Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Jejak di Tanah Basah
Raka tidak sempat bertanya apa-apa.
Sekar menarik lengannya, setengah menyeret ia masuk melewati pintu kayu, lalu mendorongnya ke sudut dapur yang gelap. Di sana, di bawah rak tempat bergantung bumbu kering dan jerigen tanah liat, terdapat sebuah papan lantai yang bisa diangkat. Gadis itu menyingkapnya dengan kuku jarinya.
"Turun," bisiknya. "Ke lumbung. Jangan bersuara, jangan batuk, jangan bernapas kalau bisa."
"Itu agak sulit..."
"Turun!"
Raka menurut. Ia merayap masuk ke ruang sempit di bawah lantai, yang berbau gabah dan tikus, lalu papan itu menutup di atas kepalanya. Gelap total. Ia hanya mendengar jantungnya sendiri yang berdentam seperti beduk.
Di atasnya, langkah Sekar menjauh. Pintu depan berderit. Lalu terdengar derap sepatu kulit yang berat, banyak sekali, memasuki halaman. Suara seorang lelaki, serak dan berwibawa, memecah malam.
"Atas nama Baginda Rajasanagara, buka pintu! Kami prajurit Bhayangkara!"
Raka menahan napas. Bhayangkara. Pasukan pengawal kerajaan, pasukan elit yang dipimpin langsung oleh Gajah Mada. Mereka tidak datang ke desa terpencil hanya karena iseng.
"Siapa penghuni rumah ini?"
"Saya, Gusti. Sekar, putri Nyai Lastri." Suara Sekar terdengar tenang, jauh lebih tenang daripada yang pantas bagi seseorang yang baru saja menyembunyikan buronan di bawah lantainya. "Ibu saya sedang sakit parah. Mohon jangan terlalu gaduh."
"Kami tidak akan lama." Itu suara lain, lebih muda dan lebih tegas. "Bekel Tarub, periksa sekeliling."
Terdengar langkah kaki yang mengitari rumah. Seseorang naik ke bale bambu di halaman, dan Raka, dalam kegelapan, mendengar kayu berderit. Ia membayangkan cangkir tanah liat yang tadi diberikan Sekar, masih tertinggal di sana. Dan buku catatannya.
Buku catatannya.
Ia membeku. Ia tidak membawanya masuk. Buku itu, dengan tulisan Latin dan angka-angka Masehi, mungkin masih tergeletak di atas bale.
"Gusti Bekel," kata seorang prajurit dari luar. "Ada benda aneh di sini."
Raka memejamkan mata. Semua sudah selesai. Ia akan dibawa ke Trowulan sebagai mata-mata, atau lebih buruk lagi...
"Benda apa?"
"Semacam... tumpukan lembaran kulit, Gusti. Putih dan halus. Ada coretan hitam di dalamnya. Bukan aksara yang saya kenal."
Hening yang panjang. Raka nyaris bisa mendengar Sekar menahan napas di atasnya.
"Itu catatan saya, Gusti," kata Sekar tiba-tiba.
"Catatan?" Bekel Tarub terdengar skeptis. "Kau bisa menulis, anak desa?"
"Sedikit. Ayah saya dulu seorang juru tulis di balai desa, sebelum meninggal. Dia mengajari saya. Itu... itu hanya coretan. Daftar tanaman obat."
Raka hampir tak bisa percaya apa yang ia dengar. Kebohongan yang spontan, rapi, dan sangat meyakinkan. Sekar bukan sekadar anak desa yang baik hati. Ia pembohong yang berbakat.
"Daftar tanaman obat dalam huruf yang bahkan ayahmu tak pernah ajarkan," kata Bekel Tarub dengan nada yang menunjukkan ia tidak sepenuhnya bodoh. "Baiklah. Gusti Wira, apa yang kita lakukan?"
Lalu terdengar suara lelaki muda yang tadi, tenang dan berat.
"Kita periksa lumbung."
Dunia di bawah lantai itu terasa makin sempit. Raka merapatkan tubuh ke tumpukan karung gabah, mengubur wajah di lengan bajunya, berusaha membuat dirinya sekecil mungkin. Langkah-langkah itu mendekat. Satu pasang sepatu kulit berhenti tepat di atas kepalanya. Debu halus jatuh dari celah papan lantai.
