NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala 2

Kutukan Jiwa Niskala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Fantasi
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!

****

Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Altar Pengorbanan Jiwa dan Rahasia di Balik Surat Kuno

"Tadi siang kau datang ke paviliunku seperti pengemis yang meminta bantuan, dan aku menolarmu. Tapi sekarang, takdir justru memaksaku untuk berdiri di sini demi menghentikan seluruh kengerian, tekanan sihir, serta ancaman pembantaian massal yang kau timbulkan sejak semalam di Cheonbugwan."

Han Seol hanya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kemenangan batin yang sunyi. Ia tidak membalas hinaan itu dengan kemarahan, melainkan dengan ketenangan seorang pemenang taktik.

"Aku tidak peduli siapa yang mendatangi siapa, Nyonya Jin. Yang kuinginkan hanyalah hasil nyata. Bagaimana cara mengeluarkan cacing itu?"

"Ritual pengeluaran cacing darah tidak bisa dilakukan di sembarang tempat, Han Seol. Benda, sesaji, dan wadah spiritualnya hanya ada di dalam ruang rahasia benteng Jinyowon," jawab Jin Hwa Young dengan nada ketat, membalikkan tubuhnya perlahan.

"Bawa tubuh sekarat Baek Seo Jun ke Jinyowon besok pagi. Aku akan menyiapkan altarnya di sana. Jangan terlambat satu detik pun jika kau masih ingin melihat sahabatmu bernapas."

Setelah memberikan kepastian dan janji penyembuhan tersebut, Jin Hwa Young pun segera melangkah pergi bersama rombongannya untuk pulang menuju benteng Jinyowon. Langkah kakinya tergesa-gesa membelah kegelapan malam, meninggalkan Han Seol yang kini menatap kepergiannya dengan sepasang mata yang kembali memancarkan secercah harapan baru untuk menjemput kesembuhan sahabatnya.

****

Di selasar luar istana yang dilingkupi kabut malam yang dingin, sisa kegaduhan sidang Pertemuan Umum masih terasa pekat.

Jin Wu berdiri mematung dengan rahang yang mengeras menahan dongkol. Langkah kakinya yang hendak meninggalkan area istana terhenti seketika saat bayangan jubah hitam Han Seol berkelebat menghalangi jalannya.

Jin Wu, yang malam ini telah dipaksa menelan habis seluruh harga dirinya dengan bersujud di hadapan Jin Hwa Young dan meminta maaf secara terbuka di depan Raja, kini harus kembali menerima hantaman mental yang teramat telak dari musuh bebuyutannya.

Harga diri sang Gwanju Cheonbugwan benar-benar runtuh hingga ke dasar bumi setelah mendengar rentetan kalimat yang keluar langsung dari mulut Han Seol.

"Kau terlihat sangat menderita karena kehilangan muka malam ini, Jin Wu," ucap Han Seol datar, suaranya terdengar begitu dingin menembus dada Jin Wu.

"Namun ketahuilah... bagiku saat ini, memikirkan segala cara demi keselamatan dan kesembuhan nyawa Baek Seo Jun jauh lebih penting daripada aku harus membuang waktu dan tenagaku untuk berpikir bagaimana cara membunuhmu sekarang."

Jin Wu mengepalkan tangannya di balik lengan baju panjangnya, matanya berkilat penuh dendam kesumat. "Kau... kau meremehkanku, Han Seol!" desisnya kaku.

Han Seol maju satu langkah, menatap lurus ke dalam manik mata Jin Wu dengan tatapan mengintimidasi yang mematikan. "Aku tidak meremehkanmu, aku hanya menyatakan fakta. Namun meski begitu, aku sangat menyarankan kepadamu agar kau kembali ke markasmu dan tetap fokus berdoa dengan sungguh-sungguh demi kesembuhan total Seo Jun di Jinyowon besok pagi."

Han Seol menyipitkan matanya, memberikan ancaman mutlak. "Karena jika sampai ritual besok gagal dan parasit cacing darah itu tidak bisa dikeluarkan dari tubuhnya, maka bisa dipastikan... kau akan mati mengenaskan di tanganku pada detik yang sama. Ingat itu baik-baik."

****

Keesokan harinya, saat matahari pagi baru saja menyembul di balik cakrawala, rombongan Cheon Gi Won yang membawa tubuh sekarat Baek Seo Jun akhirnya tiba di kediaman keluarga Jin. Han Seol melangkah masuk ke dalam aula utama bersama Do Kwang, berhadapan langsung dengan Jin Hwa Young yang sudah menunggu di depan altar pembeku sihir.

Dan benar saja, sesuai dengan perkiraan dan dugaan Han Seol sejak awal, Jin Hwa Young bukanlah tipe wanita yang akan secara sukarela memberikan bantuan atau memberitahu cara mengeluarkan cacing darah tersebut tanpa meminta bayaran yang setimpal.

"Aku sudah menyiapkan segala sesaji dan belati pusaka untuk ritual ini, Han Seol," ucap Jin Hwa Young dengan senyum dingin penuh kelicikan.

"Namun, Jinyowon tidak bekerja secara cuma-cuma. Sebagai imbalan atas keselamatan putra Jenderal Baek, aku menuntutmu untuk mengembalikan Jin So Hwa sepenuhnya ke dalam benteng ini dan membatalkan pernikahan gila kalian!"

