NovelToon NovelToon
Istri Gendut Yang Diceraikan

Istri Gendut Yang Diceraikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Dendam Kesumat / Cewek Gendut
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.

Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.

Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.

Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.

Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...

“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Juta untuk Sebulan

Lampu teras masih menyala ketika mobil Rizal berhenti di halaman.

Ia mematikan mesin, tapi tidak langsung turun. Beberapa detik ia duduk menatap jendela rumahnya yang redup, memikirkan kalimat pembuka yang tak kunjung terdengar masuk akal. Akhirnya ia menyerah, mengambil bungkusan ikan bakar dari kursi belakang, lalu menutupnya kembali.

Pintu depan tidak terkunci. Di ruang tamu, Danti sedang duduk bersila di sofa dengan laptop tua di pangkuan dan secangkir teh di sampingnya. Ia tak menoleh ketika Rizal masuk.

"Dan."

"Hm."

Rizal melepas sepatu, lalu mendekat dan mengeluarkan amplop tipis dari saku. Ia menaruhnya di atas meja dengan gerakan yang dibuat sesantai mungkin.

"Ini uang belanja bulan ini."

Danti melirik amplop itu. Dengan ujung jari, ia membukanya, menghitung lembarannya dalam hitungan detik, lalu menutupnya kembali. Alisnya terangkat perlahan.

"Satu juta?"

"Iya."

"Untuk sebulan?"

"Itu cukup kok kalau kamu pintar mengatur."

Danti menghela napas panjang, bukan helaan lelah seperti dulu, melainkan helaan seseorang yang sudah menebak jawabannya dan hanya ingin memastikan. "Mas, satu juta itu habis untuk beras, minyak, telur, dan gas saja. Itu belum sayur, belum lauk, belum sabun, belum listrik, air, internet..."

"Kamu itu selalu ngeluh!" Suara Rizal langsung naik. "Aku udah kasih uang, masih juga protes! Kamu pikir aku nyetak uang?"

"Aku nggak minta kamu nyetak uang. Aku cuma bilang itu nggak cukup."

"Ibu bilang cukup!"

"Ibu kamu nggak tinggal di sini."

Rizal membuka mulut, tapi tak ada balasan yang pantas. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras, dan jari telunjuknya sudah terangkat, siap menuding.

Danti tak menunggunya. Ia mengambil amplop itu, berdiri, lalu menaruhnya kembali ke telapak tangan Rizal.

"Kalau begitu, Mas yang pegang."

"Apa maksudmu?"

"Aku nggak mau ngurus keuangan rumah tangga lagi." Suaranya tenang, tanpa getar. "Kalau uang segini cukup menurut Mas dan Ibu, silakan Mas yang atur. Belanja sendiri, hitung sendiri, bayar tagihan sendiri. Aku sudah capek pusing mikirin gimana caranya bikin uang yang nggak cukup jadi cukup."

"Danti!"

"Selamat malam, Mas."

Ia menutup laptopnya, membawa cangkir tehnya ke dapur, lalu masuk kamar. Pintu tertutup pelan. Tak ada bantingan, tak ada tangis. Danti merebahkan diri, menarik selimut sampai ke dagu dan memejamkan mata. Berdebat dengan orang yang tak mau mendengar sama saja dengan mengisi kendi yang bocor. Dan malam ini, ia memilih tidur.

---

Pagi datang dengan keheningan yang janggal.

Rizal terbangun oleh alarm ponselnya, mengerjap lalu mengendus. Tak ada aroma bawang putih. Tak ada bau kopi. Tak ada desis minyak dari dapur. Hanya udara pagi yang dingin dan sepi.

Ia bangkit, mandi dengan terburu-buru, mengenakan kemeja yang kali ini ia setrika sendiri dengan hasil yang kurang memuaskan, lalu melangkah ke dapur sambil mengancingkan lengan baju.

Meja makan kosong. Tudung saji terbuka, tak ada apa-apa di bawahnya. Teko kopi bersih dan terbalik di rak piring.

Danti duduk di sudut meja, mengenakan daster bersih, rambut dikuncir rapi, menyendok bubur instan dari sebuah mangkuk kecil. Di sampingnya ada segelas teh hangat. Hanya satu mangkuk. Hanya satu gelas.

"Mana sarapan?" tanya Rizal.

Danti menelan suapannya, lalu menatapnya dengan wajah tenang. "Nggak ada."

"Kopiku?"

"Nggak ada juga."

"Kenapa?"

