Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.
(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Sepuluh tahun berlalu.
Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.
Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".
Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.
Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 SURGA DI RUMAH KELUARGA ZAKI DAN NISA
Langkah kaki dr. Haruma dan Ipda Harumi menapak perlahan menyusuri ubin teras rumah mereka yang bersih.
Di tangan kanan Haruma, kantong plastik berisi kotak martabak manis keju-kacang yang baru saja dibeli dari Bang Asep masih memancarkan hawa hangat yang tebal, menyebarkan aroma mentega dan keju yang teramat harum di udara malam.
Sinar lampu teras yang memancarkan cahaya keemasan menerangi wajah kedua putri angkat keluarga Zaki dan Nisa itu. Senyuman bahagia menghiasi bibir Haruma dan Harumi, membayangkan wajah kegirangan adik laki-laki mereka, Muhammad Niza, saat melihat oleh-oleh favoritnya tiba.
"Rumi, kamu yang pegang martabaknya deh," ujar Haruma seraya menyerahkan kantong plastik itu pada adiknya.
Harumi menerima kantong martabak itu dengan senang hati. "Sip, Kak. Bau kejunya beneran bikin cacing di perut Rumi makin demo nih."
Namun, tepat di saat jemari Haruma baru saja ingin mengetuk pintu di depan mereka itu...
Plek!
Lampu teras berdaya 20 watt yang berada tepat di atas kepala mereka mendadak padam seketika.
Kegelapan langsung menyergap area teras depan.
Belum sempat Haruma dan Harumi mencerna apa yang terjadi, dari balik celah jendela kaca ruang tengah...
Plek!
Seluruh pendaran cahaya lampu dari dalam rumah mendadak ikut padam total!
Rumah berlantai 1 yang tadinya tampak sangat terang benderang dan hangat itu seketika berubah menjadi sesosok bangunan gelap gulita yang membisu di tengah pekatnya malam.
Haruma dan Harumi seketika menghentikan gerakan mereka. Kedua bersaudari itu saling bertukar pandangan di dalam kegelapan teras, kening mereka berkerut heran.
"Lho...? Kok mati lampu, Kak?" tanya Harumi heran, matanya memicing menatap ke arah rumah-rumah tetangga di seberang jalan. "Tapi rumah Bu Ningrum sama rumah-rumah yang lain lampunya pada nyala terang tuh... Nggak ada mati lampu serentak."
Haruma ikut mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Loh? Iya ya...? Cuma rumah kita aja yang mendadak gelap gulita begini. Apa sekring meteran listrik di samping garasi turun ya?"
"Bisa jadi sih, Kak. Atau jangan-jangan Ayah lagi benerin colokan di dalam?" tebak Harumi santai.
Haruma melangkah satu tindak mendekati pintu kayu jati utama. Ia mengangkat tangan kanannya, lalu mengetuk permukaan pintu kayu itu beberapa kali dengan ketukan yang teratur.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamu'alaikum... Ayah? Ibu? Niza?" panggil Haruma dengan suara lembutnya yang nyaring membelah kesunyian malam.
Akan tetapi...
HENING...
Tidak ada sahutan sama sekali dari dalam rumah!
Haruma menaikkan alisnya, merasa agak aneh. Ia menoleh ke arah Harumi yang berdiri di sampingnya. "Kok gak ada suara ya, Dek?"
"Coba Rumi yang ketok, Kak," sahut Harumi. Ia memajukan posisinya, lalu mengepalkan tangan dan mengetuk pintu kayu itu dengan lebih kencang.
Brak! Brak! Brak!
"Assalamu'alaikum! Ayah! Ibu! Dek Niza! Ini Kak Rumi sama Kak Ruma udah pulang bawa martabak manis nih!" seru Harumi dengan suara lantang khas perwira polwan.
Kembali...
keheningan yang teramat pekat menyergap tempat itu!
Tidak ada langkah kaki yang mendekati pintu dari dalam.
Tidak ada suara sahutan hangat dari Nisa.
Dan tidak ada teriakan riang dari Niza yang biasanya paling cepat berlari menyambut kepulangan kakak-kakaknya.
