Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.
Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.
Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.
Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.
Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...
“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Umpan
Isak Bu Sumarni terhenti. Ia terkejut, mendengar putranya malah membela wanita yang paling ia benci, menantunya.
"Tadi Ibu juga yang nyuruh dia beli ayam, padahal Ibu tahu dia nggak punya uang. Kemarin... kemarin Ibu juga bawa pulang semua makanan di rumah, sampai nggak ada sisa buat dia." Rizal menelan ludah, suaranya gemetar tapi terus berjalan. "Aku juga... aku juga tahu dia dihina tadi sama Bude dan Tante Lisna. Aku nggak bilang apa-apa. Danti cuma..."
"APA!" Teriakan Bu Sumarni membelah ruangan seperti pecahan kaca. Ia marah, karena Rizal yang biasanya selalu membela dirinya. Kini, malah terang-terangan membela wanita yang sampai kapanpun gak akan sudi ia akui sebagai menantu.
Bu Sumarni sampai melompat berdiri, matanya melotot seperti hendak keluar dari sarangny. "KAMU MEMBELA DIA? DI DEPAN IBU?" jerit Bu Sumarni.
"Bu, aku cuma..." saat Arga Rizal tertahan. Ini kali pertama ia melihat sang Ibu semarah ini padanya.
"Dasar anak durhaka!" Suaranya melengking. "Anak durhaka! Kamu lebih memilih perempuan itu daripada ibumu sendiri! Ya Allah, dosa apa aku punya anak seperti ini! Dulu aku susah payah mengandung, melahirkan, menyusui, begadang waktu kamu demam, sekarang..."
"Bu, bukan begitu maksudku..." Rizal kembali merasa bersalah.
"JANGAN PANGGIL AKU IBU KALAU KAMU MEMBELA ORANG LAIN!" bentak Bu Sumarni.
Rizal membeku.
Seluruh keberaniannya, yang baru saja muncul dalam bentuk lirih dan bergetar, meleleh seperti es di bawah terik matahari. Pundaknya merosot. Kepalanya menunduk. Mulutnya terkatup rapat. Tak sanggup menanggung kemarahan sang ibu.
Kata durhaka itu menghantamnya seperti cambuk, menembus seluruh perlindungan yang ia kira sudah ia bangun dengan kokoh. Namun nyatanya hanya setebal kertas HVS yang hanya tertutup angin sudah terbang entah kemana.
"Maaf, Bu," bisiknya akhirnya. "Aku... aku salah ngomong." sesal Rizal.
Bu Sumarni mendengus, memalingkan wajah dengan angkuh tapi jelas terlihat bahwa sudut bibirnya melonjak puas. Karena jurus ampuhnya, berhasil membuat sang putra kembali berpihak padanya.
Rani yang sejak tadi hanya diam menyaksikan, kini menghela napas panjang lalu mengusap bahu ibunya dengan lembut.
"Sudah, Bu sudah. Tenang dulu. Jangan marah-marah, nanti tekanan darah Ibu naik." bujuk Rani seperti seorang anak yang sangat berbakti pada ibunya. Padahal itu semua hanya topeng yang selalu ia kenakan dengan sempurna.
"Tapi Rani, abangmu..."
"Aku tahu, Bu. Aku ngerti." Rani menepuk-nepuk tangan ibunya, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Bu Sumarni dan berbisik cukup pelan hingga Rizal tak bisa mendengar. "Ibu tenang aja. Aku punya jurus ampuh. Dijamin Abang bakal cerai sendiri sama Danti. Ibu percaya sama aku."
Mata Bu Sumarni mengerjap. Seulas senyum licik perlahan merekah di wajahnya. Ia mengangguk perlahan, lalu menyeka pipinya yang kering dan kembali menyandar di kursi dengan dramatis.
Rani bangkit dengan senyum manis dan melangkah ke dapur. Beberapa saat kemudian ia kembali sambil membawa segelas air dingin di nampan kecil. Ia menghampiri Rizal yang masih berdiri lesu di tengah ruangan, lalu menyodorkan gelas itu dengan lembut.
"Nih, Bang. Minum dulu. Muka Abang pucat banget."
Rizal menerimanya dengan tangan sedikit gemetar. "Makasih, Ran."
"Duduk, Bang. Jangan berdiri terus."
Rizal menurut, ia duduk di kursi di seberang ibunya. Air dingin mengalir menuruni tenggorokannya, dan ia mendesah pelan.