"Gusti, ini hanya dapur," kata Sekar cepat. "Ada lumbung kecil di bawah, tapi hanya gabah dan tikus."
"Tikus pun bisa jadi saksi," kata lelaki yang dipanggil Gusti Wira. Nadanya datar, bukan mengancam, tapi membuat bulu kuduk Raka berdiri. "Buka."
"Gusti..."
"Buka."
Papan itu terangkat.
Cahaya obor menyilaukan masuk, dan Raka menutup mata dengan lengan. Ia menunggu teriakan, tarikan kasar, atau ujung tombak di tenggorokannya.
Yang datang malah keheningan.
Perlahan, ia menurunkan lengan dan mengintip. Di atasnya, siluet seorang lelaki bertubuh tegap membungkuk menatap ke bawah, obor di tangan kirinya. Wajahnya keras dan tampan, dengan rahang tegas dan sepasang mata yang tajam seperti elang. Ia mengenakan ikat kepala hitam dan baju pelindung kulit, sebilah keris terselip di punggung.
Mereka berpandangan. Tidak ada yang bergerak.
"Siapa kau?" tanya lelaki itu akhirnya.
Raka menelan ludah. Otaknya macet total. Jawaban apa yang paling tepat? Orang hilang? Pemandu wisata? Alien?
"Saya..." Suaranya serak. "Saya Raka. Saudagar. Kapal saya karam dan saya terdampar. Nyai Lastri dan Sekar menolong saya."
"Dan kenapa saudagar bersembunyi di bawah lantai?"
"Karena..." Raka menimbang cepat. "Karena saya takut. Orang asing di tanah asing. Mendengar prajurit bersenjata datang di malam hari, siapa yang tidak takut?"
Sekejap, sudut bibir lelaki itu bergerak sedikit. Bukan senyum, tapi mungkin sesuatu yang cukup dekat.
"Jawaban yang jujur," katanya. "Atau sangat pandai." Ia mundur satu langkah. "Keluar. Perlahan."
Raka memanjat keluar, lutut gemetar, tubuh penuh debu gabah. Di dapur yang tak seberapa luas itu, tiga prajurit berdiri mengelilinginya, tombak-tombak mengarah ke tanah. Di belakang mereka, Sekar berdiri dengan wajah pucat, tangannya mencengkeram kain di pinggangnya begitu kuat sampai buku jarinya memutih.
Lelaki yang tadi memerintah menatap Raka dari kepala sampai kaki, lalu menunduk ke sepatu kets yang masih dipakainya.
"Sepatu yang aneh," katanya. "Kulit apa ini?"
"Kulit... dari negeri saya."
"Dan baju di balik kain itu?"
Raka tidak menjawab. Ia mulai sadar bahwa apa pun yang ia katakan hanya akan menggali lubang lebih dalam.
Lelaki itu mengangguk pada dirinya sendiri seolah baru menyimpulkan sesuatu. "Namaku Wirabhaya. Aku memimpin pasukan Bhayangkara yang ditugaskan di wilayah ini. Dan malam ini aku mencari seseorang."
"Mencari siapa?"
"Orang yang seharusnya tidak ada di sini."
Hati Raka mencelos.
"Dua malam lalu," lanjut Wirabhaya, tenang, "penduduk desa-desa sekitar melaporkan cahaya putih di hutan Kalimati. Cahaya yang membumbung ke langit tanpa api, tanpa asap. Pagi harinya, seorang petani menemukan tanah di bawah beringin tua di sana hangus berbentuk lingkaran. Dan jejak kaki."
Ia menunjuk ke lantai tanah liat di dekat pintu. Di sana, di antara debu dan sisa tanah basah yang dibawa masuk oleh kaki-kaki mereka sendiri, terlihat satu jejak yang jelas: jejak sepatu kets dengan pola garis zig-zag yang khas.
"Jejak yang sama," kata Wirabhaya pelan. "Dan sepatu yang sama."
Tidak ada gunanya berbohong lagi. Raka merasa lega dan putus asa pada saat yang bersamaan.
"Gusti," kata Sekar tiba-tiba, melangkah maju. "Dia tidak berbahaya. Dia hanya tersesat. Dia menolong ibu saya, menyuruh kami merebus air, dan demam Ibu turun. Kalau Gusti hendak menghukum seseorang, hukumlah saya, karena sayalah yang membawanya ke sini."
