NovelToon NovelToon
Suara Untuk Dia

Suara Untuk Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Idola sekolah
Popularitas:153
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Putra Satria Hsb

【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 - Langkah Pertama di Atas Gelanggang

Aroma tanah basah bekas hujan kemarin sore masih tercium tipis di udara, bercampur dengan wewangian khas ruang kelas yang pengap saat bel istirahat pertama akhirnya berbunyi nyaring. Suasana kelas X IPA 2 yang tadinya agak hening mendadak berubah riuh seketika. Gesekan kaki kursi yang ditarik kasar, gelak tawa siswa yang bersahut-sahut, serta teriakan beberapa anak cowok yang sudah bersiap menyerbu kantin memenuhi setiap sudut ruangan.

Di meja barisan kedua dekat jendela, Diko sudah merenggangkan kedua tangannya ke atas sambil menguap lebar. Sementara itu, aku masih sibuk memperhatikan sosok di depanku. Nara sedang merapikan lembaran catatannya dengan sangat teliti, memoles tiap judul bab menggunakan pulpen gel warna-warni dan memberi stempel gambar karakter lucu di pojok kertasnya.

"Satria, kau jadi traktir es teh sama bakso kan?" bisik Diko sambil menyiku lenganku pelan dari samping. "Awas saja kalau cuma wacana ya. Cacing di perutku ini sudah berdemo dari pertengahan jam pelajaran Fisika tadi."

"Jadi, lah! Laki-laki itu yang dipegang omongannya, bukan cuma obral janji manis," balasku mantap sambil menepuk dada, walau sejujurnya aku sempat melirik cemas ke arah sisa uang lembaran di dalam dompetku.

Lima belas ribu rupiah. Jumlah yang terbilang sangat pas-pasan untuk ukuran anak SMA di jam istirahat. Tapi buatku, rasa gengsi dan keinginan untuk menyenangkan hati Nara jauh lebih tinggi nilainya daripada sisa uang sakuku hari ini.

Aku memajukan posisi dudukku, menatap ke arah meja depan. "Yuk, Ra, Lin. Kita ke kantin sekarang sebelum tempatnya penuh diserbu anak-anak kelas XII."

Nara menoleh perlahan ke belakang, memasukkan pulpen gelnya satu per satu ke dalam tempat pensil. Bibir tipisnya mengukir senyum manis yang sangat renyah, memamerkan lesung pipinya yang dalam. Tatapan matanya yang jernih selalu saja berhasil membuat fokus pikiranku berantakan dalam hitungan detik.

"Nah, gitu dong! Tepat janji itu baru namanya cowok," sahut Nara dengan suara plastisnya yang halus namun tegas. "Tapi ingat ya Satria, habis dari kantin kita langsung ke area pendaftaran eskul di lapangan tengah. Kamu sama Diko enggak boleh kabur atau melenceng ke tempat lain!"

"Siap, Kanjeng Ratu! Perintah dilaksanakan," jawabku sambil memasang sikap hormat bercanda, yang langsung disambut tawa kecil dari Lina dan lirikan mata gemas dari Nara.

Kantin belakang sekolah siang itu padat bukan main. Uap panas dari kuah bakso Pak Kumis menyatu dengan bisingnya suara mangkok yang beradu dan canda tawa ratusan siswa. Di tengah riuh rendah atmosfer kantin, kami berempat berhasil mengamankan satu meja panjang di bawah rindangnya pohon mangga.

Melihat Nara yang sedang menyeruput es teh manisnya dengan santai, ada rasa hangat yang menjalar pelan di dalam dadaku. Perempuan di depanku ini benar-benar unik. Dia tidak perlu bersolek berlebihan atau bertingkah aneh untuk menarik perhatian. Kehadirannya yang sederhana, dipadu dengan aura kecerdasan yang memancar kuat, membuat dia terlihat sangat berbeda dari cewek mana pun yang pernah kutemui.

"Satria, aku mau tanya deh. Kamu beneran mau masuk eskul pencak silat?" tanya Nara tiba-tiba di sela-sela mengunyah baksonya. Mata bulatnya menatapku penuh rasa ingin tahu.

"Seriuslah, Masa aku bercanda," jawabku mantap setelah menelan potongan bakso. "Dari zaman SMP aku memang sudah tertarik sama dunia bela diri. Lagipula, kamu kan tahu sendiri... Kalau di bidang akademik dan nilai pelajaran aku selalu ketinggalan jauh, setidaknya di bidang olahraga aku bisa buktikan kalau aku punya kemampuan dan potensi yang bisa dibanggakan."

Nara terdiam sejenak mendengarkan ucapanku. Tidak ada raut wajah meremehkan, tidak ada tawa ejekan, ataupun nada sindiran yang keluar dari bibirnya. Sorot matanya justru melunak, menatapku dengan sebuah tatapan teduh yang terasa sangat menghargai.

"Setiap orang itu punya jalan dan kelebihannya masing-masing, Satria," kata Nara pelan, namun setiap kata yang diucapkannya menancap sangat kuat di dalam hatiku. "Enggak semua orang di dunia ini harus jago dalam rumus Matematika, Kimia, atau Fisika. Yang paling penting itu, kamu serius dan sepenuh hati menjalani apa yang kamu suka. Jangan setengah-setengah."