Suasana di sekitar teras mendadak menjadi begitu hening.
Hanya ada deru halus gesekan dedaunan pohon melati yang ditiup angin malam dan suara nyaring jangkrik yang bersahutan dari arah pekarangan samping.
Haruma dan Harumi kembali saling bertukar pandangan.
Namun kali ini, raut wajah santai di paras kedua saudari itu perlahan-lahan menguap, berganti dengan kewaspadaan tipis.
Dan...
Tiba-tiba...
BRAK!!! KLOTAK!!!
Dari arah dalam ruang tengah yang gelap gulita, terdengar suara benda berbahan plastik atau kayu yang terjatuh dan menggelinding di atas lantai keramik!
Deggg!!!
Suara barang jatuh di dalam kegelapan itu membuat insting kepolisian Ipda Harumi seketika menyala seratus persen!
Saraf-saraf kewaspadaannya yang terlatih menghadapi berbagai situasi kejahatan langsung menegang kaku.
"Kak... Kakak dengar itu kan?!" ucap Harumi setengah berbisik, matanya berkilat tajam menatap celah pintu.
"Iya, Dek... Dengar," jawab Haruma pelan. Tangannya tanpa sadar meremas tali tas bahunya. "Ada barang jatuh di dalam."
"Ada yang nggak beres ini, Kak!" tegas Harumi dengan nada suara yang mendadak berubah dingin dan penuh intonasi komando. "Mobil Ayah ada di garasi sebelah kiri, sandal Ibu sama Niza ada di rak teras... tapi rumah gelap gulita dan gak ada jawaban pas disalamin."
"Kamu mikir ada penyusup masuk ke dalam rumah, Rumi?" tanya Haruma cemas.
"Kita gak boleh spekulasi, Kak. Harus dipastikan sekarang juga," jawab Harumi cepat. Ia menyerahkan kantong plastik martabak itu kembali pada Haruma. "Kakak pegang ini. Kita cek sekeliling rumah!"
Naluri taktis dua bersaudari itu seketika bekerja secara otomatis.
Harumi memberikan isyarat tangan pada kakaknya.
"Kak Haruma memutari area samping kiri rumah lewatin garasi Ayah dekat jendela kamar depan. Rumi bakal cek area samping kanan dekat garasi dan dapur!" perintah Harumi tenang namun sangat tegas.
"Siap, Dek! Hati-hati!" pesan Haruma.
Keduanya langsung memisahkan diri dengan gerakan langkah kaki yang sangat cepat dan tanpa suara di atas lantai teras.
Haruma melangkah cepat menyusuri lorong samping kiri rumah yang gelap. Matanya menyisir setiap bingkai jendela kamar yang tertutup rapat. Ia mendekatkan wajahnya ke kaca jendela kamar utama, mencoba melihat ke dalam.
"Ibu...? Ayah...?" panggil Haruma setengah berbisik ke arah celah jendela. "Ini Haruma, Bu... Ayah Ibu ada di dalam?"
Namun...
Nihil!
Tidak ada pergerakan di dalam kamar utama!
Sementara itu, di sisi kanan rumah, Harumi berjalan dengan posisi tubuh sedikit membungkuk, menempel pada dinding tembok dekat garasi. Sebagai penyidik Jatanras, pandangan matanya sangat liar menyapu setiap sudut kegelapan, mencari tanda-tanda kerusakan pada engsel jendela dapur atau pintu belakang.
"Ayah?! Ibu?! Niza?!" seru Harumi dengan suara lantang dari balik jendela dapur. "Ayah Ibu di mana?! Niza?!"
KRAK!!! PRANG!!!
Tepat di saat Harumi berada di samping jendela dapur, suara benda-benda jatuh kembali terdengar dari arah ruang keluarga!
Kali ini suaranya jauh lebih keras, mirip suara tiang jemuran kain atau kursi plastik yang tersenggol dan roboh ke lantai!
Firasat buruk seketika menghantam dada Harumi. Jantungnya berdegup kencang. Ada kekhawatiran luar biasa bahwa keselamatan Ayah, Ibu, dan adik kecilnya sedang terancam di dalam sana.
