Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.
Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.
Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan di Balik Jebakan
Sejak pagi itu, suasana di istana berubah tanpa disadari oleh sebagian besar orang.
Tidak ada pengumuman besar. Tidak ada pasukan yang dikerahkan secara terbuka. Tidak ada pejabat yang dipanggil dalam jumlah besar.
Namun di balik ketenangan itu, Yuán Zhēn telah mengubah hampir seluruh sistem penjagaan istana.
Para penjaga di beberapa gerbang diganti secara diam-diam. Orang-orang yang biasanya bertugas di sekitar kediaman Liān Huā dipindahkan sementara. Bahkan beberapa pelayan yang telah bekerja bertahun-tahun diperiksa kembali tanpa mengetahui alasan sebenarnya.
Yuán Zhēn tidak ingin musuhnya mengetahui bahwa ia sedang bergerak.
Ia justru ingin mereka percaya bahwa rencana mereka berhasil.
Di ruang kerjanya, beberapa laporan terbuka di atas meja.
Kepala Pengawal berdiri di hadapannya.
“Yang Mulia, orang yang menggunakan lambang keluarga Zhāng belum ditemukan.”
“Bagus.”
Kepala Pengawal tampak bingung.
“Bagus?”
Yuán Zhēn mengangkat wajah.
“Jika dia belum ditemukan, berarti dia masih merasa aman.”
“Dan jika dia merasa aman?”
“Dia akan kembali kepada orang yang mengutusnya.”
Kepala Pengawal akhirnya memahami.
“Jadi kita membiarkannya bergerak?”
“Jangan ganggu dia.”
Yuán Zhēn mengambil salah satu laporan.
“Awasi saja.”
“Baik, Yang Mulia.”
Setelah Kepala Pengawal pergi, Yuán Zhēn bersandar di kursinya.
Matanya tertuju pada sebuah nama yang tertulis di salah satu dokumen.
Paman Agung Zhāng.
Namun setelah beberapa saat, ia menggeser dokumen itu.
Di bawahnya terdapat nama lain.
Putri Xiǎo Lán.
Tatapan Yuán Zhēn menjadi semakin dingin.
Ia yakin kedua orang itu terlibat.
Namun keyakinan saja tidak cukup.
Ia membutuhkan bukti.
Dan untuk mendapatkan bukti, ia harus membuat musuhnya merasa bahwa mereka masih memiliki kendali.
---
Sementara itu, di kediaman Liān Huā, keadaan tampak jauh lebih tenang.
Liān Huā sedang duduk di paviliun taman bersama Xiǎo Yàn.
Di atas meja terdapat beberapa bunga yang baru dipetik.
Namun Liān Huā tidak benar-benar memperhatikan bunga-bunga tersebut.
“Nona,” kata Xiǎo Yàn, “Anda terlihat sedang memikirkan sesuatu.”
Liān Huā tersenyum tipis.
“Aku sedang memikirkan bagaimana seseorang bisa begitu yakin bahwa rencananya tidak akan gagal.”
Xiǎo Yàn mengerutkan kening.
“Maksud Nona?”
“Orang-orang seperti Paman Agung dan Xiǎo Lán sudah terlalu lama berada di dalam kekuasaan. Mereka terbiasa merencanakan semuanya dengan hati-hati.”
Liān Huā memandang bunga di tangannya.
“Karena itu, jika mereka meninggalkan sebuah jejak terlalu mudah ditemukan, mungkin itu bukan kesalahan.”
Xiǎo Yàn terdiam.
“Melainkan sengaja.”
Liān Huā mengangguk.
“Benar.”
Tiba-tiba terdengar suara langkah.
Seorang pelayan datang membawa nampan.
“Nona, ini teh dari dapur.”
Liān Huā menatapnya.
“Letakkan di sana.”
Pelayan itu membungkuk dan meletakkan nampan.
Namun ketika hendak pergi, Liān Huā memanggilnya.
“Tunggu.”
Pelayan itu berhenti.
“Siapa namamu?”
“Saya... Lù Shān, Nona.”
“Sudah berapa lama bekerja di sini?”
“Baru tiga bulan.”
