Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 — Peluru Salju di Ujung Kematian
KRAAK!
Suara ranting patah kembali terdengar dari balik pepohonan.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 𝗡𝗼𝗶𝗿 menghentikan langkahnya.
Entah mengapa, perasaan tidak nyaman yang sejak tadi mengganggunya semakin kuat.
"𝙑𝙖𝙣? 𝘉𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪?" 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menoleh, suaranya setengah berbisik. "𝘗𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘩𝘦𝘸𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭."
"𝘏𝘦𝘸𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘶𝘳 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘵𝘢." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak melepaskan pandangan dari bagian hutan yang tertutup bayangan. "𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘬𝘶𝘵. 𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩."
𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 hendak menanggapi.
Namun, 𝗔𝗿𝗴𝗮 𝗪𝗶𝗰𝗮𝗸𝘀𝗮𝗻𝗮 tiba-tiba mengangkat tangannya.
"𝘋𝘪𝘢𝘮."
Keempat Hunter langsung berhenti.
𝗔𝗿𝗴𝗮 memperhatikan tanah di sekitar mereka. Kemudian pandangannya bergerak menuju pepohonan sebelah kiri.
"𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨, 𝙆𝙞𝙧𝙖𝙣𝙖, 𝘳𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪. 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣, 𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨." Suaranya rendah dan datar. "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘣𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘶𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘢𝘣𝘢-𝘢𝘣𝘢."
"𝘗𝘢𝘬, 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘬 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶?" bisik 𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮.
𝗔𝗿𝗴𝗮 perlahan menghunus pedangnya.
"𝘈𝘥𝘢 𝘫𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩. 𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶." Matanya tidak lepas dari pepohonan. "𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘢𝘱𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪—"
WUSSSHHH!
Sesuatu melesat dari balik pepohonan.
"𝘈𝘸𝘢𝘴!" 𝗔𝗿𝗴𝗮 mengangkat Regalia untuk menangkis.
CLAAANG!
Benturan pertama membuat tubuhnya terdorong mundur.
Namun, bahkan sebelum ia sempat memperbaiki posisi, bayangan hitam tersebut sudah bergerak kembali.
Terlalu cepat.
SRRAAAKK!
Sebuah cakar panjang menembus celah pertahanannya.
Darah menyembur.
Mata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membelalak.
"𝘗𝘢𝘬 𝘼𝙧𝙜𝙖!"
Tubuh sang Hunter Expert terangkat sesaat sebelum terlempar menghantam batang pohon.
BRAAAKK!
Pedangnya jatuh.
𝗔𝗿𝗴𝗮 merosot ke tanah dengan luka menganga di bagian dada dan leher.
Ia sempat menggerakkan tangannya.
Namun, beberapa detik kemudian, tubuhnya berhenti bergerak.
Semuanya berlangsung begitu cepat.
Tidak ada kesempatan memberikan instruksi.
Tidak ada kesempatan meminta bantuan.
Pemimpin mereka tewas.
𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 berdiri membeku.
"𝘗𝘢𝘬...?" Suaranya tercekat. "𝘗𝘢𝘬 𝘼𝙧𝙜𝙖... 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯, 𝘗𝘢𝘬..."
𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 menutup mulutnya, sementara crossbow di tangannya bergetar.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak mampu mengalihkan pandangan dari tubuh 𝗔𝗿𝗴𝗮.
Beberapa menit lalu, pria itu masih berjalan di depan mereka.
Masih memberikan instruksi.
Masih memastikan seluruh anggota pulang dengan selamat.
Sekarang...
Grrrrrr...
Geraman rendah memecah keheningan.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menoleh.
Seekor BETA berdiri di atas akar pohon besar.
Tubuhnya lebih ramping daripada Razorback Hound, tetapi otot-ototnya tampak padat. Bulu hitam menutupi sebagian tubuhnya, sementara dua cakar panjang menyerupai sabit menonjol dari kaki depan.
Sepasang mata merah menatap mereka.
