NovelToon NovelToon
Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO

Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'

Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.

Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!

Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!

Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!

Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Ikatan Suci KUA dan Panggilan Masa Lalu

"Kenapa kamu bisa jadi pria bejat seperti ini? Kamu mau mengikuti jejak Papi kamu yang jahat itu, hah?! Mau menghancurkan hidup orang lain?!"

Adit memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenging nyut-nyutan. Ia menatap ibunya dengan tatapan tak percaya. Seumur hidupnya, baru kali ini ia merasakan tangan lembut maminya berubah menjadi senjata yang menyakitkan.

"Maafin Adit, Mi... Adit kayaknya dijebak. Jus jeruk itu... Adit enggak sadar..." isak Adit, mencoba meraih kembali tangan ibunya.

Namun, Vivian dengan cepat menarik tangannya menjauh, menolak sentuhan sang putra.

"Sudah! Mami enggak mau tahu apa pun alasannya!"

Vivian berdiri, tubuhnya gemetar hebat karena amarah dan rasa malu yang bercampur menjadi satu.

"Kalau memang kamu punya nyali untuk tanggung jawab, datang saja sendiri besok. Mami enggak akan datang, apalagi kasih tahu Oma sama Opa kamu. Mami nggak sanggup, Dit! Mami enggak mau jadi orang yang membunuh mereka karena berita memalukan ini!"

Vivian berbalik, melangkah cepat menuju kamarnya tanpa menoleh lagi, meninggalkan Adit yang bersimpuh lemas di samping sofa.

Adit menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menyadari bahwa ia kini benar-benar sendirian menghadapi fajar yang akan mengubah statusnya menjadi seorang suami.

****

Pagi itu, suasana di kantor KUA terasa lebih dingin dari ruang autopsi bagi Adit. Pria itu duduk mematung dengan tatapan mata kosong. Di belakangnya tidak ada Mami, Oma, apalagi Opa. Hanya ada Rahsya, Rakha, dan Alin yang datang dengan raut wajah antara prihatin dan ingin tertawa melihat sang CEO Abraham Company terjebak dalam skandal jus jeruk.

"Sampai kapan kamu mau diam di situ? Cepat duduk!" gertak Kaizen yang auranya sanggup meruntuhkan nyali siapa pun.

Adit tersentak, lalu melangkah kaku menuju meja hijau. Di sampingnya, Sella duduk dengan kebaya putih yang tampak kontras dengan wajahnya yang pucat pasi. Gadis berusia 19 tahun itu terus menunduk, meremas jemarinya sendiri hingga memutih tanpa aliran darah.

Menikah?

Di usianya yang baru menginjak 19 tahun? Ditambah lagi harus menikah dengan pria kaku sekaku robot yang baru ia kenal? Seluruh cita-citanya untuk menjadi seorang desainer internasional di Paris seolah-olah lumat menjadi abu.

"Dit, muka lo jangan horor gitu napa. Ingat, hari ini kita mau kawin, bukan mau dihukum pancung!" bisik Reno yang duduk di sebelah Adit.

Adit menoleh sedikit, sudut matanya bergetar menahan tekanan mental. "Keluarga gue nggak ada yang datang, Ren. Mereka kira gue prank. Gue berasa pengantin ilegal sekarang," balas Adit dengan suara yang nyaris habis. Ia melirik Sella sekilas; gadis itu tampak seperti mahasiswi hilang yang tidak tahu mengapa dia berada di sini.

"Ayo mulai! Saya tidak punya waktu seharian untuk melihat kalian gemetaran!" bentak Kaizen sambil menatap tajam ke arah Pak Penghulu.

Adit menelan ludah dengan susah payah. Saat tiba gilirannya, tangannya yang menjabat Pak Penghulu terasa sedingin es. Ia melirik Sella untuk terakhir kalinya sebelum status lajangnya berubah selamanya. Gadis itu menengadah sedikit, mata bulatnya yang sembab bertemu dengan mata tajam Adit yang penuh tekanan.

"Saudara Raditama Abraham, silakan," tuntun Pak Penghulu.

