NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:743.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Jangan Salahkan Aku

Makan malam keluarga berlangsung seperti biasa. Meja panjang dipenuhi hidangan, sementara percakapan ringan mengalir di antara anggota keluarga Astera.

Belvina duduk di samping Alden dengan ekspresi tenang, seolah tak terjadi apa-apa sejak insiden sore tadi.

Sayangnya, Alden punya rencana lain. Saat semua orang sibuk bicara, ujung kakinya menyentuh mata kaki Belvina dari bawah meja.

Belvina tersentak kecil. Ia menoleh tajam ke samping. Alden sedang memotong steak dengan wajah datar, seakan tak tahu apa pun.

Belvina mencoba mengabaikan. Lalu sentuhan itu naik perlahan ke betisnya.

“Khuk!”

Belvina tersedak sup yang baru diminumnya.

Fransisca langsung panik. “Astaga, pelan-pelan makannya!”

Alden sigap menepuk punggung Belvina dengan lembut dan menyodorkan gelas air.

“Minum dulu,” ucapnya tenang.

Belvina menerima gelas itu sambil melotot. Alden dengan santai meneguk minumannya. Tanpa ia duga--

Di bawah meja, kaki Belvina mencubit betisnya menggunakan jemari kakinya.

Alden nyaris tersedak anggur merahnya sendiri, tapi berhasil menahan ekspresi.

Arsen menyipitkan mata.

“Kalian berdua kenapa?”

“Tidak kenapa-kenapa,” jawab mereka bersamaan.

Alena menahan tawa. “Justru itu yang mencurigakan.”

Belvina kembali menyendok nasi. Baru satu suap masuk, kaki Alden kembali bergerak, kali ini menyentuh sisi betisnya lebih berani.

Belvina langsung menendang tulang kering pria itu dari bawah meja.

DUG.

Sendok di tangan Alden berdenting ke piring.

Andreas menatap tenang dari ujung meja. “Masalah pencernaan?”

“Tidak,” jawab Alden singkat sambil menahan nyeri.

Belum puas, Alden menjatuhkan serbet ke pangkuannya sendiri, lalu pura-pura mengambilnya. Tangannya singgah sebentar di paha Belvina.

Belvina membeku sepersekian detik, wajahnya memanas.

Lalu—

CRAK.

Ia mencubit tangan Alden sekuat tenaga.

Alden menghirup napas tajam.

Fransisca menaruh garpu. “Aku yakin ada sesuatu.”

Arsen mengangguk serius. “Ini lebih seru dari drama malam.”

Alena menatap Belvina yang pipinya merah. “Kak Bel, kamu demam?”

“Enggak!” sahut Belvina terlalu cepat.

Alden menyandar santai sambil menyeka bibir.

“Dia hanya... sensitif malam ini.”

Belvina menoleh tajam, nyaris melempar piring.

Andreas menyesap air putih dengan tenang.

“Kurasa,” katanya datar, “meja makan ini sebentar lagi akan jadi medan perang.”

***

Malam itu, Alden masuk ke kamar dengan langkah santai. Wajahnya terlihat puas setelah kemenangan kecilnya di meja makan.

Belvina yang sedang duduk di depan meja rias hanya melirik sekilas lewat cermin.

“Senang?” tanyanya datar.

Alden melepas jam tangan. “Lumayan.”

“Merasa hebat?”

“Cukup.” Ia tersenyum tipis. “Ternyata kau mudah terusik.”

Belvina berdiri perlahan. Ekspresinya biasa saja. Terlalu tenang.

Alden justru menyipitkan mata. Ia sudah mulai mengenali ekspresi itu. Biasanya, jika Belvina terlihat setenang ini, artinya ada sesuatu yang berbahaya.

Belvina melangkah mendekat.

“Apa?” tanya Alden.

Tanpa menjawab, Belvina merapikan kerah kemeja pria itu, menepuk dadanya pelan, lalu tersenyum manis.

Alden membeku sepersekian detik.

“Kau kerasukan?”

Belvina mengabaikan pertanyaan itu. Ia berjalan melewati Alden, lalu duduk santai di ranjang sambil memainkan ponselnya.

“Aku mau tidur cepat malam ini,” katanya ringan. “Lampunya tolong matikan.”

Alden berdiri di tempat, masih bingung.

Wanita itu tidak marah atau berteriak, apalagi membalas. Dan justru itu yang mengganggu.

Ia mematikan lampu utama lalu naik ke ranjang. Belvina sudah berbaring membelakanginya tanpa drama.

Alden berdeham pelan.

Tak ada respons.

“Bel.”

Tak ada jawaban dari Belvina.

“Masih ngambek?”

Belvina tetap diam.

Alden mendecak. “Drama sekali.”

Ia ikut berbaring. Baru saja memejamkan mata, tiba-tiba—

TING!

Suara notifikasi ponselnya berbunyi.

Alden meraih ponsel. Sebuah pesan masuk dari bank.

Pembayaran berhasil: donasi lima puluh juta rupiah.

Alden langsung bangkit duduk.