"Kak Haruma! Balik ke depan sekarang!" teriak Harumi menoleh ke belakang.
Haruma yang mendengar teriakan adiknya langsung berlari kecil memutari pekarangan kiri dan kembali ke depan pintu teras bersamaan dengan Harumi.
"Gimana di sebelah kanan, Rumi?!" tanya Haruma dengan napas sedikit terengah-engah.
"Di dalam ada suara barang roboh lagi, Kak!" jawab Harumi dengan wajah sangat tegang. "Kita gak bisa nunggu lagi. Kita harus menerobos masuk sekarang!"
Harumi melangkah maju, memegang gagang pintu depan utama dengan telapak tangan kanannya. Ia mencoba memutar gagang pintu tersebut untuk membukanya secara paksa.
Srettt... klak!
"Lho...?! Terkunci dari dalam, Kak!" kata Harumi makin curiga.
Namun...
Belum sempat Harumi mengambil tindakan untuk mendobrak atau mengambil kunci cadangan...
Tiba-tiba saja...
Krieeettt...
Secara sangat tiba-tiba dan misterius, selot besi dari bagian dalam pintu terdengar bergeser sendiri.
Pintu kayu tebal itu perlahan-lahan terdorong terbuka dengan sendirinya ke arah dalam!
Suara engsel pintu yang berderit pelan membelah keheningan malam.
Pintu utama itu hanya terbuka setengah, menciptakan sebuah celah gelap yang menganga lebar, menampilkan interior ruang tengah rumah mereka yang gelap gulita bagaikan mulut gua yang tak berdasar.
Haruma dan Harumi membeku di ambang pintu.
Udara dingin dari dalam rumah terasa merembes keluar menyapu wajah mereka.
"P-pintunya... terbuka sendiri, Kak..." bisik Harumi, matanya membelalak menatap celah pintu yang gelap.
"Rumi... pelan-pelan..." tahan Haruma, memegang lengan adiknya.
Harumi menarik napas panjang, menetralkan emosinya.
Secara refleks, tangan kanan Ipda Harumi meluncur turun ke pinggang samping kanan seragam dinasnya. Jemari tangannya menggenggam erat sarung senjata api (holster) dan menyentuh gagang pistol dinas jenis Glock dengan kaliber 9 milimeter yang selalu melekat di pinggangnya saat bertugas.
Dengan posisi tubuh siap siaga tempur, Harumi melangkah masuk melewati ambang pintu yang terbuka setengah, disusul oleh Haruma yang berjalan merapat tepat di belakang punggung adiknya sambil membawa bungkusan martabak.
Klak... Klak... Klak... Klak...
Langkah kaki kedua bersaudari itu menapak sangat pelan di atas lantai keramik ruang tengah yang dingin.
Kegelapan di dalam rumah begitu pekat, hanya dibantu oleh bias tipis cahaya lampu jalanan dari arah teras luar yang menembus celah pintu.
"Ayah...?" panggil Harumi dengan suara rendah yang sangat dalam, matanya menyapu setiap sudut bayangan perabotan di ruang tengah. "Ibu...? Ini Harumi sama Haruma... Jangan bercanda, Bu..."
Suasana ruang tengah terasa teramat sepi.
Tidak ada hembusan angin.
Tidak ada suara napas.
Hanya ada kegelapan hening yang membisu.
Haruma yang berada di samping dinding sebelah kanan meluruskan tangannya dalam kegelapan. Jemarinya meraba-raba permukaan tembok halus, mencari letak sakelar lampu utama ruang tengah untuk mengakhiri kebingungan ini.
"Kakak nyalakan lampunya ya, Rumi..." bisik Haruma.
"Iya, Kak. Hati-hati," sahut Harumi dengan tangan kanan yang masih menempel pada gagang pistol di pinggangnya.
Jemari dr. Haruma akhirnya menemukan tonjolan sakelar plastik di dinding. Dengan satu tekanan mantap, Haruma menekan tombol sakelar tersebut ke bawah.
Cklek!