Adit memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah kecewa maminya. Ia menarik napas panjang, lalu mengucapkannya dalam satu tarikan napas mantap.

"Saya terima nikahnya Thania Arshila Sella Saputra binti Kaizen Saputra dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!"

"SAH!"

Dunia Adit rasanya runtuh saat kata itu menggema keras. Ia resmi menjadi suami dari gadis mahasiswi yang baru kemarin lusa ia temui di kafe Paris. Sella langsung memejamkan mata, setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Bukan tangis haru, tapi tangis kiamat bagi masa muda yang hilang dalam semalam.

Setelah prosesi selesai, Adit mencoba menarik kembali sisa-sisa harga diri eksekutifnya. Ia merapikan jasnya, menatap Kaizen dengan tatapan profesional—berusaha menganggap pernikahan ini sebagai kontrak bisnis yang harus diselesaikan.

"Sesuai perjanjian, Pak... saya sudah bertanggung jawab," ucap Adit kaku. "Tugas saya di Paris masih terbengkalai. Saya harus berangkat lagi sore ini untuk menyelesaikan kontrak yang tertunda."

Kaizen menyandarkan punggung tegap militernya, menatap Adit dengan tatapan komandan batalyon. "Iya, silakan. Tapi ada satu syarat mutlak." Kaizen menunjuk Sella yang masih menunduk lesu.

"Kamu harus bawa Sella. Dia sekarang tanggung jawab kamu sepenuhnya. Terserah kamu mau bawa dia ke ujung dunia mana pun, asal anak saya tidak kamu telantarkan!"

Adit tersentak hebat. Rencana awalnya untuk melarikan diri sendirian ke Paris demi menenangkan diri langsung hancur lebur.

"Ba-baik, Pak. Saya akan urus semuanya."

Sella mendongak kaget, menatap Adit dengan ekspresi horor. "Ke Paris? Sekarang?" bisiknya lirih dengan bibir bergetar.

Adit menatap Sella dengan tatapan datar yang sulit diartikan. "Ya. Siapkan barang-barangmu. Kita berangkat jam empat sore."

"Enak bener lo, Dit. Habis nikah langsung honeymoon ke Menara Eiffel," celoteh Reno jahil tanpa beban moral.

Adit tidak membalas. Ia menatap cincin di jarinya, lalu menatap Sella yang kini tampak bingung harus bersikap seperti apa padanya.

Tidak ada kemesraan, tidak ada senyum bahagia. Hanya ada dua orang asing yang dipaksa berbagi takdir karena satu malam yang salah.

Suasana di depan gerbang KUA yang mulai lengang itu terasa sangat mencekam. Sinar matahari pagi yang cerah sama sekali tidak mampu menghangatkan kecanggungan antara dua pengantin baru tersebut.

"Dit, hati-hati, Bro. Kabarin kalau sudah mendarat!"

Reno menepuk pundak Adit, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan dada.

Adit membenarkan letak jasnya, berusaha memulihkan wibawa CEO-nya yang sempat rontok di depan penghulu tadi.

"Iya. Gue titip kantor, Ren. Jangan sampai aset gue lo acak-acak selagi gue beresin kontrak di Paris," sahut Adit dingin. Ia melirik Sindy sekilas.

"Buat Sindy, gue kasih cuti seminggu. Tapi buat lo, nggak ada kata libur besok."

"Eh, nggak bisa gitu dong! Masa gue kerja rodi pas baru nikah?" protes Reno sewot.

"Lo itu kepala keluarga sekarang, Ren. Tanggung jawab besar," balas Adit telak, membuat Reno seketika bungkam seribu bahasa.

"Ehem!"

Dehaman berat Kaizen memotong perdebatan itu bagai sabetan pedang. Di sampingnya, Nenek Anna sudah berkacak pinggang dengan wajah sebal.

"Heh! Malah asyik curhat! Cepat berangkat!" teriak Nenek Anna ketus. "Kalian sengaja ya mau bikin asam urat saya kambuh karena kelamaan berdiri nungguin drama kalian?"

Aulia menyentuh bahu putri bungsunya yang sejak tadi hanya menunduk lesu. "Sella, kamu juga. Cepat pulang, kemas semua keperluanmu. Kamu berangkat ke Paris sore ini bareng Adit."