Kalimat sederhana yang keluar dari mulut Nara siang itu rasanya seperti suntikan semangat dosis tinggi yang membakar dadaku. Di saat aku selalu merasa canggung, minder, dan tidak percaya diri dengan ketidakmampuanku bersaing di kelas unggulan X IPA 2, Nara justru menjadi orang pertama yang memberikan pandangan positif dan menghargai keberadaanku apa adanya.

Selesai menghabiskan piring bakso dan es teh, sesuai janji yang telah disepakati, kami berempat melangkah menuju area lapangan tengah sekolah. Berbagai stand ekstrakurikuler sudah berjejer rapi menggunakan meja-meja lipat dan spanduk kain. Mulai dari Paskibra, Pramuka, Basket, hingga Karya Ilmiah Remaja. Suara riuh para senior yang saling berteriak mempromosikan kegiatan masing-masing terdengar menggema di udara sore yang mulai hangat.

Aku dan Diko melangkah mantap menuju sebuah stand berlatar spanduk kain putih polos dengan tulisan tulisan tangan yang tegas: Pencak Silat. Di sana, beberapa senior berseragam serba hitam dengan kain sabuk melilit di bagian pinggang sedang berdiri tegap. Aura ketegasan, kedisiplinan, dan kekerhasan fisik langsung terasa menekan tatkala langkah kaki kami makin mendekat.

"Selamat sore, Mas. Kami berdua mau mendaftar eskul silat," ucapku dengan nada suara yang sengaja kubuat semantap mungkin sambil menyambut lembaran formulir kertas yang disodorkan oleh seorang senior bertubuh tinggi kekar.

"Satria Putra dan Diko..." baca senior bertubuh kekar itu pelan sambil menatap tajam berkas yang baru saja kuisi. "Kenapa kalian tertarik ikut silat? Ingat ya, ini bukan sekadar eskul biasa tempat kalian main-main. Di sini dibentuk fisik yang kuat, mental baja, dan kedisiplinan tingkat tinggi. Kalau kalian cuma mau gaya-gayaan pakai seragam hitam biar kelihatan keren di depan cewek, mendingan mundur dari sekarang dan pulang ke rumah!"

Diko yang berdiri di sebelahku sempat menelan ludah dengan susah payah. Wajahnya agak ciut dan pucat mendengar gertakan bersuara berat dari senior tersebut. Namun, reaksi yang terjadi padaku justru sebaliknya. Aku mengepalkan jemari tanganku erat-erat di samping paha, menyalurkan seluruh keberanian yang kumiliki.

"Saya serius mendaftar, Mas. Saya mau belajar dari nol, saya mau dilatih keras, dan saya mau jadi atlet yang bisa membawa nama harum sekolah ini di kejuaraan," jawabku dengan suara lantang, menggelegar, dan mata menatap lurus tanpa ada keraguan sedikit pun.

Aku sama sekali tidak sedang berbisnis bualan di depan senior. Di dalam relung hatiku yang paling dalam, sebuah tekad raksasa yang tersembunyi mulai bergelora dahsyat. Aku ingin berprestasi, aku ingin membuktikan pada diriku sendiri—dan tentu saja pada Nara—bahwa Satria Putra bukan sekadar cowok konyol yang cuma bisa menjadi bahan tertawaan dan membuat kerusuhan di dalam kelas.

Senior itu menatapku cukup lama, seolah sedang menguji ketahanan mental lewat tatapan matanya. Hingga akhirnya, sebuah ukiran senyum tipis muncul di wajah garangnya.

"Bagus! Sikap seperti itu yang kami cari. Besok sore jam empat latihan perdana di lapangan aula bawah. Jangan sampai ada yang telat seberapapun alasannya, dan bawa baju olahraga lengkap!" tegas senior itu sambil membubuhkan tanda tangan persetujuan di formulir pendaftaran kami.

Setelah menyelesaikan proses administrasi pendaftaran, aku membalikkan badan dan menoleh ke arah pinggir lapangan. Di bawah naungan pohon mahoni yang rindang, Nara dan Lina masih setia berdiri memperhatikan kami berdua dari kejauhan. Begitu pandangan mata kami saling beradu di antara kerumunan siswa lain, Nara mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memberikan dua acungan jempol sambil mengumbar senyum cantiknya yang tiada tanding.

Sensasi aneh berupa aliran kehangatan langsung menyengat dadaku—sebuah kombinasi antara rasa bangga yang meletup-letup dan dorongan jiwa yang sangat kuat untuk membuktikan setiap kata yang telah kuucapkan tadi.

Sore itu, saat melangkah pulang menyusuri jalanan kota menggunakan sepeda motor bersama Diko, aku sempat memandangi bayangan diriku sendiri di kaca spion. Seragam putih abu-abuku terlihat mulai kusam dan basah oleh keringat. Aku tahu betul, jarak akademisku untuk bisa mengejar posisi di samping Nara masih sangat jauh membentang bagaikan jurang yang dalam. Dia adalah bintang di puncak tertinggi tangga akademik sebagai murid terpintar, sementara aku masih merangkak tertatih-tatih di dasar.

Namun, lembaran formulir pendaftaran eskul pencak silat hari ini adalah pijakan dan batu loncatan pertamaku. Jika aku tidak mampu menyejajarkan diriku dengannya lewat lembar kertas ujian dan angka-angka nilai di atas kertas, maka aku akan menembus batas ketidakmungkinan itu lewat tetesan keringat, rasa sakit, dan perjuangan panjang di atas gelanggang pertarungan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!