Satu Atap Bersama Mantan
Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.
Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.
Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.
Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.
Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Mie Penghancur Gengsi
Setelah insiden bantingan pintu yang fenomenal pagi tadi, Aira memilih mengurung diri di dalam kamar.
Ia merebahkan tubuhnya di kasur dan menyalakan laptopnya untuk maraton drama Korea. Layar laptop menampilkan adegan-adegan romantis, tapi pikiran Aira malah keluyuran ke mana-mana.
Wajah Devan yang tersenyum manis ke wanita bernama Dara tadi terus saja berputar di kepalanya.
"Hah! Dasar cowok gatel! Semua cewek disenyumin, dikira ganteng kali ya!" gumam Aira sengit sambil melemparkan bantal kecilnya ke ujung kasur.
Waktu terus berjalan sampai jam dinding menunjukkan pukul sebelas siang.
Rasa kesal yang membakar dada Aira perlahan-lahan mulai dikalahkan oleh rasa lapar yang merayap di perutnya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu kamar menggema pelan.
"Ra? Udah puas ngurungnya?" suara Devan meluncur santai dari balik pintu. "Keluar gih, makan siang dulu. Gue udah pesenin makanan nih."
"Gue gak mau! Gue kenyang! Lu makan aja sendiri sama temen cewek lu itu!"
Di luar kamar, Devan yang mendengar itu tersenyum lebar. Nada cemburu di suara Aira itu terlalu kentara buat disembunyiin.
"Yakin gak mau?" Devan menyandarkan bahunya di pintu, nadanya sengaja dibuat penuh pancingan. "Sayang banget lho. Gue udah pesenin Mie Gacoan level tujuh, lengkap pake udang keju, pangsit goreng, plus Es Gobak Sodor favorit lu. Mana minumannya udah gue minta banyakan es batu lagi."
Gerakan tangan Aira yang lagi scroll drama Korea seketika terhenti.
Mie Gacoan? Udang keju? Es Gobak Sodor?
Dulu, tiap kali Aira lagi kesal atau bad mood parah, satu-satunya pelampiasan paling ampuh adalah makan makanan super pedas. Dan Devan... ternyata masih ingat kebiasaan lama itu.
Aira menelan ludah. Liurnya mendadak terkumpul di mulut membayangkan gurih dan pedasnya bumbu mie dengan luaran pangsit kriuk itu. Tapi... gengsinya masih setinggi langit.
"Gue bilang enggak ya enggak!" tolak Aira lagi. "Gak usah sok tahu sama selera gue!"
"Oke deh kalau gak mau," sahut Devan santai di balik pintu. "Berarti udang kejunya yang masih hangat ini gue habisin sendiri ya? Mienya juga entar keburu lembek—"
Kruuukkk... kruuukkk...
Suara keroncongan perut Aira berbunyi nyaring banget.
Aira membelalakkan mata, memegangi perutnya yang berkhianat di saat-saat paling krusial. Dan sialnya lagi... tawa renyah Devan dari balik pintu langsung memenuhi ruangan.
"BHAKAKAK!" Devan tertawa lepas sampai bahunya berguncang. "Suara perut lu kenceng banget gila! Sampe nembus pintu ini! Udah lah, Ra, gengsi lu gak bakal bisa nahan cacing di perut lu yang udah demo itu. Keluar sekarang sebelum udang kejunya gue habisin!"
Wajah Aira langsung memerah padam. Merasa sangat malu dan tertangkap basah, ia menyambar bantalnya, melemparnya ke arah pintu, lalu melangkah lebar, membuka pintu kamar.
Brak!
Aira berdiri di ambang pintu dengan muka ditekuk, menatap Devan yang masih sibuk menertawakannya sambil memegangi perut.
"Bisa diem gak sih lu?!" sembur Aira sengit. "Gue makan ini murni karena kasihan sama perut gue ya! Bukan karena lu yang beliin!"
"Iya, iya, terserah alasan lu apa, Nyonya," Devan mengusap air mata di sudut matanya karena kebanyakan ketawa. Pria itu berbalik dan melangkah menuju meja di ruang tengah. "Sini duduk. Keburu dingin."
Di atas meja makan, beberapa kotak kemasan Mie Gacoan sudah terbuka. Aroma pedas cabai yang menyengat bercampur dengan aroma gurih gorengan udang keju langsung menusuk hidung Aira, membuat air liurnya makin tak tertahan.
Aira menarik kursi dengan kasar lalu duduk di sana. Tanpa membuang waktu, ia langsung menyambar sumpitnya dan mulai melalap mie itu dengan sangat lahap.
Devan duduk di seberangnya, menyandarkan dagunya di atas telapak tangan, memperhatikan cara Aira makan dengan tatapan mata yang penuh perhatian.
Saat Aira sibuk mengunyah pangsit sambil mengunyah mienya yang pedas, beberapa titik bumbu menempel di sudut bibir Aira.