Kemudian sebuah peringatan muncul pada perangkat komunikasi 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
[ UNIDENTIFIED BETA DETECTED ]
[ THREAT ASSESSMENT: INSUFFICIENT DATA ]
"𝘐𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘙𝘢𝘻𝘰𝘳𝘣𝘢𝘤𝘬 𝘏𝘰𝘶𝘯𝘥," gumam 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
Ia teringat dokumentasi BETA predator yang pernah dipelajarinya.
Bentuk tubuh ramping.
Kemampuan penyergapan.
Pergerakan eksplosif.
𝘕𝘪𝘨𝘩𝘵𝘧𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘵𝘢𝘭𝘬𝘦𝘳?
Jika identifikasinya benar, monster tersebut termasuk ancaman Threat Level D.
Dengan estimasi BP sekitar 700–850.
Jauh melampaui kemampuan mereka.
GRAAAHH!
Nightfang Stalker menurunkan tubuh.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tersentak.
"𝘔𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳! 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳!"
Monster itu menerjang.
BUAAAGHH!
𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 berhasil menghindar, tetapi ujung cakarnya menghantam tombak yang digunakan untuk bertahan.
Senjata tersebut terlepas dari genggamannya.
𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 melepaskan dua tembakan.
TWANG! TWANG!
Keduanya meleset.
Nightfang sudah berpindah sebelum proyektil mencapai posisinya.
"𝘋𝘪𝘢 𝘱𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘢𝘯𝘢𝘩𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪!" Jari-jari 𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 gemetar saat memasang anak panah berikutnya. "𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘥𝘪𝘬 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶?"
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggertakkan gigi.
Mereka bahkan tidak mampu mengikuti pergerakan monster tersebut.
Apalagi mengalahkannya.
"𝙆𝙞𝙧𝙖𝙣𝙖! 𝘏𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘪 𝘞.𝘏.𝘖, 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨!" teriak 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sambil mengangkat Gauntlet.
𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 segera mengaktifkan komunikasi darurat.
Namun, perangkatnya hanya menampilkan peringatan.
[ CONNECTION UNSTABLE ]
[ EMERGENCY SIGNAL: RETRYING ]
"𝘚𝘪𝘯𝘺𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴-𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴!" 𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 mengetuk layar perangkatnya berulang kali. "𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘱𝘦𝘴𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬!"
"𝘚𝘪𝘢𝘭!"
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menoleh ke arah jalur yang sebelumnya mereka lewati.
Nightfang tidak langsung menyerang lagi. Monster itu berjalan memutar di antara akar-akar pohon, pelan, seolah sedang menimbang mangsa mana yang paling mudah dijatuhkan.
Kemudian sebuah keputusan muncul dalam pikiran 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
"𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨, 𝘣𝘢𝘸𝘢 𝙆𝙞𝙧𝙖𝙣𝙖 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯!"
𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menoleh cepat.
"𝘈𝘱𝘢? 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬! 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘴𝘢𝘮𝘢-𝘴𝘢𝘮𝘢!"
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘪𝘨𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘪𝘨𝘢." Mata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak lepas dari monster itu. "𝘏𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘩𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪."
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘨𝘪𝘭𝘢, 𝙑𝙖𝙣! 𝘓𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘥𝘪! 𝘉𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘨𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩!"
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengetahui itu.
Lengan kirinya masih terluka.
Rusuknya nyeri.
Staminanya belum pulih.
Namun, ia juga mengetahui satu kenyataan yang jauh lebih menakutkan.
Jika mereka bertiga tetap di sini, kemungkinan besar mereka akan mati.
"𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨, 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mencengkeram bahu sahabatnya.
"𝘗𝘢𝘬 𝘼𝙧𝙜𝙖 𝘪𝘵𝘶 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘌𝘹𝘱𝘦𝘳𝘵, 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩. 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢." Napasnya memburu. "𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘣𝘢𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘪𝘵𝘶 𝘕𝘪𝘨𝘩𝘵𝘧𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘵𝘢𝘭𝘬𝘦𝘳. 𝘛𝘩𝘳𝘦𝘢𝘵 𝘓𝘦𝘷𝘦𝘭 𝘋. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘭𝘪𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪."
𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 terdiam.
"𝘒𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘻𝘰𝘯𝘢 𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢𝘭. 𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘮𝘣𝘶𝘴, 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘪 𝘞.𝘏.𝘖." Suara 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bergetar, tetapi cengkeramannya tidak mengendur. "𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘬𝘶, 𝘪𝘵𝘶 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢."
𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menggertakkan gigi.
"𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪? 𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶?!"
"𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶. 𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘮𝘱𝘶𝘵 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘬𝘶."
Keheningan singkat terjadi.
𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 menarik lengan 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀.
"𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨, 𝘢𝘺𝘰." Suaranya gemetar, tetapi tarikannya kuat. "𝘔𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪, 𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨."
𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menatap 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 untuk terakhir kalinya.
"𝘉𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯, 𝙑𝙖𝙣. 𝘒𝘢𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳? 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪-𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪!"
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memaksakan senyum.
"𝘔𝘢𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘰𝘯𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘴𝘦𝘫𝘦𝘭𝘦𝘬 𝘪𝘯𝘪."
𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 akhirnya berbalik.
Ia dan 𝗞𝗶𝗿𝗮𝗻𝗮 berlari menuju jalur keluar.
Nightfang Stalker memperhatikan kedua mangsanya yang menjauh.
Tubuhnya merendah.
Namun, tepat ketika monster tersebut hendak mengejar—
BRAAAKK!
Sebuah batu menghantam sisi kepalanya.
"𝘏𝘦𝘪!"
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berdiri beberapa meter di belakangnya.
"𝘔𝘢𝘶 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘶? 𝘓𝘢𝘸𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪!"
Sepasang mata merah monster tersebut beralih kepadanya.
Grrrrrr...
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangkat kedua Gauntlet.
Kakinya gemetar.
Keringat dingin mengalir dari pelipis.
𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘨𝘪𝘭𝘢.
Monster yang bahkan mampu membunuh seorang Hunter Expert dalam hitungan detik kini berdiri di hadapannya.
Sementara dirinya hanyalah seorang Novie.
Hunter yang lulus dengan peringkat terakhir.
Namun, ia tidak mundur.
𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝘥𝘢𝘯 𝙆𝙞𝙧𝙖𝙣𝙖 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperbaiki posisi kakinya.
"𝘖𝘬𝘦..."
Ia menarik napas panjang. Rusuknya langsung berdenyut nyeri.
"𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯."
WUSHHH!
Nightfang menghilang dari pandangannya.
"𝘈𝘱—"
BUAAAGHH!
Sebuah hantaman mengenai sisi tubuh 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
Ia terpental menghantam pohon.
Darah menyembur dari mulutnya.
Belum sempat bangkit, bayangan hitam kembali melintas.
SRRAATT!
Cakar Nightfang merobek bahunya.
"𝘈𝘢𝘢𝘬𝘩!"
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berguling menjauh.
𝘊𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪! 𝘑𝘢𝘶𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯!
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mencoba memanfaatkan pepohonan untuk membatasi ruang gerak monster.
Ia bergerak menyamping, menjaga batang besar di antara dirinya dan Nightfang.
Namun, predator itu tidak menerjang sembarangan.
Nightfang justru melompat ke akar pohon, kemudian menyerang dari sudut yang tidak dijaga 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
DUAAGHH!
Gauntlet kiri berhasil menahan sebagian serangan.
Tetapi kekuatan benturannya membuat 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berlutut.
CRAAKK!
Rasa sakit tajam menjalar dari rusuknya.
𝘗𝘢𝘵𝘢𝘩...?
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggertakkan gigi.
Ia melancarkan pukulan kanan.
DUAKK!
Tinju berlapis Regalia menghantam rahang monster.
Nightfang hanya terdorong sedikit.
Namun, salah satu taringnya melukai bagian dalam mulut.
