Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.
Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23.Kenapa?
Mentari pagi merayap pelan menembus celah gorden kamar di lantai dua kediaman Adikara, memancarkan garis-garis cahaya keemasan yang mendarat tepat di atas lantai marmer yang dingin. Namun, hangatnya sinar mentari itu tak sedikit pun sanggup menembus kabut duka yang menyelimuti jiwa Aruna.
Gadis itu sudah terbangun sejak fajar belum menyingsing. Ia duduk bersandar pada kepala ranjang berukuran besar, memeluk kedua lututnya yang tertutup kain selimut tebal. Wajahnya yang tirus tampak kian pucat pasi, dengan lingkaran hitam memudar di bawah matanya yang meredup tanpa kehidupan.
Punggung tangan kanannya yang terbungkus perban tebal terasa berdenyut perih secara berkala, namun rasa sakit fisik itu tak ada artinya dibanding kehampaan yang melilit hatinya. Sejak kejadian nekat kemarin sore, Aruna merasa dirinya makin asing pada tubuhnya sendiri. Ia bernapas, jantungnya berdetak, namun jiwanya rasanya telah mati dan terkubur di bawah puing-puing keputusasaan.
Ceklek.
Pintu kamar terdorong pelan. Bi Asih melangkah masuk dengan nampan berisi sarapan baru bubur lembut bertabur suwiran ayam, segelas susu hangat, dan piring kecil berisi obat-obatan dari dokter.
"Selamat pagi, Nona Aruna..." sapa Bi Asih sangat pelan, berusaha menyunggingkan senyum hangat meski matanya tak sanggup menyembunyikan raut prihatin yang mendalam.
Aruna tidak menjawab. Matanya tetap menatap lurus ke arah jendela kamar tanpa berkedip.
Bi Asih meletakkan nampan di atas meja samping tempat tidur, membuang sisa makanan kemarin malam yang sama sekali tidak tersentuh oleh Aruna. Wanita paruh baya itu mendekat, melipat kedua tangannya di depan dada dengan canggung.
"Nona... tolong disicip sedikit saja ya buburnya," bujuk Bi Asih penuh harap. "Bibi buatkan khusus, teksturnya sangat halus. Kalau Nona tidak makan sama sekali dari kemarin, lambung Nona bisa luka lagi. Kasihan tubuh Nona..."
Aruna perlahan menolehkan kepalanya. Suaranya terdengar sangat parau dan kering ketika akhirnya berbicara, "Pak Kaivan... sudah berangkat kantor, Bi?"
Bi Asih tertegun sejenak sebelum mengangguk pelan. "Iya, Nona. Pak Kaivan baru saja berangkat setengah jam yang lalu. Beliau... tadi sempat berpesan pada Bibi untuk memastikan Nona meminum obatnya sampai tuntas."
Aruna tersenyum tipis—sebuah senyuman yang terasa begitu hampa dan pahit. Ia tahu pesan itu bukan keluar dari rasa kepedulian yang tulus. Kaivan hanya sedang mengawasi "barang jaminannya" agar tidak rusak atau mati sebelum urusan utang piutang puluhan miliar itu tuntas.
"Bi Asih..." panggil Aruna lagi, pandangannya melemah menatap perban di tangan kanannya. "Boleh saya minta tolong satu hal?"
"Tentu, Nona. Nona mau butuh apa? Sebutkan saja, nanti Bibi siapkan," jawab Bi Asih cepat, berharap Aruna akhirnya menginginkan sesuatu.
"Tolong... buka jendela kamarnya lebar-lebar," bisik Aruna lirih. "Saya cuma mau mencium udara luar... Ruangan ini terasa sangat sempit dan menyesakkan."
Bi Asih mengangguk anggun. "Baik, Nona. Segera Bibi bukakan."
Wanita paruh baya itu berjalan mendekati jendela kaca besar, menarik gorden tebal hingga menyibak sepenuhnya, lalu memutar kunci dan mendorong daun jendela kayu tersebut hingga terbuka lebar.
