Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...
Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.
Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.
Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Jumat, 21 Oktober 2016 — Queens, New York
Pukul 05.50 pagi, Arthur Sterling terbangun dengan perasaan bahwa hari itu akan membawa sesuatu yang berbeda.
Ia tidak tahu apakah perasaan tersebut berasal dari ingatan kehidupan pertamanya atau sekadar akibat beberapa malam terakhir yang dihabiskannya untuk memikirkan Aurelia Therapeutics. Namun, ia telah belajar bahwa perasaan bukanlah bukti.
Ia bangkit dari tempat tidur, membasuh wajah, lalu duduk di depan laptop.
Di layar, halaman informasi pasar menampilkan harga saham Aurelia yang bergerak dalam rentang terbatas. Aktivitas perdagangan opsi masih menarik perhatiannya, tetapi belum ada pengumuman resmi yang dapat mengonfirmasi perkiraan yang ia pegang.
Arthur membuka kembali catatan investasinya.
Di sana tercatat jumlah modal yang telah ia tempatkan, harga pelaksanaan opsi, tanggal kedaluwarsa, dan beberapa kemungkinan hasil. Ia juga menuliskan batas kerugian yang harus diterimanya jika tesis investasinya terbukti salah.
Angka-angka itu tidak terlihat mengesankan.
Bahkan, jika seseorang membandingkan posisinya dengan portofolio investor profesional, Arthur mungkin tampak seperti mahasiswa yang terlalu berani mengambil risiko.
Namun, ia tidak membutuhkan penilaian orang lain untuk memahami kenyataan.
Modalnya terbatas. Pengalamannya dalam kehidupan sekarang belum tercermin dalam riwayat profesional yang bisa diperiksa siapa pun. Dan meskipun ia mengingat banyak peristiwa dari masa depan, ingatan itu tidak memberinya kendali atas semua faktor yang menentukan harga sebuah aset.
Ia menutup halaman pasar.
Hari ini, ia memiliki dua kewajiban.
Pukul 10.00, ia harus membantu Daniel Brooks menyelesaikan persiapan untuk Lawson Market.
Pukul 16.30, ia akan bertemu Richard Coleman dan Michael Reed di Manhattan.
Pertemuan kedua jauh lebih penting daripada yang tampak di permukaan. Richard tidak menjanjikan pekerjaan atau investasi, tetapi ia bersedia meluangkan waktu untuk menguji cara berpikir Arthur.
Jika Arthur ingin memasuki dunia keuangan profesional suatu hari nanti, kesempatan seperti itu tidak boleh disia-siakan.
Ia membuat sarapan sederhana, memeriksa jadwal bus, lalu meninggalkan apartemennya.
Sebelum menutup pintu, ia menoleh sekali ke dalam kamar.
Dalam kehidupan sebelumnya, ia memiliki rumah dengan puluhan ruangan, staf yang mengurus hampir semua kebutuhan sehari-hari, dan kendaraan yang siap membawanya ke mana pun.
Sekarang, ia harus menghitung biaya transportasi dan memilih makanan berdasarkan anggaran.
Anehnya, Arthur tidak merasa malu.
Ia justru merasa lebih sadar terhadap setiap keputusan yang diambilnya.
Kekayaan pernah membuat banyak hal terasa mudah. Kemiskinan mengajarinya bahwa sesuatu yang mudah bagi satu orang bisa menjadi beban besar bagi orang lain.
Ia ingin mengingat pelajaran itu selama mungkin.
Pukul 09.45, Arthur tiba di Lawson Market.
Daniel sudah berada di dalam toko bersama Peter Lawson. Sebuah laptop terletak di atas meja kecil dekat ruang penyimpanan, menampilkan halaman bisnis yang baru mereka perbarui.
Peter menunjuk layar.
"Jadi, pelanggan yang mencari toko ini melalui internet bisa melihat alamat, jam buka, nomor telepon, dan beberapa foto produk?"