Tangan Devan terulur melintasi meja makan. Ibu jarinya mengusap lembut sudut bibir Aira, membersihkan noda itu.
Gerakan Aira yang lagi mengunyah seketika terhenti.
Aira mendongak, matanya menatap langsung mata Devan yang berjarak sangat dekat. Ia mengerjapkan matanya pelan, lalu bergumam kecil dengan nada canggung, "...Makasih."
Setelah itu, Aira langsung menundukkan kepalanya lagi dan kembali sibuk melalap mienya seolah tidak terjadi apa-apa.
Devan yang mendengar gumaman halus itu seketika melotot tak percaya. Senyumnya langsung terkembang makin lebar.
"Wah, wah, wah..." Devan terkekeh geli, menyandarkan punggungnya di kursi sambil bersedekap. "Barusan gue gak salah denger kan? Nyonya Aira Calista Hermawan bilang 'makasih' ke gue? Sumpah ya, ini keajaiban dunia ke delapan nih. Langit di luar gak mendadak hujan uang kan?"
Aira yang tadinya baru aja mau melunak langsung memasang muka galak lagi. Ia menyambar gelas Es Gobak Sodor-nya, meminumnya seteguk, lalu menatap Devan tajam.
"Gak usah lebay ya lu!" sembur Aira dengan nada sarkas andalannya. "Gue bilang makasih murni karena sopan santun! Jangan ngarep gue bakal bersikap manis sama cowok sok ganteng yang hobi tebar pesona sama cewek lain!"
"Tebar pesona apaan coba?" Devan mengangkat sebelah alisnya, pura-pura polos. "Maksud lu Dara tadi?"
"Gak usah sebut-sebut nama cewek itu di depan gue!" potong Aira ketus, menyuapkan udang keju terakhir ke dalam mulutnya.
Devan menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh renyah. "Iya, iya, Maaf deh kalau bikin lu kepanasan tadi pagi. Nah gitu dong, dimakan sampai habis. Kan makin cantik kalau gak ditekuk gitu mukanya."
Aira mendengus keras, memilih untuk melanjutkan makannya. Devan ikut menyuap mie didepannya.
Sore harinya, sekitar jam empat lewat sedikit, Devan yang sudah rapi memakai kaus polos dan celana jeans melangkah keluar dari kamarnya. Pria itu mendapati Aira yang lagi bersantai di sofa ruang tengah sambil mengeringkan rambutnya.
"Ra, siap-siap gih. Kita keluar sebentar," ujar Devan sambil menyambar kunci mobil di atas meja.
Aira melirik malas tanpa mengalihkan pandangan dari TV. "Kemana? Gue males keluar. Mau rebahan aja."
"Ke supermarket depan. Bahan makanan di kulkas udah mau habis, bumbu-bumbu juga. Kita harus belanja kebutuhan dapur buat seminggu ke depan," terang Devan.
"Iyyy, males banget!" tolak Aira cepat. "Lu aja sana yang belanja! Kenapa harus ngajak-ngajak gue segala sih?"
"Gak ada alasan. Lu kan istri gue, masa belanja bahan dapur gue jalan sendiri kayak bujangan?" Devan melangkah mendekati sofa, langsung menarik tangan Aira tanpa aba-aba. "Udah, gak usah banyak alasan. Pake jaket lu, kita berangkat sekarang."
"Devan! Ih, lepasin gak! Gue belum mandi!" jerit Aira frustrasi saat tubuhnya ditarik paksa berdiri dari sofa.
Tapi seperti biasa, Devan tak mau kalah. Pria itu terus menarik tangan Aira, menyeret cewek itu masuk ke dalam lift dan memaksanya masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di sebuah supermarket yang cukup ramai di daerah Jakarta Selatan, kehebohan kecil mulai terjadi.
Devan mengambil satu troli besar, mendorongnya di samping Aira. Baru saja mereka melangkah lima meter masuk ke area lorong buah dan sayuran segar, kehadiran mereka berdua langsung menarik perhatian beberapa pengunjung—terutama rombongan ibu-ibu yang lagi memilih buah-buahan.
"Aduh, Jeng... liat deh pasangan muda itu!" bisik salah satu ibu-ibu berambut ikal dengan suara yang cukup keras sampai kedengaran oleh Devan dan Aira. "Cakep-cakep banget ya Tuhan! Yang cowok tinggi ganteng kayak artis Korea, yang ceweknya manis banget kayak model majalah!"
Ibu-ibu di sebelahnya ikut menimpali girang. "Iya lho! Cocok banget mereka! Serasi banget pas belanja bareng gini! Pasti baru nikah ya, Mas?" tanya ibu-ibu itu langsung, menyapa Devan dengan ramah.
Devan yang mendapat puji-pujian itu langsung kesenangan. Pria itu menyunggingkan senyuman paling manis dan sopan, lalu tanpa ragu-ragu mendaratkan tangan kirinya di pinggang Aira, menarik tubuh Aira ke sampingnya.
