NovelToon NovelToon
Bisu, Tapi Membisu

Bisu, Tapi Membisu

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Hamil di luar nikah / CEO
Popularitas:16.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.

Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.

Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.

Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.

Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.

Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Sedekat Itu, Sejauh Itu

Tidak ada yang memerhatikan ekspresi ataupun gestur Zinnia.

Merry masih berbicara kepada kedua orang di hadapannya. “Arvid itu putra saya satu-satunya. Kelak, dia yang jadi penerus keluarga ini. Kalo dia nikah, saya mau cincin nikahnya dirancang khusus. Sesuatu yang gak cuma mahal, tapi punya karakter dan makna.”

Pak Damar tersenyum. “Tentu, Bu. Kami bisa siapin beberapa konsep untuk pilihan.”

“Saya gak mau desain yang terlalu pasaran. Saya mau sesuatu yang benar-benar mencerminkan dirinya." Merry berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Pernikahannya nanti juga pasti bakal jadi acara besar. Banyak keluarga dan relasi bisnis yang akan datang. Ada tanggung jawab yang ikut dibawa ketika seseorang menikah dengan anggota keluarga kami."

Zinnia menunduk semakin dalam. Ia tahu Arvid mungkin berasal dari keluarga berada. Namun, mendengar sendiri bagaimana keluarganya mempersiapkan pernikahan seorang pewaris membuat jarak di antara mereka terasa semakin nyata.

Merry melanjutkan, "Saya cuma berharap Arvid milih perempuan yang tepat. Bukan cuma karena latar belakang keluarganya, tapi karena perempuan itu paham sama kehidupan yang akan mereka jalani nanti."

“Seorang pendamping yang bisa mendukungnya?” tanya Laras.

“Ya. Arvid punya tanggung jawab besar. Kelak, istrinya bakal sering ketemu banyak orang, menghadiri acara resmi, dan berhadapan dengan berbagai kepentingan keluarga. Saya mau dia bersama seseorang yang paham dunia itu, yang gak merasa terbebani olehnya.”

Merry menghela napas kecil.

“Untungnya, dari kecil Arvid udah punya beberapa teman yang kenal baik sama dirinya dan keluarga kami. Ada yang udah deket banget sama dia dari dulu. Setidaknya, saya tau mereka udah saling kenal lama."

Pak Damar mengangguk sopan. "Tentu akan lebih mudah kalo seseorang sudah paham kebiasaan dan karakter pasangannya."

"Benar. Saya cuma pengen Arvid bahagia, tapi saya juga gak bisa ngabaikan tanggung jawab yang bakal dia emban."

Merry kembali mengamati koleksi di atas meja.

"Kalo begitu, tolong minta tim desain siapin beberapa rancangan cincin kawin. Saya mau lihat pilihan yang benar-benar istimewa."

"Baik, Bu. Nanti akan kami diskusikan dengan tim."

Percakapan itu berlanjut membahas pilihan logam, bentuk batu permata, dan kemungkinan desain yang sesuai dengan karakter Arvid.

Namun, Zinnia sudah tidak benar-benar mendengarkan.

Pikirannya terpaku pada satu hal.

Arvid akan menikah. Belum tentu dalam waktu dekat, dan Merry pun tidak menyebut siapa perempuan yang akan menjadi istrinya. Namun, perempuan itu mengatakan bahwa ada beberapa orang yang telah mengenal Arvid sejak kecil dan cukup dekat dengannya.

Ingatan Zinnia langsung tertuju pada Nita.

Desainer utama yang bekerja di perusahaan ini. Perempuan yang menurut cerita para karyawan merupakan calon nyonya CEO.

Apakah perempuan yang dimaksud Merry adalah Nita?

Zinnia tidak tahu. Akan tetapi, jika memang benar, berarti perempuan itu bukan hanya memiliki karier yang mapan, tetapi juga berasal dari lingkungan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan Arvid.

Sementara dirinya?

Ia bahkan belum tahu apakah Arvid akan mengenalinya jika mereka bertemu lagi.

“Zinnia, kotak yang itu tolong letakkan di sebelah sini.”

Suara Laras menyadarkannya. Zinnia segera mengangguk dan memindahkan kotak yang dimaksud.

Merry sempat melirik ke arahnya. “Dia karyawan baru?”

“Iya, Bu,” jawab Laras. “Asisten desainer baru di bawah arahan Bu Nita.”

“Oh, begitu.” Merry tersenyum singkat kepada Zinnia. “Semoga betah kerja di sini, ya.”

Zinnia membalas dengan anggukan sopan. Ia ingin menjawab, tetapi jari-jarinya terasa kaku ketika membuka ponsel. Akhirnya, ia hanya tersenyum kecil dan kembali merapikan sampel perhiasan.

Merry tidak memerhatikan kegugupannya. Perempuan itu kembali berdiskusi dengan Pak Damar sebelum akhirnya meninggalkan ruang display.

Begitu pintu tertutup, Zinnia mengembuskan napas yang sejak tadi terasa tertahan.

Ia merogoh tasnya dan menyentuh kotak kecil tempat cincin milik Arvid disimpan.

Benda itu masih ada di sana.

Dulu, cincin itu memberinya harapan bahwa ia akan menemukan pria yang telah melukainya. Ia membayangkan akan berdiri di hadapan pria itu dan menuntut penjelasan, meskipun ia belum tahu bagaimana caranya.

