Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.
Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.
Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.
Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Di ruang kerjanya yang mewah, atmosfer mendadak berubah mencekam saat Klara menerima sebuah pesan singkat dari orang kepercayaannya. Pesan itu berisi foto-foto pernikahan sederhana yang digelar di kediaman Daniel kemarin. Begitu melihat sosok Shanum yang bersanding anggun mengenakan gaun putih di samping mantan suaminya, dada Klara seketika terasa seperti terbakar hebat oleh api cemburu dan harga diri yang terinjak-injak.
"Kurang ajar! Kau malah menikahi wanita kampungan itu, Daniel! Kau benar-benar sengaja ingin menghinaku, ya!" raung Klara dengan napas memburu, meremas ponselnya hingga kuku jarinya memutih. "Awas saja kau! Akan ku rebut hak asuh Ziva dari tanganmu, dan akan ku buat kau berlutut di hadapanku memohon-mohon demi anak itu!"
Sementara itu, Sony yang sejak tadi duduk di sofa sembari memperhatikan tingkah laku kekasihnya, hanya bisa diam dengan sorot mata yang meredup kekecewaan.
'Apakah kau sebenarnya masih menyukai pria itu, Klara? Kau sekadar ingin merebut anakmu, atau kau sebenarnya cemburu setengah mati karena Dokter Daniel yang sudah move on dan menikah lagi?' batin Sony mendesah pedih, mulai meragukan ketulusan cinta Klara kepadanya.
Rumah sakit Citra Medika
Di lain tempat, setibanya di Rumah Sakit Citra Medika, kehadiran Dokter Daniel langsung menjadi magnet perhatian. Sejak ia melangkah melewati pintu lobi, bisik-bisik kagum sekaligus penasaran dari para perawat dan staf administrasi langsung berdengung di sepanjang koridor.
Bagaimana tidak? Pria yang dikenal sebagai 'Beruang Kutub' karena sikapnya yang dingin dan kaku itu, pagi ini berjalan tegap dengan luka kecil yang masih memerah di sudut bibirnya, ditambah bercak noda lipstik tipis berwarna pink samar yang tercetak jelas di pipi kirinya. Semua orang di rumah sakit yang sudah mendengar kabar pernikahannya mendadak merasa iri kepada Shanum, wanita yang dinilai sangat hebat karena mampu menaklukkan hati dokter spesialis yang super cuek dan berwibawa tersebut.
Romi, Assistennya di Rumah Sakit yang berjalan di samping Daniel, sejak tadi tidak bisa menahan matanya untuk tidak melirik ke arah wajah atasannya. Ia menatap lekat-lekat tanda 'pertempuran malam pertama' itu dengan dahi berkerut menahan tawa.
Merasa terus diperhatikan dengan cara yang tidak biasa, Daniel menghentikan langkahnya tepat di depan pintu lift rumah sakit. Ia melirik tajam ke arah asistennya itu melalui sudut matanya.
Begitu pintu lift terbuka dan mereka masuk ke dalam, Daniel langsung berbalik menatap Romi dengan bersedekap dada. "Romi, sejak dari lobi tadi matamu tidak berhenti menatap wajahku. Apa ada yang salah dengan penampilanku pagi ini?" tanya Daniel dengan suara baritonnya yang datar.
Romi seketika tersentak gugup. Ia menelan ludah, lalu dengan tangan agak gemetar, ia menunjuk ke arah wajahnya sendiri sebagai isyarat. "Itu... maaf, Dok...! Di bagian itu..." Romi menunjuk pipi kirinya, lalu beralih menunjuk ke arah sudut bibirnya sendiri dengan ekspresi serba salah.
Daniel tertegun sejenak. Ia reflek menyentuh pipi kirinya, dan detik itu juga ingatan tentang kecupan wajib dari Shanum sebelum ia berangkat kerja tadi pagi langsung melintas di kepalanya. Sadar akan noda pink yang tertinggal di sana, sebuah senyuman tipis, senyuman tulus yang sangat jarang ia tunjukkan kepada siapa pun di lingkungan kerjanya terkecuali kepada pasiennya, tiba-tiba terukir di bibirnya Daniel.
