Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Memulai Pekerjaan
"Kamu mau tanya, mereka siapa? Kamu penasaran, kan?" Tanya Komandan Kaivan ketika melihat wajah silvana yang penuh tanya.
Mendengar itu, Silvana pun mengangguk, meski ia sendiri masih bingung kenapa Komandan Kaivan bisa dengan mudah menebak isi pikirannya.
"Mereka itu sebenarnya tidak jahat. Tetapi, situasi yang memaksa mereka bertindak seperti itu. Mereka hanya perlu makanan, makanya saya bisa dengan mudah bernegosiasi." Ujar Komandan Kaivan.
"Berarti, kita harus mendistribusikan bantuan itu secepatnya, Ndan." Ujar Silvana yang di jawab anggukan oleh Komandan Kaivan.
"Kita agendakan lusa." Jawab Komandan Kaivan kemudian.
Suasana kembali hening hingga mereka sampai di Markas Batalyon. Mereka tampak sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.
Begitu sampai, bantuan pangan yang akan segera di distribusikan itu, disimpan di gudang penyimpanan. Sementara, alat medis dan obat-obatan di bawa langsung ke Klinik untuk di rapikan.
"Sepertinya kita akan lembur." Ujar Silvana pada dua rekannya saat mereja membongkar satu-persatu kotak yang menumpuk di Klinik.
"Gak apa-apa, Dokter. Jarang-jarang kita lembur begini." Jawab Jopi.
"Betu itu, Dok! Sesekali lah kita harus merasakan lembur." Timpal Maria yang membuat Silvana tersenyum.
"Terima kasih, ya. Karena sudah membantu saya." Ucap Silvana dengan tulus.
"Ee jangan begitu lah, Dokter. Harusnya kami yang berterima kasih karena Dokter mau datang ke tempat kami yang terpelosok dan penuh dengan pemberontak ini." Jawab Maria.
"Iya, Dokter. Jarang-jarang ada Dokter yang mau bertugas di tanah anarki ini." Timpal Jopi.
"Oh iya, Dokter. Apa besok Dokter bisa periksa nenek yang tadi saya ceritakan itu?" Tanya Maria.
"Ah! Besok, setelah pekerjaan di Klinik selesai, kita datang ke sana, ya." Jawab Silvana.
"Dokter di antar atau bagaimana? Tidak mungkin kita naik motor berboncengan bertiga, to." Tanya Jopi.
"Saya bisa pakai motor dinas milik Markas. Waktu itu, Miko sudah menawarkan motor dinas yang bisa saya pakai." Jawab Dokter Silvana.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh malam. Namun, Sisil, Jopi dan Maria masih sibuk membereskan peralatan medis dan obat-obatan yang siang tadi datang.
"Kalian belum selesai?" Suara bariton Komandan Kaivan tiba-tiba terdengar hingga membuat mereka semua terkejut.
"Kenapa kaget? Saya bukan hantu." Komentar Komandan Kaivan.
"Ah! Ya memang bukan hantu lah, Ndan. Mana ada hantu setampan Komandan." Goda Maria yang memang selalu ceplas-ceplos saat berbicara termasuk saat berbicara dengan Komandan Kaivan.
"Komandan bikin terkejut karena suara Komandan yang terlalu ngebas." Imbuh Maria yang membuat Komandan Kaivan geleng-geleng kepala.
"Kenapa kalian belum pulang?" Tanya Komandan.
"Kami mau pulang, Komandan. Tapi masih tanggung, sedikit lagi selesai." Jawab Jopi.
"Kalian sudah makan?" Tanya Komandan Kaivan yang di jawab gelengan oleh Jopi dan Maria.
"Biar nanti Miko antar makan malam untuk kalian." Ujar Komandan Kaivan.
"Terima kasih, Komandan!" Ucap Maria dengan wajah senang. Komandan Kaivan hanya mengangguk sebelum meninggalkan Klinik.
Miko datang dengan membawa tiga porsi nasi goreng tepat saat mereka bertiga menyelesaikan pekerjaan. Mereka bertiga kemudian makan malam bersama terlebih dulu sebelum kembali ke rumah masing-masing.
...****************...
Seperti yang sudah di rencanakan, sore itu Silvana bersama Jopi dan Maria pergi mengunjungi salah satu lansia dengan usia yang sudah sangat renta. Usia lansia wanita itu hampir menginjak seratus tahun, tepatnya berada di usia sembilan puluh delapan tahun.
Sudah beberapa bulan ini, kondisi Nenek itu menurun. Namun, keterbatasan ekonomi membuat pihak keluarga tak bisa membawa si Nenek untuk berobat. Mereka hanya memanfaatkan tanaman herbal yang ada di sekitar untuk mengobati Nenek yang sedang sakit.
