Song Qian adalah keturunan Dewa Leluhur Qing Tian yang lahir dari Menara Qian Kun setelah Tiga Alam diciptakan pada 70 ribu tahun yang lalu. Kelahirannya dianggap sebagai berkah bagi Tiga Alam. Song Qian berguru kepada Qian Gu untuk menguasai tiga elemen kekuatan semesta yang sudah ia miliki sejak lahir.
Namun, Qian Gu dan Song Qian tidak tahu apa saja rintangan yang akan menghampiri mereka di masa depan. Seiring berjalannya waktu, mereka berdua mulai jatuh cinta. Banyaknya rintangan membuat mereka harus berjuang bersama-sama untuk terus bersatu dan melindungi Tiga Alam bersama dengan Dewa Agung lainnya serta melindungi cinta di hati mereka.
Apakah Song Qian dan Qian Gu dapat mencapai tujuan mereka untuk melindungi Tiga Alam sekaligus cinta di hati mereka atau mereka harus mengorbankan segalanya untuk memberikan kedamaian bagi Tiga Alam? Ikuti terus kisahnya!
Dilarang menjiplak novel ini!!!
IG : @bellakristyc_
E-mail : bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan Tiga Hari dan Konspirasi Istana Barat
Pertaruhan Nyawa sang Jenderal dan Bayangan Iblis Lembah Tengkorak
Suara deru angin malam yang membawa sisa-sisa air hujan menggoyang lampion-lampion emas di sepanjang pilar raksasa Aula Emas Kerajaan Jing. Suasana yang tadinya hangat oleh kemewahan pesta perayaan kemenangan seketika mencair menjadi hening yang mencekam. Bau keharuman anggur buah tergeser oleh hawa pembunuh yang dingin, terpancar murni dari sosok jenderal muda yang berdiri tegap di tengah-tengah karpet merah.
Jenderal Song Qian berdiri tanpa senjata di tangannya. Jubah hitam mewahnya telah dilepaskan, menyisakan jubah kelabu militer yang melekat pas di tubuhnya yang tegap. Matanya yang jernih namun tajam memancarkan pendar keberanian murni, menatap lurus ke arah panggung singgasana tanpa ada setitik pun getaran ketakutan.
"Pengecut?!" pekik Menteri Perang Zhao Biao dengan nada suara tinggi yang memecahkan keheningan, matanya melotot berusaha menutupi rasa terkejutnya atas keberanian sang jenderal. "Berani sekali kau menyemburkan kata-kata lancang itu untuk menyebut keputusan bijaksana Yang Mulia Raja dan Ibu Suri sebagai tindakan pengecut?!"
Song Qian memutar badannya secara perlahan. Langkah sepatu militernya bergaung berat di atas lantai batu marmar yang berkilau. Ia berhenti persis beberapa langkah di hadapan Zhao Biao, menatap pria paruh baya berzirah emas itu dengan pendar intimidasi yang sanggup membuat jantung para menteri di belakangnya berdesir panik.
"Apakah memberi seorang putri kerajaan sebagai upeti kurban kepada suku asing bukan tindakan pengecut, Menteri Zhao?!" tembak Song Qian bertubi-tubi, suaranya yang berat dan mantap bergema hingga ke sudut-sudut atap aula.
Song Qian mengangkat dadanya, menunjuk ke arah utara seraya melanjutkan, "Baru dua bulan yang lalu, hamba bersama lima puluh ribu prajurit Kerajaan Jing mempertaruhkan darah, keringat, dan nyawa di Padang Karang Utara yang membeku! Kami bertaruh nyawa memukul mundur puluhan ribu pasukan Barbarian dan memaksa mereka merangkak kembali ke gurun pasir! Kerajaan Jing saat ini berdiri tegak sebagai bangsa pemenang perang!"
Song Qian melangkah satu tapak lebih maju, memandangi barisan menteri sipil yang berdiri ketakutan di samping karpet. Suaranya membahana mengguncang pilar-pilar emas:
"Mengapa sebuah kerajaan pemenang perang harus berlutut gemetar dan menyerahkan seorang putri terbuang untuk menjadi kurban pemuas Raja Barbarian yang sudah tua dan bangkotan?! Jika hari ini kita menyerahkan Putri Gu Qian hanya demi membeli kedamaian palsu di musim dingin... lalu untuk apa ribuan prajurit kita tewas bersimbah darah dan membusuk di perbatasan utara?!"
Keheningan melumpuhkan seluruh Aula Emas. Tak ada satu pun menteri yang sanggup membuka mulut untuk membalas. Banyak pejabat muda dan jenderal-jenderal senior yang berdiri di barisan belakang seketika menundukkan kepala.
Darah militer mereka yang sempat padam oleh intrik politik istana kini kembali membara. Kata-kata puitis namun tajam dari Song Qian telah menghantam nurani, harga diri, dan rasa bangga militer mereka dengan sangat telak.