“Apa?”

Belvina tetap membelakanginya. Bahunya berguncang kecil, menahan tawa.

Alden langsung memutar tubuhnya. “Belvina.”

Tak ada jawaban.

TING!

Pesan kedua masuk.

Pembayaran berhasil: paket premium game satu tahun.

Pandangan Alden berpindah dari layar ke punggung istrinya.

“Belvina.” Kali ini suaranya lebih rendah.

Wanita itu perlahan membalik badan. Wajahnya polos sekali.

“Kenapa?”

“Kau pegang ponselku?”

Belvina berkedip innocent. “Tadi sore ada orang pegang ponselku juga.”

Alden terdiam.

Belvina tersenyum manis. “Balas dendam kecil.”

Alden menarik napas panjang. “Kau tahu password-ku?”

Belvina mengangkat dagu bangga. “Terlalu mudah ditebak.”

“Apa?”

“Tanggal lahirmu. Narsis sekali.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Alden benar-benar kena mental.

Ia menatap ponselnya, lalu ke wanita di depannya yang kini sudah menarik selimut sampai dagu.

“Uangku kembali.”

“Tidur dulu,” jawab Belvina santai. “Besok kita bahas.”

“Belvina.”

“Selamat malam.”

Lampu tidur dimatikan.

Ruangan gelap.

Alden masih duduk kaku di tepi ranjang, melihat layar ponsel dengan urat di pelipisnya bergerak.

Di balik selimut, Belvina menggigit bibir menahan tawa puas.

Akhirnya, ada satu pertandingan yang ia menangkan telak malam ini.

Namun ada satu hal yang tak disadari Belvina.

Di balik gelap kamar, sudut bibir Alden terangkat tipis.

"Kau terlalu senang sampai lupa sesuatu," batinnya geli.

Tadi sore Belvina masih bersikeras menolak tidur seranjang. Sekarang, wanita itu bahkan tak bereaksi saat ia naik ke ranjang yang sama.

“Tunggu saja,” gumamnya rendah.

Belvina memicing curiga. “Kamu ngomong sesuatu?” tanyanya tanpa berbalik.

“Nggak,” jawab Alden singkat, lalu merebahkan tubuhnya.

Mata Belvina masih terbuka beberapa saat, tetapi rasa lelah yang menumpuk sejak pagi perlahan menyeretnya ke alam tidur. Tak lama kemudian, napasnya berubah teratur.

Malam makin larut. Lampu tidur hanya menyisakan cahaya redup keemasan.

Alden membuka mata. Ia menoleh ke sisi ranjang, memandangi wanita yang tertidur membelakanginya. Rambut Belvina terurai di bantal, wajahnya tampak jauh lebih tenang daripada saat sadar.

Pelan, Alden merapat.

Tangannya terangkat, lalu menyentuh punggung Belvina melalui kain tipis yang dikenakannya. Jemarinya bergerak perlahan, memijat dengan tekanan pas, turun naik lembut di sepanjang bahu dan tulang belikat.

Dalam tidurnya, Belvina menghela napas panjang.

Di alam mimpinya, ia sedang berada di ruang spa yang hangat dan nyaman. Tubuhnya dimanjakan sentuhan terampil yang membuat rasa penat mencair satu per satu.

Alden menatap reaksi itu dengan sorot mata menggelap.

Ia menyingkirkan sedikit rambut yang menutupi tengkuk Belvina, lalu menunduk. Bibirnya menyentuh kulit di sana sekilas, hanya sapuan ringan, nyaris seperti hembusan napas.

Belvina bergerak kecil.

Dalam mimpinya, suasana berubah. Spa yang tenang berganti menjadi ruangan asing yang membuat jantungnya berdebar. Seseorang mendekat dari belakang. Seseorang yang kehadirannya terlalu ia kenal.

“Alden...” gumamnya samar dalam tidur.

Nama itu membuat napas pria di belakangnya berubah berat.

Alden menurunkan sedikit kain di bahu Belvina, memperlihatkan pundak putih yang halus di bawah cahaya remang. Bibirnya kembali singgah di sana, kali ini lebih lama.

Napas Belvina tersendat sepersekian detik lalu justru melonggar.

Di dalam mimpi, ia sadar sedang dicumbu pria itu. Ingin menolak, tetapi tubuhnya tak menurut. Setiap sentuhan justru membuat lututnya lemah.

Bibirnya terbuka tipis. Sebuah desah lirih lolos tanpa sadar.

Suara kecil itu menghantam sisa kendali Alden.

Rahangnya menegang. Tangannya mencengkeram sprei di samping tubuh Belvina agar tak kelewat batas.

“Bel...” suaranya serak tertahan.

Belvina hanya bergerak gelisah dalam tidur, lalu tanpa sadar merapatkan tubuh ke arahnya, mencari kehangatan.

Alden memejamkan mata sejenak.

Wanita ini bahkan tak sadar sedang mendorongnya ke batas terakhir.

“Kalau begitu... jangan salahkan aku nanti," gumam Alden dengan suara serak, berat.