Rani duduk di sampingnya, merangkul bahunya dengan gaya kakak yang bijak, meski usianya jauh lebih muda. Suaranya berubah lembut, hangat, seperti seorang penasihat spiritual.
"Bang, aku ngerti kok perasaan Abang. Abang nggak mau cerai karena Abang orang baik. Abang punya tanggung jawab, punya hati." Ia menepuk-nepuk bahu kakaknya. "Aku cuma mau Abang bahagia. Itu aja. Aku sayang Abang. Dan Ibu juga."
"Iya, Ran..." Rizal mengangguk.
"Aku nggak maksa Abang cerai. Itu keputusan Abang." Rani menarik napas panjang, sok bijak, sok baik, dan sok perhatian."Tapi coba Abang pikir. Rumah tangga itu bukan cuma soal tanggung jawab. Rumah tangga itu soal kebahagiaan. Abang bahagia nggak sih sekarang?"
Rizal terdiam. Gelas di tangannya berputar pelan, ia membisu, bingung mau menjawab apa. Karena ia sendiri juga tidak tahu tentang perasaannya sekarang. Apakah ia bahagia? Atau justru menderita?
"Setiap hari berantem, setiap hari ribut, nggak ada yang mau ngalah. Abang capek kerja, pulang bukannya tenang malah ribut soal uang, soal makan." Rani mendesah. "Aku cuma pengen Abang ngerasain lagi gimana rasanya disayang, dihargai, dipuja. Kayak dulu waktu Abang pacaran sama Mbak Danti."
"Kayak dulu waktu pacaran."
Kalimat itu menyelinap ke benak Rizal seperti serangga kecil yang menggigit di tempat tak terduga. Ingatan tentang masa lalu membanjir... Danti yang langsing, tertawa renyah, memakai gaun-gaun cantik yang membuat orang menoleh. Danti yang dulu membuatnya bangga saat berjalan bergandengan tangan. Danti yang dulu membuat semua teman-temannya iri karena ia memiliki pacar yang cantik, dan molek. Takut sekarang...
"Aku cuma bilang, Bang." Rani tersenyum lembut. "Abang masih muda. Abang pantas bahagia."
Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, lalu menggulir layar dengan jari lincah seolah baru teringat sesuatu.
"Oh iya Bang, aku lupa. Aku mau nunjukin sesuatu. Ini temanku, namanya Vanya. Baru pindah ke kota kita." Ia memutar layar ke arah Rizal. "Menurut Abang, gimana? Cantik nggak?"
Rizal menunduk, malas-malasan, lalu menatap layar.
Seorang perempuan muda tersenyum manis ke arah kamera. Kulitnya cerah, rambutnya panjang bergelombang, matanya berbinar. Gaun putih yang ia kenakan memeluk tubuhnya dengan pas. Bukan kurus, bukan pula langsing berlebihan, melainkan berisi di tempat yang tepat. Pinggul yang melengkung, lengan yang halus, wajah yang bulat manis.
Sosok itu begitu familier.
Rizal menahan napas.
Persis seperti Danti. Danti yang dulu. Danti yang ia kenal di tahun-tahun pacaran, yang membuat jantungnya berdegup dan teman-temannya bersiul iri.
"Ini..." gumamnya tanpa sadar. "Dia..."
"Cantik, ya?" Rani mengulum senyum puas, matanya berkilat licik melihat reaksi yang ditunjukkan oleh abangnya. "Aku tahu Abang bakal suka."
Rizal tak menjawab. Matanya masih tertuju pada layar dan sudut bibirnya perlahan terangkat. Jantungnya masih berdegup, tidak kencang, tapi cukup keras seperti saat pertama kali ia bertemu dengan Danti tanpa sengaja.
Hanya sedikit, nyaris tak terlihat.
Tapi Bu Sumarni dan Rani juga melihatnya.
Di balik gelas air yang mereka sodorkan, jurus pertama telah dilepaskan.
Mereka seperti sedang mengumpan cacing. Cacing yang terlihat kecil dan kurus, tetapi ditebarkan dalam jumlah yang banyak. Hingga membuat seekor ikan yang tadinya terlihat lemas tak bertenaga, sekarang tanpa sadar sedang makan dengan lahapnya.
km tinggal fokus dg ap yg Skrang km kerjakan ,, meski rasa sakit mungkin ad ,, sbgai istri melihat suami sperti itu ,,