Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Dinding yang Tetap Tebal
Atmosfer di sudut ballroom Hotel Mulia mendadak membeku. Cengkeraman tangan Arvin pada kerah jas Dion begitu kuat hingga membuat sepupunya itu menahan napas. Beberapa tamu undangan dan komisaris senior mulai menoleh, menyadari ketegangan yang makin lepas kendali.
Dania dengan sigap melangkah maju. Ia menyentuh lengan jas Arvin pelan, memberikan isyarat tegas.
"Lepaskan dia, Tuan Arvin," bisik Dania dingin dan terkontrol. "Jangan biarkan emosi Anda merusak reputasi perusahaan yang sedang Anda pertahankan."
Arvin menatap Dania sejenak. Manik matanya yang pekat memancarkan kilat emosi yang ditahan rapat. Dengan gerakan lambat yang penuh intimidasi, Arvin melepaskan kerah jas Dion, lalu merapikan setelannya sendiri tanpa sedikit pun memperlihatkan rasa bersalah.
Dion batuk kecil seraya merapikan pakaiannya dengan wajah merah padam karena malu.
"Ibu Helen, Tuan Dion," ujar Arvin dengan suara bariton yang datar dan memotong udara. "Pernikahanku dengan Dania adalah keputusan sah yang diakui hukum. Jika ada pihak yang ingin mempertanyakan kualifikasinya, silakan bawa argumentasi resmi saat sesi audit hari Senin. Permisi."
Tanpa menunggu balasan, Arvin berjalan melewati mereka. Dania menyamai langkah Arvin yang lebar dan tegap, menjaga jarak profesional meski lengan mereka berpapasan di depan kerumunan tamu.
Di dalam sedan mewah yang membelah jalanan Jakarta, hening menjerat rapat. Tidak ada alunan musik, tidak ada percakapan hangat.
Arvin duduk menyilangkan kaki, sibuk meneliti dokumen di tablet kerjanya seolah Dania tidak berada di sampingnya. Sementara Dania menatap ke luar jendela, membiarkan keheningan kaku itu menyelimuti mereka.
"Anda tidak perlu melakukan aksi teater mencengkeram kerah jas tadi," ujar Dania akhirnya, memecah kesunyian dengan suara datar. "Itu membuat posisi Anda terlihat terdesak di mata komisaris."
Tanpa mengalihkan pandangan dari layar tablet, Arvin membalas dingin. "Aku melakukan apa yang perlu dilakukan untuk membungkam Dion. Kamu cukup jalankan peranmu sesuai poin perjanjian."
Dania menyunggingkan senyum tipis yang dingin. "Tentu. Saya selalu ingat peran saya—seorang formalitas bernilai lima puluh satu persen saham."
Arvin menghentikan gerakan jemarinya di atas layar. Ia menoleh perlahan, menatap Dania dengan mata tajam yang tak tersentuh.
"Bagus kalau kamu sadar," sahut Arvin tegas. "Kerja sama kita berdasar pada angka dan kepatuhan pada aturan. Jangan pernah mencampuradukkan profesionalisme ini dengan hal lain."
Dania membalas tatapan itu tanpa gentar sedikit pun. "Tuan Arvin, Anda tidak perlu mengulangi peringatan yang sudah Anda cetak di kertas perjanjian pra-nikah kita."
Setibanya di penthouse, Arvin langsung berjalan menuju ruang kerjanya tanpa mengucap sepatah kata pun. Ia melepas jasnya, melemparnya ke atas sofa, lalu menekan tombol interkom untuk memanggil Rian.
Dania sendiri langsung melangkah menuju kamarnya di ujung koridor, mengunci pintu rapat-rapat.
Arvin berdiri di balik jendela kaca ruang kerjanya, menatap gemerlap kota dari lantai 45. Pelipisnya berdenyut menahan migrain yang mulai menyerang. Saat ia melihat kotak obat di atas mejanya, ia mengabaikannya begitu saja, memilih menahan rasa sakit itu sendirian—sebagaimana ia biasa menyelesaikan seluruh masalah hidupnya tanpa bantuan siapa pun.
Tembok di antara mereka tidak runtuh. Tembok itu justru makin tinggi, tebal, dan kokoh.
***
Hari Jumat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Suasana di selasar ruang ICU Rumah Sakit Medika Utama terasa begitu mencekam. Bau karbol yang menyengat beradu dengan detak jarum jam yang terasa bergerak lambat.
Dania berdiri di balik kaca transparan, memperhatikan tim medis yang bersiap memindahkan adiknya, Rehan, ke dalam ruang operasi utama. Tangannya yang dingin saling meremas kencang.
"Mbak Dania..."
Dania menoleh dan mendapati Rian—sekretaris Arvin—berdiri beberapa meter di belakangnya bersama dua orang pengawal bertubuh tegap.
"Pak Arvin menugaskan kami untuk memastikan keamanan di area koridor ini selama operasi berlangsung," kata Rian sopan. "Pak Arvin sendiri sedang memimpin rapat persiapan audit dengan dewan komisaris di kantor, jadi beliau tidak bisa hadir."
Dania mengangguk paham, sedikit pun tidak berharap Arvin akan meluangkan waktu untuk hadir. "Terima kasih, Mas Rian. Kehadiran tim keamanan saja sudah sangat membantu."
Tepat pukul sembilan pagi, lampu merah di atas pintu ruang operasi menyala. Proses operasi jantung terbuka Rehan resmi dimulai.
Dania duduk sendirian di kursi besi koridor yang dingin. Jam demi jam berlalu bagai siksaan. Setiap detik terasa begitu berharga dan menakutkan.