Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Suhu di dalam ruang kerja CEO itu terasa normal berkat pendingin ruangan, namun tubuh Marco yang terbaring lemas di atas sofa memancarkan panas yang luar biasa.
Napas pria itu memburu pendek-pendek. Keringat sebesar biji jagung terus bermunculan di pelipisnya. Kening Marco berkerut dalam, kepalanya menggeleng pelan ke kanan dan ke kiri.
"Sakit... perasaanku tidak nyaman..." racau Marco parau, matanya terpejam erat.
Lia yang berlutut di samping sofa panik bukan main. Ia menyentuh dahi Marco, dan rasa panasnya langsung menyengat telapak tangannya.
"Ya Tuhan, Tuan! Anda demam tinggi sekali!" seru Lia dengan suara bergetar. Ia menoleh ke arah pintu. "Tahan sebentar, Tuan Maverick. Saya akan keluar mencari bantuan. Saya akan menelepon dokter dan memanggil petugas keamanan untuk membawa Anda!"
Lia baru saja hendak berdiri, namun tiba-tiba, sebuah tangan besar yang panas mencengkeram pergelangan tangannya dengan sangat erat.
"Jangan..." gumam Marco lemah, namun cengkeramannya mengunci pergerakan Lia.
"Tuan, lepaskan! Saya harus mencari bantuan!" balas Lia panik, berusaha menarik tangannya.
Namun, alih-alih melepaskan, Marco justru menggunakan sisa tenaganya untuk menarik lengan Lia kuat-kuat ke arahnya.
Bruk!
Tubuh mungil Lia seketika kehilangan keseimbangan. Ia jatuh menimpa dada bidang Marco. Wajahnya terhempas ke depan, dan saat ia menahan tubuhnya dengan kedua siku, wajahnya kini berada tepat di depan wajah Marco. Jarak mereka tak lebih dari sejengkal.
Lia menahan napas. Dari jarak sedekat ini, ia bisa merasakan hembusan napas Marco yang panas menyapu kulit wajahnya. Kacamata tebal Lia sedikit melorot, membuat pandangannya langsung tertuju pada wajah pucat pria itu.
Marco masih memejamkan mata, setengah sadar dalam belenggu demamnya. Namun, tangannya perlahan bergeser dari pergelangan tangan Lia, naik mencari jemari gadis itu, lalu menggenggamnya erat-erat di depan dadanya.
"Kenapa..." bisik Marco parau. Suaranya bergetar, sarat akan luka yang begitu dalam. "Kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku?"
Lia mematung. Dadanya mendadak terasa sesak mendengar nada keputusasaan itu.
"Jika tak suka padaku..." lanjut Marco, suaranya semakin melemah dan pecah, "...kenapa harus memberiku harapan?"
Satu tetes air mata tiba-tiba lolos dari sudut mata Marco yang terpejam, mengalir turun melewati pelipisnya dan jatuh ke pelapis sofa.
Pria raksasa yang arogan, jenius, dan selalu bermulut tajam ini... sedang menangis.
Deg! Deg! Deg!
Jantung Lia berdegup sangat cepat. Sesuatu di dalam dadanya seolah ditarik paksa. Menatap wajah Marco yang biasanya begitu congkak kini hancur dan terluka, membuat pertahanan Lia runtuh seketika. Sebuah dorongan aneh dan sangat kuat muncul dari dalam hatinya. Ia merasa sangat ingin melingkarkan lengannya di leher pria ini, memeluknya erat, dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Lia bahkan sudah sedikit mencondongkan tubuhnya, nyaris menyentuhkan keningnya ke kening Marco.
Namun, sedetik kemudian, logika cerdasnya menampar kewarasannya dengan keras.
Astaga! Sadar, Lia! Sadar! rutuk Lia memaki dirinya sendiri dalam hati. Ia buru-buru menarik kepalanya mundur. Dia atasanmu! Jangan berani-berani melecehkan orang yang sedang sakit! Apa yang ada di pikiranmu, Isabel?!
Lia menelan ludah, berusaha mengenyahkan debaran jantungnya yang liar. Ia menarik tangannya dari genggaman Marco, lalu menepuk pipi pria itu lumayan keras.
Plak! Plak!
"Tuan Maverick! Sadarlah!" seru Lia, memaksa suaranya terdengar tegas. "Buka mata Anda! Anda harus ke rumah sakit sekarang juga!"
Marco mengerang pelan, perlahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat. Pandangannya kabur, menatap siluet gadis berkacamata di atasnya.
