NovelToon NovelToon
Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Arya Setya

Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Debu Kapur, Jarak Sepuluh Senti, dan Hujan Musim Gugur

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, memecah ketegangan jam terakhir pelajaran Fisika yang bikin otak rasanya mau meledak.

Dalam hitungan detik, SMA Mingde berubah jadi lautan manusia berseragam *tracksuit* biru-putih yang berhamburan keluar kelas. Suara tawa, obrolan soal PR, sampai bunyi dering sepeda memenuhi udara sore Jiangcheng.

Chen Hao dengan kecepatan kilat meraup semua buku-bukunya dan menjejalkannya ke dalam tas ransel. Cowok itu menoleh ke arah Lu Feng yang masih duduk santai dengan kaki berselonjor ke depan.

"Feng, gue cabut duluan ya! Anak-anak warnet udah nungguin buat *raid boss* di *game*!" seru Chen Hao sambil nyengir tanpa dosa. "Semangat ngehapus papan tulisnya, Bro. Hati-hati diamuk Ibu Negara."

Lu Feng cuma mendecak malas, melempar gumpalan kertas kecil yang langsung nyasar mengenai dahi Chen Hao. "Sialan lo. Temen dihukum malah ditinggal mabar."

"Gue bantuin doa dari jauh!" teriak Chen Hao sambil ngacir keluar kelas sebelum Lu Feng sempat melempar kotak pensilnya.

Dalam waktu kurang dari lima menit, Kelas 11-3 sudah benar-benar kosong. Yah, hampir kosong.

Lu Feng bangkit dari kursinya, merenggangkan tubuhnya yang kaku setelah seharian duduk dengerin guru ceramah. Dia melirik ke barisan depan. Di sana, sang ketua kelas, Lin Xiao, masih duduk dengan tenang di bangkunya. Cewek itu sedang menyalin catatan dari papan tulis ke dalam buku bersampul biru mudanya dengan tulisan tangan yang sangat rapi.

Cahaya matahari sore musim gugur—*golden hour*—menyelinap masuk melalui celah gorden kelas, menyinari separuh wajah Lin Xiao. Rambut hitam lurusnya memantulkan cahaya keemasan.

Lu Feng menyandarkan pinggulnya di meja guru, melipat kedua tangannya di dada, dan hanya diam memperhatikan cewek itu. Dari jarak sedekat ini, Lu Feng bisa melihat hidung Lin Xiao yang bangir, bulu mata lentiknya yang bergerak setiap kali dia berkedip, dan... sebuah plester kecil bergambar kelinci di jari telunjuknya.

Lucu juga, batin Lu Feng. Di luar galaknya minta ampun, tapi plester lukanya gambar kelinci.

"Sampai kapan kamu mau berdiri di situ dan melihatiku?"

Suara dingin Lin Xiao memecah keheningan. Cewek itu menutup bukunya perlahan, tapi matanya belum menoleh menatap Lu Feng.

Lu Feng terkekeh pelan. Ketahuan. "Gue nungguin lo selesai nyatet, Ketua Kelas. Kalau gue hapus sekarang, nanti lo ngamuk lagi, terus poin kedisiplinan gue minus lagi. Bisa-bisa gue di-DO sebelum ujian tengah semester."

Lin Xiao akhirnya menoleh. Dia membereskan alat tulisnya, lalu menunjuk ke arah penghapus papan tulis yang tergeletak di dekat Lu Feng. "Saya sudah selesai. Hapus sekarang. Saya harus mengunci pintu kelas dan menyerahkan kuncinya ke ruang satpam."

"Lo nungguin gue?" Lu Feng menaikkan sebelah alisnya, tersenyum jahil.

"Ini sudah kewajiban saya sebagai ketua kelas untuk memastikan hukuman dilaksanakan, Lu Feng. Jangan terlalu banyak berpikir," jawab Lin Xiao datar. Dia berdiri, merapikan rok seragam *tracksuit*-nya, lalu berdiri agak menyamping, mengawasi Lu Feng layaknya mandor proyek.

Lu Feng menghela napas panjang, mengambil penghapus papan kayu yang dilapisi kain tebal itu. Dia mulai menghapus tulisan rumus Fisika yang pating pecotot di papan tulis raksasa itu. Karena tubuhnya tinggi, Lu Feng dengan mudah membersihkan bagian atas papan tulis.

Namun, cowok itu menghapusnya dengan gerakan asal-asalan, membuat debu kapur putih beterbangan di udara, tersorot cahaya matahari sore.

"Uhuk! Uhuk!" Lin Xiao terbatuk pelan, mengibaskan tangannya di depan wajah. "Lu Feng! Menghapusnya pelan-pelan! Debunya ke mana-mana!"

"Bawel banget sih, namanya juga nghapus papan, ya pasti ada debunya," sahut Lu Feng santai, tapi tangannya otomatis memperlambat gerakannya.