Seketika itu juga, hembusan angin pagi yang dingin menyergap masuk ke dalam kamar, membawa aroma embun dan tanah basah sisa hujan semalam. Aruna memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan terpaan angin dingin itu menyapu wajahnya yang pucat.
Untuk beberapa detik, ia membayangkan dirinya adalah seekor burung kecil yang melayang bebas di langit lepas—terbebas dari belenggu rumah mewah ini, terbebas dari ancaman Kaivan, dan terbebas dari bayang-bayang keluarganya yang kejam.
Namun, khayalan indah itu mendadak buyar saat sebuah ingatan menyengat benaknya: Bagas.
Mata Aruna mendadak terbuka lebar. Rasa panik yang sempat mengendap kembali mencengkeram dadanya. "Bi Asih... anak muda yang kemarin sore datang ke depan gerbang... dia benar-benar sudah pergi, kan?"
Bi Asih berbalik, menatap Aruna dengan raut tegang. "Sudah, Nona. Kemarin sore teman-temannya menjemputnya. Tapi..." Bi Asih menelan ludah dengan canggung, tampak ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Tapi apa, Bi?" Aruna menegakkan posisinya, jemari tangan kirinya meremas seprai ranjang dengan erat. "Tolong jujur sama saya, Bi... Pak Kaivan tidak melukai dia, kan?"
Bi Asih mendekat kembali ke samping tempat tidur, menghela napas panjang. "Pak Kaivan tidak melukainya, Nona. Tapi Pak Kaivan menugaskan beberapa pengawal untuk mengawasi kafe tempat Nona bekerja dulu. Katanya... kalau anak muda itu berani mendekati rumah ini lagi, Pak Kaivan tidak akan segan-segan menyerahkannya ke polisi."
Dada Aruna terasa bagai dihantam batu besar yang amat sangat berat. Udara di sekitarnya mendadak kembali terasa makin sempit dan menyiksa.
Kaivan benar-benar menjalankan ancamannya. Pria itu menaruh mata-mata di kafe Kopi Senja, mengancam ruang gerak teman-temannya, dan memenjarakan Bagas secara tidak langsung di bawah bayang-bayang ketakutan.
“Kenapa kamu harus melakukan ini, Pak Kaivan...?” jerit Aruna di dalam hatinya, air mata bening mulai menggenang di pelupuk matanya. “Belum cukupkah kamu menyiksa saya di sini...? Kenapa orang-orang baik di sekitar saya juga harus kamu ancam...?”
Aruna menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengizinkan tetesan air mata dingin jatuh membasahi selimutnya. Rasa bersalah pada Bagas, Maya, dan Rian kian menggerogoti jiwanya hingga ia merasa tak punya muka lagi untuk berharap bisa bertemu dengan mereka di masa depan.
Sementara itu, di lantai eksekutif Gedung Adikara Tower, atmosfer di dalam ruang rapat utama berlangsung sangat dingin dan mencekik.
Kaivan duduk di kursi paling ujung meja panjang berpelitur mahal. Jas hitam mewahnya terpasang sempurna, memancarkan aura dominasi dan kekuasaan yang luar biasa kuat. Di sekeliling meja, para direksi dan manajer senior Adikara Group duduk kaku dengan dokumen di tangan masing-masing, tak seorang pun berani menatap langsung ke arah mata tajam sang CEO.
"Jadi..." suara bariton Kaivan bergema pelan namun menusuk hingga ke tulang, memecah keheningan ruangan. "...kalian ingin memberitahuku bahwa penurunan harga saham anak perusahaan kita sebesar dua persen pagi ini disebabkan oleh artikel sampah kemarin sore?"
