Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Bella memperhatikan hidangan di atas meja makan. Benar dugaannya, semua porsi di sana hanya dikhususkan untuk empat orang, dan semuanya merupakan makanan kesukaan adik perempuannya. Dan Bella sudah terbiasa dengan hal tersebut bahwa memang dari dulu dia tidak pernah makan satu meja lagi dengan kakak-kakaknya beserta adiknya setelah kepergian orang tua mereka.
Bella terdiam sejenak dan menghela napas, lalu menatap para pelayan yang berdiri tak jauh dari sana. Perutnya yang sedari tadi berbunyi seolah ikut meratapi nasib_nya malam ini "Apakah ada sisa makanan di kulkas?" "Atau ada sesuatu yang bisa di masak" tanya Bella pada pelayang di rumah ini.
"S-sisa makanan kemarin sudah dibuang semua, Nona Besar. Kulkasnya juga baru saja dibersihkan oleh pak rian tadi," "Dan kami belum belanja, karna belum ada perintah dari tuan muda" jawab Bibi Marni dengan nada takut-takut.
"Dibuang?" Bella mengulang kata itu dengan nada tidak percaya, namun tidak berniat marah pada Bibi Marni. Ia tahu wanita tua itu hanya menjalankan perintah. "Lalu, apakah benar-benar tidak ada bahan apa pun? Telur? Mi instan? Atau mungkin hanya sebungkus roti?" Tapi para pelayan hanya menunduk kepala mereka dan aku tau mereka juga takut padaku dan gak mau lama lama berinteraksi denganku.
"Apa ada makanan di dapur atau atau apa saja yang bisa dimakan boleh,? karna saya sangat lapar sekali". Tanya Bella pada pelayan tersebut.
Bibi Marni menjawab dengan ragu ragu "ada ubi kukus di panci, tapi sebenarnya itu adalah makanan para pelayan ". Jawab bi marni Dan memang benar kalo ubi kukus itu adalah makanan para pelayan.
Mengabaikan tatapan ragu para pelayan, aku melangkah cepat ke arah yang ditunjuk. Di sana, di atas wadah sederhana, terletak beberapa potong ubi kukus. dan aku mengambil ubi kukus tersebut karna aku saking laparnya karna dari semalam aku tidak dapat makanan sedikit pun.
Rasa lapar yang melilit lambungku sejak semalam—tanpa setetes air atau sesuap nasi pun—membuat seluruh harga diriku menguap begitu saja. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil ubi tersebut, tidak lagi peduli apakah makanan itu pantas untuk seorang Nona Besar seperti diriku. Yang kuinginkan saat ini hanya mengisi perutku yang teramat perih. Yang rasanya seperti diremas oleh tanggan tak kasat mata.
Dengan tergesa-gesa, aku menggigit ubi itu. Teksturnya yang agak serat terasa seret di tenggorokanku yang kering, namun rasanya jauh lebih nikmat daripada hidangan restoran bintang lima mana pun saat ini. Di sudut dapur, aku bisa merasakan tatapan para pelayan yang menunduk makin dalam. Mereka mungkin kasihan, atau mungkin jijik melihat betapa menyedihkannya posisi seorang pewaris sah yang kini harus mengemis makanan sisa pelayan.
Lagi pula, berharap pada saudara-saudaraku sendiri adalah kemustahilan yang sangat bodoh. Mereka sengaja tidak menyisakan makanan sedikit pun untukku. Kebencian mereka sudah mendarah daging sejak kematian kedua orang tua dan kakek kami. Bagaimanapun aku menjelaskan, mereka tetap menuduhku sebagai pembunuh. Hanya karena aku terlahir dengan kutukan—atau kemampuan—untuk melihat tanggal kematian seseorang lewat telapak tangan, mereka mencapku sebagai pembawa kesialan yang merenggut nyawa keluarga kami.
Dan aku juga masih mengingat bagaimana kakek meninggal pada waktu itu, dan juga kedua orang tua kami, padahal waktu itu aku sudah melarang papa untuk pergi ke kantor pada saat itu. Tapi justru aku yang di marah habis_habisan oleh papa.
"Nona Besar mau makan apa?" tanya Bibi Ayu tiba-tiba.
"Kalau Nona besar mau makan sesuatu, bilang saja pada Bibi," serunya lagi. Suaranya bergetar, ada nada ketakutan yang kentara dari balik kalimat ramah itu.