Liān Huā mengangguk.
“Baik. Pergilah.”
Pelayan itu segera pergi.
Xiǎo Yàn menatap punggungnya.
“Nona mencurigainya?”
“Belum.”
Liān Huā menatap cangkir teh.
“Tapi mulai sekarang, jangan menerima apa pun tanpa diperiksa.”
“Baik.”
Tidak lama kemudian, seorang pengawal datang membawa berita.
“Nona Liān Huā, Yang Mulia meminta Anda datang ke ruang kerja pribadinya.”
Liān Huā mengangguk.
Ia segera berdiri.
---
Di ruang kerja, Yuán Zhēn sedang berdiri di dekat rak buku ketika Liān Huā masuk.
“Ada apa?”
Yuán Zhēn menoleh.
“Aku mendapatkan sesuatu.”
Ia menyerahkan sebuah potongan kain kecil.
Liān Huā menerimanya.
“Ini?”
“Ditemukan di dekat tembok timur.”
Liān Huā memperhatikannya.
Pada kain tersebut terdapat benang berwarna emas.
“Apakah ini pakaian penjaga?”
“Bukan.”
“Lalu?”
Yuán Zhēn menggeleng.
“Aku belum tahu.”
Liān Huā menyerahkan kembali kain itu.
“Dan kau ingin aku melihatnya?”
“Aku ingin mengetahui apakah kau pernah melihat kain seperti ini.”
Liān Huā berpikir sejenak.
Kemudian matanya berubah serius.
“Aku pernah.”
Yuán Zhēn langsung mendekat.
“Di mana?”
“Di kediaman Paman Agung.”
“Pada siapa?”
Liān Huā mengingat kembali sebuah pertemuan beberapa bulan lalu.
“Pada salah satu pengawal pribadi Xiǎo Lán.”
Yuán Zhēn terdiam.
“Apakah kau yakin?”
“Benar.”
“Berarti kita akhirnya menemukan sesuatu.”
Liān Huā menggeleng pelan.
“Belum.”
Yuán Zhēn menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena kalau kain itu memang berasal dari pengawal Xiǎo Lán, mereka tidak akan meninggalkannya begitu saja.”
Yuán Zhēn tersenyum tipis.
“Sepertinya kita memikirkan hal yang sama.”
“Ini terlalu mudah.”
“Ya.”
Keduanya saling berpandangan.
Mereka sadar bahwa musuh sedang memainkan permainan yang sama.
Dan kali ini, permainan itu menjadi jauh lebih berbahaya.
---
Pada sore hari, sebuah berita mengejutkan menyebar di antara para pejabat istana.
Paman Agung Zhāng secara tiba-tiba meminta izin untuk meninggalkan ibu kota selama beberapa hari.
Alasannya adalah untuk memeriksa beberapa wilayah kekuasaan yang mengalami masalah administrasi.
Begitu mendengar berita tersebut, Yuán Zhēn langsung menolak.
“Tidak.”
Pejabat pembawa pesan tampak gugup.
“Yang Mulia?”
“Beritahu Paman Agung bahwa ia tidak boleh meninggalkan ibu kota sampai penyelidikan mengenai kejadian beberapa malam lalu selesai.”
Pejabat itu membungkuk.
“Baik.”
Namun beberapa jam kemudian, kabar lain datang.
Salah satu pengawal pribadi Paman Agung menghilang.
Yuán Zhēn langsung berdiri.
“Siapa namanya?”
Pejabat itu menyerahkan daftar.
Yuán Zhēn membacanya.
Kemudian wajahnya berubah.
“Ini orang yang sama.”
Liān Huā yang berada di ruangan itu menatapnya.
“Pengawal yang memakai kain tersebut?”
“Ya.”
Kali ini, mereka memiliki jejak yang lebih kuat.
Yuán Zhēn segera mengirim pasukan untuk mencarinya.
Namun sebelum pasukan berangkat, sebuah surat datang.
Surat itu ditemukan di gerbang utara.
Tidak ada nama pengirim.
Hanya satu kalimat.
Jika Yang Mulia ingin mengetahui kebenaran, jangan mencari orang yang pergi. Carilah orang yang masih tinggal.