"Kamu menghapusnya tidak bersih. Masih ada sisa rumus di ujung sana," Lin Xiao menunjuk ke bagian pojok kiri atas papan tulis yang memang terlewat oleh Lu Feng.

"Mana sih? Bersih gitu," elak Lu Feng.

Lin Xiao mendecak kesal. Sifat perfeksionisnya meronta-ronta melihat pekerjaan yang setengah-setengah. Tanpa pikir panjang, cewek itu melangkah maju, merebut penghapus papan dari tangan Lu Feng.

"Biar saya tunjukkan bagaimana cara membersihkan yang benar, agar besok guru tidak komplain!" omel Lin Xiao.

Cewek itu berjinjit, mencoba menggapai tulisan di pojok kiri atas papan tulis. Masalahnya, tinggi Lin Xiao hanya sekitar 160 cm, sedangkan tulisan itu berada di titik yang biasa dijangkau oleh Pak Zhang yang tingginya nyaris 180 cm.

Lin Xiao terus berjinjit, merentangkan tangannya tinggi-tinggi. Seragam *tracksuit*-nya sedikit terangkat, mengekspos sekelumit pinggangnya yang ramping. Namun tetap saja, ujung penghapus itu hanya menyentuh bagian bawah tulisan.

Lu Feng, yang tingginya mencapai 185 cm, menatap pemandangan itu dari belakang dengan perasaan geli. Dia bisa saja menertawakan cewek itu, tapi entah kenapa, melihat Lin Xiao yang keras kepala dan pantang menyerah meski badannya mungil itu membuat sudut hati Lu Feng menghangat.

Perlahan, Lu Feng melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah.

Hingga tubuhnya berdiri tepat di belakang Lin Xiao. Jarak mereka tak lebih dari sepuluh sentimeter.

Lin Xiao yang sedang sibuk berjinjit tiba-tiba merasakan hawa panas dari tubuh seseorang di belakangnya. Aroma sabun mandi yang segar bercampur sedikit wangi *mint* tercium sangat jelas.

Sebelum Lin Xiao sempat menoleh, sebuah lengan panjang dan kokoh terulur dari belakang bahunya. Tangan besar Lu Feng menggenggam tangan kecil Lin Xiao yang sedang memegang penghapus papan tulis.

Deg.

Jantung Lin Xiao seolah berhenti berdetak sedetik.

Lu Feng sedikit membungkuk. Dadanya nyaris bersentuhan dengan punggung Lin Xiao. Wajah cowok itu berada tepat di sebelah telinga Lin Xiao, membuat cewek itu bisa merasakan hembusan napas hangat Lu Feng yang teratur.

"M-murid baru, apa yang kamu..." suara Lin Xiao mendadak bergetar, hilang ketegasannya.

"Tangan lo kurang panjang, Ketua Kelas," bisik Lu Feng dengan suara baritonnya yang rendah dan serak, tepat di telinga Lin Xiao. "Biar gue bantu."

Dengan tangan besarnya yang menutupi tangan Lin Xiao, Lu Feng menuntun tangan cewek itu untuk mengusap sisa tulisan di pojok atas papan tulis. Gerakan mereka begitu sinkron. Ke kanan, ke kiri, hingga papan tulis itu bersih sempurna.

Waktu di Kelas 11-3 seakan membeku. Suara angin musim gugur yang meniup dedaunan ginkgo di luar jendela adalah satu-satunya suara yang menemani detak jantung mereka berdua yang berpacu gila-gilaan.

Bagi Lu Feng, aroma sampo *peach* dari rambut Lin Xiao benar-benar mengganggu fokusnya. Berada sedekat ini membuat Lu Feng sadar betapa rapuh dan kecilnya cewek yang di mata seisi kelas terlihat seperti tiran tak tertembus itu.

"Udah bersih," gumam Lu Feng pelan, melepaskan genggaman tangannya dari tangan Lin Xiao, namun dia belum memundurkan tubuhnya.

Lin Xiao refleks membalikkan badannya karena terkejut. Masalahnya, dia lupa kalau jarak mereka sangat dekat. Hidungnya nyaris menabrak dada bidang Lu Feng. Cewek itu harus mendongak cukup tinggi untuk menatap wajah cowok pindahan tersebut.

Wajah Lin Xiao sekarang memerah sempurna, mengalahkan warna langit senja di luar jendela. Mata bulatnya menatap Lu Feng dengan kepanikan yang berusaha ia tutupi.

"K-kamu tidak perlu melakukan itu! Saya bisa mengambil kursi!" omel Lin Xiao, menundukkan kepalanya cepat-cepat untuk menyembunyikan wajahnya yang merona, lalu bergegas mundur menjauhi Lu Feng.

Lu Feng terkekeh pelan melihat reaksi lucu itu. Sangat berbeda dengan aura dingin saat pertama kali mereka bertemu pagi tadi.

"Lo terlalu kaku, Lin Xiao," ucap Lu Feng, memanggil nama cewek itu tanpa embel-embel 'Ketua Kelas' untuk pertama kalinya. "Sekali-sekali, nerima bantuan orang lain itu nggak bakal bikin poin kedisiplinan lo minus, kok."

