NovelToon NovelToon
Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Enemy to Lovers / Cinta Istana/Kuno / Wanita perkasa
Popularitas:469
Nilai: 5
Nama Author: Laygraph

"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."

Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.

"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."

Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.

Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Cemburu Buta

Lantai Balai Agung digosok dengan abu sekam dan air kapur sampai tiga kali, tetapi Prabu Hayam Vira masih bisa mencium bau darah di telapak kakinya.

Ia berdiri di depan baskom perunggu di bilik pembasuhan Kedaton Dalam. Air di dalamnya sudah diganti empat kali. Seorang abdi dalem berlutut di sampingnya, memegang kain kering, tidak berani mengangkat wajah.

Hayam Vira mencelupkan tangan kanannya sekali lagi. Air dingin menyelimuti buku-buku jarinya yang masih menyimpan bekas luka dari tiang Srigading.

"Panggil Ki Sarpa," ucapnya.

Abdi dalem itu tersentak. Kain di tangannya hampir jatuh.

Ki Sarpa tidak tinggal di keraton. Ki Sarpa tidak tercatat di daftar abdi mana pun. Hanya tiga orang di Kagendra yang tahu bagaimana cara memanggilnya, dan salah satunya sedang berdiri dengan tangan di dalam baskom perunggu.

***

Bukan eksekusi itu yang membuatnya tidak bisa diam.

Rakryan Wirapati hanya seekor tikus gudang. Hayam Vira sudah mencium bau tikusnya selama bertahun-tahun, dan hanya menunggu seseorang meletakkan perangkap di tempat yang tepat. Kepala lelaki itu tidak akan mengganggu tidurnya malam ini.

Yang mengganggunya adalah sebuah sabuk kulit.

Ia mengingatnya dengan sangat jelas. Di tepi Hutan Kancana, ketika ia memerintahkan rombongan berangkat, ia melihat ujung hitam berduri balik mencuat sedikit dari lipatan sabuk Senopati Sayap Utara. Mata panah yang seharusnya tertinggal di dalam gua.

Tadi pagi, sebelum gong dipukul, ia sudah bertanya kepada Lurah Lembu Peteng. Apakah Senopati Mahisa sudah menyerahkan mata panah itu ke Gedung Pusaka sebagai bukti?

Belum, jawab Lurah itu. Senopati mengatakan mata panah itu hilang dalam perjalanan pulang.

Hilang.

Dan ada hal lain. Hal yang lebih kecil. Telapak tangan yang terulur di samping kuda betina cokelat. Cara jemari itu menutup di sekeliling tangan Dyah Ayu, seolah sudah mengenal bentuknya. Cara ibu jari itu berhenti tepat di atas luka sumpah darah.

Dan jeda. Satu tarikan napas yang terlalu panjang sebelum menjawab dari mana asalnya.

***

Ki Sarpa datang setelah matahari tergelincir, melalui pintu pembuangan sampah di dapur belakang Kedaton.

Ia lelaki kurus berusia enam puluhan dengan kulit gelap terbakar matahari dan mata yang sipit seperti terus memicing. Di punggungnya, ia memanggul kotak kayu besar berisi wayang kulit. Seorang dalang keliling. Ia sudah memainkan lakon Ramayana di seratus desa, di setiap kadipaten dari Lasem sampai Blambangan.

Termasuk Watugaluh.

Ia berlutut di depan meja kerja Raja dan membuka kotak wayangnya. Di bawah tumpukan wayang Arjuna dan Rahwana, terselip segulung lontar yang dibungkus kain hitam.

"Hamba sudah menyelidikinya sejak Sinuwun memerintahkan hamba, sebulan lalu," ucapnya dengan suara serak. "Sejak hari Sinuwun membawa pulang putri Adipati itu."

"Katakan."

Ki Sarpa membuka lontar itu di atas meja.

"Dua tahun sebelum Watugaluh jatuh, Adipati Watugaluh menerima peningset dari Patih Kadipaten, Ki Patih Rangga Wesi. Untuk putri sulungnya, Dyah Ayu. Peningset itu diterima di depan para sesepuh kadipaten, tetapi tidak diumumkan. Pernikahan akan dilangsungkan setelah panen kedua."

Hayam Vira tidak bergerak.

"Calon suaminya adalah putra tunggal Ki Patih. Raden Mahisa Rangga." Ki Sarpa menunjuk satu baris di lontar itu. "Perwira muda. Ia memimpin pasukan berkuda Watugaluh di Jembatan Kali Gending, saat pasukan Sinuwun menyeberang. Dilaporkan tewas terbawa arus."

"Tubuhnya?"

"Tidak pernah ditemukan, Sinuwun."

Pelita di meja berkedip.

