Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Maxime Keano, bahwa dia akan menikahi seorang gadis yang masih SMA.
"Barang siapa yang bisa menemukan kalungku. Jika orang itu adalah laki-laki, maka aku akan memberikan apapun yang dia inginkan. Tapi jika orang itu adalah perempuan, maka aku akan menikahkan dia dengan cucuku." Ucap sang nenek.
Tak lama kemudian, datang seorang gadis remaja berusia 18 yang yang bernama Rachel. Dia adalah seorang siswi SMA yang magang sebagai OB di perusahaan Keano Group, Rachel berhasil menemukan kalung sang nenek tanpa mengetahui sayembara tersebut.
"Ingat, pernikahan kita hanya sementara. Setelah nenekku benar-benar sehat, kita akan berpisah. Seumur hidup aku tidak pernah bermimpi menikah dengan seorang bocah sepertimu." Maxime Keano.
"Kamu pikir aku ingin menikah dengan pria arogan dan menyebalkan sepertimu? Menikah denganmu seperti musibah untukku." Rachel Calista.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
[Nama lengkapnya Rachel Calista. Usianya 18 tahun. Dia masih sekolah di SMA Pelita kelas 12.]
Maxime masih berada di depan mini market. Dia sedang membaca balasan pesan dari Boy. Dia sengaja menyuruh asistennya itu untuk mencarikan data tentang Rachel.
Maxime pun tersenyum smirk setelah membaca pesan dari Boy, "Ternyata dia masih sekolah. Dan rupanya dia sekolah di SMA Pelita. Mengapa bisa kebetulan seperti itu? Apa dia tidak tahu siapa pemilik sekolah itu?"
Mungkin karena Maxime sangat tidak terima dengan perlakuan Rachel yang berani sekali melawannya. Gadis bocah dan miskin itu berani sekali berbicara dengan nada tinggi kepadanya. Seolah-olah Rachel sedang menantangnya.
"Awas saja. Aku akan membuat kamu menyesal sudah berani melawanku, dasar bocah tengil."
Setelah berkata seperti itu, Maxime meneguk minumannya kembali.
...****************...
"Huaaa..."
Rachel menangis sesenggukan. Mungkin karena dia sangat merasa sedih telah kehilangan pekerjaannya.
Rachel merasa bahwa dirinya seolah-olah bersikap sok keren sampai bisa bicara seberani itu kepada Maxime. Seharusnya dia meminta maaf dan memasang wajah iba, agar Maxime mau memberikan kesempatan lagi kepadanya untuk tetap bekerja di perusahaan Keano Group.
Tapi sejujurnya apa yang dia katakan kepada Maxime adalah unek-uneknya yang selama ini dia pendam. Tiba-tiba keluar begitu saja dari mulutnya. Mungkin karena sudah tidak bisa membendung lagi semua kekesalan yang Rachel rasakan.
Rachel akan menerima dengan lapang dada jika seandainya Maxime memarahinya Karena Rachel telah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Sementara selama ini Rachel sering diomeli oleh Maxime dengan alasan yang sangat sepele. Hanya perkara setitik debu saja sampai Rachel terancam akan dipecat. Pria dewasa itu benar-benar sangat menyebalkan.
"Seharusnya aku tidak perlu menangis seperti ini. Seharusnya aku berjingkrak-jingkrak, akhirnya aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan orang mengerikan seperti dia." Rachel mencoba untuk menghibur dirinya sendiri.
"Iya benar, seharusnya aku senang. Aku tidak perlu lagi mendengar ocehan dan omelan si kuyang itu. Pantas saja ada yang memanggilnya kuyang dan ada juga yang memanggilnya killer bos. Dia memang benar-benar mengerikan."
Rachel telah berhasil menghibur dirinya sendiri. Dia pun menghapus air mata beserta ingusnya dengan tisu. Kemudian membuangnya ke tong sampah. Saat ini dia sedang duduk di sebuah kursi besi yang berada di taman.
"Yes! Akhirnya aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan si kuyang arogan itu." Seru Rachel.
Seperti itulah Rachel, ketika dia sedang merasa sedih, maka dia yang akan menghibur dirinya sendiri. Sehingga membuat gadis cantik itu kuat dan selalu terlihat ceria.
Rachel merasa bahwa keputusan dia untuk berhenti bekerja di perusahaan Keano Group adalah keputusan yang sangat tepat. Justru mengundurkan diri lebih terhormat daripada dipecat.
Sudah jam sepuluh malam, Rachel memutuskan untuk pulang. Dia tidak boleh bangun kesiangan, harus berangkat ke sekolah tepat waktu. Dia pun segera bangkit dari tempat duduknya.
Namun, ketika Rachel sedang berjalan untuk keluar dari area taman itu. Rachel tidak sengaja menginjak sesuatu. Rachel segera menundukan kepalanya untuk melihat benda apa yang dia injak.
"Benda apa itu? " Tanya Rachel kepada dirinya sendiri. Dia pun segera berjongkok, mungkin karena suasana di taman tersebut remang-remang, dia tidak bisa melihatnya dengan jelas, sehingga Rachel memutuskan untuk mengambil benda tersebut.
"Ka-kalung?" Rachel nampak menganga sambil memandangi kalung emas yang berada di dalam genggamannya itu.
pak Alvin husss sana keluar ngapain diem disana ntar kamu kebakaran wkwkwk
Siswa pembully di skors harusnya,masukkan lembaga peninggkatan akhlak.
Rasain dehh anda bapak kepsek yang terhormat, anda harus mempertanggungjawabkan kesalahan anda karena banyak kesalahan yang sudah anda lakukan: berbuat tidak adil, menerima suap dan bersikap semena mena terhadap rakyat jelita , siap2 kehilangan pekerjaan yang sudah anda perjuangkan selama ini ,
Uang adalah hal yang lucu, makanya bisa membuat orang menjadi lebih baik, tetapi juga bisa membuatmu menjadi buruk...
semangat Max,bela gih istri bocah mu... tunjukan kekuasaan mu di depan Alvin...