Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.
Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.
Rania menolak.
Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.
Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.
Sistem ingin Rania mengikuti takdir.
Rania justru memilih menolaknya.
Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 — Yang Tersisa dari Api
Bab 29 — Yang Tersisa dari Api
Bala bantuan dari Wanunggalih tiba menjelang fajar, iring-iringan pasukan berkuda membawa obor yang berkelip di kejauhan seperti bintang yang turun ke bumi. Raja sendiri yang memimpin, wajahnya keras dengan amarah begitu mendengar laporan tentang pengkhianatan penasihat kepercayaannya selama empat puluh tahun.
Rania duduk di atas kuda bersama Aryasatya, kembali menuju reruntuhan kuil yang kini hanya menyisakan puing-puing hangus dan asap tipis yang masih mengepul dari bara yang belum sepenuhnya padam.
Yang mereka temukan di sana jauh dari yang diharapkan.
Pasukan bayangan Paman Surya sudah menghilang, kabur ke dalam hutan begitu menyadari kalah jumlah dengan bala bantuan yang datang. Namun di tengah reruntuhan yang hangus, para pengawal menemukan sesuatu yang membuat Rania berhenti bernapas sejenak.
Secarik kain hijau tua yang terbakar sebagian—kain gaun yang sama yang dikenakan Nyonya Ratih malam itu.
"Bibi Ratih," bisik Rania, turun dari kuda dengan tergesa, memeriksa area di sekitar kain itu dengan putus asa.
Tidak ada tubuh. Tidak ada jejak lain selain kain itu dan bekas pertarungan yang jelas terlihat di sekitar altar—tanah yang terbongkar, beberapa pedang patah tergeletak, dan noda gelap yang mungkin darah, mungkin juga bukan.
"Dia mungkin masih hidup," kata Aryasatya pelan, mencoba memberi secercah harapan meski wajahnya sendiri tidak terlalu yakin. "Atau dibawa pergi oleh Paman Surya sebagai sandera."
Rania menggenggam kain itu erat, rasa bersalah menggerogoti dadanya. "Ini semua karena dia nyoba nolong kita."
"Dia membuat pilihannya sendiri," Aryasatya meletakkan tangan di bahu Rania, suaranya lembut namun tegas. "Seperti yang kukatakan sebelumnya. Jangan menanggung beban itu sendirian."
Raja mendekat, wajahnya penuh ketegangan saat memeriksa reruntuhan itu sendiri. "Paman Surya," gumamnya, suaranya bergetar antara amarah dan ketidakpercayaan. "Empat puluh tahun dia melayani istana ini, dan selama itu pula dia merencanakan pengkhianatan."
"Yang Mulia," Aryasatya berkata, memberi hormat singkat, "kami butuh memperkuat pengamanan di seluruh wilayah. Kalau dia punya pasukan bayangan sebesar yang kami hadapi semalam, kemungkinan ada lebih banyak loyalisnya tersebar di berbagai tempat, termasuk mungkin di dalam istana sendiri."
Raja mengangguk berat, matanya menatap ke arah Rania dengan tatapan yang berbeda dari biasanya—campuran rasa syukur dan kekhawatiran yang mendalam.
"Wening," katanya, "kau sudah berkorban banyak untuk mengungkap semua ini. Aku... berhutang banyak padamu."
Rania tidak tahu harus menjawab apa. Rasa bersalah atas hilangnya Nyonya Ratih masih terlalu berat untuk menerima ucapan terima kasih itu dengan tenang.
***
Perjalanan kembali ke istana terasa jauh lebih berat dari perjalanan berangkat mereka. Rania menunggang kuda dalam diam, pikirannya dipenuhi bayangan Nyonya Ratih yang mengorbankan diri, dan peringatan sistem yang masih bergema di kepalanya.
*Semakin Host ikut campur dalam alur cerita, semakin tidak stabil dunia ini.*
"Kau terlalu diam," Aryasatya akhirnya bersuara, kudanya berjalan beriringan dengan kuda Rania. "Masih mikirin soal sistem?"
Rania mengangguk pelan. "Kalau aku berhenti sekarang—berhenti nyari Paman Surya, berhenti coba selametin Bibi Ratih—apa itu bakal bikin dunia ini lebih stabil? Apa itu artinya aku bisa lebih lama di sini?"
"Tapi kalau kau berhenti," Aryasatya menjawab pelan, "Paman Surya akan terus bebas melakukan apa pun rencananya. Lebih banyak orang akan terluka."
Rania menatapnya, matanya penuh dilema yang tidak pernah ia bayangkan harus ia hadapi. "Jadi aku harus pilih antara nyelametin dunia ini, atau nyelametin waktu aku sendiri buat tetap di sini?"
Aryasatya terdiam cukup lama, matanya menatap jalan di depan mereka dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Aku tidak bisa menjawab itu untukmu," katanya akhirnya, suaranya berat. "Tapi aku tahu satu hal."
"Apa?"
"Kalau kau memilih menyerah sekarang demi memperpanjang waktumu di sini, kau bukan lagi orang yang sama yang kukenal selama ini." Ia menoleh menatap Rania langsung. "Dan aku rasa, kau sendiri tidak akan bisa hidup dengan pilihan itu, apa pun hasilnya untuk dunia ini."
Rania menatapnya lama, merasakan kebenaran dari kata-kata itu menghantam tepat di hatinya. Ia memang bukan orang yang bisa diam saja melihat ketidakadilan terjadi, bahkan jika itu berarti mempercepat waktu perpisahannya dengan dunia yang kini mulai terasa seperti rumah.
"Kau benar," gumamnya pelan, menghela napas panjang. "Aku nggak akan bisa hidup tenang kalau aku pilih diam."
Aryasatya tersenyum tipis, meski ada kesedihan samar di balik senyum itu. "Makanya aku akan membantumu sampai akhir. Apa pun yang terjadi setelahnya."
Rania menatapnya, hatinya dipenuhi perasaan hangat yang bercampur dengan ketakutan akan kehilangan yang mungkin tidak terelakkan.
"Raden," katanya pelan, "makasih. Buat semuanya."
"Jangan berterima kasih dulu," Aryasatya menjawab, senyumnya melebar sedikit. "Perjuangan kita belum selesai. Paman Surya masih di luar sana, dan Bibi Ratih mungkin masih butuh diselamatkan."
Rania mengangguk mantap, menata kembali tekadnya meski hatinya masih berat oleh kehilangan dan ketidakpastian.
Di kejauhan, menara-menara istana Wanunggalih mulai terlihat, siluetnya berdiri kokoh di bawah cahaya fajar yang baru mulai menyingsing—simbol dari rumah yang kini terasa begitu rapuh, namun tetap layak diperjuangkan sampai detik terakhir.
Dan jauh di dalam hutan yang mereka tinggalkan, dalam sebuah gua tersembunyi yang tidak diketahui siapa pun, Nyonya Ratih terbaring lemah, tangannya terikat, namun matanya tetap menyala dengan tekad yang belum padam sepenuhnya.
Di depannya, Paman Surya berdiri menatapnya dengan kekecewaan dingin.
"Kau mengkhianatiku, Ratih," katanya pelan. "Setelah semua yang kuberikan padamu."
"Kau tidak pernah memberiku apa pun," balas Ratih, suaranya lemah namun penuh kebencian. "Kau cuma memanfaatkan dukaku."
Paman Surya menatapnya lama, lalu berbalik menuju mulut gua, meninggalkan dua penjaga bersenjata untuk mengawasinya.
"Istirahatlah," katanya tanpa menoleh. "Kau masih punya peran penting untuk dimainkan sebelum semua ini berakhir."
---