Manajer Divisi Humas menelan ludah dengan susah payah, berdiri kaku dari kursinya. "M-maaf, Pak Kaivan... Meskipun tim IT dan hukum telah berhasil menghapus artikel serta foto tersebut dari portal media utama, namun tangkapan layar berita itu sudah sempat menyebar di beberapa grup obrolan publik dan media sosial independen. Beberapa investor merasa cemas akan stabilitas reputasi kepemimpinan Anda..."
Kaivan menyilangkan jemari tangannya di atas meja, menatap manajer tersebut dengan sorot mata yang membeku.
"Reputasi?" cetus Kaivan dengan senyum tipis yang amat sinis. "Sejak kapan kepemimpinan Adikara Group dinilai dari rumor rumah tangga pribadi? Apakah angka laba bersih kita kuartal ini turun? Apakah proyek akuisisi lahan di Jakarta Pusat terhambat?"
"T-tidak, Pak! Seluruh laporan keuangan dan proyek berjalan sangat baik!" jawab sang manajer panik dengan dahi berpeluh dingin.
"Kalau begitu, selesaikan tugas kalian!" bentak Kaivan tegas, menghempaskan tangannya kaku ke atas meja. "Aku membayar kalian bukan untuk membawa rumor media sosial ke dalam ruang rapat ini! Pastikan sebelum sore ini, rumor tersebut sepenuhnya bersih dari seluruh platform, atau kalian semua yang akan menggantikan kerugian dua persen saham tersebut!"
"B-baik, Pak Kaivan! Kami akan laksanakan!" para direksi membungkuk serentak dalam kepanikan.
"Rapat selesai!" perintahkan Kaivan kaku, langsung berdiri dan melangkah lebar keluar dari ruang rapat tanpa menoleh sedikit pun.
Sekretaris Dimas menyusul dengan terburu-buru di belakangnya, membawa tablet dan berkas jadwal harian. Begitu mereka memasuki ruang kerja pribadi Kaivan, Dimas dengan sigap menutup pintu kaca tebal tersebut rapat-rapat.
Kaivan melepaskan jas kerjanya dan melemparkannya kasar ke atas sofa kulit. Pria itu melangkah menuju meja kerjanya, menyandarkan kedua tangannya di tepi meja seraya membuang napas kasar.
Wajahnya yang kaku memancarkan kelelahan emosional yang amat sangat. Meski di depan para direksi ia bersikap sangat dominan dan angkuh, kenyataannya amarah dan kekacauan di dalam dirinya belum sedikit pun mereda sejak kemarin sore.
"Pak Kaivan," panggil Dimas pelan dengan nada hati-hati. "Saya baru saja menerima laporan dari tim pengawas di lapangan."
Kaivan mendongak kaku, matanya menyipit tajam. "Laporan apa?"
"Mengenai kafe Kopi Senja dan saudara Bagas," terang Dimas ragu-ragu. "Sejak pagi tadi, saudara Bagas tidak tampak hadir bekerja di kafe tersebut. Menurut pantauan tim kami dari obrolan karyawan kafe, saudara Bagas dikabarkan mendatangi kediaman keluarga Rasyara—rumah orang tua Nona Aruna."
Ceklek.
Jemari Kaivan yang mencengkeram tepi meja mahoni mendadak menegang kuat hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Sorot matanya yang dingin berubah menjadi tajam berkilat oleh rasa murka dan cemburu yang teramat sangat.
"Mendatangi rumah keluarga Rasyara...?" desis Kaivan dengan suara rendah yang berbahaya. "Untuk apa laki-laki itu ke sana?!"
"Diperkirakan saudara Bagas mencoba mencari kejelasan mengenai status pernikahan Nona Aruna langsung dari Tuan Rendra Rasyara," jawab Dimas jujur. "Namun, menurut laporan pengawas, Tuan Rendra menolak menemui saudara Bagas dan mengusirnya dari kediaman mereka."
Kaivan mengepalkan tangannya kencang di atas meja, membanting tinjunya pelan hingga meja kayu mahal itu bergetar.