"Karena bahan-bahannya nggak ada, Mas." Danti menunjuk ke arah lemari dapur dengan sendok. "Kopinya tinggal sedikit. Gulanya habis. Beras tinggal satu liter. Telur nol. Kalau Mas mau sarapan dan kopi, sediakan dulu belanjaannya."

Rizal terdiam sejenak, lalu merogoh dompet dengan gerakan kasar dan menarik beberapa lembar uang. Ia menyodorkannya ke arah Danti.

"Nih. Belanja sana. Masak."

Danti menatap uang itu, lalu menatap wajah suaminya. Ia tersenyum tipis dan menggeleng.

"Nggak, Mas."

"Apa lagi sekarang!"p

"Semalam kan sudah kubilang. Aku nggak mau lagi mengelola keuangan rumah tangga." Ia kembali menyuap buburnya. "Uang itu bukan masalahku sekarang. Kalau Mas mau makan, Mas yang belanja."

"Kamu serius?"

"Seserius yang Mas minta kemarin."

Rizal menatap jam dinding, dan jantungnya melompat. Pukul tujuh empat puluh. Rapat pagi dimulai jam delapan, dan perjalanan ke kantor memakan waktu hampir empat puluh menit kalau lancar. Tak mungkin ia sempat belanja, memasak, lalu berangkat.

"Ya Tuhan..." Ia mengusap wajahnya. "Aku udah telat. Nggak ada waktu."

Danti diam.

"Oke, oke." Rizal menjejalkan uang itu kembali ke dompet dan menyambar tas kerja. "Aku belanja sehabis kerja. Nanti sore. Kita bahas lagi pas aku pulang."

"Hmm," sahut Danti, tanpa menoleh.

Pintu depan terbanting. Mobil menyala, lalu menjauh.

Danti menghabiskan sisa buburnya dengan tenang, mencuci mangkuknya, lalu membuka laptop.

Pekerjaan itu ia dapatkan dari sebuah lowongan yang ia temukan beberapa hari lalu... input data dan transkripsi dokumen, dibayar per halaman, bisa dikerjakan kapan saja asal tenggat terpenuhi. Gajinya tidak besar. Tapi setiap kali ia menyelesaikan satu berkas dan melihat angka kecil bertambah di akun daringnya, dadanya terasa hangat. Itu bukan sekadar uang. Itu bukti bahwa tangannya masih bisa menghasilkan sesuatu.

Jemarinya berlari di atas papan ketik. Kecepatan mengetiknya kembali sedikit demi sedikit, dan rasa percaya dirinya mengikuti. Satu halaman. Lima halaman. Dua puluh halaman. Ketika jarum jam menunjuk pukul sebelas, ia menekan tombol kirim dan bersandar di kursi dengan napas lega.

Selesai.

Ponselnya langsung berdering. Di layar tertera nama yang membuatnya tersenyum otomatis.

"Danti! Sudah bangun belum?"

"Nadia, ini sudah jam sebelas."

"Ya kali aja kamu masih molor!" Tawa renyah Nadia memenuhi telinganya. "Eh, dengar. Aku baru gajian tadi pagi, dan aku nggak bisa nahan diri. Aku butuh teman belanja. Ayo ke mall! Aku yang traktir!"

"Nad, aku nggak enak..."

"Nggak ada nggak enak. Ini perintah. Kutunggu di depan butik besar yang ada air mancurnya, jam setengah satu. Awas kalau nggak datang."

"Iya, iya."

Sambungan terputus. Danti menatap layar ponselnya, lalu tertawa pelan. Ia sudah berdiri sebelum menyadarinya, membuka lemari, memilih gaun sederhana berwarna biru dongker yang jatuh lembut di pinggang, lalu mengoleskan pelembap dan lipstik tipis di depan cermin.

Dua puluh menit kemudian, ia sudah berada di atas angkot.

---

Mall itu seperti dunia lain bagi Danti. Lantai marmer berkilau, musik lembut mengalun dari pengeras suara, dan aroma kopi, parfum, serta roti panggang bercampur di udara. Nadia sudah menunggu di dekat air mancur dengan blus putih dan celana kulot, melambaikan tangan seperti anak kecil.

Mereka makan siang lebih dulu di restoran keluarga. Nadia memesan nasi ayam kremes, tumis kangkung, dan es jeruk besar, lalu menyodorkan menu ke arah Danti tanpa bertanya apakah ia mau. Kali ini Danti memilih sendiri tanpa menoleh, tanpa ragu, tanpa menghitung dalam hati. Ia makan sampai habis, lalu menambah es krim. Nadia memperhatikannya dengan senyum puas yang tak berusaha ia sembunyikan.