Darah gelap menyembur mengenai wajah 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
"𝘜𝘨𝘩!"
Sebagian cairan tersebut masuk ke mulutnya.
Ia tersedak dan tanpa sengaja menelannya.
DUG!
Jantungnya berdetak keras.
DUG! DUG!
Sensasi panas kembali menjalar dari tenggorokan menuju dada.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membelalakkan mata.
𝘓𝘢𝘨𝘪...?
Sesuatu terasa berubah.
Suara langkah monster menjadi lebih jelas.
Ketegangan ototnya seolah lebih mudah dikenali.
Ketika Nightfang kembali menerjang, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berhasil menggeser tubuh sesaat sebelum cakarnya mengenai kepala.
WUSHH!
Serangan itu hanya menggores pipinya.
𝘉𝘪𝘴𝘢... 𝘬𝘶𝘩𝘪𝘯𝘥𝘢𝘳𝘪?
Namun, kegembiraannya tidak berlangsung lama.
Nightfang segera mengubah arah.
BUAAAGHH!
Tendangan kaki belakang menghantam perutnya.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terlempar.
"𝘎𝘶𝘩—!"
Darah keluar dari mulutnya.
Tubuhnya menghantam tanah beberapa meter jauhnya.
𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱...
Meskipun refleksnya meningkat, perbedaan kekuatan mereka masih terlalu jauh.
Ia hanya mampu bertahan sedikit lebih lama.
Pertarungan berlanjut.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggunakan batang pohon, akar, dan perubahan ketinggian tanah untuk menghambat pergerakan lawan.
Beberapa kali ia berhasil menghindari serangan pertama.
Namun, Nightfang selalu memiliki serangan lanjutan.
Satu cakaran mengenai pahanya.
Hantaman berikutnya menghancurkan pertahanan Gauntlet kirinya.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mencoba melakukan serangan balik dengan memanfaatkan momentum monster.
Tetapi Nightfang menarik tubuhnya tepat sebelum pukulan mengenai sasaran.
𝘔𝘰𝘯𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘪𝘯𝘪... 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶?
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyadari sesuatu yang mengerikan.
Nightfang bukan sekadar lebih kuat.
Monster tersebut mampu menyesuaikan serangan berdasarkan respons mangsanya.
GRAAAHH!
Nightfang menyerang lagi.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menunduk.
Namun, kali ini monster itu tidak meneruskan terjangannya.
Ia berhenti mendadak.
Kemudian—
SRRAAAAAKK!
Cakar panjangnya menyayat sisi perut 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
"𝘈𝘢𝘢𝘢𝘳𝘨𝘩!"
Darah menyembur membasahi tanah.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 kehilangan keseimbangan.
Sebelum tubuhnya jatuh, Nightfang menghantam dadanya menggunakan kaki depan.
BRAAAAAKK!
Tubuh 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terlempar menghantam batu besar.
Pandangan seketika memutih.
Suara retakan tulang terdengar samar.
Kemudian semuanya menjadi kabur.
Hah... hah...
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tergeletak di tanah.
Darah mengalir dari luka di perutnya.
Beberapa tulang rusuknya terasa patah. Lengan kirinya hampir tidak mampu digerakkan.
Ia mencoba bangkit.
Namun, kaki kanannya tidak merespons.
𝘉𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪...
Jari-jarinya mencengkeram tanah.
𝘈𝘺𝘰, 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪!
Tubuhnya hanya bergerak beberapa sentimeter sebelum kembali roboh.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggertakkan gigi.
Pandangan matanya mulai menggelap.
𝘑𝘢𝘥𝘪... 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢?
Bayangan 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 muncul dalam ingatannya.
Kemudian wajah anak-anak panti.
𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
𝗔𝗺𝗺𝘆.
𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀.
𝘔𝘢𝘢𝘧, 𝘕𝘦𝘬...
Namun, sesuatu yang tidak disadarinya sedang berlangsung di dalam tubuhnya.
