Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ancaman devan
Asap hitam pekat membumbung tinggi, memenuhi koridor perpustakaan. Suara jeritan histeris puluhan mahasiswa yang berlarian kocar-kacir menyelimuti suasana panik sore itu.
"Emmphhh! De—Devan!"
Suara rintihan dari Aura memecah kepulan asap. Bau bius menyengat langsung menyerang kesadaran gadis itu.
Mata Aura mulai kabur, dunianya berputar gila-gilaan saat tubuhnya diseret kasar oleh dua pria bertopeng hitam menuju arah pintu belakang gedung.
"AURAAA!"
Jeritan Devan melengking. Rasa panik yang tak pernah ia rasakan seumur hidup membakar seluruh kesadarannya.
Devan tidak peduli pada asap hitam yang membuat matanya perih luar biasa atau paru-parunya yang terasa panas. Ia menembus gumpalan asap tebal itu bagaikan monster yang kelaparan.
Dengan penglihatan yang makin samar, Devan menangkap bayangan dua pria bertopeng yang sedang membopong tubuh Aura yang mulai terkulai lemas.
"Lepaskan dia, bangsat!" teriak Devan penuh amarah.
Devan meloncat, melayangkan tendangan terbang yang amat keras tepat mengenai punggung salah satu penculik.
BUGH!
Pria itu tersungkur ke lantai, melepaskan cengkeramannya dari tubuh Aura. Devan dengan refleks menyambar tubuh Aura yang hampir roboh, merengkuh pinggang gadis itu erat-erat dengan satu tangannya, lalu menariknya ke balik dadanya yang tegap.
Pria bertopeng kedua menarik pisau lipat dari saku celananya, lalu mengayunkannya membabi buta ke arah Devan.
Sret!
Sabetan pisau tajam itu menggores lengan kiri Devan hingga jaket kulitnya robek dan darah segar mengucur deras. Namun, Devan tidak meringis sedikit pun. Rasa sakit di fisiknya sama sekali tidak sebanding dengan rasa takut kehilangan Aura.
Dengan mata menyala penuh kilatan mematikan, Devan mencengkeram pergelangan tangan penculik itu, memutarnya ke belakang hingga terdengar suara krek yang mengerikan, lalu menghantamkan siku tangannya tepat ke rahang musuh hingga pria bertopeng itu pingsan.
Pria bertopeng pertama yang tadi tersungkur kembali bangkit, memegang pistol berperedam suara. Tapi sebelum jari penculik itu sempat menyentuh pelatuk, Devan menerjang maju, mencengkeram leher pria itu dengan satu tangan, lalu menghantamkan tubuhnya ke dinding bata dengan kekuatan luar biasa!
BAM!
Debu dinding berhamburan. Pria bertopeng itu merintih kesakitan saat Devan mencengkeram lehernya makin kuat, menekan napasnya hingga pria itu tercekik parah.
"Siapa yang menyuruh kalian, hah?!" bentak Devan dengan suara rendah yang begitu dingin dan mematikan.
"S-Sonia... Nona Sonia..." bisik pria bertopeng itu terbata-bata, kehabisan udara. "Kami... kami cuma disuruh bawa cewek itu..."
Devan melempar pria itu ke lantai bagaikan sampah. Ia menyambar pistol berperedam yang terjatuh, lalu menendang wajah penculik itu hingga pingsan total.
Napas Devan memburu di tengah asap yang perlahan menipis karena penyedot udara otomatis perpustakaan mulai menyala.
Tangan kirinya terus meneteskan darah segar ke lantai, tapi mata Devan langsung tertuju pada Aura yang terbaring lemah di lantai dekat pilar.
"Aura!"
Devan berlutut di samping Aura. jemarinya yang bergetar hebat dan ternoda darahnya sendiri, Devan merengkuh kepala Aura, menopangnya di pangkuannya.
"Aura... bangun, Aura... Tolong buka mata kamu..." suara Devan bergetar hebat, kepanikan yang teramat sangat menyelimuti wajahnya yang pucat. Rasa dingin dan angkuh yang selama ini ia pasang runtuh tanpa sisa.
Aura perlahan mengedipkan matanya yang berat, sisa-sisa efek obat bius masih membuat pandangannya kabur. Namun, saat melihat wajah Devan yang berjarak sangat dekat darinya—wajah yang dipenuhi rasa cemas yang teramat murni dan luka darah di tangannya—Aura menyunggingkan senyum tipis yang sangat lemah.
"Devan..." bisik Aura lirih, jemarinya yang lemas terulur menyentuh pipi Devan. "Kamu... kamu selamatkan aku lagi..."
"Maaf... maafkan aku, Aura," kata Devan pelan, menempelkan telapak tangan Aura di pipinya, tak peduli noda darahnya mengotori kulit mulus gadis itu.