Seketika itu juga, tiga buah lampu gantung kristal di plafon ruang tengah meledak menyala terang benderang!
Namun, tepat pada mikrodetik saat lampu ruang tengah itu baru saja menyala terang...
Dari balik tirai tinggi penyekat ruang keluarga...
"BAAAAAAAAAAAA!!!!! HUAAAAAAAH!!!"
Sesosok wujud terbungkus kain putih polos dari ujung kepala hingga ujung kaki—membentuk wujud persis bagaikan sosok pocong-pocongan—mendadak melompat keluar secara tiba-tiba dari balik tirai!
Wujud itu melompat tepat ke hadapan muka Haruma dan Harumi seraya berteriak keras!
"BAAAAAAAAAA!!!!"
"AAAGHHH! YA ALLAAAAAH!" jerit dr. Haruma histeris setengah mati!
Saking kaget dan terkejutnya luar biasa, kedua kaki dr. Haruma mendadak lemas bagaikan tanpa tulang!
Tubuh anggun sang dokter forensik itu terlonjak kaget ke udara sebelum akhirnya ambruk jatuh terduduk di atas lantai keramik dengan posisi terduduk konyol!
Kantong plastik martabak manis di tangannya hampir saja terlepas jika tidak ia dekap erat di dadanya!
Sementara itu, Ipda Harumi yang berdiri di sebelahnya...
"UWAAAGHHH! ASTAGFIRULLAH!" teriak Harumi spontan dengan suara melengking tinggi!
Naluri taktis penyidik Jatanras yang biasanya begitu tenang dan garang seketika runtuh total akibat serangan kaget secara mendadak itu!
Harumi terlonjak ke samping, tubuh tegapnya melompat mundur 1 meter hingga punggungnya menghantam tembok dinding ruang tengah di dekat pintu dengan bunyi 'Brak!'.
Tangannya yang secara refleks hendak menarik pistol dinas di pinggang seketika membeku kaku di udara dengan mata membelalak selebar piring!
"Jiaaahhh!! Hahahaha! Sukses! Sukses! Kakak-Kakak penakut! Hahahaha!"
Suara jeritan pocong-pocongan itu mendadak berubah menjadi gelak tawa renyah khas anak laki-laki berusia 9 tahun!
Wujud pocong-pocongan kain putih itu melompat-lompat gembira di tengah ruangan. Kedua tangan kecilnya keluar dari balik lipatan kain, lalu dengan cepat menyibakkan gulungan selimut putih tebal yang membungkus kepalanya.
Dari balik gulungan selimut putih itu, munculah wajah tampan Muhammad Niza!
Anak laki-laki berambut ikal itu tertawa terbahak-bahak sampai matanya menyipit, menunjuk-nunjuk ke arah Kak Haruma yang masih terduduk lemas di lantai dan Mbak Rumi yang masih berdiri menempel kaku di tembok!
"Hahaha! Lihat tuh muka Kak Haruma sampai jatuh ke lantai! Mbak Rumi polisi galak ternyata kagetnya sampai lompat ke tembok! Hahaha!" tawa Niza meledak tanpa henti, memegangi perutnya yang mulas karena merasa sangat puas berhasil mengerjai dua kakak perempuannya.
Belum sempat Haruma dan Harumi menguasai rasa syok dan napas mereka yang naik turun...
Krik... sret.
Pintu kamar utama yang berada di sebelah kanan ruang tengah perlahan-lahan terbuka lebar.
Dari balik pintu kamar tersebut, muncul lah sosok Zaki dan Nisa!
Zaki yang mengenakan baju koko putih dan sarung woven tampak tertawa terkekeh-kekeh sampai bahunya berguncang, sementara Nisa yang mengenakan gamis rumah dan kerudung kain berjalan keluar sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan, tertawa geli hingga air mata keharuan menggenang di sudut matanya!
"Adooohhh... Niza, Niza! Kamu ini bener-bener ya, Nak!" seru Mas Zaki tertawa lepas, suaranya yang berat dan penuh wibawa bergema hangat di dalam ruangan. "Lihat tuh Kakak-Kakakmu sampai pucat begitu mukanya gara-gara ulahmu!"