"Benar, Pak," jawab Daniel. "Kami juga memastikan informasi yang ditampilkan sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalau jam buka berubah atau ada produk yang tidak lagi tersedia, kami perlu memperbaruinya."
Peter mengangguk.
"Bagaimana dengan promosi sore hari yang kalian bicarakan kemarin?"
Arthur membuka buku catatannya.
"Kami menyarankan agar kita memulai dengan promosi terbatas pada beberapa produk yang memang memiliki margin cukup baik. Namun, sebelum menentukan diskon, kita harus mengetahui harga pokok dan biaya lain yang terkait."
Peter menghela napas.
"Aku selalu berpikir diskon berarti pelanggan akan membeli lebih banyak."
"Belum tentu," jawab Arthur. "Pelanggan mungkin membeli lebih banyak, tetapi keuntungan per produk bisa turun. Kalau kenaikan jumlah penjualan tidak cukup untuk menutup penurunan margin, promosi justru dapat merugikan toko."
Daniel mengangguk sambil membuka lembar kerja yang telah disiapkannya.
"Kami bisa membantu membuat catatan sederhana untuk membandingkan penjualan sebelum dan selama promosi. Dengan begitu, Bapak tidak perlu mengandalkan perasaan semata."
Peter memandang keduanya.
"Baiklah. Aku akan memilih beberapa produk yang paling masuk akal. Kita coba selama dua minggu, lalu kita lihat hasilnya."
Arthur menyetujui rencana itu.
Mereka tidak akan mengeluarkan uang untuk iklan berbayar pada tahap pertama. Mereka akan mengandalkan pembaruan informasi bisnis, materi promosi sederhana, dan penawaran yang disampaikan kepada pelanggan melalui saluran yang memang telah digunakan toko.
Tidak ada janji bahwa penjualan akan meningkat dengan persentase tertentu.
Tidak ada klaim bahwa mereka memiliki formula rahasia.
Mereka hanya menawarkan proses yang terukur.
Setelah Peter kembali melayani pelanggan, Daniel mengajak Arthur keluar untuk membicarakan pembagian pekerjaan.
"Aku bisa menyelesaikan halaman bisnis dan materi promosinya akhir pekan ini," kata Daniel. "Tapi kalau kita mendapatkan lebih banyak pelanggan, aku mungkin akan kesulitan menangani semuanya sendiri."
Arthur sudah memikirkan persoalan itu.
"Kalau beban kerja mulai meningkat, kita perlu memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk setiap proyek. Setelah itu, kita bisa memutuskan apakah ada bagian yang bisa disederhanakan atau dialihkan kepada orang lain."
Daniel mengerutkan kening.
"Kau ingin mempekerjakan seseorang?"
"Belum. Kita bahkan belum tahu apakah pendapatan dari beberapa klien ini cukup stabil. Aku tidak ingin membuat komitmen biaya tetap sebelum kita mampu menanggungnya."
Daniel tertawa.
"Baiklah. Aku akan menahan keinginanku untuk membangun kantor pusat di Manhattan."
"Terima kasih atas pengorbananmu."
Mereka tertawa bersama.
Namun, setelah tawanya mereda, Daniel kembali serius.
"Aku senang kita mulai mendapatkan pelanggan. Tapi ada sesuatu yang ingin kubicarakan."
"Apa?"
Daniel memasukkan kedua tangannya ke saku jaket.
"Aku ingin bisnis ini menjadi sesuatu yang benar-benar kita bangun bersama. Aku tidak ingin suatu hari nanti mengetahui bahwa aku hanya mengerjakan bagian teknis sementara semua keputusan penting sudah kau buat sendiri."
Arthur menatapnya.
Ia memahami kekhawatiran itu.
Sejak awal, Arthur sering mengambil inisiatif dalam menentukan arah bisnis. Pengalaman masa depannya membuat beberapa keputusan terasa jelas baginya, tetapi bagi Daniel, semua itu tetap merupakan pilihan yang harus dipahami dan disepakati bersama.