"Aku gagal menjaga kamu... Aku hampir kehilangan kamu..."
"Gak apa-apa..." desah Aura makin lemah, sebelum akhirnya matanya kembali terpejam rapat, pingsan sepenuhnya di pelukan Devan akibat pengaruh obat bius.
"Aura? Aura!" Devan memeluk erat tubuh Aura di dadanya, menyandarkan dagunya di kepala gadis itu.
Tak lama kemudian, Bimo dan Rian berlari memasuki koridor bersama beberapa satpam kampus yang membawa pemadam api.
Bimo dan Rian membelalak kaget melihat dua pria bertopeng tergeletak tak berdaya dan Devan yang bersimbah darah sedang memeluk Aura yang pingsan.
"Devan! Ya ampun, Van!" seru Bimo panik, berlutut di dekat sahabatnya. "Tangan kamu luka parah itu! Ayo bawa Aura ke rumah sakit!"
"Bimo, Rian," panggil Devan.
Bimo dan Rian merinding hebat mendengarnya. "I-iya, Dev?"
"Bawa Aura ke rumah sakit pakai mobil Bimo. Pastikan ada dua satpam yang ikut menjaga di depan kamarnya," perintah Devan tegas tanpa membantah.
Rian perlahan mengambil alih tubuh Aura dari bopongan Devan. "Terus kamu mau ke mana, Dev? Tangan lu berdarah-darah gitu!"
Devan berdiri perlahan dari lantai. Ia mengusap sisa darah di lengannya ke jaket kulitnya, lalu menggenggam erat pistol berperedam suara yang tadi ia sita dari penculik. Matanya memancarkan aura kegelapan yang amat pekat—sebuah keputusan bulat telah diambil di dalam kepalanya.
"aku mau menyelesaikan masalah ini," jawab Devan dingin.
Tiga puluh menit kemudian.
Di sebuah apartemen mewah lantai atas hotel bintang lima di pusat kota.
Sonia sedang duduk santai di sofa kulit sambil menyesap anggur merah dari gelas kristalnya.
Di depannya, dua pengawal berbadan tegap sedang berdiri menantikan kabar dari tim penculik di kampus.
BAM!
Pintu apartemen mewah itu mendadak hancur tertendang dari luar dengan dentuman dahsyat!
Sonia kaget, gelas kristal di tangannya terlepas dan pecah berhamburan di atas karpet mahal. Kedua pengawalnya buru-buru merogoh jas hendak menarik senjata, namun gerakan mereka terlambat.
Devan melangkah masuk. Jaket kulit hitamnya robek di bagian lengan, berdarah-darah, dan tatapan matanya bagaikan iblis yang keluar dari neraka. Sebelum dua pengawal itu sempat menarik pistol, Devan menerjang kilat.
Satu pukulan keras menghantam tenggorokan pengawal pertama, dilanjutkan dengan tendangan memutar yang mematahkan leher pengawal kedua hingga keduanya roboh tak sadarkan diri di lantai marmer.
Sonia menjerit histeris, melangkah mundur ketakutan hingga punggungnya menabrak dinding kaca besar. "De—Devan?! Kamu... kamu gila?!"
Devan berjalan mendekat dengan langkah lambat namun mencekam. Langkah kakinya meninggalkan jejak noda darah tipis di atas karpet putih. Devan berhenti tepat satu jengkal di depan Sonia, menatap cewek itu dengan kilatan mata yang mematikan.
"Devan, dengerin aku dulu!" jerit Sonia dengan suara bergetar ketakutan, air mata mulai menetes membasahi maskaranya.
"Aku melakukan ini demi kamu! Cewek itu cuma sampah yang bikin kamu lupa sama keluarga kamu di London! Aku cuma mau menyingkirkan dia biar kamu pulang sama aku!"
CTAK!
Devan menempelkan pistol berperedam suara tepat di tengah-tengah dahi Sonia.
Sonia membeku total, napasnya tertahan, wajah cantiknya pucat pasi bagaikan mayat.
"Dengar baik-baik, Sonia," kata Devan.
Tiap kata yang keluar dari bibirnya namun bergetar hebat oleh ancaman mematikan yang tak tertandingi.
"Gue nggak peduli soal harta keluarga di London. Gue nggak peduli kalau ayah gue mau mencoret nama gue dari garis keturunan."
Devan menekankan moncong pistol itu sedikit lebih keras ke dahi Sonia, membuat cewek itu gemetar hebat.
"Tapi catat ini di otak lu yang licik itu..." bisik Devan tepat di depan wajah Sonia, "...tidak boleh ada satu pun orang di dunia ini yang boleh menyentuh Aura. Siapa pun yang berani menyenggol atau melukai sehelai rambutnya lagi... bakal gue habisi dengan tangan gue sendiri. Termasuk lu, atau ayah gue sekalipun."