Nisa melangkah mendekati Haruma yang masih terduduk di lantai, lalu membantunya berdiri seraya tertawa hangat. "Astagfirullahal'adzim... Ahahaha... Niza! Kasihan nih Kak Haruma sampai jatuh duduk begini! Kamu ini ya kalau bercanda suka kebangetan banget!"
Haruma yang dibantu berdiri oleh Ibunya menarik napas panjang berulang kali, mengusap dadanya yang masih berdebar kencang. Wajah cantiknya yang semula pucat kaget kini berubah memerah menahan malu sekaligus gemas.
"Aduuuh... Ya Allah, Ibuuu... Ayaaah..." rintih Haruma dengan napas masih terengah-engah, menatap adiknya dengan pandangan memelas. "Haruma beneran hampir serangan jantung tadi! Haruma pikir beneran ada demit atau perampok masuk ke rumah!"
Sementara itu, Ipda Harumi yang masih berdiri menempel di dinding tembok perlahan-lahan menghembuskan napas panjang. Jemari tangannya yang semula menggenggam pistol pelan-pelan terlepas dari pinggangnya. Wajah garang sang polwan Jatanras seketika luntur, berganti dengan raut wajah gemas dan jengkel yang teramat sangat!
Harumi melangkah maju dengan berkacak pinggang, menatap adik bungsunya yang masih tertawa-tawa di tengah ruangan.
"MUHAMMAD NIZA!!!" seru Harumi dengan intonasi suara melengking. "Kamu ya!! dasar bocah tengil!! Kak Rumi tadi udah mau narik pistol, mau nembak kepala kamu tahu gak?!"
Niza yang melihat Kak Rumi-nya mulai melangkah mendekat dengan wajah 'berbahaya' seketika menghentikan tawanya. Mata bulat anak itu membelalak lucu.
"Eeeh... Kak Rumi, jangan galak-galak dong! Kan Niza cuma mau nyambut kalian!" kilat Niza cepat sambil memasang wajah polos paling imut yang ia miliki.
"Nyambut gundulmu itu!!" tukas Harumi gemas.
Tanpa ampun, Harumi langsung melompat menubruk adik bungsunya itu!
Harumi menangkap tubuh Niza, merebahkannya ke atas sofa ruang tamu, lalu melancarkan serangan 'balas dendam' berupa kibatan jari-jarinya yang menggelitik pinggang dan ketiak Niza tanpa henti!
"Aaaaghh! Hahahaha! Ampun, Kak Rumi! Ampuuun! Hahahaha! Sakit perut Niza, Kak! Hahahaha!" jerit Niza kegelian, tubuh kecilnya bergulung-gulung di atas sofa mencoba meloloskan diri dari siksaan gelitikan kakaknya.
"Gak ada ampun buat pocong kaya kamu!" seru Harumi sambil terus menggelitik adiknya, tertawa puas melihat Niza tertawa sampai menangis kegelian. "Rasakaaan iniii! Ini pembalasan polisi yang hampir kena serangan jantung di depan pintu!"
Zaki dan Nisa yang berdiri menyaksikan tingkah ketiga anak mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala seraya tertawa gembira.
Suasana ruang tengah yang tadinya gelap dan tegang, seketika berubah 180 derajat menjadi surga kecil yang dipenuhi oleh gelak tawa, keceriaan, dan kehangatan keluarga yang teramat murni.
Haruma yang melihat adiknya disiksa gelitikan oleh Harumi akhirnya ikut tertawa renyah. Ia melangkah mendekati sofa, meletakkan kantong plastik martabak di atas meja kaca, lalu menyentil dahi Niza dengan pelan dan penuh rasa gemas.
Tlak!
"Aduh! Kak Haruma ikut-ikutan!" pangkas Niza sambil memegangi dahinya, memasang muka cemberut yang dibuat-buat.