"Aku tidak ingin itu terjadi," jawab Arthur. "Kau bertanggung jawab atas bagian teknis dan pengembangan layanan. Aku menangani strategi dan penjualan, tetapi keputusan yang memengaruhi arah bisnis harus kita bicarakan bersama."
"Termasuk keputusan soal uang?"
"Terutama soal uang."
Daniel mengangguk perlahan.
"Bagus. Aku hanya ingin memastikan kita berada di halaman yang sama."
Arthur mengulurkan tangan.
"Kalau begitu, kita sepakati sekarang. Tidak ada keputusan besar yang dibuat diam-diam."
Daniel menjabat tangannya.
Bagi orang lain, percakapan itu mungkin tampak tidak penting. Mereka belum memiliki kantor, karyawan, atau pendapatan yang berarti.
Namun, Arthur tahu bahwa banyak kemitraan bisnis tidak runtuh karena kekurangan peluang. Kemitraan runtuh karena salah satu pihak merasa tidak dihargai, pembagian tanggung jawab tidak jelas, atau kepercayaan hilang ketika uang mulai terlibat.
Jika ia ingin membangun perusahaan yang bertahan puluhan tahun, ia harus memulainya dengan hubungan yang sehat.
Dan hubungan itu tidak dapat dibangun hanya dengan kecerdasan.
Ia harus membangun kepercayaan.
Pukul 13.10, Arthur tiba di kampus.
Ia memiliki waktu beberapa jam sebelum berangkat ke Manhattan, sehingga ia memilih duduk di perpustakaan untuk mempersiapkan pertemuan dengan Richard.
Di hadapannya terbuka tiga dokumen.
Dokumen pertama berisi analisis bisnis Aurelia Therapeutics.
Dokumen kedua berisi penilaian risiko investasinya.
Dokumen ketiga berisi jawaban atas pertanyaan Richard mengenai perbedaan antara kenaikan harga jangka pendek dan penciptaan nilai jangka panjang.
Arthur membaca kembali bagian terakhir.
Jika hasil uji klinis sesuai dengan skenario optimistis, nilai perusahaan mungkin meningkat karena peluang pengembangan produknya menjadi lebih menjanjikan. Namun, nilai tersebut tetap bergantung pada kemungkinan persetujuan regulator, kebutuhan pendanaan, biaya produksi, dan kemampuan perusahaan memperoleh pendapatan setelah produknya dipasarkan.
Harga saham dapat melonjak dalam beberapa jam, tetapi kenaikan itu belum tentu bertahan.
Sebaliknya, jika pasar sebelumnya menilai perusahaan terlalu rendah, sebagian kenaikan mungkin merupakan koreksi terhadap pesimisme yang berlebihan.
Arthur menambahkan satu kalimat pada kesimpulannya.
Peristiwa positif dapat mengubah probabilitas keberhasilan bisnis, tetapi tidak menghapus risiko pelaksanaan maupun risiko valuasi.
Ia membaca kalimat itu sekali lagi.
Kalimat tersebut sederhana, tetapi penting.
Dalam kehidupan sebelumnya, ia telah bertemu banyak investor yang mampu memprediksi berita dengan benar, tetapi tetap kehilangan uang karena membayar harga yang terlalu tinggi.
Mereka benar tentang peristiwa yang akan terjadi, tetapi salah tentang harga yang pantas dibayar.
Arthur tidak ingin mengulangi kesalahan semacam itu.
Pukul 14.05, Clara datang membawa dua buku dan sebuah map.
"Kau terlihat sangat serius," katanya sambil duduk di kursi seberang.
Arthur menutup dokumennya.
"Aku sedang mempersiapkan pertemuan."
"Dengan Richard Coleman?"
Arthur mengangguk.
"Dia ingin membahas analisis investasi yang kukirimkan."
Clara meletakkan bukunya di meja.
"Itu terdengar seperti kesempatan bagus."
"Kesempatan untuk belajar, setidaknya."
Clara tersenyum.
"Kau selalu berhati-hati dalam menggambarkan sesuatu. Bahkan ketika sesuatu itu jelas merupakan kemajuan."
