NovelToon NovelToon
Penemu Rahasia Orang Mati

Penemu Rahasia Orang Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Sentuhan Terakhir untuk Dian

Keheningan melingkupi kamar VIP itu selama beberapa saat. Hanya terdengar hembusan napas terengah-engah dari Arya dan desis lembut pendingin udara. Farhan menghela napas panjang, lalu mengambil kapas dan alkohol dari meja perawatan untuk menghentikan pendarahan kecil di tangan Arya.

Dengan telaten dan sabar, polisi senior itu mengobati tangan Arya.

"Saya paham rasa takutmu, Arya," ujar Farhan pelan, nadanya berganti menjadi sangat hangat. "Rasa takut itu wajar. Sangat wajar untuk orang biasa yang mendadak dihadapkan pada konspirasi berdarah seperti ini. Orang yang tidak takut dalam situasi ini adalah orang gila."

Arya menunduk, dan menatap tetesan darahnya di atas seprai putih.

"Tapi ingat satu hal," lanjut Farhan. "Kamu adalah satu-satunya orang yang tahu kebenaran ini dari awal. Kamu yang melihat luka suntikan di leher Bambang Gunawan saat semua orang menganggapnya serangan jantung. Kamu yang tahu keberadaan kode arsip lantai tiga. Jika kamu menyerah dan lari sekarang, maka iblis-iblis di Nusantara Utama Group itu benar-benar menang."

Arya mengepalkan tangannya perlahan. Ucapan Farhan meresap perlahan ke dalam sanubarinya, dan bertarung melawan rasa takut yang membelenggu jiwanya.

"Jasad Dian Pertiwi... sekarang ada di mana, Pak?" tanya Arya dengan suara parau.

Farhan menatap Arya sejenak. "Jasadnya baru saja dipindahkan ke Instalasi Kedokteran Kehakiman dan Jenazah (IKKJ) rumah sakit ini. Mas Teguh dan tim forensik sedang mempersiapkan proses pemulasaraan setelah visum luar selesai."

Jantung Arya bergetar. "Mbak Dian ada di bawah... di ruang jenazah."

"Pak Farhan..." kata Arya, mengangkat kepalanya seraya menatap Farhan dengan tatapan yang bercampur antara ketakutan, penyesalan, dan sisa-sisa tekad yang belum padam. "Bawa saya ke ruang jenazah."

"Arya, kondisi fisik dan mentalmu—"

"Tolong, Pak!" potong Arya memohon. "Saya harus melihat Mbak Dian. Saya yang harus memandikan dan mengurus jasadnya untuk terakhir kali. Itu satu-satunya hal yang bisa saya lakukan untuk menebus dosa saya pada gadis itu."

Farhan menatap Arya dalam-dalam, seolah mencari keraguan di mata pemuda itu. Namun yang ia temukan adalah keberanian seorang pemulasara yang siap menghadapi takdirnya.

Farhan pun mengangguk pelan. "Baik. Tapi setelah ini, kamu berada di bawah perlindungan penuh tim saya. Kita akan ambil berkas di lantai tiga dan selesaikan permainan ini bersama-sama."

Lantai bawah tanah RSUD Bina Husada selalu terasa lebih dingin dari area mana pun. Aroma khas formalin dan cairan pembersih lantai menyambut kedatangan Arya dan Farhan saat mereka melangkah melewati pintu besi IKKJ.

Teguh, yang sedang menyiapkan peralatan pemulasaraan di samping meja stenlis, terkejut melihat Arya berjalan masuk dengan seragam pasien dan perban di kepala.

"Arya?! Astaga, kamu ngapain ke sini? Kamu kan masih dirawat!" seru Teguh cemas.

"Mas Teguh..." sahut Arya pelan, seraya menghentikan langkahnya di depan meja logam besar di tengah ruangan.

Di atas meja stenlis dingin itu, terbaring sebuah jasad yang ditutupi kain linen putih. Tepi kain itu basah dan agak berlumpur. Arya melangkah mendekat dengan kaki gemetar. Tangannya yang dingin perlahan meraih tepi kain penutup bagian atas, lalu menyikapnya secara perlahan.

Wajah Dian Pertiwi terkuak.

Wajah gadis muda yang dua malam lalu begitu penuh semangat dan keberanian itu kini pucat pasi, dingin, dan tak bernyawa. Terdapat luka memar kebiruan di bagian pipi kiri dan garis lecet di lehernya. Rambut sebahu gadis itu masih agak lembap.

Rasa sesak kembali menghantam dada Arya. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan, dan jatuh tepat di atas kain penutup dada Dian.

"Maafkan saya, Mbak Dian..." bisik Arya sangat pelan, suaranya dipenuhi rasa duka yang mendalam. "Maafkan saya karena tidak bisa melindungi Mbak..."

Arya menarik napas panjang. Tanpa mengenakan sarung tangan latex seperti yang biasa ia lakukan saat ingin mengaktifkan kemampuan magis sentuhannya, Arya perlahan meletakan telapak tangan kanannya di atas dahi dingin Dian Pertiwi.

SREEEKKK!

Seketika, sensasi dingin seperti es menusuk dari telapak tangan Arya, menjalar cepat menembus pembuluh darahnya, dan naik langsung ke dalam pusat otaknya! Dunia di sekitar Arya mendadak melenyap, digantikan oleh kilasan memori terakhir milik Dian sebelum nyawanya merenggang!

Visual penglihatan dimulai.