Rasa panas membakar dadanya. Pria itu tidak bisa mencerna dengan akal sehat mengapa seorang barista biasa seperti Bagas begitu nekat bertaruh nyawa dan kehormatan demi mencari tahu keberadaan Aruna. Kenapa laki-laki itu tidak pernah menyerah?! Kenapa ia begitu gigih mengejar wanita yang kini telah berstatus sebagai istri sah seorang Kaivan Adikara?!
Dan Aruna... batin Kaivan murka, bayangan wajah Aruna yang menangis memohon padanya kemarin sore kembali menampar ingatannya. ...gadis bodoh itu pasti sengaja menyimpan harapan pada laki-laki ini!
"Pak Kaivan? Apakah Anda ingin kami memberi pelajaran hukum yang lebih keras pada saudara Bagas agar beliau berhenti mencari informasi?" tanya Dimas cemas melihat perubahan raut wajah atasannya yang mendadak sangat menakutkan.
Kaivan memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menahan gejolak emosi beracun yang menguasai pikirannya. Dinding gengsi dan harga dirinya yang setinggi langit menolak keras untuk terlihat panik atau cemburu hanya karena ulah seorang rakyat biasa.
"Tidak perlu," sahut Kaivan dingin setelah membuka matanya kembali. Suaranya terdengar kaku dan tak tersentuh. "Biarkan saja serangga itu melompat ke sana-sini sampai dia lelah sendiri. Tuan Rendra Rasyara tahu betul apa yang akan terjadi pada perusahaan dan nyawanya jika dia berani membocorkan informasi apa pun kepada laki-laki itu."
Kaivan berjalan kaku menuju kursi kebesarannya dan menduduki badannya di sana.
"Bagaimana dengan kondisi Aruna di rumah?" tanya Kaivan kemudian, sengaja menggunakan nada suara datar seolah pertanyaan itu hanyalah formalitas biasa.
Dimas menggeser layar tabletnya dan membaca laporan dari Bi Asih. "Bi Asih melaporkan bahwa Nona Aruna sudah mau berbicara sedikit pagi ini, Pak. Namun... Nona Aruna masih belum menyentuh makanan atau meminum obatnya. Kondisinya masih sangat lemah dan terus mengurung diri di dekat jendela."
Mendengar laporan itu, rahang Kaivan kembali menegang kaku. Rasa jengkel, marah, dan cemas berbaur menjadi satu di dalam dadanya—menciptakan rasa sesak yang sangat menyiksa.
Gadis itu benar-benar keras kepala! Aruna memilih untuk melaparkan dirinya sendiri, menolak sembuh, dan bertingkah seolah ia sedang menunggu keajaiban atau pertolongan dari laki-laki lain!
"Gadis bodoh..." desis Kaivan sangat pelan di antara giginya yang merapat tajam.
Kaivan menyambar pulpen mewahnya, mencoba memfokuskan pikirannya pada dokumen di meja. Namun, tulisan di atas kertas itu mendadak tampak kabur, tergantikan oleh bayangan mata Aruna yang hampa dan redup.
Pria angkuh itu tahu, ia telah berhasil memenjarakan tubuh Aruna di dalam rumah mewahnya yang dingin. Ia telah membendung arus berita media dan mengancam siapa pun yang mencoba mendekati istrinya. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Kaivan merasakan sebuah ketakutan asing yang teramat sangat—bahwa apa pun yang ia lakukan, betapa pun besarnya kekuasaan dan uang yang ia miliki, ia tidak akan pernah sanggup memiliki jiwa Aruna yang telah hancur dan terkunci rapat di balik dinding-dinding keputusasaan.
Kaivan menatap lurus ke depan dengan pandangan membeku, sementara benang-benang takdir di antara mereka makin terjerat rumit dalam lingkaran kebencian, gengsi angkuh, dan penderitaan yang tak kunjung usai.
_Bersambung