Arthur mempertimbangkan ucapannya.
"Mungkin karena aku pernah melihat bagaimana orang berubah setelah merasa terlalu yakin pada dirinya sendiri."
Clara menatapnya.
"Kau sering mengatakan hal-hal seperti itu. Seolah-olah kau sedang berusaha menghindari kesalahan yang pernah dilakukan seseorang."
Arthur merasakan dadanya menegang sesaat.
Clara tidak tahu bahwa seseorang yang dimaksudnya adalah dirinya sendiri.
Ia telah menghabiskan enam puluh tahun dalam kehidupan sebelumnya untuk mengejar kekayaan, sementara banyak kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih utuh berlalu begitu saja.
Namun, ia tidak bisa menceritakan semua itu kepadanya.
"Kurasa semua orang punya kesalahan yang tidak ingin diulanginya," jawab Arthur.
Clara mengangguk.
"Itu benar."
Ia membuka map yang dibawanya.
"Aku juga ingin memberitahumu bahwa Samuel sudah mencoba menggunakan tabel keuangan kita. Dia mengirim beberapa catatan mengenai bagian yang menurutnya membingungkan."
Arthur tersenyum.
"Bagus. Apa yang perlu diperbaiki?"
"Dia merasa kolom biaya operasional terlalu umum. Jadi, aku ingin membaginya menjadi beberapa kategori sederhana, seperti listrik, persediaan pembersih, dan biaya lain yang tidak berhubungan langsung dengan bahan makanan."
"Menurutku itu masuk akal, selama kita tidak membuat tabelnya terlalu rumit."
Clara mengeluarkan beberapa lembar catatan.
Mereka mendiskusikan perubahan itu selama hampir dua puluh menit. Clara menjelaskan bagaimana pemisahan biaya dapat membantu Samuel memahami ke mana uangnya pergi, sementara Arthur menekankan pentingnya membatasi jumlah kategori agar pencatatan tetap praktis.
Ketika mereka selesai, Clara memandang jam tangannya.
"Kau harus segera berangkat?"
"Ya. Aku tidak ingin terlambat."
Clara menutup mapnya.
"Semoga pertemuannya berjalan baik."
"Terima kasih."
Arthur berdiri dan memasukkan dokumen ke dalam tas.
Sebelum berpisah, Clara berkata, "Arthur, jangan merasa harus selalu membuktikan bahwa kau tahu lebih banyak daripada orang lain."
Ia berhenti.
"Aku tidak mengatakan bahwa kau melakukan itu. Hanya saja, kadang-kadang orang yang terlihat sangat kompeten juga membutuhkan ruang untuk mengatakan bahwa mereka belum tahu jawabannya."
Arthur menatapnya beberapa detik.
Kemudian ia tersenyum.
"Aku akan mengingatnya."
Clara membalas senyumnya sebelum kembali membuka buku.
Arthur meninggalkan perpustakaan dengan membawa sesuatu yang tidak tercantum dalam dokumen investasinya: pengingat bahwa ia tidak harus menghadapi setiap persoalan dengan berpura-pura memiliki jawaban.
Pukul 16.20, Arthur tiba di gedung perkantoran tempat Richard Coleman bekerja.
Lobi gedung itu bersih dan luas. Para pekerja berpakaian formal berjalan melewati meja resepsionis, sebagian membawa tas kerja, sebagian lainnya berbicara melalui telepon dengan suara rendah.
Arthur merapikan jaketnya sebelum memperkenalkan diri kepada resepsionis.
Beberapa menit kemudian, Michael Reed datang menjemputnya.
"Arthur. Senang bertemu lagi."
"Senang bertemu dengan Anda juga."
Michael membawanya ke ruang pertemuan kecil di lantai atas.
Richard sudah duduk di ujung meja dengan beberapa dokumen di hadapannya.
"Silakan duduk," katanya.
Arthur meletakkan tasnya dan duduk.
