NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kubuat Cacat

Wanita Yang Kubuat Cacat

Status: tamat
Genre:Orang Disabilitas / Cinta Seiring Waktu / Pernikahan Kilat / Tamat
Popularitas:651.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."

Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.

Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Terjadi kecanggungan beberapa detik setelah ciuman tanpa perencanaan itu terjadi.

Ilona memalingkan wajah, menyembunyikan pipinya yang panas dan bersemu merah. Kedua telapak tangannya mencengkeram rok, merutuki diri sendiri, kenapa diam saja saat Elang menciumnya.

"Ilona... a, aku..." Kalimat Elang nyangkut di tenggorokan. Panik, gugup, bersalah. Semua numpuk jadi satu. Dadanya masih berdebar sangat kencang hingga sekarang. "Maaf." Ia mundur dengan gerakan cepat, namun.

_BRAK!_

Elang kaget saat paha belakangnya menghantam meja kayu di belakang. Meja tersebut sampai bergeser dari posisinya, vas kaca berisi bunga yang ada di atasnya roboh, airnya tumpah menggenangi meja hingga lantai. Beruntung vasnya tidak sampai pecah.

"So, sorry!" Elang makin panik. Hanya dalam beberapa detik, ia telah membuat dua kesalahan. Pahanya terasa sakit, tapi itu tak sebanding dengan rasa gugup yang saat ini ia rasakan.

Elang berdiri kaku, bingung harus melakukan apa. "A, aku bereskan."

"Tidak perlu!" Ilona menggeleng cepat. "Biar nanti aku saja yang membersihkan. Ka, kamu pulang aja." Menunduk, malu untuk menatap Elang.

Elang mengangguk. "Sekali lagi, aku minta maaf. Aku pulang dulu." Balik badan, melangkah cepat menuju pintu, keluar.

Ilona bernafas lega setelah Elang hilang dari pandangannya. Ia memegangi dada yang masih berdebar hingga sekarang. Sebelah tangannya bergerak menyentuh bibir. Bayangan berciuman dengan Elang, kembali melintas. Buru-buru ia menggeleng, mengenyahkan bayangan itu. Apa yang baru saja terjadi padanya? Kenapa ia hanya diam, seolah pasrah. Dan sialnya, ia malah menikmati.

"Ilona."

Suara Elang membuat Ilona yang melamun, auto terjingkat kaget. Buru-buru ia menurunkan jemari yang masih ada di bibir. Elang, laki-laki itu kembali.

"Elang."

"Kamu sendirian kan di rumah?"

Ilona yang awalnya senderan, langsung menegakkan badan, kedua lengannya reflek menutup dada, wajahnya tegang.

"Aku...cuma mau nemenin kamu." Elang mengalihkan tatapan ke arah lain. Situasi terasa amat canggung gara-gara ciuman tadi.

"Oh..." Ilona gugup, sekali lagi merutuki diri sendiri yang tiba-tiba berfikiran yang tidak-tidak.

"Kondisi kamu sedang tidak baik-baik saja, aku gak bisa ninggalin kamu di rumah sendirian."

"Aku sudah biasa di rumah sendiri kok." Ilona menunduk, wajahnya terasa panas.

"Aku temenin sampai ibu kamu pulang." Elang berjalan ke sofa berbeda dengan Ilona, duduk disana.

Hingga beberapa saat, keduanya hanya diam, sibuk dengan isi fikiran masing-masing.

"Lang."

"Lon."

Mereka memanggil dalam waktu yang nyaris bersamaan.

"Ka, kamu dulu," ujar Ilona.

"Kamu dulu aja," balas Elang.

"Aku ingin istirahat. Kamu pulang saja, tidak apa-apa."

"Aku disini aja, jagain kamu. Kamu habis pingsan tadi, takutnya masih pusing. Kalau kamu mau tidur, tidur aja. Aku tunggu disini."

"Tapi..." Ilona bingung bagaimana cara menjelaskan agar Elang tidak tersinggung. Jujur, ia tak akan bisa tidur jika Elang masih disini. Berduaan di rumah dengan laki-laki yang bukan mahram, rasanya tidak nyaman.

"Kalau gak nyaman, aku tunggu di teras saja. Takutnya kalau di mobil, gak denger kalau kamu manggil, butuh sesuatu."

"Baiklah." Ilona mencoba berdiri, sudah tak seberapa pusing sekarang. "Aku bisa sendiri." Cegahnya saat Elang hendak mendekat untuk membantu. "Aku masuk dulu."