"Oh, noda yang ini? Ini noda lipstik milik istriku," ujar Daniel santai tanpa beban, seolah sengaja ingin memamerkan status barunya. Pria itu kemudian beralih menyentuh luka kecil di sudut bibirnya akibat benturan semalam. "Dan kalau yang di sudut bibir ini... kurasa tanpa perlu aku jelaskan panjang lebar pun, kau pasti sudah paham sendiri, kan?" sambung Daniel misterius, sengaja membiarkan asistennya larut dalam kesalahpahaman manis itu.
Romi buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha sekuat tenaga menyembunyikan senyum lebarnya yang hampir pecah agar tidak mendapat amukan dari sang dokter.
'Kena kau! Hahaha, akhirnya seorang Dokter Daniel bisa bucin dan bertekuk lutut juga sama wanita! Rasakan itu, dasar Beruang Kutub sok jaim!' batin Romi bersorak puas dalam hati.
Ia merasa sangat terhibur melihat sisi manusiawi atasannya yang kini telah resmi menjadi seorang suami.
Menjelang jam makan siang, Daniel memacu mobilnya menuju sebuah gedung perkantoran elit di kawasan pusat kota. Hari ini, ia memiliki janji temu dengan Pengacara Jacob, seorang pengacara kondang bereputasi emas yang dahulu menangani kasus perceraiannya dengan Klara. Berkat kejeniusan Jacob pula, hak asuh mutlak atas Baby Ziva berhasil jatuh ke tangan Daniel. Kini, Daniel kembali mempercayakan benteng hukum keluarganya kepada pria paruh baya bertangan dingin itu.
Di dalam ruang kerja Jacob yang dipenuhi jajaran buku hukum, Daniel menyerahkan sebuah map tebal berisi berkas-berkas penting.
"Ini semua adalah bukti baru yang aku siapkan, Pak Jacob," ucap Daniel dengan nada suara baritonnya yang tegas. "Di dalamnya ada rekam medis Bu Siti, kontrak awal Shanum sebagai ibu susu darurat Ziva, serta dokumen sah yang membuktikan bahwa aku baru mengenal Shanum beberapa minggu yang lalu, saat statusku sudah resmi menjadi duda anak satu. Dan kini... dia sudah menjadi istri sah ku."
Pengacara Jacob memeriksa lembar demi lembar dokumen tersebut dengan saksama, lalu seulas senyum penuh keyakinan terukir di wajah tegasnya.
"Anda tenang saja, Tuan Daniel. Kasus banding ini tidak akan pernah bisa dimenangkan oleh Nyonya Klara. Strategi liciknya murahan sekali. Semua bukti autentik ini akan lebih dari cukup untuk membungkam mulutnya di depan majelis hakim, dan saya pastikan dia tidak akan berani berulah kembali setelah ini," ujar Jacob mantap.
Daniel menyandarkan punggungnya, sorot matanya menajam penuh penekanan. "Satu hal yang paling penting, Jacob... aku ingin nama baik istriku, maksudku, Shanum... sama sekali tidak tercemar karena masalah ini. Dia wanita baik-baik, aku tidak mau mentalnya terganggu karena fitnah keji dari Klara."
Jacob mengangguk paham. "Siap, Tuan Daniel. Pokoknya serahkan semua urusan teknis hukum kepada saya. Hanya saja, saat di persidangan nanti, Nyonya Shanum harus bisa hadir secara fisik untuk mengikuti jalannya persidangan sebagai bentuk pembuktian moral."
"Baiklah, aku pastikan Shanum akan hadir di persidangan," sahut Daniel mengunci kesepakatan siang itu.
*
*
Menjelang sore hari, suasana di dapur utama kediaman Daniel tampak begitu sibuk dan hangat. Shanum dengan telatennya membantu ibu mertuanya, Nyonya Tania, untuk memasak menu makan malam. Hari ini mereka sepakat memasak makanan kesukaan Daniel sejak kecil, yaitu sayur lodeh yang gurih dan pindang ikan patin yang kaya akan rempah-rempah.