"Ada lagi," lanjut Ki Sarpa, lebih pelan. "Di barisan Bhayangkara, ada seorang Lurah bernama Mahisa Pawagal, dari Kahuripan. Ia ikut dalam perang Watugaluh dan dilaporkan selamat. Hamba mendatangi ibunya di Kahuripan dua minggu lalu, dengan alasan membawa kabar dari putranya."

Ia berhenti sejenak.

"Perempuan itu menangis dan mengatakan putranya tewas di Kali Gending. Seorang prajurit Kahuripan yang selamat sudah membawa pulang kerisnya. Ia sudah tujuh bulan mengenakan kain duka."

Hayam Vira menatap lontar itu.

"Dan menurut juru tulis kadipaten Watugaluh yang sekarang menjadi tukang kayu di Tuban," Ki Sarpa melanjutkan, menunjuk baris terakhir, "Raden Mahisa Rangga memiliki bekas luka kecil di dagu. Sejak kecil. Jatuh dari pohon jambu di belakang kadipaten." Ia mengangkat matanya yang sipit. "Bersama putri Adipati."

***

Ki Sarpa pergi melalui pintu yang sama ia datang.

Hayam Vira duduk di depan meja kerjanya lama sekali. Ia membaca lontar itu sekali. Dua kali. Ia meletakkannya, lalu mengambilnya lagi, seolah tulisan di atasnya akan berubah jika dibaca cukup sering.

Lalu ia mengingat malam itu.

Taman Larangan. Embun yang tersapu di belakang pohon beringin. Dua pasang jejak kaki. Satu kecil. Satu besar, dengan tumit sepatu Bhayangkara.

Ia sendiri yang mengatakan kepada perempuan itu bahwa beringin di sana dihuni kelelawar. Ia sendiri yang memilih untuk tidak bertanya lebih jauh. Ia menyerahkan cincin matahari dan izin ke Perpustakaan Lontar, karena perempuan itu menempelkan jemarinya ke nadi di lehernya sendiri dan menatapnya tanpa takut.

Hamba tidak tahu. Mungkin pengawal. Mungkin orang suruhan.

Hayam Vira tertawa. Pelan sekali. Bunyinya kering, keluar dari pangkal tenggorokan dan berhenti di sana.

***

Ia pindah ke pringgitan.

Ruang itu memanjang, tanpa dinding di sisi timur, hanya deretan tiang kayu yang membingkai halaman dalam Kedaton. Lantainya kayu jati hitam yang dipoles. Cahaya bulan masuk melalui celah tiang-tiang, jatuh dalam garis-garis panjang yang pucat, membelah lantai menjadi terang dan gelap secara bergantian.

Ia menyuruh semua abdi pergi. Lalu ia menyuruh mereka membawakan tuak siwalan yang paling keras dari gudang. Yang biasanya hanya dibuka setelah kemenangan perang.

Kendi pertama habis sebelum bulan naik ke atas atap.

Tuak itu menyengat di hidung, asam dan manis busuk sekaligus, seperti nira yang sudah difermentasi terlalu lama. Panasnya menjalar dari tenggorokan ke perut, lalu ke ujung jari. Bahunya yang terluka berdenyut di bawah balutan, tetapi ia tidak lagi merasakannya dengan jelas.

Kendi kedua.

Di tangannya, ia menggenggam rantai emas tipis yang ia keluarkan dari kotak cendana di bilik tidurnya. Rantai itu sudah hitam di beberapa sambungan, tua dan sederhana. Ibunya selalu mengenakannya di pergelangan kaki. Setelah ibunya jatuh dari menara barat, seorang abdi tua menyelipkannya ke tangan Hayam Vira yang berusia delapan tahun, sebelum abdi itu diseret pergi oleh orang-orang Rakryan Wiradipa.

Ia tidak pernah tahu nama abdi itu. Ia hanya ingat punggungnya yang dipukul dengan gada kayu di halaman Keputren.

Ia meremas rantai itu. Sambungan-sambungan kecilnya menekan telapak tangannya, menancap ke kulit.

Aku tidak tahu siapa lelaki itu.

Tetapi perempuan itu tahu. Sejak malam di Taman Larangan. Ia tahu ketika lelaki itu memegang lengannya di pelataran candi, dengan cengkeraman yang gemetar. Ia tahu ketika lelaki itu menuruni jalan setapak di depannya di Hutan Kancana, dengan tangan terulur rendah yang tidak pernah menyentuh.

Ia tahu, dan ia berbaring di dada Hayam Vira di dalam gua, berbagi panas tubuh dan darah dan sumpah, tanpa mengatakan apa-apa.

Rantai di tangannya mengencang.

Kau tidak boleh mengkhianatiku.

Ia mengucapkan sumpah itu dengan darahnya sendiri, di atas belati ibunya. Dan ia sudah tahu jawabannya ketika perempuan itu bersumpah demi nama di bilah itu.

