NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 - Surat Untuk Ayah dan Ibu

Tiga hari setelah dititipkan ke Ustazah Khadijah, amplop cokelat itu sampai.

Siang itu, pos berhenti di depan rumah. Amplopnya agak kusut.

Ibu yang menerima. Begitu lihat tulisan tangan di depannya, Ibu langsung tahu.

"Muthi'ah..."

"Ayah!" panggil Ibu ke belakang.

Ayah yang masih di sawah pulang dengan caping di tangan.

"Surat dari Muthi'ah," kata Ibu.

Mereka duduk di tikar ruang tengah. Ibu membuka pelan. Tiga lembar buku tulis, penuh dari depan sampai belakang.

Baru beberapa baris, mata Ibu berkaca-kaca.

"Abi, Umi, assalamualaikum..."

Sampai di bagian belum siap menikah, ingin kuliah, suara Ibu bergetar.

"Yah..."

Ayah mengambil alih kertas itu. Dibaca dalam diam. Satu halaman, dua, tiga. Tidak ada kalimat kasar. Tidak ada menyalahkan. Di setiap paragraf justru ada kata hormat.

Tapi satu hal jelas: anaknya sedang minta ruang.

Selesai baca, Ayah membalik lagi ke halaman pertama.

"Anak kita selama ini setakut itu ternyata," gumam Ayah.

"Kita sibuk mikirin siapa jodohnya, sampai lupa nanya kapan dia siap," sahut Ibu.

Ayah menghela napas panjang. Surat itu dilipat hati-hati, dimasukkan lagi ke amplop.

"Besok kita ke pesantren."

"Besok? Sawah gimana?"

"Minta tolong Pak Darto dulu. Anak kita nggak butuh balasan surat. Dia butuh dengar langsung."

Di Darul Hikmah, Muthi'ah justru gelisah. Sudah tiga hari, tidak ada kabar. Tiap ada suara mobil berhenti di depan gerbang, dia refleks lihat jendela.

"Sudah ada balasan?" tanya Zahra.

Muthi'ah menggeleng. "Aku takut Ayah marah."

Dina duduk di sebelahnya. "Kalau pun marah, sekarang mereka udah tahu apa yang kamu rasakan. Itu yang penting."

Keesokan pagi habis Subuh, mobil Ayah berhenti di depan Darul Hikmah. Ayah Ibu turun membawa rantang ayam goreng dan amplop cokelat yang sudah lecek karena sering dibuka.

Ustazah Khadijah mengantar mereka ke ruang tamu putri.

Muthi'ah datang dengan langkah pelan. Jantungnya berdebar. Begitu lihat Ayah Ibu tidak marah, dia lega sedikit. Dia mencium tangan keduanya.

"Sini, Nak," kata Ayah.

Ayah mengeluarkan surat itu. "Ayah sama Ibu sudah baca. Dua kali. Malam tadi Ayah baca lagi."

Muthi'ah menunduk. "Maaf, Bi..."

"Justru Ayah yang harus minta maaf," potong Ayah.

Mata Muthi'ah langsung berkaca.

"Selama ini Ayah pikir tugas Ayah selesai kalau sudah carikan jodoh terbaik. Keluarga Kiai Hasyim, anak baik seperti Jay. Ayah lupa, tugas Ayah itu bukan ngasih jodoh, tapi ngasih ruang buat kamu milih."

Ibu mengusap punggung Muthi'ah.

Ayah melanjutkan, "Kamu mau kuliah Bahasa Arab? Mau jadi guru?"

Muthi'ah mengangguk. "Iya, Bi."

Ayah tersenyum tipis, tapi senyumnya masih berat.

"Ya sudah. Kuliah dulu."

Air mata Muthi'ah jatuh.

"Soal Jay... Ayah tetap anggap dia anak baik. Hubungan sama keluarga Kiai tetap Ayah jaga. Tapi Ayah janji, tidak akan buru-buru. Kamu nikah nanti karena kamu ridha, bukan karena takut kecewain Ayah Ibu."

Kalimat terakhir itu yang bikin Muthi'ah pecah. Dia langsung memeluk Ibu, lalu memeluk Ayah. Pelukan yang sudah lama tidak dia rasakan sejak masuk pesantren.

"Mulai sekarang kalau ada yang kamu takutkan, bilang. Jangan nunggu sampai harus nulis tiga halaman," kata Ayah sambil mengusap kepala anaknya.

Di luar ruang tamu, Dina, Zahra, Salsa yang pura-pura tidak menguping ikut berkaca-kaca.

Di dalam, Muthi'ah melihat suratnya di atas meja. Surat yang dia tulis karena takut, ternyata jadi jembatan.

Hari itu dia bukan cuma dapat izin kuliah. Dia dapat kembali suaranya sebagai Muthi'ah Azzahra.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!