Di atas singgasana utama, Raja Jing tertegun membisu. Cangkir giok di tangannya terlepas pelan. Keberanian, kejujuran, dan ketajaman argumen Song Qian menyadarkannya akan kebenaran hakiki yang selama ini ditutupi oleh ketakutan serta bujukan manis para menteri sipil.
"Song Qian..." tutur Raja Jing dengan nada suara berat yang sarat akan pertimbangan mendalam. "Bahkan jika seluruh ucapanmu itu ada benarnya... kenyataan di lapangan tidak bisa diabaikan. Raja Barbarian Utara telah menghimpun kembali delapan puluh ribu pasukan garis keras di perbatasan. Tanpa adanya aliansi pernikahan politik ini, mereka mengancam akan merobek gerbang perbatasan saat salju pertama turun dalam hitungan hari. Pasukanmu yang baru kembali dari utara butuh waktu setidaknya satu bulan untuk memulihkan stamina dan logistik. Bagaimana mungkin kau bisa menjamin keselamatan perbatasan tanpa adanya pernikahan politik ini?"
Menteri Zhao Biao yang menyadari kebimbangan sang raja segera menyunggingkan senyum licik, berusaha memanipulasi situasi untuk memojokkan Song Qian ke ujung jurang.
"Benar sekali apa yang disampaikan Yang Mulia!" potong Menteri Zhao dengan nada penuh intrik. "Jika Jenderal Song begitu keras kepala menolak pernikahan ini dan menganggap dirinya paling benar, apakah Jenderal Song sanggup menjamin dengan lehernya sendiri bahwa suku Barbarian tidak akan membantai rakyat perbatasan kita?!"
Song Qian tidak bergeming sedikit pun. Wajah tampannya tetap tenang bagaikan telaga purba. Dengan gerakan yang sangat mantap dan anggun, ia merogoh bagian dalam jubah militernya.
Sebuah benda berukir naga emas bertuliskan mantra perang dikeluarkan dari balik dadanya, Stempel Komando Militer Perang Utara. Benda pusaka tersebut adalah simbol kekuasaan tertinggi yang memegang otoritas dan kesetiaan mutlak dari lima puluh ribu prajurit tempur Kerajaan Jing.
Song Qian mengangkat stempel emas itu tinggi-tinggi di atas kepalanya, membiarkan pendar cahaya lampion memantul gagah di permukaannya.
"Hamba, Song Qian, menyertakan stempel komando tertinggi ini beserta nyawa hamba sebagai jaminannya!" seru Song Qian dengan ketetapan hati yang menggetarkan seluruh jiwa penghuni aula.
"Beri hamba waktu tiga hari!" lanjut Song Qian lantang, suaranya memotong seluruh keraguan di udara. "Hamba sendiri yang akan berangkat menembus badai ke perbatasan utara malam ini juga! Hamba berjanji akan memusnahkan sarang kelompok garis keras Barbarian dan memaksa Raja Barbarian menandatangani surat perjanjian damai tanpa syarat!"
BUM!
Gumpalan gempar seketika meledak di antara para pejabat istana! Bisik-bisik panik merebak cepat. Menempuh perjalanan ratusan mil ke perbatasan utara, menerobos benteng pertahanan musuh, dan memutus ancaman delapan puluh ribu pasukan Barbarian hanya dalam kurun waktu tiga hari adalah sebuah tugas yang teramat gila dan mustahil untuk dilakukan oleh manusia fana mana pun.
Ibu Suri Meng yang duduk di samping raja menyipitkan matanya yang penuh racun politik. Senyuman culas terkembang tipis di wajahnya yang berhias bedak tebal.
"Lalu... bagaimana jika kau gagal memenuhi janjimu dalam waktu tiga hari tersebut, Song Qian?" tanya Ibu Suri Meng dengan nada dingin dan penuh tekanan kejam.
Song Qian menatap lurus ke dalam manik mata Ibu Suri tanpa berkedip sedikit pun.
"Jika dalam waktu tiga hari hamba gagal membawa surat perjanjian damai berstempel darah Raja Barbarian tersebut..." tegas Song Qian tanpa ragu, "...hamba bersedia dipenggal di hadapan seluruh rakyat Kota Jing'an, dan stempel komando militer ini boleh dicabut serta diserahkan sepenuhnya dari keluarga Song!"
Menteri Zhao Biao hampir tak sanggup menyembunyikan rasa gembiranya. Ia melirik Ibu Suri Meng seraya mengangguk pelan, memberikan isyarat bahwa taruhan mati ini adalah kesempatan emas yang tak boleh dilewatkan untuk memusnahkan karier militer dan nyawa Song Qian selamanya.
"Baik!" putus Ibu Suri Meng dengan suara nyaring yang meresmikan keputusan tersebut. "Kami mengabulkan permohonan gila ini! Kau diberi waktu tepat tiga hari! Namun ingat... untuk memastikan kau tidak melarikan diri atau membelot ke suku asing, Putri Gu Qian akan dipindahkan dan dikurung di Penjara Bawah Tanah Istana di bawah pengawasan langsung Pengawal Zirah Hitam!"