 

...✨"Belvina mengira malam akan berakhir dengan kemenangan. Ia lupa, Alden belum memainkan giliran terakhirnya."...

..."Ia berhasil mencuri lima puluh juta dari rekening Alden, tetapi pria itu mencuri tidurnya sebagai balasan."✨...

.

To be continued

1
farah araa
cerita nya sangat bagus dan semangat buat author nya😊
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
fii 🤩
lanjut
anonim
Belvina positif hamil. Tokcer juga tuh Alden kecebongnya jadi calon baby di perut Belvina.

Fransisca gembira, akan segera menimang cucu. Dan berterima kasih kepada Belvina.

Andreas juga bahagia, bersyukur dan terharu.
anonim
Belvina istrinya Alden, wajarlah ia perhatian dan mencemaskan istrinya yang sedang muntah-muntah.

Seraphina tidak menyukai dengan apa yang Alden lakukan pada Belvina.

Belvina mau ke sofa menolak bantuan dari Seraphina.

Seraphina melangkah mendekat, Belvina menutup hidungnya, mundur selangkah

Belvina dan Alden sama isi batinnya - kehamilan. Belvina hamil.
anonim
Kebayang ngga tubuh satpam wanita itu bagaimana. Kuat menggendong Belvina dia.

Nasib Dimas kurang beruntung, ingin membantu Belvina berdiri, malah lengannya kena pukul Alden.
Rhea Kim
bagusss banget kisahnya... ❤
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Rhea Kim
nah sadar kan alden.... yang baik nya over itu kadang siluman 🤣🤣🤣🤣...
Rhea Kim
serapinul siluman ular cekek.... km hanya halu.... masa lalu darimana mantan juga bukan hadehh.... sana periksa kejiwaan aja 🤣🤣🤣
Rhea Kim
ya iyalah serapinul manusia siluman... itu suaminya belvina yo jelas milih belvina... emang perlu d rukyah nih cewek siluman
Rhea Kim
emang hatimu busuk aja serapina...
istri ama suami akur kuq g boleh... cari suami sendiri sanaa🤣🤣
Rhea Kim
nah ini dimas peka... emang aura siluman nya kerasa banget si serapina.... klo terlalu sempurna malah mencurigakan 🤣
Rhea Kim
huh... serapina sirik aja orang seneng.... la wong alden suaminya y wajar dong deket istrinya... yg wajar iku km deketin suami orang🤣
fii 🤩
😂😂
anonim
Sekali tancap kecebong Alden jadi calon baby nih. Betul ngga ya.

Belvina tak tahan bau parfum Seraphina, pusing kepalanya, berakhir lari ke toilet - muntah dia.

Alden terkejut melihat Belvina yang seperti mau muntah. Spontan ia berdiri dari duduknya. Tak sadar kalau gerakan mendadak bikin rusuknya kembali nyeri.

Alden mengkhawatirkan Belvina yang sedang muntah-muntah di dalam toilet.
anonim
Belvina menerima panggilan tlp dari Aldo. Alden cemburu gak djelas.

Apalagi ketika melihat Belvina tersenyum dan bicara begitu asyik. Alden semakin panas saja.

Belvina lugu amat. Jelas Alden cemburu. Sampai menyindir bilang - sepertinya senang sekali.

Alden bisa duduk sendiri di kursi kerjanya.

Malah ribut di kantor.

Seraphina datang masuk ke ruang kerja Alden. Baru selesai bicara - mengungkap rasa senangnya Alden sudah kembali ke kantor.

Alden belum menanggapi.

Eee..eeeehhh... Belvina 😄😄 suaramu dan kata-kata yang terucap ituuuu 😂😂😂 bikin kaget Seraphina.
anonim
Belvina tidak tahu saja kalau Alden sengaja mengajaknya ke kantor karena ingin dekat. Tidak ingin Belvina pergi.

Alden banyak alasan.

Belvina setuju ikut ke kantor.

Alden bisa bangun sendiri, ambil minum.

Senangnya Alden bisa peluk Belvina yang nyenyak tidurnya. Tidak terusik dipeluk.

Belvina bangun tidur baru sadar posisi tidurnya. Mana benda tumpul milik Alden berdenyut di pahanya pula. Untung tidak reflek mendorong Alden. Bisa semakin tidak sembuh-sembuh kalau itu terjadi.

Alden pusing tak bisa menyalurkan hasratnya.

Alden mandi sendiri. Kalau saat ini Belvina yang mandiin, Alden bisa semakin kacau wkwkwk..

Belvina tidak tahu kalau Alden jadi pusing tidak bisa menuntaskan hasratnya.

Wah - ada mata-mata Seraphina
LibraGirls
Always the best 👍🏻👍🏻👍🏻😍😍😍
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
LibraGirls
Makasih Nana selalu keren ceitanya 🤩🤩🤩
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama,Kak🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
LibraGirls
Lah nasib si Dina atau Diana entah apa lah nama nya lupa gimanaenibgalkah atau gimana ya 😂😂😂
LibraGirls
Dikit banget 18 thn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!