Setelah itu mereka berkeliling. Toko pakaian, toko sepatu, toko buku, toko aksesori. Nadia mencoba empat jaket dan akhirnya membeli satu. Danti menolak membeli apa pun, tapi Nadia menyeretnya ke sebuah butik kecil dan menyodorkan gaun hijau zamrud berpotongan A.

"Coba."

"Nad, aku nggak..."

"Coba dulu."

Danti keluar dari ruang ganti dengan pipi merah. Gaun itu jatuh sempurna di tubuhnya, tidak mencetak, tidak sesak, hanya membingkai lekuknya dengan lembut. Nadia bertepuk tangan kecil, dan pramuniaga ikut memuji. Di cermin, Danti menatap perempuan yang balas menatapnya, dan untuk pertama kalinya ia tidak mencari kekurangan.

"Ini cantik," bisiknya.

"Kamu cantik," koreksi Nadia. "Gaunnya cuma beruntung."

Mereka tertawa, dan Danti membayar satu pasang anting sederhana dari honor pertamanya hari itu, hasil kerja yang tak seberapa tapi terasa seperti medali. Mereka duduk berjam-jam di kafe lantai tiga, menikmati kue, berbagi cerita, dan menertawakan hal-hal sepele. Dunia terasa lapang. Waktu berlalu tanpa terasa.

Matahari sudah condong ke barat ketika Danti sampai di rumah.

Mobil Rizal sudah ada di halaman.

Danti berhenti sejenak di depan pintu, lalu masuk dengan langkah tenang sambil membawa tas belanja kecil di tangan.

Rizal duduk di ruang makan dengan kemeja kusut dan dasi longgar. Di hadapannya, meja makan nyaris tak terlihat. Kantong-kantong plastik bertumpuk di sana... sekarung beras kecil, minyak, telur, sayur-mayur, ayam potong, ikan, tempe, bumbu dapur, detergen, sabun mandi, pasta gigi. Struk belanja panjang tergeletak di samping tangannya, kusut karena terlalu sering diremas.

Ia mengangkat wajah begitu Danti masuk, dan matanya langsung menyala.

"Dari mana kamu?"

"Jalan-jalan sama Nadia."

"Seharian?"

"Iya."

Rizal mendengus, lalu menunjuk meja dengan gerakan dramatis. "Lihat ini! Lihat belanjaan ini! Baru segini aja, uangku habis lebih dari satu juta! Satu juta lebih, Dan! Cuma buat beli sembako! Kamu tahu nggak betapa gilanya itu?"

Danti meletakkan tas belanjanya di kursi, melirik tumpukan kantong, lalu menatap suaminya dan tersenyum.

Bukan senyum marah, bukan pula senyum manis. Senyum itu tenang dan sedikit geli, seperti seseorang yang akhirnya melihat teka-teki lama terpecahkan.

"Segitu, Mas?" katanya lembut. "Segitu cuma cukup untuk dua minggu."

"Dua minggu?"

"Iya, Mas. Dua minggu. Itu pun kalau hemat dan nggak ada tamu." Ia mendekat, mengambil sebuah kantong dan mengintip isinya. "Oh iya, jangan lupa ya. Beras ini kecil, paling tiga hari habis. Nanti beli lagi. Terus bayar listrik, bayar air, dan bayar internet. Semuanya jatuh tempo minggu ini."

Rizal menatapnya, dan wajahnya berubah perlahan dari merah menjadi pucat.

"Listrik?" gumamnya. "Air? Internet?"

"Iya. Listrik sekitar enam ratus ribu bulan ini karena kipas dan kulkas nyala terus. Air tiga ratus ribu. Internet tiga ratus lima puluh ribu." Danti menghitung dengan jari, santai seperti sedang membacakan jadwal pelajaran. "Belum gas, belum bensin buat mobilmu, belum..."

"Cukup, cukup!" Rizal memegangi kepalanya dengan kedua tangan. "Aku mau gila."

Ia membuka dompetnya, dan isinya membuat tenggorokannya tercekat. Beberapa lembar uang kecil dan sebuah struk ATM yang sudah lecek. Uang gajinya sebulan, yang tadi pagi masih terasa tebal, kini menyisakan lembaran-lembaran tipis yang tak akan bertahan sampai pertengahan bulan.

Danti menatap pemandangan itu dengan puas. Ia melipat tangan di dada dan memiringkan kepala.

