Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23: Sanggupkah aku bertahan?
Matahari pagi menyingsing samar di balik jendela kaca kamar rawat VIP, membiaskan pendar keemasan yang menembus tirai tipis. Suara ketukan pelan di pintu memecah keheningan yang menyelimuti ruangan sejak Subuh. Dokter spesialis anak melangkah masuk bersama dua perawat untuk melakukan pemeriksaan akhir pada Moana.
Setelah memeriksa denyut nadi, refleks mata, dan kondisi balutan perban di kening putri bungsu Yoga, sang dokter mengulas senyum ramah.
"Kondisi Dik Moana sudah sangat stabil," ujar dokter seraya mencatat beberapa hal di papan rekam medis. "Luka jahitan di pelipisnya kering dengan baik dan tidak ada tanda-tanda infeksi atau gegar otak ringan. Hari ini Dik Moana sudah diperbolehkan pulang, tapi tetap pastikan dia istirahat total di rumah dan jangan sampai area bekas jahitannya kena air dulu ya, Pak, Bu."
Helaan napas lega membumbung tinggi dari dada Yoga dan Ayu.
"Alhamdulillah... Terima kasih banyak, Dokter," tutur Ayu.
Wajah wanita muda itu tampak sangat pucat, dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya akibat sama sekali tidak memejamkan mata sepanjang malam. Namun, binar lega di matanya tak sanggup disembunyikan.
Yoga melirik istrinya dengan pendar rasa iba dan haru yang mendalam. Ia meraih jemari Ayu, dan mengusapnya dengan lembut. "Terima kasih ya, Ayu... Kamu sudah menjaga Moana semalaman tanpa henti."
"Ini sudah tugas saya, Mas. Yang penting Moana sudah sehat dan bisa pulang."
Di sudut ruangan dekat pintu, Kenzo dan Lea menyaksikan interaksi tersebut dalam diam. Kenzo bersedekap dada dengan wajah datar tanpa ekspresi, sementara Lea melengos menatap ke luar jendela.
Meskipun dokter sudah menyatakan Moana pulih dan bukti ketulusan Ayu menjaga sang adik berada di depan mata, hati kedua remaja itu telah terlalu keras untuk melunak.
Bagi mereka, kepulangan ke rumah justru menjadi awal dari babak baru untuk menegaskan batas penolakan mereka.
Proses administrasi penyelesaian rawat inap selesai pada pukul sepuluh pagi. Mobil SUV hitam milik Yoga kembali meluncur membelah jalanan kota menuju kompleks perumahan mereka.
Di dalam kabin mobil, suasana terasa sangat kontras dari perjalanan liburan kemarin. Tidak ada tawa ceria, tidak ada celoteh riang dari Moana.
Gadis kecil itu duduk dan tertidur lelap di pangkuan Ayu di baris kedua, kepalanya bersandar nyaman di dada Ayu yang hangat. Ayu merangkul tubuh mungil itu dengan sangat hati-hati, dan memastikan setiap goncangan mobil tidak mengganggu tidur sang putri.
Di baris ketiga dan sudut jendela, Kenzo dan Lea membisu seribu bahasa. Keduanya memasang earphone, dan mengunci diri dalam keheningan yang dingin dan berjarak.
Ketika roda mobil akhirnya bergulir memasuki halaman rumah megah bernuansa modern itu, Bibi Minah dan Pak Maman sudah menyambut di depan garasi dengan wajah yang penuh kecemasan.
"Ya Allah, Neng Moana!" tangis Bibi Minah pecah begitu pintu mobil dibuka dan melihat perban putih di kepala anak kecil itu. "Aduh, Bu Ayu... Pak Yoga... Bibi kaget sekali pas Pak Maman cerita Neng Moana masuk rumah sakit!"
"Sudah tidak apa-apa, Bi. Moana sudah ditangani dokter dan sekarang perlu istirahat," potong Yoga menenangkan Bibi Minah seraya mengambil alih tas-tas pakaian dari bagasi.
Ayu keluar dari mobil dengan sangat pelan, sambil menggendong Moana yang masih terlelap gontai di pelukannya. Langkah kaki Ayu agak gemetar akibat rasa lelah yang menumpuk di seluruh tubuhnya, namun ia memegang Moana dengan sangat erat dan penuh kehati-hatian.
Kenzo dan Lea pum turun dari mobil tanpa mengucap sepatah kata pun. Keduanya berjalan mendahului masuk ke dalam rumah, seraya menghentakkan kaki menaiki tangga melingkar menuju kamar masing-masing di lantai dua.
BAM!
BAM!
Dua suara pintu yang dibanting secara berurutan kembali bergema di seisi rumah, menyambut kepulangan mereka dengan ketegangan yang kian mengkristal.
Yoga menghembuskan napas panjang, sembari menatap ke arah tangga dengan pandangan mata yang sarat akan kekecewaan yang mendalam. Ia lalu menoleh ke arah Ayu yang berdiri di ruang tengah.
"Ayu... biar saya yang bawa Moana ke kamarnya dulu. Kamu juga harus istirahat, wajahmu sangat pucat," bujuk Yoga khawatir. Karena tak mungkin juga Yoga membiarkan Ayu menggendong Moana melewati tangga.