Yuán Zhēn membaca kalimat tersebut berkali-kali.
Liān Huā berdiri di sampingnya.
“Ini bukan ancaman.”
“Bukan.”
“Ini petunjuk.”
Yuán Zhēn mengangguk.
“Tapi dari siapa?”
Tidak ada yang menjawab.
Malam pun tiba.
---
Di kediaman Paman Agung Zhāng, suasana semakin gelap.
Paman Agung berjalan mondar-mandir.
“Kenapa dia menghilang?”
Xiǎo Lán duduk tenang.
“Karena dia diperintahkan untuk pergi.”
“Siapa yang memerintahkannya?”
Xiǎo Lán tidak menjawab.
Paman Agung menatapnya.
“Kau?”
Xiǎo Lán tersenyum.
“Paman terlalu banyak bertanya.”
“Kalau dia tertangkap, semuanya akan terbongkar!”
“Dia tidak akan tertangkap.”
“Kau yakin?”
Xiǎo Lán menatap keluar jendela.
“Karena orang yang mereka cari bukan orang yang paling penting.”
Paman Agung mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
Xiǎo Lán berdiri.
“Pengawal itu hanyalah bayangan.”
“Lalu siapa yang sebenarnya menjalankan semuanya?”
Xiǎo Lán tersenyum tipis.
“Orang yang tidak pernah mereka curigai.”
---
Malam semakin larut.
Di istana, Yuán Zhēn belum tidur.
Ia duduk sendirian di ruang kerja.
Di atas meja terdapat tiga benda:
Anak panah.
Potongan kain.
Dan surat misterius.
Ia membaca kembali kalimat itu.
Carilah orang yang masih tinggal.
Tiba-tiba terdengar suara langkah.
Seorang penjaga masuk.
“Yang Mulia.”
“Ada apa?”
“Kami menemukan sesuatu di kediaman Paman Agung.”
“Apa?”
“Seorang pelayan.”
“Siapa?”
“Namanya Lù Shān.”
Yuán Zhēn langsung mengangkat kepala.
Nama itu membuat pikirannya berhenti sesaat.
Pelayan yang baru tiga bulan bekerja.
Pelayan yang tadi pagi datang membawa teh kepada Liān Huā.
Kaisar segera berdiri.
“Di mana dia sekarang?”
“Masih berada di kediaman Paman Agung.”
Yuán Zhēn merasakan firasat buruk.
“Jangan tangkap dia.”
Penjaga itu tampak bingung.
“Yang Mulia?”
“Awasi.”
Yuán Zhēn mengambil jubahnya.
“Aku akan datang sendiri.”
Namun sebelum ia keluar, seorang penjaga lain berlari masuk dengan wajah pucat.
“Yang Mulia!”
“Ada apa?”
“Lù Shān baru saja meninggalkan kediaman Paman Agung.”
“Ke mana?”
Penjaga itu menarik napas.
“Menuju kediaman Liān Huā.”
Wajah Yuán Zhēn langsung berubah.
“Berapa orang yang mengikutinya?”
“Tidak ada.”
“Kalau begitu kirim pasukan sekarang!”
Namun semuanya sudah terlambat.
Jauh di kediaman Liān Huā, sebuah pintu perlahan terbuka.
Lù Shān berdiri di luar.
Di tangannya terdapat sebuah kotak kecil.
Ia menundukkan kepala kepada penjaga.
“Saya membawa pesan untuk Nona Liān Huā.”
Dan tanpa seorang pun menyadari bahaya yang sedang mendekat, pintu kediaman itu kembali tertutup.
Sementara di dalam kotak kecil tersebut, tersimpan sesuatu yang dapat mengubah seluruh permainan.
Sesuatu yang selama ini dicari Yuán Zhēn.
Sesuatu yang mungkin menjadi bukti pertama untuk menjatuhkan Paman Agung Zhāng.
Namun jika kotak itu jatuh ke tangan yang salah...
maka bukan hanya rencana Paman Agung yang akan berubah.
Seluruh istana bisa ikut terseret ke dalam kekacauan.