Lin Xiao tidak menjawab. Dia sibuk mengambil tas ranselnya di meja dengan gerakan sedikit kaku, masih berusaha menormalkan detak jantungnya. "Tugasmu sudah selesai. Ayo keluar, saya mau mengunci pintu."

Lu Feng mengambil tasnya yang tergeletak di lantai, melemparnya ke bahu dengan gaya santai. Mereka berdua berjalan keluar kelas dalam diam. Lin Xiao mengunci pintu geser kayu itu dengan hati-hati.

Namun, saat mereka sampai di lobi lantai dasar gedung sekolah, langkah mereka terhenti.

Suara gemuruh petir terdengar dari kejauhan. Dan tak lama, rintik air mulai turun. Dalam hitungan detik, hujan deras khas musim gugur mengguyur kota Jiangcheng tanpa ampun, menciptakan kabut tipis di udara.

Lin Xiao menghela napas panjang, menatap hujan dengan raut wajah putus asa. Dia mengobrak-abrik tas ranselnya, berharap keajaiban datang, namun nihil.

"Lupa bawa payung?" tanya Lu Feng yang berdiri di sebelahnya.

"Perkiraan cuaca tadi pagi bilang hari ini cerah," gerutu Lin Xiao, lebih pada dirinya sendiri daripada kepada Lu Feng. Dia melirik jam tangannya, terlihat semakin gelisah. "Bus terakhir menuju kompleks rumahku berangkat lima belas menit lagi dari halte depan. Kalau aku menunggu hujan reda, aku akan ketinggalan bus."

"Kenapa nggak lari aja?"

Lin Xiao menoleh menatap Lu Feng dengan pandangan 'kamu-gila-ya'. "Buku catatan dan buku teks di dalam tasku ini adalah nyawaku untuk ujian akhir bulan depan. Kalau basah, aku bisa mati berdiri."

Lu Feng tersenyum tipis. Ambisius sekali cewek ini.

Cowok itu lalu menurunkan tas ranselnya, merogoh ke dalam, dan mengeluarkan sebuah jaket *windbreaker* warna biru *navy* yang lumayan tebal dan lebar.

Sebelum Lin Xiao menyadari apa yang terjadi, Lu Feng sudah membentangkan jaket itu di atas kepala mereka berdua, menciptakaan sebuah 'tenda' kecil yang melindungi mereka dari hujan.

Lin Xiao mendongak, menatap jaket di atas kepalanya, lalu menatap Lu Feng yang sedang memegang kedua ujung jaket itu dengan lengan terentang, mengurung tubuh Lin Xiao di bawah lengannya.

"A-apa yang kamu lakukan?!"

"Katanya nyawa lo ada di dalam tas itu," ucap Lu Feng santai, menatap lurus ke arah gerbang sekolah yang jaraknya lumayan jauh. "Gue cuma nyoba nyelamatin nyawa Ketua Kelas gue biar besok nggak ada yang ngomelin gue lagi."

"Tapi kamu akan kebasahan!" protes Lin Xiao. Memang benar, tubuh Lu Feng hanya terbalut kaos tipis, dan setengah bahunya sama sekali tidak terlindungi oleh jaket itu.

Lu Feng menunduk, menatap Lin Xiao dengan senyum yang sangat hangat, senyum yang entah kenapa membuat pertahanan hati Lin Xiao runtuh perlahan.

"Gue ini cowok. Kena air hujan doang nggak bakal bikin gue meleleh," ucap Lu Feng. Cowok itu lalu merapatkan posisinya ke arah Lin Xiao, membuat cewek itu tanpa sadar menahan napasnya lagi. "Hitungan ketiga, kita lari ke halte bus. Siap?"

Lin Xiao ingin menolak, logikanya berteriak bahwa ini terlalu dekat, terlalu intim untuk orang yang baru bertemu sehari. Tapi melihat mata Lu Feng yang penuh ketulusan, entah mengapa tubuhnya menurut. Cewek itu mengangguk pelan, mempererat pegangannya pada tali tas ranselnya.

"Satu..." Lu Feng memulai hitungan, matanya fokus ke depan.

"Dua..."

"Tiga. Lari!"

Mereka berdua menerjang hujan deras musim gugur itu bersama-sama. Sepatu kets mereka memercikkan air di genangan aspal. Di bawah naungan jaket biru itu, dunia seolah hanya milik mereka berdua.

Lin Xiao menoleh sedikit ke arah Lu Feng yang berlari di sebelahnya. Wajah samping cowok itu terkena percikan air hujan, namun senyum tulus tidak pernah luntur dari bibirnya. Di saat itu, di tengah dinginnya hujan Jiangcheng, Lin Xiao merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya yang selalu lurus dan penuh aturan.

Sebuah letupan kecil di hatinya yang ia yakini... adalah awal dari sebuah masalah besar bernama cinta pertama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!