"Terima kasih, Bu Dokter, karena sudah mau datang ke sini untuk memeriksa Nenek Buyut saya." Ujar Cicit si Nenek yang kini merawat Nenek.
"Sama-sama. Sudah tugas saya untuk membantu warga sekitar." Ucap Dokter Silvana. Ia merasa senang karena kedatangannya di sambut dengan baik oleh keluarga Nenek.
"Mari saya antar bertemu Nenek."
Dokter Silvana mengajak ngobrol sebentar si Nenek yang sedang terbaring di ranjang kayu dengan alas tikar anyaman daun pandan. Si Nenek masih bisa berkomunikasi, meskipun sedikit sulit karena pendengaran yang mulai terganggu.
Namun, ingatan si Nenek, terbilang sangat baik. Ia masih bisa mengingat banyak hal ketika Silvana mengajaknya mengobrol. Karena kondisi Nenek yang dehidrasi, Silvana pun menawarkan pemberian infus agar kondisi Nenek bisa segera pulih.
"Saya mau di apakan, Nak?" Tanya Nenek ketika Silvana menyiapkan peralatan Infus, tentu saja hal ini atas persetujuan keluarga.
"Nenek saya infus, ya. Supaya lekas pulih." Ujar Silvana.
"Saya mau di kasih mati, kah?" Tanya si Nenek.
"Saya masih mau hidup. Saya mau lihat anak dari cicit saya yang sedang hamil." Kata Si Nenek kemudian dengan air mata yang berlinang. Meski begitu, Nenek sama sekali tak memberikan perlawanan. Ia hanya memohon agar Silvana tak membuatnya meninggal.
"Nanti saja anak kasih saya mati setelah saya lihat anak cicit saya itu." Ujar Si Nenek sambil menunjuk ke arah cicitnya yang sedang mengandung.
"Saya gak mau Nenek meninggal. Saya mau bikin Nenek lekas pulih. Kalau Nenek mau lihat anaknya cicit Nenek, Nenek harus patuh dengan saya, ya." Ujar Silvana dengan lembut sambil menenangkan si Nenek yang terlihat sedikit gusar.
"Iyo! Iyo saya nurut dengan anak. Tapi jangan kasih saya mati, ya." Pintanya yang di jawab senyuman oleh Silvana.
"Nenek pasti panjang umur dan bisa lihat keturunan Nenek selanjutnya, In Syaa Allah." Jawab Silvana sambil mengusap-usap tangan si Nenek.
Prosedur pemasangan infus, berlangsung dengan cepat dan tanpa kesulitan karena Nenek yang patuh dan tak memberontak. Silvana kemudian memberikan vitamin dan obat-obatan melalui infus yang sudah terpasang.
Hari sudah sangat sore ketika Silvana, Maria dan Jopi berpamitan untuk pulang. Besok pagi, Silvana meminta Jopi dan Maria untuk memeriksa kondisi Nenek sebelum mereka ke Klinik.
"Dokter Sisil tidak mau di antar saja?" Tanya Maria.
"Iya, Dok. Tidak kenapa-napa kita antar Dokter dulu kembali ke Markas." Timpal Jopi.
"Gak apa-apa. Saya bisa pulang sendiri ke Markas. Kalian langsung pulang dan beristirahat saja." Ujar Sisil.
"Dokter mau mampir ke rumah saya atau Jopi dulu? Nanti biar di jemput Miko. Rumah kami dekat dari sini." Tawar Maria.
"Terima kasih, lain kali ya, saya mampir." Ujar Sisil.
Maria dan Jopi terpaksa mengiyakan keinginan Silvana yang tetap ingin kembali ke Markas. Dokter cantik itu mengandalkan peta internet di ponselnya untuk kembali ke Markas.
"Hati-hati ya, Dok. Kabari kami kalau Dokter sudah sampai atau kalau Dokter bingung dengan peta internet. Kami akan langsung jemput Dokter." Pesan Jopi yang di jawab anggukan oleh Silvana.
Silvana mengemudikan motor matic milik Markas itu sembari mengingat-ingat rute yang tadi ia lewati bersama Maria dan Jopi.
Hingga matahari mulai terbenam, Maria dan Jopi tak kunjung mendapat kabar dari Dokter Sisil, terlebih, ponsel Dokter mereka itu mendadak tak bisa di hubungi.
"Bagaimana ini, Mar?" Tanya Jopi yang menghampiri Maria di rumahnya.
"Telfon Komandan saja. Coba tanyakan apakah Dosil sudah sampai." Usul Maria.
Jopi segera mencari nama Komandan di ponselnya, kemudian mendial nomor Komandan Kaivan.
duh penasaran bin penisirin ini
Ayo komandan cpet datang...
jgn smpae ad prtumpahan darah y thor 😡😡😡
semangat untuk terus berkarya kak, selalu keren untuk ceritamu, semoga selalu diberi kesehatan agar selalu bisa berkarya 🫰