"Bibi akan memasak adapun yang Nona Besar mau makan" lanjut Bibi lagi dengan nada penuh harapan. Matanya yang tadi penuh ketakutan kini berubah menjadi tatapan memohon yang tulus. Padahal itu hanya ucapan saja.
Aku hanya menatapnya datar. Aku tahu persis kenapa dia begitu tegang. Bukan hanya kakak-kakakku, tetapi seluruh pelayan di rumah ini juga memandangku seperti monster. Mereka ketakutan setengah mati sejak tahu aku bisa melihat tanggal kematian orang lain hanya lewat telapak tangan.
Walau aku bicara dari awal pun, mereka tidak akan sudi menyiapkan makanan untukku, batinku pahit. Dan aku tahu mereka tidak akan pernah berani mengambil risiko itu jika bukan karena rasa iba yang mendesak. Di rumah ini, perintah Tuan Muda adalah hukum mutlak. Menolongku sama saja dengan memicu murka kakak-kakakku
Aku mengembuskan napas pendek, lalu meraih ubi kukus di dalam panci. Tapi sudahlah, semua ketakutan dan kebencian mereka tidak penting lagi bagiku.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, aku langsung berbalik dan pergi meninggalkan dapur. Sambil menggenggam ubi kukus hangat di tangan, aku melangkah menuju satu-satunya tempat aman bagiku: kamar gudang_ku.
Namun, baru saja kakiku hendak menapak anak tangga pertama, sebuah langkah kaki yang ceria terdengar dari arah atas. Aku mendongak dan berpapasan dengan Olivia. Gadis remaja itu tampak rapi dengan seragam putih abu-abunya, hendak turun untuk menikmati sarapan mewah bersama kakak-kakakku yang lain sebelum berangkat ke sekolah.
Ya, Olivia beruntung bisa mengecap bangku SMA. Sementara aku? Saudara-saudaraku sendiri dengan tega merenggut hakku dan menolak menyekolahkanku sama sekali.
Dan aku tidak pernah sekolah dari kecil dan aku juga tidak pernah berinteraksi denganku yang lain.
Olivia menghentikan langkahnya tepat di hadapanku. Matanya tertuju pada ubi di tanganku.
"Kak Bella, kok cuma makan ubi kukus?" tanya Olivia dengan polos. "Kan di dapur ada bubur ayam?" "Ayok kita makan bersama" sambungnya kembali. Ditatapnya aku dengan sepasang mata bulatnya yang jernih, tanpa ada sedikit pun kilat kebencian seperti yang biasa kulihat pada saudara-saudaraku yang lain.
Di rumah yang dingin ini, hanya Olivia satu-satunya orang yang masih mau menyapaku dan berbicara padaku tanpa rasa takut ataupun benci. Karna dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang tua kami karna saudara saudara ku tidak memberi tahu Olivia alasan sebenarnya kenapa orang tua kami meninggal.
"Itu disiapkan bukan untukku," jawab Bella pada adik perempuannya.
"Kenapa Kakak tidak pernah mau makan bersamaku? Apakah Kakak membenciku?" tanya Olivia.
"Aku tidak pernah membencimu. Dan alasan aku tidak makan bersama kalian itu bukan hal yang perlu kamu tahu saat ini," jawab Bella.
"Tapi kenapa, Kak? Apa karena kakak-kakak laki-laki? Apakah kalian saling membenci? Olivia lihat Kak Bella tidak pernah berbicara dengan kakak laki-laki.
"Apa kalian saling membenci? Tapi kenapa? Padahal kita adalah keluarga," kata Olivia.
"Aku juga pengin dekat dengan Kakak seperti kakak yang lain, tapi Kakak tidak pernah mau melihatku."
Bella enggan menjawab pertanyaan Olivia lagi. Dia membalikkan badan, bersiap melangkah menuju kamarnya di lantai atas. Namun, baru saja kakinya menapak anak tangga, sebuah suara familier menghentikan langkahnya.
"Olivia, ayo cepat!" seru Charles, kakak ketiganya, yang baru saja muncul dan hendak turun tangga. Charles bermaksud mengajak Olivia sarapan bersama sebelum berangkat ke sekolah.
Seketika itu juga, jantung Bella mencelos. Dia sangat kaget melihat kehadiran kakak ketiganya di sana. Padahal, selama ini Bella sudah berusaha setengah mati untuk menjauhi saudara-saudara laki-lakinya dan tidak ingin berpapasan dengan mereka sama sekali.
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~