mereka keluar dari kafe. Hujan sudah mulai reda, meninggalkan jalanan basah yang memantulkan cahaya kota. Mobil Raka terparkir tidak jauh dari sana.

Ketika sopir membukakan pintu belakang, Nayla masuk lebih dahulu. Raka kembali memilih duduk di kursi depan.

Tidak ada percakapan panjang selama perjalanan.

Nayla memandangi lampu-lampu kota dari balik kaca. Untuk pertama kalinya sejak mengetahui pengkhianatan Arga, ia tidak merasa harus kembali kepada suaminya malam ini.

Ia masih takut.

Ia masih hancur.

Namun jauh di dalam dirinya, muncul secercah keberanian yang belum pernah ada sebelumnya.

Saat mobil berbelok menuju jalan rumah orang tuanya, Nayla menerima satu pesan lagi dari Arga.

**Arga:** Aku tahu kamu bersama Pak Raka.

Nayla membeku.

Pesan kedua masuk beberapa detik kemudian.

**Arga:** Jangan pernah mempermalukan aku seperti ini, Nayla.

Nayla menatap layar ponselnya.

Tiba-tiba, rasa takut itu berubah menjadi sesuatu yang lain.

Marah.

Bukan karena Arga cemburu.

Melainkan karena setelah semua yang ia lakukan, Arga masih merasa dirinya yang paling dipermalukan.

Nayla mematikan layar ponsel.

Di kursi depan, Raka menoleh sedikit ke arah kaca spion. Tatapannya bertemu dengan Nayla sesaat.

“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya.

Nayla menarik napas panjang.

“Tidak,” jawabnya jujur.

Lalu ia memandang jalan di depan mereka dan menambahkan, “Tapi saya akan berusaha baik-baik saja.”

Raka mengangguk pelan.

Dan malam itu, dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya, Nayla mulai mengerti bahwa hidupnya tidak berakhir ketika Arga memilih mengkhianatinya.

Mungkin, hidupnya justru baru mulai saat ia memilih tidak lagi membiarkan dirinya disakiti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!