Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.
Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.
Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Setelah prosesi ijab kabul yang begitu kaku dan mencekam usai, suasana pelataran rumah segera dialihkan menjadi pesta resepsi. Musik instrumen lembut mengalun memenuhi ruangan, namun atmosfer dingin di atas pelaminan sama sekali tak terkikis.
Aisha duduk kaku di kursi pengantinnya. Bukannya menikmati jamuan atau berbincang dengan pria yang baru saja resmi menjadi suaminya, jemari Aisha justru sibuk menatap layar ponselnya. Matanya terus menatap deretan pesan yang tak kunjung dibalas, mengabaikan keberadaan Zavran di sampingnya. Zavran pun memilih bungkam, duduk tegap dalam diam.
Namun, setiap kali lampu kilat kamera menyala dan deretan tamu undangan melangkah mendekat untuk berfoto, sikap Aisha berubah. Demi menjaga profesionalitas di depan puluhan mata, Aisha mengukir senyum manis seraya menggandeng mesra lengan Zavran. Begitu kilatan kamera usai dan tamu melangkah turun, Aisha seketika melepas genggamannya dan kembali fokus pada ponsel di tangannya.
Sementara itu, di sebuah unit apartemen di kawasan Jakarta Selatan, Adit dan Melani baru saja tiba. Melani terduduk lemas di sofa dengan wajah pucat pasi dan mata yang sembap.
Adit merapikan jaketnya, lalu berbalik menatap Melani dingin. "Kamu diam di sini. Jangan ke mana-mana."
Melani mendongak kaget, meremas jemarinya panik. "Kamu mau ke mana, Dit?"
"Aku mau datang ke rumahmu," sahut Adit seraya tersenyum picik.
"Aku penasaran ingin lihat langsung bagaimana reaksi wajah calon suami kamu saat tahu pengantin wanitanya kabur di hari akad."
"Jangan, Dit! Nanti orang tuaku marah." seru Melani, menahan lengan Adit.
"Tidak akan," potong Adit, menepis tangan Melani.
" Kalau mereka mengira kamu yang membawa aku kabur, gimana?"
"Aku akan berpura-pura tidak tahu dan bilang kalau kamu sendiri yang mengundangku ke pesta. Kamu tenang saja di sini."
Tanpa memedulikan cegahan Melani, Adit melangkah pergi menuju kediaman keluarga Aisha.
Sesampainya di halaman rumah Aisha, langkah Adit seketika membeku di depan lorong tenda megah. Matanya membelalak tak percaya melihat deretan tamu yang masih memadati pesta resepsi.
"Lho? Kok ramai begini? Pernikahannya tetap berlangsung?!" gumam Adit kebingungan.
Di sekitarnya, beberapa tamu undangan tampak sibuk berbisik-bisik kagum.
"Wah, pengantin prianya tampan dan gagah sekali ya!"
"Iya, Mereka berdua kelihatan sangat serasi!"
Dada Adit bergemuruh panas mendengar ocehan para tamu. Dengan penuh penasaran, ia segera melangkah menerobos kerumunan. Namun, saat tatapannya mengarah ke panggung pelaminan, ia hanya melihat Zavran yang duduk sendirian di sana.
Saat melangkah mendekati area catering, keberadaan Adit ditangkap oleh orang tua Aisha. Ayah Aisha yang melihat pria itu seketika merah padam karena emosi. Beliau menghampiri Adit dengan tergesa-gesa..
"Mau apa kamu ke sini?!" bentak Ayah Aisha.
"Pergi dari rumah saya!"
Adit tersenyum santai tanpa beban.
"Tenang, Om... Melani yang mengundang saya ke sini, makanya saya datang."
"Kamu—"
Ayah Aisha hendak menarik kerah baju Adit untuk mengusirnya, namun Adit dengan cepat memajukan tubuhnya dan berbisik tepat di samping telinga beliau.
"Kalau kamu berani mengusir saya sekarang, detik ini juga saya akan teriak di depan ratusan tamu kalau Melani sedang hamil anak saya."
Deg!
Ayah Aisha seketika bungkam. Beliau hanya bisa mengepalkan tangannya saat Adit melewatinya begitu saja.
Adit melangkah santai ke meja catering, mengambil satu piring makanan seraya matanya terus meneliti area pelaminan.
‘Gila... Kenapa pria itu masih mau duduk manis di pelaminan padahal pengantin ceweknya nggak ada?’ batin Adit heran.