"Iya, Tante. Baru banget nikah minggu lalu," sahut Devan ramah. "Ini istri saya lagi manja banget sore ini, makanya mau nemenin saya belanja."
Mata Aira melotot mendengarnya.
Manja dari mananya gila?! batin Aira histeris.
Ia berusaha melepaskan rangkulan tangan Devan di pinggangnya, tapi Devan justru meremas pinggangnya makin erat sambil memberikan tatapan ancaman yang halus.
"Aduh, manisnyaaa! Langgeng-langgeng ya kalian!" puji ibu-ibu itu lagi sebelum akhirnya berlalu pergi.
Begitu rombongan ibu-ibu itu menjauh, Aira langsung menyikut perut Devan.
"Aduh!" Devan mengaduh pelan, melepas rangkulannya sambil terkekeh.
"Lu apa-apaan sih pake ngerangkul-rangkul segala?!" sembur Aira ketus dengan pipi yang kembali merona merah. "Pake bohong bilang gue manja lagi! Najis banget! Lu yang paksa gue kesini!"
"Manfaatkan kesempatan dong, Ra," goda Devan tertawa santai. "Lagian lu seneng kan dipuji serasi sama gue?"
"Iihh... Gak sudi!" cetus Aira memutar matanya, lalu memilih melangkah mendahului Devan.
Di area bahan segar, Devan menunjukkan sisi dirinya yang sangat bertolak belakang dengan sikap tengilnya.
Pria itu kelihatan sangat ahli dan fokus memilih bahan makanan dapur. Devan dengan teliti memeriksa kesegaran sayuran, memilih potongan daging ayam yang segar, memilih ikan salmon segar, sampai mengecek tanggal kedaluwarsa bumbu-bumbu dapur seperti kecap, saus, dan minyak zaitun.
Melihat Devan sibuk sendiri dengan urusan dapur yang membosankan, Aira merasa jenuh setengah mati.
"Gue mau ke sana ya! Males liat ikan!" seru Aira melambaikan tangannya.
Aira langsung meluncur cepat menuju lorong favoritnya: stan jajanan.
Di lorong ini, Aira berubah menjadi anak kecil yang lepas kendali. Semua cemilan yang kelihatan menarik langsung disambar dari rak..
Ciki? Ambil tiga bungkus.
Biskuit? Ambil empat boks.
Kripik tortilla pedas, permen karet, cokelat batang berukuran jumbo, sampai es krim wadah besar berbagai rasa... semuanya langsung dilempar Aira ke dalam troli kedua yang sengaja ia tarik sendiri.
Hanya dalam waktu dua puluh menit, satu troli penuh sesak oleh deretan jajanan manis dan asin milik Aira.
Saat mereka bertemu kembali di area kasir, Devan yang baru saja mendorong troli berisi bahan masakan dapur langsung tertegun melihat troli yang didorong Aira.
Troli itu dipenuhi oleh jajanan ringan.
Devan memegangi jidatnya, menggelengkan kepalanya melihat tingkah Aira yang kelewat ajaib ini. Pria itu menyandarkan badannya di konter kasir, menatap Aira dengan tatapan usil.
"Ra... lu mau buka minimarket sendiri di rumah apa gimana?" ledek Devan menggeleng-geleng. "Ini jajanan semua isinya. Kapan lu makan sayurnya?"
Aira mendongakkan dagunya dengan gaya paling angkuh yang ia punya. "Suka-suka gue lah! Kan yang bayar pake kartu kredit lu juga!"
Mbak kasir mulai memindai satu per satu barang belanjaan mereka. Suara bip! bip! bip! bergaung bertubi-tubi di area kasir.
Begitu seluruh barang selesai dipindai, layar monitor kasir menampilkan total harga fantastis buat ukuran belanjaan harian: Rp 5.350.000,-.
Devan menghela napas panjang, merogoh dompetnya lalu mengeluarkan kartu kredit hitamnya untuk diserahkan ke mba kasir. Pria itu melirik Aira sambil menggelengkan kepalanya pelan, berpura-pura pasrah dan sedikit kesal dengan kelakuan istrinya yang kelewat konsumtif buat urusan jajanan.
Melihat ekspresi Devan yang menggelengkan kepala dengan raut muka agak pasrah itu, senyuman kemenangan yang sangat manis justru terukir lebar di wajah Aira.
Rasa puas mengalir deras di dada Aira. Rasain lu, Devan! Pokoknya tiap hari bakal gue kuras dompet lu sampai lu kapok ngatur-ngatur hidup gue! batin Aira bersorak riang di dalam hati.
Namun, tanpa disadari Aira... di seberang konter kasir, Devan yang lagi menanda tangani Struk transaksi justru menyunggingkan senyuman paling hangat dari balik punggung Aira.
Bagi Devan, melihat Aira tersenyum puas dan kembali ceria—meski harus dibayar dengan troli penuh jajanan—adalah harga murah yang sangat setimpal untuk dibayar.
semangat thorr💪💪😍