"Tidak..." tolak Marco lemah, berusaha mendorong tubuh Lia. "Jangan berisik... Jangan sampai ada yang tahu kalau aku sedang tak enak badan. Kalau para pemegang saham tahu aku kolaps, harga saham kita bisa anjlok sore ini..."
Lia mendengus kesal, tak habis pikir. "Tuan ini sedang sekarat masih saja memikirkan saham?! Nyawa Anda lebih penting dari lembaran uang kertas itu! Ayo, bangun!"
Dengan sisa tenaga dan keputusasaan, Lia menarik lengan Marco, mengalungkannya ke lehernya, lalu memapah pria itu untuk duduk, dan akhirnya berdiri tegak.
"Ukh!" Lia meringis menahan beban. "Berjalanlah sedikit, Tuan! Jangan serahkan seluruh berat badan Anda padaku! Anda ini makan beton atau apa, hah?! Berat sekali!"
"Kau yang terlalu kurus, Ensiklopedia..." gumam Marco ngelantur, langkah kakinya terseret-seret.
"Iya, iya, saya yang salah! Pokoknya kita harus sampai ke basement tanpa ketahuan!" omel Lia.
Dengan susah payah, Lia memapah bosnya keluar dari ruangan. Beruntung, ada lift khusus eksekutif yang langsung terhubung ke basement VIP.
Sepanjang perjalanan di dalam lift, Lia harus menyandarkan tubuh Marco ke dinding baja sambil terus mengomel agar pria itu tidak tertidur.
Pintu lift terbuka di area parkir bawah tanah yang sepi. Udara pengap khas basement langsung menyambut mereka.
"Bertahanlah, Tuan. Mobil Anda ada di sebelah pilar sana," ucap Lia terengah-engah, peluh sudah membasahi seluruh wajahnya. "Supir Anda pasti sedang berjaga di—"
"Apa-apaan ini?!"
Sebuah jeritan melengking yang tajam tiba-tiba memecah kesunyian basement.
Lia menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah sumber suara. Dari balik pilar beton, muncul Alana. Wanita berblazer putih itu berdiri dengan wajah merah padam, matanya melotot menatap lengan Marco yang merangkul erat leher Lia, dan tubuh mereka yang menempel rapat.
"Nona Alana?" gumam Lia terkejut, napasnya masih terengah-engah.
"Dasar wanita murahan!" bentak Alana, melangkah cepat menghampiri mereka dengan sepatu hak tingginya yang berbunyi nyaring beradu dengan lantai beton. "Aku sudah curiga sejak di ruang rapat tadi! Kau sengaja mencari-cari kesempatan, kan?! Beraninya kau menggoda Marco di area sepi seperti ini!"
Lia mendecak kesal. Urat kesabarannya benar-benar putus. "Menggoda matamu! Tuan Maverick sedang sakit parah! Beliau demam tinggi! Cepat minggir, aku harus membawanya ke rumah sakit!"
"Sakit?!" Alana tertawa sinis, tidak percaya. Matanya menatap jijik pada Lia. "Alasan macam apa itu?! Kau pasti sengaja merayunya, sengaja menempel-nempel padanya karena tahu tidak ada orang di sini! Lepaskan tangan kotormu dari Marco, Gadis Jelek!"
"Kau yang gila!" balas Lia marah. "Kalau aku melepaskannya, dia akan jatuh!"
"Lepaskan kubilang!" jerit Alana kehilangan akal sehat karena cemburu dan dendam.
Tanpa peringatan, Alana menerjang maju. Dengan kedua tangannya, ia mendorong bahu Lia sekuat tenaga.
"Ah!"
Dorongan itu datang terlalu tiba-tiba. Lia, yang sudah kehabisan tenaga untuk menopang berat badan Marco, seketika kehilangan keseimbangan. Kakinya terkilir, tubuhnya oleng ke belakang.
Karena lengan Marco masih terkunci di lehernya, pria yang sedang setengah sadar itu pun ikut tertarik jatuh.
BRUK!!
Tubuh keduanya terhempas keras ke lantai beton basement. Lia jatuh terlentang, sementara tubuh besar Marco menimpanya telak, membuat udara di paru-paru Lia seolah terpompa keluar sepenuhnya.
Rasa sakit menjalar di punggung Lia, disusul oleh keheningan mengerikan yang menguasai ruang bawah tanah itu.
oooh tdk bisaaa ,, anda gx liat tuh calon pawang ny udh ngeluarin tanduk dari kening ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