Sembari memotong sayuran dan membersihkan duri ikan patin, Shanum sempat bergumam kecil di dalam hatinya,
'Pantas saja Mas Daniel bisa tumbuh menjadi seorang dokter yang sangat cerdas... ternyata sedari kecil hobi makannya ikan!' Sebuah senyuman tipis tanpa sadar terukir di wajah polosnya.
Tak berselang lama setelah masakan matang dan ditata di atas meja, terdengar suara deru mobil Daniel yang memasuki halaman rumah. Mendengar sang suami pulang, Shanum buru-buru melangkah ke arah koridor depan untuk menyambutnya, sembari menggendong Baby Ziva yang baru saja terbangun dari tidur sorenya.
Ceklek!
Pintu utama terbuka besar. Daniel yang tampak sedikit lelah dengan jas dokter yang sudah tersampir di lengannya, seketika menghentikan langkahnya. Tatapan matanya langsung beradu dengan sepasang manik mata Shanum yang berdiri anggun menyambutnya di ambang pintu. Detik itu juga, ingatan tentang kecupan pink tadi pagi mendadak melintas di benak mereka masing-masing, membuat jantung keduanya kembali berdebar kencang secara bersamaan.
Nyonya Tania yang rupanya mengekor di belakang Shanum, langsung menangkap basah ekspresi malu-malu dari sepasang pengantin baru itu. Insting jahilnya seketika bangkit. Ia melangkah maju lalu menyenggol pelan bahu lengan putranya yang masih menatap Shanum dari jarak dekat.
"Ehem... Ngomong-ngomong, kok sepi-sepi saja? Tidak ada jatah ciuman selamat sore nih untuk menyambut suami pulang kerja?" goda Nyonya Tania sembari menahan tawa.
Mendengar godaan telak itu, Shanum langsung salah tingkah. Ia berusaha keras mengedarkan pandangannya ke arah lain, menatap langit-langit koridor demi menyembunyikan pipinya yang mulai memerah. Berpikir cepat agar tidak dipaksa melakukan hal intim lagi, Shanum segera membuka suara untuk mengalihkan pembicaraan.
"Oh... iya, Pa... eh, Mas! Kebetulan tadi aku bantuin Mamah memasak makanan kesukaanmu di dapur!" ucap Shanum sedikit terbata-bata.
Nyonya Tania langsung menghela napas panjang, mendengus kecewa karena umpannya sore ini telah gagal total akibat pengalihan isu yang dilakukan menantunya.
Di sisi lain, Daniel merasa sangat terselamatkan oleh kalimat spontan dari Shanum. Ia mengulas senyum lebar, lalu melirik sekilas ke arah ibunya dengan tatapan kemenangan.
"Wah, benarkah itu, Num? Sayur lodeh dan ikan patin?" tanya Daniel, sengaja memancing antusiasme. "Aku jadi sudah tidak sabar untuk segera mencicipi masakan buatanmu!" sambungnya dengan nada suara yang sengaja dibuat renyah.
"Kalau begitu, aku ke atas dulu ya, mau membersihkan diri dulu sebelum nantinya bermain dan berdekatan dengan putri kecilku ini," pamit Daniel sembari mengusap lembut pucuk kepala Baby Ziva yang ada di gendongan Shanum.
Daniel pun bergegas melangkah menaiki tangga menuju kamarnya, meninggalkan Shanum yang masih berusaha menetralkan debar dadanya akibat sentuhan singkat namun mendebarkan itu.
Bersambung...
shanum menahan perasaannya jangan sampai baper lagi seperti kemarin yah takutnya dokter Daniel mengatakan seperti itu hanya untuk meyakinkan hakim dan memenangkan persidangan d hak asuk ziva yah num
shanum masih gk percaya klau daniel cinta sm dia,,ayo daniel nyatakan lg perasaan mu sm shanum nanti di mobil,,biar shanum gk salah faham 🤭
Dan Sony yg mulai meragukan cinta Klara kpdnya...segera hengkang...menjauh & lepas tangan thd Klara
Biar sempurna hancurnya perempuan penuh intrik & drama itu
Cobalah utk saling jujur ttg perasaan masing²
Manatau gayung bersambut kan
Klwpun bertepuk sebelah tangan ..ya gpp...anggap uji nyali