Sonia mengangguk-angguk histeris dalam tangisnya, tak berani mengeluarkan sepatah kata pun.
Devan menarik kembali pistolnya, lalu melempar senjata itu ke dalam wadah es batu di atas meja. Ia membalikkan badan dan melangkah keluar dari apartemen tanpa menoleh lagi.
Malam harinya, di ruang rawat VIP Rumah Sakit Medika.
Aura perlahan membuka matanya. Efek obat bius akhirnya menguap sepenuhnya. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit kamar putih dan infusan yang terpasang di tangan kanannya.
Nisa yang tertidur di kursi samping tempat tidur langsung terbangun begitu melihat pergerakan Aura.
"Aura! Ya ampun, kamu udah sadar, Ra?!" seru Nisa lega setengah mati. "Gimana kepala kamu? Masih pusing?"
Aura memegangi kepalanya yang masih agak berat, lalu matanya menyapu sekeliling ruangan. "Nis... Devan... Devan di mana?"
Nisa mendesah pelan, raut wajahnya berubah cemas. "Tadi Bimo sama Rian yang bawa kamu ke sini, Ra. Tapi kata Bimo... Devan pergi begitu saja dalam keadaan lengan kirinya robek dan berdarah-darah. Sampai sekarang HP-nya nggak bisa dihubungi sama sekali."
Hati Aura seketika mencelos. Rasa panik kembali menyerangnya. "Dia berdarah? Kenapa kalian nggak tahan dia buat diobati dulu?!"
"Mana ada yang berani menahan Devan kalau matanya udah merah begitu, Ra!" jawab Nisa pelan.
"Tapi tenang, Bimo sama anak-anak geng motor lagi menyisir seluruh kota buat mencari dia."
Aura menggigit bibirnya, rasa cemas luar biasa bergulung-gulung di dadanya. Ia tahu betul Devan pasti pergi melakukan sesuatu yang berbahaya demi membela dirinya.
Tiba-tiba, kaca jendela kamar rawat VIP Aura yang berada di lantai tiga bergoyang pelan akibat terpaan angin malam.
Sebuah ketukan halus terdengar dari balik tirai jendela luar.
Tok... tok... tok...
Nisa terperanjat kaget. "Eh? Itu suara apa? Ini kan lantai tiga!"
Aura langsung mencabut pelan selang infusannya, mengabaikan rasa perih di tangannya, lalu melangkah cepat menghampiri jendela dan menyibak tirai putihnya.
Di balik balkon sempit luar lantai tiga, sosok Devan berdiri bersandar di tiang besi di tengah guyuran hujan gerimis.
Lengan kirinya sudah dibalut kain perban hitam secara asal-asalan, wajahnya penuh memar Namun, matanya menatap Aura dari balik kaca jendela dengan kehangatan yang amat dalam.
Aura dengan cepat membuka kunci dan menggeser jendela kaca tersebut.
"Devan?!" seru Aura kaget bercampur haru, air matanya mendadak menetes lagi.
"Kamu gila ya?! Kamu panjat dinding gedung lantai tiga cuma buat ke sini?!"
Devan tidak menjawab. Ia melangkah masuk melewati ambang jendela, mengabaikan Nisa yang melotot tak percaya di belakang.
Devan berhenti tepat di depan Aura, menatap gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan lega yang teramat sangat.
"Kamu..." suara Devan serak dan basah oleh air hujan, "...kamu beneran nggak apa-apa kan, Aura?"
Aura menggelengkan kepala, terisak pelan. "Aku nggak apa-apa, Devan... Tapi kamu... tangan kamu..."
Tanpa memedulikan bajunya yang basah kuyup atau rasa sakit di tubuhnya, Devan maju satu langkah dan secara mendadak menarik Aura ke dalam pelakannya. Ia merengkuh tubuh Aura erat-erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu.
Aura terpaku sejenak, merasakan detak jantung Devan yang berdegup gila-gilaan di dadanya, lalu perlahan Aura membalas pelukan itu, melingkarkan kedua tangannya di pinggang tegap Devan.
"Nggak bakal ada yang berani menyentuh kamu lagi, Aura," bisik Devan lembut tepat di telinga Aura, suaranya sarat akan janji dan perlindungan. "Aku udah pastikan itu."
Namun, di saat momen emosional dan hangat itu tercipta di dalam kamar rawat, lampu kamar tiba-tiba padam total.
Seluruh aliran listrik rumah sakit mati mendadak.
Dari luar pintu kamar VIP, suara langkah kaki pria terdengar memenuhi koridor lantai tiga, makin lama makin mendekati kamar Aura!
Bersambung....