"Aku... tunggu di teras." Jemarinya menunjuk ke luar.

Ilona masuk ke kamar, sementara Elang keluar, duduk di kursi teras.

Di kamar, Ilona gelisah, tak bisa tidur. Berkali-kali ia mengintip dari jendela kamar, melihat mobil Elang. Posisi dimana Elang duduk, tak bisa terlihat dari jendela kamarnya, jadi ia bisa tahu laki-laki itu sudah pulang atau belum, hanya dari mobilnya. Ibunya tadi sempat mengirim pesan, mengabarkan jika ke rumah saudara, bantu-bantu, mau hajatan.

"Astaga!" Ilona kaget saat terbangun, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Bisa-bisanya ia tidur nyenyak sekali, hingga beberapa jam. Elang? Ia langsung teringat laki-laki itu. Ia mengambil tongkat, berjalan ke arah jendela untuk melihat apakah Elang masih di rumahnya atau sudah pulang. Mobil pria itu masih terparkir di depan rumah, itu tandanya, orangnya belum pulang. Ia merapikan pakaian dan rambut, lalu keluar.

Elang masih disana, duduk di kursi teras sambil memainkan ponsel. Ada rasa bersalah, telah membuat laki-laki itu duduk disana berjam-jam hanya untuk menjaganya.

"Elang."

Elang langsung menoleh mendengar suara Ilona. "Udah bangun?" Ia tersenyum melihat Ilona tampak lebih segar dari pada tadi.

"Kenapa kamu gak pulang aja?"

"Ibu kamu belum pulang."

Ilona men desah pelan, tak mengira Elang akan tetap disini, menunggunya. "Kamu sudah makan siang?"

"Kamu lapar?" Elang malah balik nanya.

"Aku nanya kamu."

"Belum. Tadi mau pesen makanan, tapi nunggu kamu bangun dulu, takut nanti makanannya udah gak hangat. Aku pesenin makanan ya." Ia mengambil ponsel yang beberapa saat tadi ia letakkan ke atas meja.

"Aku masakin aja gimana?"

"Masak?" Elang mengerutkan kening.

"Aku bisa masak kok, tenang aja." Ilona memahami kekhawatiran Elang.

"Bukan masalah itu, tapi..."

"Ini masalahnya?" Ilona mengangkat sedikit tongkatnya. "Aku kan bisa pakai kaki prostetik. Tunggu bentar ya, aku masak buat kamu. Tapi maaf, gak bisa ngajak kamu ke dalam, gak enak, aku sendirian di rumah soalnya."

Elang mengangguk faham. Ini Indonesia, bukan Jerman. Ini juga lingkungan perumahan yang lumayan padat, bukan apartemen, dimana jika laki-laki dan perempuan bukan mahram berduaan di suatu tempat, bisa menimbulkan fitnah. Tidak elok juga di lihat orang.

Setelah memasang kaki prostetik, Ilona ke dapur untuk memasak. Tak mau Elang menunggu terlalu lama, ia memilih memasak menu yang simpel dan cepat. Pilihannya langsung tertuju pada udang yang ada di kulkas. Memasak udang asam manis, sepertinya tidak butuh waktu lama.

Mendengar suara hujan, Ilona segera keluar. "Elang, masuk aja." Meski tidak kehujanan, namun di teras, sedikit-sedikit masih kecipratan air hujan. Mana hujannya cukup deras, dan sesekali terdengar suara petir.

"Gak papa masuk?"

"Gak papa. Tunggu di ruang tamu."

Elang akhirnya masuk. Matanya tertuju pada bunga yang masih tergeletak di atas meja. Sedikit layu, karena tangkainya tak lagi terendam air. Sementara air yang tadi menggenangi lantai, sudah kering. "Maaf ya, bunga kamu jadi layu."

"Gak papa." Ilona sendiri juga lupa untuk mengganti airnya tadi. Ia kembali melangkah ke dapur untuk lanjut masak.

"Ilona tunggu!"

Ilona menoleh mendengar panggilan Elang.

"E...boleh aku numpang ke toilet?"

Ilona mengangguk, lalu mengajak Elang masuk. Toilet ada di sebelah dapur.

Keluar dari kamar mandi, Elang mematung di depan pintu, menatap Ilona yang tampak sibuk di depan kompor. Aroma sedap dari bawang yang ditumis, menguar ke seluruh dapur.

"Ada yang bisa aku bantu?"

Ilona kaget mendengar suara Elang di sampingnya. Saking fokusnya, ia sampai tak menyadari kehadiran Elang.