Ayu menggeleng pelan seraya mengulas senyuman yang teduh. "Saya bantu tidurkan Moana dulu ya, Mas. Nanti Ayu buatkan teh hangat untuk Mas."
Ayu menata bantal dan menyelimuti Moana hingga dada di atas tempat tidur bernuansa merah muda itu. Ia membelai lembut pipi Moana, membisikkan doa perlindungan, lalu melangkah keluar kamar dengan sangat pelan, kemudian menutup pintunya rapat-rapat.
Rasa lelah yang luar biasa menyerang persendian Ayu. Namun, bukannya menuju kamar utama untuk merebahkan badan, Ayu justru melangkah menuju lorong lantai dua tempat kamar Kenzo dan Lea berada.
Ayu tau, membiarkan kebencian mengendap tanpa disapa hanya akan mempertebal tembok pemisah di antara mereka. Dengan memberanikan diri dan mengumpulkan sisa-sisa ketegaran hati, Ayu melangkah menuju pintu kamar Lea terlebih dahulu.
Tok... tok... tok.
Ayu mengetuk pintu kayu berwarna pink itu secara perlahan.
"Lea... Ini Ibu," panggil Ayu dengan suara selembut mungkin. "Ibu tau Lea pasti capek dan khawatir sama Moana. Di bawah Ibu sudah minta Bi Minah buatkan sup ayam hangat. Kalau Lea mau makan atau butuh sesuatu, panggil Ibu ya..."
Hening. Tidak ada jawaban dari dalam.
Ayu menelan ludahnya yang terasa pahit, lalu berbalik menuju pintu kamar Kenzo di seberang lorong.
Tok... tok... tok.
"Kenzo... Ibu hanya mau terima kasih karena Kenzo sudah mendampingi Moana dan Papa kemarin di rumah sakit," tutur Ayu dari balik pintu. "Kalau Kenzo butuh pakaian bersih yang disetrika, biar Ibu siapkan..."
Tiba-tiba, pintu kamar Kenzo terbuka lebar. Remaja laki-laki itu berdiri di ambang pintu. Ia masih mengenakan jaket hoodie hitamnya. Matanya yang tajam dan dingin menatap Ayu dari atas ke bawah tanpa ada pendar kehangatan sedikit pun.
"Tante gak capek?" tanya Kenzo datar, suaranya sangat rendah namun terdengar menusuk.
Ayu tertegun mendengar pertanyaan remaja laki-laki itu. "Maksud Kenzo?"
Kenzo menyandarkan bahunya pada bingkai pintu, lalu melipat kedua tangannya di dada. "Tante gak capek pura-pura jadi ibu malaikat di rumah ini? Setelah semua yang terjadi, setelah bikin Moana bocor kepalanya, Tante masih berdiri di depan kamar aku dan sok perhatian?"
Ayu meremas jemarinya di balik kain gamisnya. Rasa perih kembali menyengat ulu hatinya. "Kenzo... Ibu sama sekali tidak berpura-pura. Ibu tulus merawat kalian..."
"Tulus?" Kenzo terkekeh pelan, sebuah tawa dingin tanpa rasa humor. "Kalau Tante tulus, Tante bakal sadar diri. Kehadiran Tante di rumah ini cuma bikin Papa berantem sama kita, bikin Moana celaka, dan bikin rumah ini kayak neraka."
Ayu memejamkan matanya sejenak, dan menahan tangis yang mendesak di tenggorokannya. "Kenzo... Ibu sangat mencintai Papa kalian. Ibu ingin mendampingi beliau dan merangkul kalian..."
"Tapi kita gak butuh dirangkul sama Tante!" potong Kenzo tegas, lalu melangkah satu tapak mendekati Ayu hingga jarak mereka sangat dekat. "Dengar ya, Tante Ayu. Kecelakaan Moana kemarin itu bukti nyata kalau Tante gak pantas ada di sini. Mulai hari ini, jangan pernah coba-coba mengetuk pintu kamar aku atau Lea lagi. Jangan pernah sok ngatur hidup kita. Kita berdua bakal pastikan, sekeras apa pun Tante bertahan, Tante cuma bakal jadi orang asing yang bakal tersingkir dari rumah ini."
Sebelum Ayu sempat merespons, Kenzo mendorong pintu kamarnya dan menutupnya secara kasar di depan wajah Ayu.
BAM!
Ayu berdiri terpaku di tengah lorong yang sepi dan dingin. Kata-kata Kenzo bergema berulang kali di dalam kepalanya, bagaikan cermin tebal yang pecah berkeping-keping.
Ayu menyandarkan punggungnya pada dinding lorong, memejamkan matanya rapat-rapat saat air mata yang ditahannya sejak tadi akhirnya luruh membasahi pipinya.
Rasa lelah fisik akibat tak tidur semalaman berpadu dengan beban mental yang teramat berat, hingga membuat pertahanan dirinya runtuh dalam hening.
Namun, di tengah isak tangisnya yang tak bersuara, Ayu mengusap dadanya dengan pelan. Ia mengingat wajah Moana yang tersenyum saat terbangun di rumah sakit, ia mengingat genggaman tangan Yoga yang penuh ketulusan dan kepercayaan padanya.
Ayu menyapu air matanya hingga bersih menggunakan ujung jilbabnya. Ia lalu menegakkan tubuhnya kembali.
Bersambung...