Atau ia mengira ia tahu.

***

Kendi ketiga pecah di lantai jati.

Ia tidak melemparnya. Kendi itu terlepas dari tangannya ketika ia mencoba meletakkannya, dan menghantam papan dengan bunyi yang terlalu keras di pringgitan yang sepi. Tuak siwalan mengalir di antara pecahan tanah liat, membentuk genangan yang memantulkan garis-garis cahaya bulan.

Hayam Vira menatap genangan itu.

Gelap dan mengilap. Seperti genangan lain di atas batu andesit, pagi tadi.

Lelaki yang mengklaim berasal dari Kahuripan. Lelaki yang memakai nama seorang Bhayangkara yang sudah mati. Lelaki yang memimpin empat puluh prajurit di Hutan Kancana, menyelamatkan Raja yang menghancurkan kadipatennya, lalu mengambil satu-satunya bukti racun dan menyembunyikannya.

Lelaki yang kini meminta izin untuk menempatkan dua puluh orangnya di sekeliling paviliun perempuan itu. Siang dan malam.

Hayam Vira membuka telapak tangannya. Rantai emas ibunya meninggalkan bekas cetakan merah keunguan di kulitnya, sambungan demi sambungan, seperti jejak ular.

Erangan keluar dari dadanya. Rendah. Tertahan di balik gigi yang terkatup. Bukan suara seorang Raja. Suara binatang yang terluka dan terpojok di dalam liangnya sendiri.

Ia bangkit.

Kakinya goyah sesaat, dan ia menumpukan tangan ke tiang terdekat. Dunia berputar sedikit, lalu diam. Bau tuak siwalan menempel di napasnya, di kainnya, di kulitnya.

Di dinding pringgitan, di atas rak kayu berukir, tergantung keris pusakanya. Kyai Naga Sasra, dengan warangka kayu kemuning berlapis emas. Ia mencabutnya.

Bilah berluk tiga belas itu berkilau di bawah cahaya bulan. Pamornya bergelombang seperti air sungai di malam hari.

Ia menyelipkannya di sabuk, tanpa warangka. Tidak ada yang akan menghalangi jalannya.

***

Gerbang Kedaton Dalam terbuka tanpa sepatah kata pun. Para penjaga Sayap Dalam bersujud ketika Raja mereka lewat, tanpa mahkota, tanpa pengawal, tanpa obor, dengan bilah keris telanjang di pinggangnya.

Tidak ada yang bertanya ke mana ia pergi.

Ia melintasi halaman Keputren. Kolam-kolam teratai yang hitam di bawah langit malam. Paviliun-paviliun yang pelitanya sudah padam. Di salah satu jendela, sebuah wajah muncul sesaat, lalu menghilang di balik tirai.

Bau tuak yang mengikutinya menyebar di udara malam yang dingin.

Alang-alang di sekitar Paviliun Srigading berdesir di bawah kakinya. Enam Bhayangkara Sayap Dalam yang berjaga di sana melihatnya datang. Mereka berlutut serempak, kepala tertunduk.

"Pergi," ucap Hayam Vira. "Semuanya. Jaga dari gerbang Keputren. Tidak ada yang mendekat ke sini sampai fajar."

Mereka pergi tanpa bertanya.

Paviliun itu sunyi. Atap ijuk yang baru ditambal. Pintu jati baru. Hanya satu sumber cahaya: pelita kecil di dalam, yang nyalanya menyusup melalui kisi-kisi di atas pintu dan jatuh dalam garis-garis kuning tipis di atas tanah.

Ia masih terjaga.

Hayam Vira berdiri di depan pintu itu. Tangannya terangkat, menempel di permukaan kayu jati yang dingin. Tangan yang lain menggenggam gagang Kyai Naga Sasra. Napasnya keras, berat oleh tuak, terdengar di keheningan malam.

Ia belum mendorong pintu itu ketika suara dari dalam terdengar lebih dulu.

Tenang. Rendah. Tidak terkejut sedikit pun.

"Masuklah, Gusti. Pintunya tidak dikunci." Jeda sejenak. "Hamba sudah menunggu Gusti sejak Ki Sarpa membuka kotak wayangnya di dapur belakang."

1
Agus Tina
Bagus ceritanya
Agus Tina
Sepertinya semua cerita tentang istana memang penuh dengan intrik dan kepalsuan
Laygraph: Iya kak, bahkan banyak sejahrawan mencatat banyak relief yang membuktikan Konspirasi sudah ada sejak zaman kerajaan kuno. bahkan sampai sekarang. 😄
total 1 replies
Agus Tina
Cerita, alur, cara menukis ceritq ini bagus semua ... kenapa yg like sedikit? Ayo pembaca
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..
Laygraph: Terimakasih masukannya kak, semoga setia sampai ceritanya selesai yah 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!