Sella langsung mendongak, matanya bulat menatap sang mama dengan protes keras. Ia menyilangkan tangan di dada dan mendengus sebal.

"Ck! Mama ngusir aku ya? Emang Mama rela Sella pergi sama laki-laki asing begini?" Sella melirik Adit dengan tatapan sangsi, seolah pria di sampingnya itu adalah penculik kelas kakap. "Mending Sella di sini aja, Ma. Sella takut ditelantarin, takut nggak dikasih makan!"

Adit nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar tuduhan itu. Digebukin bapaknya di hotel Paris saja belum cukup, sekarang dituduh tukang telantarkan istri? batinnya merana.

"Jangan bicara sembarangan, Sella. Adit itu suamimu sekarang," tegur Aulia sabar.

"Benar," Kaizen menimpali sambil memberikan tatapan maut yang membuat bulu kuduk Adit berdiri. "Kalau dia berani macam-macam atau berbuat kasar padamu di sana, langsung telepon Papa. Biar Papa terbang ke Paris dan gantung dia di puncak Menara Eiffel!"

Adit menelan ludah dengan susah payah. Kerongkongannya mendadak terasa sekering Gurun Sahara. Menikah dengan mahasiswi manja yang hobi baca novel dewasa ternyata paket lengkap dengan ancaman eksekusi mati dari mertua mantan tentara.

"Sudah! Cepat jalan! Kalian mau sampai kapan jadi patung selamat datang di sini?!"

Nenek Anna kembali berteriak sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan kipas cendana.

Adit menatap Sella datar, mencoba menutupi kegugupannya. "Ayo. Jangan sampai kita telat ke bandara untuk kedua kalinya. Saya tidak mau diseret Papa kamu lagi dari parkiran motor."

Sella hanya mendengus kencang, lalu melangkah menuju mobil dengan kaki yang dihentak-hentakkan ke aspal, meninggalkan Adit yang hanya bisa menghela napas panjang meratapi takdir pengasingan mewahnya di Paris. Di dalam hatinya, Sella bertanya-tanya:

Apakah di Paris nanti mereka akan tinggal di kamar yang sama lagi, atau Adit akan mengurungnya di balkon sebagai balasan dendam?

Sella baru saja hendak menyentuh gagang pintu mobil Tesla milik Adit ketika ponsel di tas kecilnya bergetar hebat. Ia merogohnya dengan malas, namun seketika jantungnya mencelos melihat nama yang tertera di layar: Erlangga.

Sella membeku kaku di tempatnya berdiri. Ia menoleh ke belakang dengan gerakan kaku, mendapati Adit sedang berjalan santai beberapa langkah di belakangnya sambil merapikan jam tangan mewahnya. Panik mulai menyerang sistem sarafnya. Sella tahu, jika ia tidak mengangkatnya, Erlangga akan terus mengejarnya dengan ribuan pertanyaan curiga di Jakarta.

Dengan tangan yang gemetar hebat, ia menggeser tombol hijau di layar ponsel dan menempelkan benda itu ke telinganya, berusaha sekuat tenaga mengabaikan keberadaan pria kaku yang baru saja resmi menjadi suaminya beberapa menit yang lalu.

"Halo, Sayang... Kamu baik-baik saja kan di sana?"

Suara Erlangga di seberang telepon terdengar begitu hangat, sangat kontras dengan suasana dingin dan mencekam yang sedang Sella hadapi saat ini di depan gerbang KUA.

"A-ku... aku baik-baik saja kok, Ga," jawab Sella terbata-bata. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, matanya bergerak liar menatap aspal KUA yang mulai memanas akibat terik matahari.

"Syukurlah. Soalnya perasaanku tiba-tiba nggak enak sejak tadi siang," ucap Erlangga, nada suaranya terdengar sangat lega di seberang sana.

"Eh, ngomong-ngomong kamu lagi ngapain sekarang? Lagi jalan-jalan keliling Menara Eiffel ya? Di sana jam berapa sekarang, Sayang?"

1
meimei
lanjut😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!