Richard membuka percakapan tanpa basa-basi.
"Aku telah membaca kembali analisismu. Ada beberapa bagian yang menurutku cukup baik, terutama ketika kau membedakan keberhasilan klinis dari keberhasilan komersial."
"Terima kasih, Pak."
"Tetapi ada hal yang ingin kupahami. Kau memperkirakan peluang hasil positif cukup besar dibandingkan dengan penilaian pasar saat ini. Apa dasar utama dari perkiraan itu?"
Arthur telah mempersiapkan jawabannya.
"Menurut saya, penilaian pasar mungkin terlalu menekankan risiko kegagalan pada tahap ini. Namun, saya tidak menganggap peluang keberhasilannya pasti. Saya mencoba menilai apakah potensi perubahan probabilitas setelah pengumuman dapat membuat harga saat ini menarik, dengan tetap memperhitungkan kemungkinan kehilangan seluruh premi opsi."
Richard menatapnya.
"Berapa besar kemungkinan hasil negatif menurut analisismu?"
Arthur menyebutkan rentang perkiraan yang telah ia susun, lalu menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan asumsi kerja, bukan probabilitas objektif yang dapat dipastikan.
Michael mengambil salah satu halaman.
"Bagaimana kau menentukan rentang itu?"
Arthur menjelaskan faktor-faktor yang ia pertimbangkan: tahap pengembangan produk, informasi klinis yang tersedia untuk publik, keterbatasan data, kondisi keuangan perusahaan, serta risiko bahwa hasil uji klinis tidak memenuhi titik akhir yang diharapkan.
Richard mendengarkan tanpa menyela.
Setelah Arthur selesai, ia bertanya, "Kalau hasilnya positif, tetapi harga saham hanya naik sedikit, apakah kau akan menganggap analisismu salah?"
Arthur berpikir sejenak.
"Tidak secara otomatis. Saya akan memeriksa apakah asumsi tentang hasil klinis benar, bagaimana pasar menafsirkan pengumuman tersebut, dan apakah harga sebelum pengumuman sudah mencerminkan ekspektasi yang lebih tinggi daripada yang saya perkirakan. Tetapi jika tesis saya menyatakan bahwa pasar meremehkan kemungkinan keberhasilan dan harga tidak bereaksi seperti yang saya perkirakan, saya harus mengevaluasi kembali asumsi itu."
Richard mengangguk.
"Bagus. Banyak orang menggunakan hasil akhir untuk membenarkan keputusan awal mereka. Mereka jarang memeriksa apakah proses berpikirnya benar."
Ia membalik halaman.
"Namun, aku masih melihat satu masalah. Analisis bisnis dan analisis investasi bukan hal yang sama."
Arthur mengangguk.
"Saya setuju."
"Perusahaan dapat memiliki teknologi yang menjanjikan, tetapi sahamnya tetap menjadi investasi yang buruk jika valuasinya terlalu tinggi. Sebaliknya, perusahaan yang sedang menghadapi masalah dapat menjadi investasi menarik jika harga pasar terlalu pesimistis."
"Karena itu, saya mencoba memisahkan nilai bisnis dari harga instrumen yang saya beli."
Richard menatapnya dengan lebih serius.
"Dan apakah kau sudah memperhitungkan pengaruh waktu terhadap opsi yang kau miliki?"
"Ya. Penurunan nilai waktu dapat mengurangi potensi keuntungan, bahkan jika saham bergerak ke arah yang saya harapkan. Volatilitas tersirat juga dapat turun setelah pengumuman, sehingga kenaikan saham tidak selalu menghasilkan kenaikan nilai opsi sebesar yang diperkirakan."
Michael mengangkat kepala.
"Jawaban yang tepat. Banyak investor pemula mengabaikan hal itu."
Arthur tidak menunjukkan reaksi berlebihan.
Ia tahu bahwa memahami mekanisme opsi merupakan satu hal. Menentukan harga yang tepat dan mengelola posisi ketika pasar bergerak merupakan hal yang berbeda.