Mendengar nama tempat itu disebut, rahang Song Qian mengencang. Tangannya mengepal rapat di samping tubuh hingga buku-buku jarinya memutih.
Penjara Bawah Tanah Istana adalah tempat paling lembap, dingin, dan gelap yang dirancang khusus untuk mengurung para tahanan berat. Namun, Song Qian menyadari bahwa ini adalah satu-satunya kompromi politik yang bisa dicapai malam ini untuk mencegah Putri Gu Qian diseret dan diserahkan ke perbatasan utara.
Song Qian menatap Raja Jing, lalu membungkukkan tubuhnya memberikan penghormatan terakhir.
"Hamba menerima seluruh syarat tersebut!" ucap Song Qian mantap. "Tiga hari dari sekarang... hamba akan kembali ke Aula Emas ini membawa kemenangan murni bagi Kerajaan Jing!"
Malam kian larut membungkus Kota Jing'an. Hujan gerimis yang tadinya mengguyur bumi perlahan-lahan mereda, menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke dalam sumsum tulang.
Di balik lorong gelap yang menghubungkan Istana Leng Guang dengan area Penjara Bawah Tanah, Song Qian berdiri menyandarkan tubuhnya pada pilar batu. Matanya menatap lurus ke arah sosok Putri Gu Qian yang sedang dikawal ketat oleh belasan Pengawal Zirah Hitam.
Langkah kaki sang putri terhenti tepat di depan pintu besi penjara yang menganga gelap. Sebelum melangkah masuk menuruni tangga batu yang membekukan, Putri Gu Qian memutar badannya secara perlahan.
Jubah hitam tebal milik Song Qian masih terbalut rapi di tubuhnya yang anggun. Kedua mata bening sang putri menatap Song Qian dari kejauhan, sebuah tatapan yang memancarkan kepercayaan, kehangatan, dan keteguhan cinta yang tak terbatas oleh tembok batu istana.
"Song Qian..." bisik Gu Qian tanpa suara dari balik bibirnya yang pucat. "Aku akan menunggumu... berapa pun lamanya."
Song Qian mengangguk pelan. Jemari tangannya menyentuh lembut gagang pedang perak di pinggangnya, membalas bisikan itu di dalam lubuk jiwanya.
Tunggulah aku, Gu Qian... Dalam waktu tiga hari, aku akan merobek seluruh kegelapan ini dan membawamu melihat surya kembali.
Namun, tatkala sosok Putri Gu Qian menghilang ditelan pintu besi yang tertutup berat, Song Qian tidak menyadari adanya sepasang mata merah menyala yang sedang mengintainya dari dalam bayangan kegelapan istana.
Di sudut paviliun rahasia Istana Barat—sebuah bangunan terlarang yang jarang dilalui oleh prajurit ronda—Menteri Perang Zhao Biao berdiri tenang di balik pilar. Di hadapannya, berdiri sesosok pria tinggi bergaun jubah hitam pekat yang mengenakan topeng tengkorak besi.
Dari tubuh pria bertopeng tersebut, memancar aroma miasma busuk yang amat pekat dan pendar aura kegelapan yang sangat dikenal—sisa-sisa sihir dari bangsa Iblis yang berhasil menyusup dan menyamar ke dalam tatanan Dunia Fana.
"Apakah semuanya sudah diatur dengan rapi, Utusan Iblis?" bisik Menteri Zhao dengan suara serak yang dipenuhi ketakutan bercampur keserakahan.
Pria bertopeng tengkorak menyunggingkan tawa gila yang amat dingin dan bergaung gaib, membuat api lilin di dinding paviliun seketika memadam.
"Serahkan segalanya padaku, Menteri Zhao..." desis pria bertopeng tersebut seraya mengelus keris beracun di tangannya. "Jenderal muda yang kalian banggakan itu tidak akan pernah sampai menapakkan kakinya di perbatasan utara. Malam ini... saat ia menembus kabut tebal di Lembah Tengkorak, racun darah milik suku Iblis kami akan memastikan Song Qian mati membusuk dan kehancuran jiwanya akan menjadi persembahan manis bagi Yang Mulia!"
Penyergapan berdarah di Lembah Tengkorak! Mampukah Jenderal Song Qian bertahan hidup tatkala dikepung oleh ratusan pembunuh bayaran Kerajaan yang telah disuntiki racun sihir gila milik suku Iblis? Dan keajaiban refleks Tiga Elemen seperti apakah yang akan mendadak bangkit secara tak sadar dari dalam darah murni Qing Tian di tubuh Song Qian tatkala nyawa fananya berada di ujung tanduk kematian?
Bersambung........
Halo semuanya, terima kasih sudah mampir ke novel ini. Kalau kalian suka dengan ceritanya, boleh kasih like, vote, tips, dan tambahkan novel ini ke favorit ya. Kalau ingin memberikan kritik dan saran, silakan tulis di kolom komentar ya. Ikuti terus kisah Song Qian sampai selesai!