Namun, saat Adit sedang mengunyah makanannya seraya terus menatap Zavran yang duduk sendirian, langkah seorang gadis bergaun krem yang baru saja naik kembali ke panggung pelaminan membuat Adit tersedak hebat. Matanya membelalak horor menatap sosok pengantin perempuan itu.
"Aisha...?" desis Adit.
"Kurang ajar! Kenapa Melani tidak bilang kalau Aisha sudah pulang?!"
Amarah seketika membakar dada Adit. Dengan cepat ia menghabiskan makanannya, melempar piringnya ke meja, lalu melangkah kencang menaiki anak tangga panggung pelaminan.
Aisha yang baru saja duduk kembali di kursi pengantinnya sedang sibuk menatap layar ponselnya.
"Assalamu’alaikum, Aisha..." sapanya.
"Sudah lama banget ya, kita tidak bertemu."
Aisha mendongak. Detik berikutnya, matanya membelalak terkejut melihat sosok Adit yang berdiri tegap di hadapannya dengan senyum sinis. Aisha seketika bergeser menjauh, tatapannya menyala penuh kebencian.
"Ngapain kamu ke sini?!" desis Aisha dingin.
"Lho, kok judes banget?"
"Kita kan sudah lama tidak ketemu. Dan ternyata... sekarang kamu sudah jadi istri orang." lanjut Adit.
Aisha meremas ponselnya kencang. "Lebih baik kamu pergi sekarang sebelum aku semakin marah!"
"Kenapa harus marah?" sahut Adit dengan nada mengejek.
"Aku hanya ingin mendo'akan kamu, dan... selamat atas pernikahan kamu."
"Jangan sok akrab deh!" bentak Aisha.
"Lebih baik kamu sekarang pergi!"
Zavran yang sejak tadi diam memperhatikan interaksi itu mendadak menggeser duduknya. Ia berdiri memasang badan di depan Aisha seraya menatap tajam ke arah Adit.
"Kamu siapa?"
Adit tersenyum tipis, mengulurkan tangannya santai. "Adit. Calon suami yang ditolak Aisha."
"Jaga mulut kamu, ya!" Potong Aisha.
Tanpa memedulikan uluran tangannya yang diabaikan Zavran, Adit berdeham berpura-pura bingung. Ia melirik Zavran dan Aisha bergantian.
"Tapi sebentar... Kenapa kamu yang menikah sama pria ini, Aisha?" tanya Adit dengan polos yang dibuat-buat seraya menatap Zavran. "Bukannya calon istri kamu itu Melani?"
Adit lalu memajukan tubuhnya. "Jangan-jangan... kamu sedang hamil ya? Makanya minta segera dinikahkan begini? Pergaulan di luar negeri kan memang biasa bebas begitu. Tega-teganya kamu merebut calon suami kakakmu sendiri..."
"Jaga omonganmu, Adit! Jangan sok suci deh! Dasar laki-laki brengsek!"
Dengan tatapan menantang, Aisha melangkah maju mendekati Adit.
"Di mana Melani kamu sembunyikan?!"
Adit tersentak kaget, tawa piciknya mendadak lenyap. "A-apa maksudmu?! Aku datang ke sini karena undangan Melani! Jangan sembarang tuduh, mana tahu aku dimana Melani sekarang!"
"Jangan pura-pura polos, ya!" bentak Aisha tajam, suaranya menggelegar membuat beberapa tamu terdekat menoleh.
"Daripada kamu di sini mengacau dan memfitnah orang, lebih baik kamu urus perempuan yang sudah kamu hamili itu!"
Mata Adit membelalak panik.
"Jadi cowok itu bertanggung jawab! Jangan cuma mau enaknya aja! enteng banget tu otak, sudah menghamili anak orang, lepas tangan begitu aja!" sembur Aisha.
"Cepat pergi dari sini!"
Zavran yang berdiri di samping Aisha melangkah maju, membusungkan dadanya seraya mengunci tatapan mata Adit dengan aura membunuh yang amat pekat.
"Keluar dari rumah ini sekarang," perintah Zavran.
"Sebelum saya panggil petugas keamanan untuk menyeret kamu keluar secara kasar."
Adit mengepalkan tangannya rapat-rapat, menyadari situasi yang mulai tidak menguntungkan baginya. Ia menatap Aisha dengan penuh dendam.
"Lihat saja nanti, Aisha..." bisik Adit seraya mundur beberapa langkah. "Hidup kamu tidak akan pernah tenang setelah ini!"
Adit berbalik kasar dan melangkah pergi meninggalkan panggung pelaminan, menembus kerumunan tamu dengan wajah merah padam penuh amarah.