Richard menyandarkan tubuhnya.
"Arthur, aku ingin menanyakan sesuatu yang lebih sederhana. Mengapa kau memilih investasi yang begitu berisiko?"
Pertanyaan itu membuat ruangan terasa lebih sunyi.
Arthur tidak bisa mengatakan bahwa ia pernah hidup selama enam puluh tahun lagi dan telah melihat peristiwa yang belum terjadi.
Ia juga tidak ingin memberikan alasan palsu yang terlalu terperinci.
"Saya memiliki modal terbatas," jawabnya akhirnya. "Saya melihat peluang yang menurut analisis saya memiliki potensi imbal hasil menarik, meskipun risikonya besar. Tetapi saya memahami bahwa potensi keuntungan bukan alasan yang cukup untuk mengabaikan risiko."
Richard memperhatikan wajahnya.
"Apakah uang itu dibutuhkan untuk biaya hidup atau kuliahmu?"
Arthur terdiam sesaat.
"Sebagian besar dana yang saya tempatkan pada posisi itu merupakan modal investasi saya. Namun, saya tetap memiliki keterbatasan likuiditas, dan saya tidak ingin memperbesar posisi hanya karena merasa yakin."
Richard mengangguk perlahan.
"Aku akan memberimu nasihat yang mungkin terdengar membosankan. Jangan pernah mencampuradukkan keyakinan dengan kemampuan menanggung kerugian."
Arthur mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
"Jika sebuah posisi dapat menghabiskan modal yang tidak mampu kau gantikan, maka potensi keuntungan besar tidak otomatis membuatnya menjadi keputusan yang baik. Risiko bukan hanya tentang seberapa mungkin kau salah. Risiko juga tentang apa yang terjadi pada hidupmu jika kau salah."
Kata-kata itu menghantam Arthur lebih keras daripada yang ia perkirakan.
Ia pernah menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Ia pernah membuat keputusan bernilai miliaran dolar tanpa merasa perlu memikirkan apakah ia masih mampu membayar tagihan bulan berikutnya.
Namun, di masa mudanya, ia tidak memiliki kemewahan itu.
Dan justru karena ia mengetahui masa depan, ia harus berhati-hati agar tidak membiarkan keyakinan tersebut membuatnya melupakan batas-batas yang nyata.
"Saya mengerti," jawabnya.
Richard menutup dokumen.
"Secara keseluruhan, analisismu menarik. Aku belum bisa mengatakan bahwa kau memiliki keunggulan investasi yang terbukti. Satu tesis yang masuk akal belum cukup untuk membuktikannya."
Arthur mengangguk.
"Tentu."
"Tetapi kau mampu menjelaskan alasan di balik keputusanmu dan mengakui kelemahannya. Itu awal yang baik."
Richard kemudian melirik Michael.
"Aku ingin kau memperbarui laporan ini setelah pengumuman perusahaan, apa pun hasilnya. Catat asumsi yang benar, asumsi yang salah, dan alasan di baliknya. Jangan hanya menulis tentang keuntungan atau kerugian."
Arthur mengerti maksudnya.
Richard tidak sedang menjanjikan posisi pekerjaan. Ia memberinya kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia mampu belajar dari hasil nyata.
"Saya akan melakukannya."
Mereka berdiskusi selama beberapa menit lagi sebelum pertemuan berakhir.
Ketika Arthur berdiri untuk pergi, Richard memberikan satu nasihat terakhir.
"Jika kau ingin bertahan di pasar keuangan, belajarlah untuk tidak jatuh cinta pada sebuah prediksi."
Arthur tersenyum tipis.
"Saya akan mengingatnya, Pak Coleman."
Malam itu, Arthur kembali ke Queens dengan pikiran penuh.
Pertemuan dengan Richard berjalan lebih baik daripada yang ia perkirakan. Ia tidak memperoleh tawaran pekerjaan, uang, atau janji bahwa mereka akan bekerja sama di masa depan.
Namun, ia mendapatkan sesuatu yang mungkin lebih berguna untuk saat ini.