Namun, sekarang ia justru merasa takut.

Jika Arvid memang pria yang dicarinya, apakah ia harus mendatanginya meskipun pria itu mungkin akan menikahi perempuan lain?

Apakah ia harus menceritakan semuanya kepada keluarga Arvid, meskipun dirinya tidak memiliki kedudukan apa pun di hadapan mereka?

Dan bagaimana jika mereka menganggapnya hanya ingin mengganggu kehidupan Arvid?

Zinnia menutup tasnya perlahan.

Ia tidak menginginkan kekayaan pria itu. Ia tidak menginginkan jabatan atau kehidupan mewah yang bisa diberikannya. Ia hanya ingin Arvid mengakui apa yang telah terjadi dan bertanggung jawab atas akibatnya.

Namun, setelah mendengar perkataan Merry, keberanian itu terasa semakin sulit ia kumpulkan. Dunia Arvid begitu jauh dari kehidupannya.

Zinnia menatap meja display yang kini tampak kosong di hadapannya.

Ia mulai bertanya-tanya apakah menemukan Arvid benar-benar akan memberinya kelegaan, atau justru membawanya menghadapi kenyataan yang jauh lebih menyakitkan.

Meski begitu, ada satu hal yang belum berubah. Ia masih membutuhkan jawaban. Dan ia tidak bisa terus bersembunyi dari pria itu hanya karena merasa dirinya tidak sepadan.

***

Pagi itu, Zinnia berangkat ke kantor seperti biasa.

Setibanya di lobby, ia sedikit menepi untuk memeriksa pesan yang baru masuk ke ponselnya. Jarinya baru saja menyentuh layar ketika suara beberapa karyawan terdengar bersahutan.

“Pagi, Pak Arvid.”

“Pagi, Pak.”

Jari Zinnia seketika berhenti bergerak.

Pak Arvid.

Ia mengangkat kepala, lalu spontan menoleh ke arah sumber suara.

Seorang pria berjalan menuju lift dengan langkah tenang. Seorang pria lain mengikutinya satu langkah di belakang.

Zinnia terpaku.

Ada sesuatu pada postur tubuh pria itu yang terasa begitu familiar. Cara ia berjalan, bahunya yang tegap, bahkan gerakan kecil tangannya saat seorang karyawan menyapanya.

Jantung Zinnia berdegup semakin kencang.

Tidak. Ia belum bisa memastikan apa pun hanya dari nama dan sosok yang dilihatnya dari kejauhan.

Namun, ketika pria itu berhenti tepat di depan lift, Zinnia tanpa sadar menggenggam ponselnya lebih erat.

Bagaimana jika pria yang selama ini dicarinya ternyata berada di tempat yang sama dengannya?

Zinnia masih berdiri mematung.

Selama ini, ia mencari pria itu ke berbagai tempat, berharap suatu hari menemukan jawaban atas malam yang mengubah hidupnya.

Namun, jika pria tadi benar-benar Arvid yang dicarinya, berarti selama ini ia bekerja di bawah atap yang sama dengan pria tersebut, tanpa pernah menyadarinya.

Zinnia mengepalkan tangan, lalu bergegas menuju lift.

Di dalam lift, Arvid mendadak merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Tatapannya tertuju pada celah pintu yang perlahan menyempit.

Sesaat sebelum pintu tertutup sepenuhnya, ia melihat seorang perempuan berjalan cepat menuju lift.

Langkah itu ...

Arvid menegang.

"Dia?"

 

...🔸🔸🔸...

...“Jangan biarkan perbedaan kedudukan membuatmu merasa tidak pantas menuntut kebenaran. Sebab, harga diri seseorang tidak ditentukan oleh seberapa tinggi tempatnya berdiri, melainkan oleh keberaniannya memperjuangkan apa yang menjadi haknya.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Momz Haikal Sandhika
waduhhhh ...zinnia bisa salah faham ini...
Puji Hastuti
ealah belum apa² dah salah paham,
Dek Sri
Zinnia apa pun yang terjadi kamu harus kuat ya
Siti Jumiati
lanjuuuut kak... maaf baru bisa baca seharian rewang.
Eka Burjo
nah loh, Zinnia jadi salah faham 🫣
Hanima
Lanjuttt Zin
tse
wah belum belum dah salah paham aja nih...
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...
Marsiyah Minardi
Sepertinya jalanmu masih panjang tuk dapat kebenaran tentang Arvid ya Zinia
Keburu kehamilanmu membesar
Hanima
Kasiann
Puji Hastuti
zinnia tidak mengancam siapapun,tapi kenapa ada yang merasa terancam ya😄
Sastri Dalila
🥺🥺
Eka Burjo
lanjut 👍
RaDja
terima kasih
Hanima
👍👍
Hanima
Lanjut Zinnn
Sastri Dalila
👍👍👍
abimasta
ada yang merasa terancam dengan keberadaan zinnia
Sugiharti Rusli
apa Arvid memang belum punya kekasih atau sudah yah dia sebetulnya saat ini,,,
Sugiharti Rusli
meski saat ini Zinnia belum tahu efek dari malam itu berakibat dia hamil atau tidak yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi sepertinya si Arvid sedang mengalami kehamilan simpatik tuh jangan" yah dia,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!