Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Aturan Main di Lantai 45
Suara denting kunci elektronik memecah keheningan penthouse di lantai 45. Pintu ganda berpanel kayu mahoni itu terbuka, memperlihatkan Arvin dan Dania yang baru saja melangkah masuk.
Setelah drama menegangkan di dewan komisaris dan kunjungan emosional di rumah sakit tempat Rehan dirawat, atmosfer di antara mereka mendadak berubah. Tidak ada lagi musuh bersama seperti Dion yang harus dihadapi. Yang tersisa di dalam ruang luas bernuansa monokrom itu hanyalah dua orang asing yang terikat status suami istri di atas kertas.
Arvin melepaskan jas charcoal grey-nya, melipatnya di lengan seraya melangkah menuju meja bar di area dapur bersih. Sementara Dania melepas sepatu hak tingginya, menggantinya dengan sandal rumah yang empuk.
"Aku sudah meminta Rian menyusun dokumen penyesuaian untuk kehidupan kita di sini," ujar Arvin tiba-tiba. Suara baritonnya bergema datar di ruang tamu yang luas.
Dania menghentikan langkahnya menuju lorong kamar, lalu menoleh. "Dokumen penyesuaian?"
Arvin mengambil sebuah map kulit hitam yang sudah tergeletak di atas meja bar, lalu menyodorkannya ke arah Dania.
Dania mendekat dan membuka map tersebut. Di lembar pertama, tertera judul tebal:
PROTOKOL DAN ATURAN RUMAH TANGGA PENTHOUSE LANTAI 45.
Dania menaikkan sebelah alisnya, membaca poin demi poin yang tercetak rapi di sana.
> Poin 1: Kamar tidur utama di sisi timur adalah area pribadi Arvin Dirgantara. Kamar tidur kedua di sisi barat adalah area pribadi Dania Kirana. Masing-masing pihak dilarang memasuki area pribadi tanpa izin eksplisit.
> Poin 2: Batas jam malam untuk aktivitas di luar pekerjaan perusahaan adalah pukul 21.00 WIB. Demi menjaga kerahasiaan pernikahan dan menghindari kecurigaan pihak luar, seluruh kepulangan di atas jam tersebut wajib dilaporkan pada tim pengawal.
> Poin 3: Dilarang membawa tamu pribadi, kerabat, atau teman ke dalam penthouse tanpa persetujuan tertulis dari kedua belah pihak.
> Poin 4: Seluruh kebutuhan logistik, kebersihan, dan makanan akan ditangani oleh asisten rumah tangga harian yang hanya datang pada jam 09.00 hingga 12.00 siang saat penthouse dalam keadaan kosong.
>
Dania menghembuskan napas pendek, lalu mendongak menatap Arvin yang sedang menuangkan air putih ke dalam gelas kristal.
"Anda membuat jadwal dan aturan jam malam untuk saya seolah saya ini anak sekolahan, Tuan Arvin?" tanya Dania dengan nada dingin yang kaku.
Arvin meneguk airnya pelan, lalu menatap Dania lurus. "Ini bukan soal mengekangmu, Dania. Ini soal pengendalian risiko. Dion memang sudah dibekukan dari jabatan direksi, tapi Ibu Helen dan antek-anteknya masih mengawasi gerak-gerikku. Jika ada media atau orang suruhan mereka yang mendapati kamu pergi malam tanpa pengawalan... nama baik pernikahan kita yang menjadi taruhannya."
"Pernikahan rahasia ini," ralat Dania cepat. "Aturan ini dibuat demi melindungi posisi Anda di perusahaan, bukan?"
"Demi melindungi kita berdua," potong Arvin tegas, suaranya tak membentak namun sarat dominasi yang mutlak. "Aturan ini menjamin hak dan privasimu selama satu tahun ke depan. Kamu mendapatkan kebebasanmu di studio desain, dana medis adikmu terjamin penuh, dan sebagai imbalannya, kamu harus mematuhi protokol keamanan rumah ini."
Dania menyilangkan tangan di dada, menatap pria tegap di depannya tanpa ada getaran gentar. "Saya menghargai profesionalisme Anda, Arvin. Tapi saya bukan bawahan Anda di Dirgantara Group yang bisa Anda beri instruksi lewat memo dinas."
Dania melangkah mendekati meja bar, mengambil pulpen dari tasnya, lalu mencoret salah satu poin di lembaran tersebut.
"Poin jam malam saya ubah," kata Dania seraya menunjukkan coretannya. "Dunia desain bekerja dengan tenggat waktu yang tidak tentu. Kadang saya harus berada di studio atau lokasi proyek hingga larut malam. Saya akan melapor pada tim pengawal demi alasan keamanan, tapi Anda tidak berhak menentukan jam berapa saya harus berada di dalam rumah ini."
Arvin menatap coretan tinta hitam di atas dokumen resminya, lalu beralih menatap mata Dania yang berbinar penuh keteguhan. Untuk beberapa detik, hanya ada keheningan menantang di antara mereka.
"Baik," sahut Arvin akhirnya, suaranya tetap datar tanpa riak kekalahan. "Asal laporan lokasi real-time tetap dikirimkan ke Rian demi keselamatanmu."
Dania menandatangani bagian bawah dokumen itu, lalu menggesernya kembali ke arah Arvin. "Kesepakatan dicapai."
Arvin menerima dokumen itu, menutupnya rapat. "Satu hal lagi. Besok pagi kita harus berangkat ke kantor dalam satu mobil dari pelataran parkir bawah tanah, namun kita akan turun di lantai yang berbeda. Di kantor, kita kembali pada status asal: CEO dan desainer eksternal proyek Grand Dirgantara Tower."
"Itu justru hal yang paling saya inginkan," jawab Dania mantap. "Saya tidak ingin ada rumor di kantor bahwa saya mendapatkan posisi proyek ini karena status pernikahan rahasia kita."
Dania berbalik, melangkah menuju kamarnya di ujung koridor barat. Namun sebelum ia menekan gagang pintu, ia menghentikan langkahnya dan menoleh sedikit.
"Selamat malam, Tuan Arvin," kata Dania formal.
Arvin berdiri mematung di dekat meja bar, memperhatikan punggung wanita itu sampai pintu kamar barat tertutup rapat dan terdengar bunyi kunci berputar dari dalam.
Arvin menghela napas panjang, mengurut pelipisnya yang mendadak terasa tegang. Penthouse yang biasanya sepi dan dingin kini terasa berbeda. Ada energi baru yang kuat, mandiri, dan tidak gampang ditundukkan yang kini mendiami setengah dari wilayah kekuasaannya.