"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"
"Mau."
Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.
Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.
Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Rasa panik yang mulai menjalar di hati Kara membuat ia tidak punya pilihan lain selain masuk kembali ke dalam kamar.
Sesampainya di kamar, ia langsung mencari ponselnya, beruntung ponsel miliknya itu berada di atas meja. Ia buru-buru mencari kontak mamanya, berharap bisa mendapatkan bantuan.
"Hallo, Ma! Bantuin Kara dong, Kara tersesat ini!" seru Kara begitu teleponnya tersambung.
Di seberang telepon, suara sang mama terdengar mengernyit bingung. "Tersesat gimana maksud kamu? Bukannya kamu dibawa sama Erlangga ke rumahnya semalam?"
"Iya, emang!" Kara langsung menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar, sambil melangkah mondar-mandir di samping ranjang untuk meluapkan rasa frustrasinya. "Tapi Kara nggak tahu ini di mana! Pokoknya rumahnya gede banget. Kara nggak tahu jalan keluarnya!"
"Ya kamu tanya dong sama Erlangga, jangan malah panik sendiri," sahut mamanya, terdengar gemas dengan kepanikan putrinya itu.
Kara langsung mengerucutkan bibirnya jengkel. "Masalahnya itu cowok ngilang entah ke mana! Kara ditinggal sendirian di sini. Mama ke sini dong, jemput Kara!"
"Mama saja nggak tahu di mana rumah Erlangga, Kara. Kamu kan bisa telepon Erlangga langsung kalau dia nggak ada di rumah, kenapa malah telepon Mama?"
Mendengar pertanyaan itu, wajah Kara langsung menegang. Ia menggigit bibir bawahnya, merutuki kebodohannya sendiri kenapa ia tidak meminta nomor Erlangga terlebih dahulu sebelum menikah. "Masalahnya... Kara nggak punya nomor telepon Erlangga, Ma..."
"Astaga, Kara!" Suara mamanya langsung naik satu oktaf, disusul dengan suara tepukan jidat yang terdengar samar. "Gimana sih kamu ini? Nomor telepon suami sendiri masa nggak punya! Ya udah, kamu tenang dulu di sana, jangan ke mana-mana. Mama akan telepon Tante Lisa sekarang buat minta nomor Erlangga, biar Tante Lisa yang telepon kamu nanti."
"Hmm... Oke deh, cepetan ya, Ma," gumam Kara.
Tut!
Sambungan telepon langsung terputus. Kara menurunkan ponselnya perlahan dan menghela nafas berat.
Tak berselang lama, ponsel di genggamannya tiba-tiba bergetar. Sebuah panggilan dari nomor asing yang tidak dikenal muncul di layar. Kara mengerjapkan matanya sesaat, sebelum wajahnya kembali cerah, karena ia sangat yakin kalau itu telepon dari Tante Lisa.
Tanpa pikir panjang, ia langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan kembali ponsel itu ke telinganya.
"Halo, Kara," suara lembut Tante Lisa terdengar dari balik telepon.
"Halo, Tante."
"Aish, kok panggil Tante. Sekarang Tante ini mama kamu juga. Panggil Mama, ya. Kamu di mana sekarang, Sayang?"
"Iya, Ma. Ini Kara lagi ada di dalam kamar, Kara nggak bisa keluar," adu Kara.
"Yaudah, kamu jangan panik, oke. Mama sudah telepon kepala pelayan di sana buat jemput kamu di kamar. Mama juga sudah coba telepon Erlangga tapi tidak diangkat. Tapi kamu tenang aja, Mama sudah kirim nomor Erlangga ke WhatsApp kamu. Mungkin Erlangga ada di kantor dan dia lagi sibuk."
"Iya, Ma..."
"Dan kamu nggak usah khawatir, nanti kalau Mama ketemu Erlangga, akan Mama marahin habis-habisan tuh anak. Bisa-bisanya dia ninggalin kamu sendirian di dalam kamar."
Mendengar pembelaan itu, Kara langsung menggigit bibir bawahnya. Padahal dia yang bikin ulah tadi pagi, tapi kenapa malah Erlangga yang di salahkan. "Tapi Ma... Sebenarnya..."
"Udah nggak apa-apa, kamu nggak usah jelasin ke Mama. Lima menit lagi kepala pelayan akan datang."
"Baik Ma, terima kasih banyak."
"Iya. Yaudah kalau gitu, kamu jaga diri kamu baik-baik di sana. Kalau sampai Erlangga macam-macam lagi atau buat kamu kesal, kamu langsung ngomong ke Mama biar Mama geprek tuh anak."
Tut!
Setelah sambungan telepon terputus, Kara langsung menghembuskan nafas lega. Ia melemparkan ponselnya ke atas kasur, dan mendudukkan diri di tepi ranjang sambil mengayun-ayunkan kakinya, menunggu jemputan.
Tepat seperti yang dikatakan Lisa tadi, tidak sampai lima menit terdengar suara ketukan dari pintu.
Tok! Tok! Tok!
Kara langsung melompat dari kasur. Dengan senyum yang mulai mengembang, ia berlari kecil ke arah pintu dan langsung memutar knop nya dengan hati-hati.
Ceklek!
Namun, begitu pintu itu terbuka, senyum di wajah Kara seketika menghilang. Tubuhnya mendadak terdiam saat melihat sosok kepala pelayan yang tengah berdiri di hadapannya dengan tubuh yang membungkuk hormat.
Dalam bayangan Kara, kepala pelayan yang dimaksud mertuanya itu adalah seorang wanita paruh baya berusia 50-an, berwajah keibuan, dan memakai seragam longgar yang sopan.
Namun, kenyataan di depannya ini sangat berbanding terbalik 180 derajat.
Kepala pelayan itu ternyata seorang perempuan yang masih sangat muda, mungkin seusia dengannya. Apalagi wajah pelayan ini sangat cantik menurut Kara.
Yang membuat mata Kara melotot adalah seragam maid Prancis yang dikenakannya sangat ketat dan mini, dengan potongan rok di atas lutut, sehingga mengekspos paha mulus serta lekukan tubuhnya yang sintal.
"Selamat pagi, Nyonya Muda. Perkenalkan, saya Martha, kepala pelayan di sini," sapa pelayan itu dengan suara lembut, namun di telinga Kara terdengar amat menyebalkan.
Kara langsung menatap tajam dari ujung rambut hingga ujung kaki ke arah pelayan tersebut. Entah kenapa rasa tidak suka tiba-tiba muncul.
"Ck... Dasar si otak mesum! Bisa-bisanya dia sengaja cari pelayan seseksi ini di rumahnya," batin Kara sinis, sementara tangannya tanpa sadar mengepal erat di sisi dress hitamnya.