Do Kwang yang berada di samping Han Seol sempat terkejut dan hendak melayangkan protes atas persyaratan yang teramat sepihak tersebut. Namun, demi menyelamatkan nyawa Baek Seo Jun—sahabat karib sekaligus cinta pertama dari raga yang kini memegang jiwa Nara—Han Seol mengangkat tangan kanannya, menahan gerakan pamannya. tanpa keraguan sedikit pun di wajah dinginnya, Han Seol menatap lurus mata ibu mertuanya.

"Baiklah. Aku menyetujui permintaanmu," sahut Han Seol mantap. "Selamatkan Seo Jun terlebih dahulu, dan setelah itu kau bisa mengambil kembali putrimu."

Singkat cerita, proses eksekusi ritual mistis tingkat tinggi itu pun segera dimulai di dalam kedalaman ruang pusaka Jinyowon. Ritual penyembuhan ini berjalan dengan tensi yang sangat menegangkan, melibatkan banyak orang penting, serta menggunakan berbagai macam urutan mantra kuno yang begitu rumit, pelik, dan teramat panjang untuk dijelaskan dengan kata-kata fana.

Metode penyelamatan nyawa Seo Jun ternyata menuntut pengorbanan yang luar biasa. Dengan menggunakan kemampuan sihir tingkat tertinggi milik Jin Hwa Young, parasit cacing darah yang tadinya menyatu dengan inti energi Seo Jun perlahan-lahan dipaksa bergerak, dipindahkan secara mistis ke dalam wadah tubuh Jin So Hwa yang memiliki aliran darah spiritual murni keturunan Jin.

Begitu cacing darah berpindah dan bersarang sementara di lengan So Hwa, mereka semua dengan tergesa-gesa membawa tubuh So Hwa yang mulai merintih kesakitan menuju tepat di hadapan wadah artefak Jinyowon.

Dengan gerakan cepat dan presisi, Jin Hwa Young menarik sebilah belati pusaka khusus berukir mantra penarik, lalu mengiris punggung tangan Jin So Hwa hingga darah segar mengalir deras membasahi altar giok.

Ssssshh!

Aroma darah murni Jinyowon memancing parasit hitam itu keluar. Cacing darah terkutuk itu akhirnya merangkak keluar menembus luka irisan di tangan So Hwa, menggeliat mencoba melarikan diri ke udara.

Namun, Pangeran Go Si Woo yang sejak tadi sudah bersiap di samping altar segera mengalirkan energi pelindung apinya. Dengan gerakan sigap, Pangeran membantu menangkap makhluk gaib tersebut menggunakan cawan giok khusus, lalu merapalkan mantra penghancur hingga cacing darah itu terbakar habis, remuk, dan memuai menjadi debu hitam yang musnah lenyap seketika di udara.

Baek Seo Jun akhirnya berhasil diselamatkan dari gerogotan maut.

****

Sementara itu, di belahan tempat lain, tepatnya di area koridor luar padepokan Cheon Gi Won, suasana tampak diliputi kegelisahan. Baek Chae Won berjalan tergesa-gesa dengan selembar gulungan kertas yang terikat rapi di tangannya.

Surat tersebut merupakan sebuah pesan rahasia yang teramat krusial, yang tanpa sengaja ia dapatkan dari laci meja kerja pribadi Baek Seo Jun sebelum pemuda itu tak sadarkan diri di Seojukwon.

Mengingat pentingnya isi pesan misterius tersebut, Chae Won berniat untuk segera memberikan surat itu secara langsung kepada paman Han Seol, Do Kwang, agar bisa segera ditindaklanjuti.

Langkah kaki Chae Won terhenti saat melihat Yoo Ha Jin baru saja keluar dari ruang arsip utama. "Tuan Ha Jin! Di mana Tuan Do Kwang? Aku harus menemuinya sekarang juga untuk menyerahkan dokumen penting ini," tanya Baek Chae Won dengan nada suara yang cemas.

Yoo Ha Jin menghentikan langkahnya, menatap Chae Won dengan raut wajah lesu dan lelah setelah terjaga sepanjang malam.

"Kau tidak bisa menemuinya di sini, Chae Won. Menurut seluruh informasi dan perintah terakhir yang kudapatkan, Tuan Do Kwang saat ini sedang tidak berada di wilayah Cheon Gi Won. Beliau pergi mendampingi Han Seol menuju benteng Jinyowon untuk mengawal ritual pengeluaran cacing darah Baek Seo Jun."

Mendengar penjelasan dari Ha Jin tersebut, Baek Chae Won menghela napas panjang, menatap gulungan kertas di genggamannya dengan perasaan campur aduk.

Kerinduan untuk mengungkap kebenaran terpaksa harus tertahan sejenak. Alhasil, karena tidak ada tetua lain yang bisa ia percayai saat ini, surat rahasia yang menyimpan teka-teki takdir masa lalu Seo Jun tersebut terpaksa masih harus Chae Won bawa dan simpan rapat-rapat di dalam saku jubahnya, menunggu momen yang tepat hingga para penyihir agung kembali dari benteng keluarga Jin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!