"Sekar, jangan..." bisik Raka.
Wirabhaya menatap gadis itu lama, lalu menatap Raka lagi, dan akhirnya sesuatu di wajahnya melunak, hanya sedikit.
"Aku tidak datang untuk menghukum siapa pun, Nyai." Ia menyarungkan tangannya kembali di balik ikat pinggang. "Aku hanya diperintah mencari. Tetapi karena orang yang kucari kutemukan di sini, tugasku bertambah."
"Tugas apa?" tanya Raka waspada.
"Membawamu menghadap."
"Menghadap siapa? Raja?"
"Bukan." Wirabhaya menggeleng pelan. "Seorang pertapa di lereng gunung Wilis. Mpu Kalandara."
Raka mengernyit. Nama itu terasa asing, tidak ia temukan di buku-buku sejarah mana pun yang pernah ia baca. Tapi dari cara Wirabhaya mengucapkannya, nama itu jelas membawa bobot yang berat.
"Mpu Kalandara mengirim pesan ke Trowulan tiga hari lalu," lanjut Wirabhaya. "Ia berkata akan ada seorang asing yang datang dari balik gerbang. Dan siapa pun yang menemukannya harus membawanya hidup-hidup. Tanpa disakiti."
Ruang dapur itu hening.
"Gerbang apa?" tanya Sekar, bingung.
Raka tidak menjawab. Jantungnya berdebar keras. Gerbang bata merah. Gapura dengan lambang Surya Majapahit. Seseorang di dunia ini tahu tentang itu, bahkan sebelum ia sendiri menyadarinya.
"Pertapa itu," katanya akhirnya, nyaris tanpa suara. "Dia tahu apa yang terjadi pada saya?"
"Aku tidak tahu," kata Wirabhaya jujur. "Dan aku tidak percaya pada hal-hal yang tak bisa kulihat dengan mataku sendiri. Tetapi perintahnya jelas. Besok pagi, kita berangkat."
"Besok?" Sekar menyela. "Tapi ibuku..."
"Ibumu tak akan kuseret. Kau boleh ikut atau tinggal." Tatapan Wirabhaya beralih padanya, dan ada sesuatu yang hampir menyerupai pengertian di sana. "Tetapi kalau kau memilih tinggal, desa ini tidak akan lagi aman bagi orang yang pernah menyembunyikannya. Aku tidak mengancam, Nyai. Itu hanya kenyataan."
Sekar menggigit bibir. Ia menoleh ke bilik tempat ibunya tertidur, lalu ke Raka, lalu kembali ke ibunya. Perjuangan di wajahnya tampak jelas.
Raka tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak boleh membiarkan gadis ini menanggung akibat dari kesalahannya.
"Saya akan ikut," katanya pada Wirabhaya. "Tanpa perlawanan. Tapi saya minta satu hal."
"Apa?"
"Biarkan Sekar tetap di sini bersama ibunya. Dia tidak bersalah. Dia hanya menolong orang yang tersesat."
Wirabhaya mengamatinya untuk waktu yang lama. Lalu, untuk pertama kalinya malam itu, ia tersenyum tipis.
"Kau aneh, orang asing," katanya. "Tapi aku mulai paham kenapa Mpu Kalandara tertarik padamu."
Ia berbalik menuju pintu dan memberi isyarat pada anak buahnya. "Siapkan kuda. Kita berangkat sebelum fajar."
Saat para prajurit keluar satu per satu, Sekar tetap berdiri di tempatnya. Ia tidak menatap Raka. Ia hanya memandangi lantai, dengan wajah yang sulit dibaca.
"Kau bodoh," katanya akhirnya, sangat pelan.
"Saya tahu."
"Tapi terima kasih."
Dan pagi itu, sebelum langit memutih, Raka Aditya meninggalkan desa kecil di tepi hutan Kalimati untuk pertama kalinya, di atas punggung kuda, dikawal prajurit bersenjata, menuju seseorang yang bahkan belum ia kenal tetapi sudah lebih dulu menunggunya.
jadi emang mesti buru" kembali. apakabar sama gurunya ya.. berarti dia juga udah hilang lebih dari 20 th juga🥹
perempuan mah gitu kalau merajuk 🤣🤣
pinter bet dia🫣
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
wahhhhhh
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
apakah ada yg kebawa juga🥹
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