"Gak usah, ini tinggal cemplung-cemplung mateng kok. Kamu tunggu di depan aja ya."

Elang mengangguk, ia melangkah meninggalkan Ilona, namun tak benar-benar keluar dari dapur. Diam-diam, mem videokan Ilona yang sedang memasak. Bibirnya tak bisa tidak tersenyum melihat gadis itu.

Elang panik saat Ilona tiba-tiba menoleh, buru-buru ia menyembunyikan ponselnya. "A, aku ke depan." Meninggakan dapur segera.

Setelah masakannya matang, Ilona membawanya ke ruang tamu. Karena yang harus dibawa banyak, ada nasi dan piring juga, ia meminta bantuan Elang.

"Maaf ya, kalau menunya cuma satu. Mau masak banyak, takut kamu nunggunya kelamaan."

"Kelihatannya enak, aku cobain ya."

Ilona mengangguk. Ia membiarkan Elang mengambil makanan lebih dulu, memperhatikan, ingin tahu seperti apa ekspresi saat pertama mencicipi masakannya. Padahal bukan sedang mengikuti kontes memasak, tapi deg-degan, takut masakannya tak sesuai selera Elang. Bagaimana pun, lidah orang beda-beda, demikian pun dengan seleranya. Enak menurutnya, belum tentu enak menurut Elang.

"Enak banget."

Senyum seketika mengembang di bibir Ilona. Ia bernafas lega, meski tak tahu laki-laki itu jujur atau berbohong.

1
🌷⃝Nͨaͣtᷠsᷤaa
elang get well soon 🥺
🌷⃝Nͨaͣtᷠsᷤaa
big nooo i nggak bisa bayanginnn elangg jadi supir taksi online /Curse//Curse//Curse/
🌷⃝Nͨaͣtᷠsᷤaa
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/🤣
🌷⃝Nͨaͣtᷠsᷤaa
apa bedanya sama apartemen 🗿🙄
🌷⃝Nͨaͣtᷠsᷤaa
kaum biduan /Facepalm//Facepalm/
🌷⃝Nͨaͣtᷠsᷤaa
you bayangin aja you udah tunangan, Alisya juga udah nemenin you sejak 8 tahun maybe? since he live at Germany for his college dan tiba-tiba minta putus 😭😭 manusia mana yang sanggup kek gituuu. cowok yang dulunya romantis, perhatian tiba-tiba udah berubah 180° dan Alisya harus lupain kenangan nya gitu aja? it's so hard for her elang 🤧🤧
🌷⃝Nͨaͣtᷠsᷤaa
mikirin popularitas keluarga mulu 🙄
🌷⃝Nͨaͣtᷠsᷤaa
DUARR KENAN NGAMUKKK /Facepalm//Facepalm/
🌷⃝Nͨaͣtᷠsᷤaa
ngaku juga beliau ini di hadapan kenan 🤣🤭
🌷⃝Nͨaͣtᷠsᷤaa
APA INI!! TIBA-TIBA BANGET YOUU ELANGG!! astogehh terkejut saya/Smug/
🌷⃝Nͨaͣtᷠsᷤaa
lah you yang minta gimana sih 😭
Farika Willesden
keren bgus bngt certanya
Mutia
Waktu pernikahan Alisha dg Ilham knp gak disebut ada akadnya, tp mereka menuju altar. Apa Alisha dg Elang beda keyakinan.🙏
Elzatrisna Ismail
selalu keren
mbak mimin
😭😭😭
Raditya
👍👍👍
Ratna Komala
selamat ya buat elang dan illona semoga sll berbahagia penuh dengan cinta dan semoga mendapatkan elang junior yg lucu"...😍😍😍😍😍
Kar Genjreng
Elang jadi jagoan ,,, tetapi waktu abis nabrak loe malah langsung pergi ke Jerman kan haduhh
Kar Genjreng
Elang ya loe berani bilang kalau cacat emang ga berhak ya loe coba nikahin Ilona
berani ga bilang orang tua loe,,,ya Arya juga mungkin di larang orang tua nya,,,tapi
juga salah.menghina sudah bikin cacat,,,dan nya lagi orang tua loe ga tanggung jawab,,
Kar Genjreng
tetapi ibu salah justru putra Ibu merasa bersalah begitu melihat keadaan yang sesungguhnya gadis yang di tabrak 8 th
lalu sangat menyedihkan. semua cita cita nya telah musnah gara gara elang putra anda Bu,,,🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!