"Lagian kamu nakal banget sih, Dek," goda Haruma tertawa seraya merapikan rambut ikal adiknya. "Tahu gak, gara-gara ulahmu tadi, Kak Ruma sama Kak Rumi sampai muterin pekarangan rumah dari kiri sama kanan gara-gara dengar suara barang jatuh. Kok bisa sih ada suara barang jatuh tadi?"
Nisa yang sedang merapikan selimut putih bekas kostum pocong-pocongan Niza tertawa geli menyahut. "Itu lho, Haruma... Si Niza pas lagi mau matiin lampu teras tadi, kakinya nyenggol ember plastik sama tiang jemuran lipat. Makanya bunyinya heboh banget sampai ke luar!"
"Oalaaah! Pantesan aja!" seru Harumi tertawa lepas melepas celotehannya dari atas sofa. "Rumi pikir tadi ada perampok lagi ngacak-ngacak dapur Ibu! Udah siap-siap mau Rumi tembak tadi!"
Zaki melangkah mendekati meja tamu, menarik kursi kayu ukirnya lalu duduk dengan tenang. Wajahnya yang berwibawa tampak memancarkan kedamaian batin yang luar biasa saat menatap wajah kedua putri dan anak laki-lakinya.
"Ya sudah, ya sudah... Sekarang pocongnya udah tobat," ujar Zaki terkekeh hangat, menepuk bahu Niza yang baru saja duduk tegak di sofa. "Hapus dulu itu air matanya gara-gara digelitik Kak Rumi. Lihat tuh, Kakak-Kakakmu udah bawain oleh-oleh sesuai janjinya."
Mendengar kata 'oleh-oleh', mata Niza seketika berbinar-binar gembira kembali. Rasa geli di perutnya seketika sirna. Anak 9 tahun itu langsung menyambar kantong plastik merah di atas meja.
"Wah! Martabak manis Bang Asep!" seru Niza gembira seraya membuka kotak karton tebal tersebut.
Aroma wangi keju, vanila, kacang sangrai, dan gurihnya mentega leleh seketika merebak memenuhi seluruh ruang keluarga. Uap panas dari martabak tebal yang baru matang itu memanjakan mata siapa pun yang melihatnya.
"Wiiiiih! Kejunya banyak banget! Susunya banyak! Makasih banyak ya Kak Haruma, Kak Harumi, yang paling cantik seee-dunia!" puji Niza dengan suara manisnya, melupakan siksaan gelitikan tadi.
"Halaaah! giliran dapet makanan aja langsung muji-muji setinggi langit," ledek Harumi tertawa seraya mengacak-acak rambut adiknya.
"Ayo, Ayah, Ibu, Kakak... Kita makan martabaknya bareng-bareng!" ajak Niza antusias, membagikan piring-piring kecil yang sudah disiapkan Nisa dari dapur.
Keluarga kecil itu pun duduk berkumpul melingkar di ruang keluarga.
Zaki mengambil sepotong martabak manis tebal yang lumer oleh keju dan susu, Nisa menikmati potongannya seraya mengusap bahu Haruma, sementara Niza mengunyah potongannya dengan sangat lahap hingga sudut bibirnya belepotan keju dan margarin.
"Mmm! Enak banget, Yah!" celetuk Niza dengan mulut agak penuh.
"Iya, enak... Tapi ngunyahnya pelan-pelan, Nak... Jangan buru-buru gitu, nanti keselek," tegur Nisa penuh kasih sayang, mengusap sudut bibir anak bungsunya itu menggunakan tisu.
Zaki mengunyah martabaknya perlahan, lalu menatap Haruma dan Harumi yang sedang menikmati potongannya masing-masing.
"Gimana tugas dinas kalian hari ini, Nduk?" tanya Zaki dengan gaya bahasa Jawa halus penuh kehangatan. "Lancar semuanya di kantor?"
Haruma menyapu bibirnya dengan tisu, lalu menatap Ayahnya dengan senyuman lembut. "Alhamdulillah lancar, Yah. Tadi Haruma menyelesaikan otopsi jenazah kasus penusukan di pasar, dan lanjut dengan pemeriksaan kasus baru."
"Kalau Rumi gimana?" ganti Nisa yang bertanya pada anak angkat keduanya.