Suara hujan deras dan guruh menggelegar. Dian berlari sendirian di lorong gang sempit, napasnya terengah-engah dan kacau setelah terpisah dari Arya. Kacamata Dian jatuh dan pecah di atas genangan air, hingga membuat penglihatannya kabur.

Tiba-tiba, dari balik kegelapan lorong depan, sebuah bayangan tegap muncul dan menghantam dada Dian dengan sangat keras!

BANG!

Dian tersungkur ke dalam lumpur, dan menjerit kesakitan seraya memegangi dadanya. Seorang pria berkulit gelap dengan tato naga di lehernya mencengkeram rambut Dian secara kasar dan menegakkan tubuh gadis itu!

"Mana catatannya, Hah?! Mana kode yang diberikan Bambang?!" bentak pria bertato itu dengan suara bengis.

"Ngg... tidak... aku tidak tahu..." ratap Dian terbatuk-batuk darah.

Pria bertato itu merogoh tas kamera Dian, menggeledahnya secara brutal, lalu membuang tas itu ke dalam selokan. "Sialan! Cewek ini tidak membawa apa-apa! Pasti dibawa oleh si tukang mandikan mayat itu!"

Seorang pria berjas rapi yang berdiri di bawah payung hitam melangkah mendekat, dialah pria yang sama dari Nusantara Utama Group!

"Habisi dia," perintah pria berjas itu dengan nada dingin tanpa emosi. "Buat seolah-olah dia ditabrak mobil lalu buang jasadnya ke bawah jembatan Kaliwadas. Jangan tinggalkan jejak."

"Tidak! Ampun! Jangan—"

Pria bertato naga itu mencengkeram leher Dian dengan keras, dan menekan jalur pernapasannya hingga mata Dian membelalak kesakitan.

Sebelum kesadarannya menghilang sepenuhnya dalam kegelapan, Dian sempat merogoh bagian dalam lipatan kaos kakinya, dan menyelipkan sebuah kertas kecil yang dilaminasi ke dalam lapisan sol sepatu kets bagian dalam!

Bisikan terakhir Dian bergemuruh di dalam kepala Arya: "Arya... kode aslinya... ada di sepatuku..."

BZZZZT!

Penglihatan magis itu terputus secara mendadak! Arya tersentak hebat, dan menarik tangannya dari dahi Dian seraya mundur dua langkah hingga tubuhnya menegang! Dahi Arya dipenuhi keringat dingin, napasnya memburu cepat seolah baru saja tenggelam dalam air es.

Farhan dan Teguh yang memperhatikan gerak-gerik Arya langsung mendekat dengan raut wajah heran dan khawatir.

"Arya? Kamu tidak apa-apa?! Muka kamu pucat banget!" seru Teguh seraya memegang lengan Arya.

Farhan menatap Arya dengan mata penuh selidik. "Arya, apa yang kamu lihat... maksud saya, ada apa?"

Arya menyapu keringat di dahinya, lalu menatap Farhan dengan mata yang kini tidak lagi dipenuhi oleh rasa takut. Rasa takut akan kematian yang sempat melumpuhkannya kini telah terkikis habis, berganti menjadi amarah yang bergelora dan tekad baja untuk membalas kematian Dian.

"Pak Farhan..." kata Arya seraya menunjuk ke arah kaki jasad Dian yang masih mengenakan sepatu kets basah. "Lepas sepatu kets sebelah kanan Mbak Dian. Periksa bagian bawah sol dalam sepatunya."

Teguh mengerutkan dahi dan nampak bingung. "Sol sepatu? Untuk apa, Ya?"

Namun Farhan tidak bertanya lagi. Mengikuti naluri penyidik dan kepercayaannya pada petunjuk Arya, Farhan segera mengenakan sarung tangan medis, dan melangkah ke ujung meja, lalu melepaskan sepatu kets basah di kaki kanan Dian. Farhan kemudian menarik sol dalam sepatu berbahan busa itu.

Tepat di balik lapisan busa sol bawah, menempel sebuah kertas lipat kecil bersampul plastik bening yang terlindung dari air!

Farhan mengambil kertas itu dengan pinset medis, lalu membukanya dengan perlahan. Di dalam lembaran kertas itu, tertulis deretan angka enkripsi rekam medis dan sebuah kunci loker arsip beserta tulisan tangan rapi almarhum Bambang Gunawan:

“Bukti Otentik Suap & Pembunuhan Proyek RSUD - Nusantara Utama Group. Loker 07, Gedung Tua Lantai 3.”

Mata Farhan membelalak lebar. "Ini... ini bukti fisik kuncinya!"

Arya melangkah mendekati Farhan, dan menatap kertas bernoda air hujan itu. Bayangan pengkhianatan, kejamnya pembunuhan Bambang dan Dian, serta ancaman yang mengintai dirinya kini terhampar jelas di depan mata.

Rasa takut dalam diri Arya telah mati bersama Dian Pertiwi. Yang tersisa kini hanyalah seorang pemulasara jenazah yang siap menyeret para pembunuh dari kegelapan menuju meja hijau keadilan.

Arya menatap wajah tenang Dian untuk terakhir kalinya, lalu berbalik menatap Iptu Farhan dengan tatapan tajam dan dingin.

"Pak Farhan," ujar Arya dengan suara yang sangat mantap tanpa ada keraguan sedikit pun. "Malam ini... kita naik ke lantai tiga."

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
keren kaya baru ❤️
Aurora: iya kak, semoga bisa menghibur para pembaca 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!