Meski mengalami kehilangan darah dan kerusakan tubuh yang seharusnya membuat Hunter Novie kehilangan kesadaran lebih cepat, detak jantungnya masih bertahan.
Pendarahannya tidak berhenti.
Luka-lukanya tidak menghilang.
Tetapi tubuhnya seolah menolak menyerah.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sendiri tidak mengetahui alasannya.
Yang ia rasakan hanyalah rasa sakit luar biasa.
Grrrrrr...
Nightfang berjalan mendekat.
Langkahnya perlahan.
Seolah mengetahui mangsanya sudah tidak mampu melawan.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mencoba mengangkat Gauntlet kanan.
Tangannya bergetar hebat.
"𝘋𝘢𝘴𝘢𝘳... 𝘮𝘰𝘯𝘴𝘵𝘦𝘳... 𝘫𝘦𝘭𝘦𝘬..."
Suaranya hampir tidak terdengar.
Nightfang membuka rahang.
Deretan taring berlumuran darah tampak tepat di hadapannya.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memejamkan mata.
𝘚𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢... 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘫𝘢𝘶𝘩.
Monster itu menerjang.
Dan tepat sebelum rahangnya mencapai kepala 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻—
DORRR!
Sebuah suara tajam memecah kesunyian hutan.
CRAAAKK!
Kepala Nightfang tersentak.
Sesuatu menghantam tengkoraknya dengan kecepatan luar biasa.
Monster itu terhuyung.
Kemudian lapisan putih mulai menyebar dari titik benturan.
Krkk... krkkk...
Es.
Bagian kepalanya membeku.
Disusul leher.
Dada.
Dan perlahan seluruh tubuhnya diselimuti kristal es.
GRRRAA—
Geramannya terputus.
Beberapa detik kemudian—
BRUUUMMM!
Tubuh Nightfang Stalker roboh ke tanah.
Tidak bergerak lagi.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membuka mata dengan susah payah.
𝘈𝘱𝘢... 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪?
Di hadapannya, monster yang hampir membunuhnya telah berubah menjadi patung es.
Udara di sekitar tubuhnya terasa dingin.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mencoba menggerakkan kepala.
Dari sela-sela pepohonan, terlihat beberapa sosok berjalan mendekat.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima orang.
Mereka mengenakan perlengkapan Hunter.
Namun, pandangan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terlalu kabur untuk mengenali wajah mereka.
Di antara kelima sosok tersebut, seorang perempuan berjalan paling depan.
Ia membawa sebuah senapan panjang.
Bentuknya menyerupai AWM.
Warna putih mendominasi permukaan senjata, dihiasi motif salju yang tampak samar di bawah cahaya matahari.
Dari larasnya, hawa dingin tipis masih mengepul.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mencoba memfokuskan penglihatannya.
𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢... 𝘥𝘪𝘢?
Perempuan itu menurunkan senapannya.
Salah satu Hunter di belakangnya tampak berbicara sambil menunjuk tubuh Nightfang yang membeku.
Namun, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak mampu memahami perkataan mereka.
Semua suara terdengar semakin jauh.
Seolah dirinya tenggelam di dasar air.
Sosok perempuan tersebut mulai berjalan mendekatinya.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berusaha mengangkat tangan.
Tetapi jari-jarinya tidak lagi merespons.
𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨... 𝙆𝙞𝙧𝙖𝙣𝙖...
Ia berharap keduanya berhasil keluar dari hutan.
Kemudian wajah 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 kembali muncul dalam pikirannya.
𝘕𝘦𝘬... 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨...
Langkah kaki terdengar semakin dekat.
Sebuah bayangan berhenti di hadapannya.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berusaha melihat wajah perempuan yang membawa senapan putih itu.
Namun, sebelum penglihatannya mampu menangkap sosok tersebut dengan jelas—
Dunia berubah gelap.
Tangannya jatuh ke tanah.
Dan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 𝗡𝗼𝗶𝗿 kehilangan kesadaran.
---
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