"Lancar juga, Bu," jawab Harumi gembira. "Tadi Rumi berhasil bikin tersangka kasus begal ngaku cuma dalam waktu lima belas menit! Terus sorenya lanjut olah TKP bareng Kak Haruma."
Zaki mengangguk-angguk bangga. Tangannya terulur mengusap kepala Haruma dan Harumi secara bergantian. "Alhamdulillah... Ayah sama Ibu selalu doakan keselamatan kalian berdua di setiap sujud shalat. Tugas kalian itu mulia, bantu orang banyak dan membela keadilan. Tapi tetap ingat ya... selalu utamakan keselamatan dan jaga keteguhan iman."
"Siap, Ayah. Pesan Ayah selalu kami ingat," jawab Haruma dan Harumi serempak dengan mata berbinar khusyuk.
"Nah, sekarang martabaknya disimpan dulu dikit," sela Nisa dengan senyuman keibuannya yang paling hangat seraya berdiri dari sofa. "Makan martabaknya buat cuci mulut aja. Di meja makan dapur, Ibu udah siapin gulai ayam kampung hangat kesukaan kalian berdua. Tadi Ibu hangatkan pas denger suara mobil kalian masuk garasi."
Mendengar kata 'gulai ayam kampung', mata Haruma dan Harumi seketika membelalak gembira untuk kesekian kalinya!
"Wah! Gulai ayam kampung buatan Ibu!" seru Harumi melompat berdiri dari sofa. "Ayo Kak Haruma! Kita ke dapur sekarang! Perut Rumi udah gak bisa diajak kompromi lagi nih!"
"Ayo, Dek! Kakak juga udah laper banget dari tadi!" sahut Haruma tertawa gembira ikut berdiri.
Mereka berlima pun melangkah bersama menuju meja makan dapur di bagian belakang rumah.
Sinar lampu dapur yang terang dan hangat menyambut kehadiran keluarga utuh tersebut.
Di atas meja makan kayu yang rapi, telah tersaji semangkuk besar gulai ayam kampung berwarna kekuningan pekat yang masih mengepulkan uap harum, disertai bakul nasi putih hangat, sambal ijo, dan kerupuk udang renyah.
Mereka duduk mengelilingi meja makan.
Zaki memimpin doa sebelum makan dengan suara merdunya yang khusyuk, diaminkan oleh Nisa, Haruma, Harumi, dan Niza dengan penuh kepasrahan rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta.
Suasana makan malam di rumah Parung itu berlangsung dengan teramat sangat hangat, renyah, dan dipenuhi oleh canda tawa keluarga.
Niza bercerita dengan penuh semangat tentang bagaimana ia mendapatkan nilai 100 pada ujian Matematika di sekolahnya tadi pagi, dipuji oleh Zaki dan dihadiahi usapan sayang dari Nisa.
Haruma dan Harumi menikmati setiap suapan gulai ayam kampung buatan Ibunya dengan rasa nikmat yang tiada tara, melupakan sejenak seluruh beban pekerjaan dan kengerian kasus pembunuhan yang mereka tangani di kota.
Zaki menatap wajah istri tercintanya, Nisa, lalu beralih menatap ketiga anak mereka yang sedang tertawa bersama di meja makan.
Di dalam dada sang Imam yang pernah menembus dinginnya pesisir Cirebon dan melintasi Lembah Gunung Lawu itu, membuncah sebuah rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah SWT.
Tragedi darah...
Dendam Santet Pring Sedapur...
Serangan Santet Parenggut Sukma...
Dan kepedihan masa lalu telah sepenuhnya lebur musnah ditelan waktu.
Malam ini... di bawah naungan rumah yang teduh dan damai, kebahagiaan sempurna keluarga Zaki dan Nisa telah digenapi seutuhnya.
Sebuah keluarga yang terikat bukan hanya oleh kasih sayang yang fana, melainkan oleh ketulusan iman, pemaafan, dan cinta abadi yang dilindungi oleh ridha Sang Maha Kuasa.
intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
penampilan nya udah elit kok nama nya itu