Seseorang yang bersedia menguji pemikirannya tanpa langsung memercayai atau menolaknya.
Arthur tiba di apartemen, meletakkan tas, lalu membuka laptop.
Harga Aurelia Therapeutics belum menunjukkan perubahan yang cukup besar untuk mengubah tesis investasinya. Tidak ada pengumuman baru yang menjelaskan aktivitas pasar beberapa hari terakhir.
Ia memeriksa email.
Tidak ada pesan baru dari analis anonim.
Arthur kemudian membuka catatan investasinya dan menambahkan ringkasan pertemuan dengan Richard.
Di bagian bawah, ia menulis tiga kalimat.
Jangan menganggap hasil yang benar sebagai bukti bahwa semua asumsi benar.
Jangan menganggap hasil yang salah sebagai alasan untuk berhenti mengevaluasi diri.
Jangan biarkan satu investasi menentukan seluruh masa depan.
Ia berhenti menulis.
Di luar jendela, cahaya kota memantul pada kaca bangunan di seberang jalan. New York tetap sibuk, seolah setiap orang sedang mengejar sesuatu yang tidak boleh mereka lewatkan.
Arthur memikirkan Daniel, yang sedang membangun bisnis kecil bersamanya. Ia memikirkan Clara, yang perlahan menemukan ruang untuk mengembangkan kemampuannya sendiri. Ia memikirkan Richard, yang mengajarinya bahwa pengetahuan dan kepercayaan harus diuji melalui proses.
Semua hubungan itu masih berada pada tahap awal.
Belum ada yang benar-benar aman.
Belum ada yang dapat dipastikan.
Dan mungkin itulah bagian terpenting dari kesempatan kedua ini: Arthur tidak lagi harus berpura-pura bahwa dirinya mampu mengendalikan segalanya.
Ia hanya harus membuat keputusan terbaik berdasarkan informasi yang dimilikinya, kemudian bersedia menghadapi akibatnya.
Pukul 22.15, ketika ia hendak menutup laptop, sebuah pemberitahuan berita muncul di layar.
Sebuah perusahaan bioteknologi lain mengumumkan hasil uji klinis yang tidak memenuhi target utama.
Saham perusahaan itu turun tajam dalam perdagangan setelah penutupan.
Arthur membuka beritanya dan membaca rincian pengumuman tersebut.
Perusahaan itu bukan Aurelia Therapeutics. Produk yang dikembangkannya juga berbeda.
Namun, pergerakan harga sahamnya menjadi pengingat yang tidak menyenangkan tentang apa yang bisa terjadi ketika sebuah harapan besar bertemu dengan hasil yang mengecewakan.
Arthur menutup berita itu.
Ia tidak tahu apakah Aurelia akan mengalami nasib serupa.
Ia juga tidak tahu apakah ingatannya mengenai pengumuman positif yang akan datang masih cukup akurat untuk menghasilkan keuntungan seperti yang diharapkannya.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa sedikit takut.
Bukan takut kehilangan uang semata.
Ia takut menjadi begitu terobsesi dengan hasil yang diingatnya sehingga mengabaikan semua tanda yang bertentangan dengan harapan tersebut.
Arthur mematikan laptop.
Besok, ia akan kembali mengerjakan bisnisnya bersama Daniel. Ia akan melanjutkan proyek kecil yang mereka bangun dari nol, membantu Clara menguji tabel keuangannya, dan mempersiapkan diri menghadapi apa pun yang akan terjadi di pasar.
Ia tidak akan membiarkan satu kemungkinan keuntungan menguasai seluruh hidupnya.
Karena jika kesempatan kedua ini mengajarinya sesuatu, maka itu adalah bahwa masa depan tidak hanya dibentuk oleh hal-hal yang berhasil ia prediksi.
Masa depan juga dibentuk oleh keputusan yang ia ambil ketika kenyataan menolak mengikuti perkiraannya.
Dan Arthur Sterling harus siap menghadapi keduanya.