"Lho, kenapa, Mas?" tanyanya dengan nada manis yang pura-pura polos. "Kemarin Mas yang bilang kan, satu juta itu cukup untuk satu bulan. Kalau aku pintar mengatur."

Rizal mengangkat wajah. Ia ingin membalas, ingin membentak, tapi lidahnya terasa kelu. Ia melirik tumpukan belanjaan, lalu struk di tangannya, lalu Danti. Dan ketika akhirnya ia bicara, suaranya keluar sangat pelan, nyaris berbisik.

"Itu... itu bukan aku yang bilang."

"Oh?"

"Itu Ibu." Rizal menelan ludah. "Ibu bilang, dulu dengan uang satu juta, Ibu bisa kasih makan lima orang. Satu bulan penuh."

Hening.

Danti mengerjap sekali. Dua kali. Lalu ia menarik napas dalam, mengangguk-angguk pelan seperti seseorang yang baru mendengar penjelasan ilmiah yang sangat meyakinkan.

"Wah," katanya. "Hebat sekali Ibu."

"Iya, kan..."

"Aku juga pernah dengar cerita lain, Mas." Danti menatap langit-langit seolah mengingat sesuatu yang jauh. "Katanya zaman penjajahan Belanda dulu, dengan uang satu juta, orang bisa beli tanah berhektar-hektar lho."

Kata-kata itu menggantung di ruang makan yang sunyi.

Rizal membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi. Wajahnya sekarang memerah sampai ke telinga, karena kalimat itu bukan sekadar sindiran, tapi cermin yang akhirnya diarahkan tepat ke mukanya.

Danti mengambil tas belanja kecilnya, menyelipkan anting yang baru dibelinya ke dalam saku, lalu melangkah menuju kamar dengan langkah ringan.

"Sayur-sayurnya jangan lupa dimasukkan ke kulkas, Mas," ujarnya tanpa menoleh. "Nanti layu."

Pintu kamar tertutup pelan.

Di meja makan, di antara kantong-kantong plastik dan struk yang kusut, Rizal duduk terpaku. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar kalah. Bukan oleh teriakan, bukan oleh ancaman, melainkan oleh angka-angka di selembar kertas belanja.

1
Muft Smoker
gmn kabar tetangga yx ,, klo liat Danti Skrang jd model🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
kamu hebat danti 🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
ryuka
Iya benar danti itu kamu.. 😍😍😍🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
bodoh nya kamu rizal.. bodoh bodoh.. 🫠🫠
Kusii Yaati
haduh lama" kok ikutan esmosi aq ....
Kusii Yaati
kalau aq yg jadi danti, udah ku ajak gelut si Rizal, mulutnya lemes banget, nggak ada otak juga
Ayudya
ayo Danti jangan mau jadi hinaan buktikan kalau juga bisa cantik dan seksi🤣🤣🤣🤣🤣
ryuka
dantiii kamu kereeennm

Nadia kamu juga kerennn 😍😍😍😍😍😍😍😍
Muft Smoker
skarang waktu ny buat dunia mu bahagia Danti ,, semangat trus
ryuka
semangat dantii... kamu harua bahagia.. tinggalin itu si rizall bodoh di dasar laut selama nya
Muft Smoker
menyesal banget yx zal ,, tp sayang ny smua udh trlambat ,,, tu laa laki2 yg gx bisa tegas dg keputusan ny ,, dgerin omongan org tua boleh ,, malah d anjur kan ,, tp sebagi laki2 dan kepala rumah tangga ,, harus bisa memilih dan memilah mana yg baik buat rumah tangga mu ,, mana yg justru menghancurkan rumah tangga mu ,,
ryuka
wahahahaha.. aku juga tertawa bersamamu dantiii 😍😍🤣😍😍🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
udh cerai zal ,, keinginan mu telah terkabul ,, silahkan km melangkah ke jenjang yg lbih serius ,, kn udh punya calon ny ,, yg cantik , lngsing dan kaya seperti mau ibu mu😏
ryuka
wkwkwkwk.. mampus kamu rizal.. menyesal menyesal deh kamu ampe ke dasar jurang
Muft Smoker
jgn menyesal yx Rizal ,, istrii mu Danti udh brubah dan tdk terjangkau lgi😏😏
Muft Smoker
pesen yg kaya bude hestiii 1 ,, buat jd mertua kuuuuu ,,
ryuka
bude hestiii kamu kereeennnnn 🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Muft Smoker
cuma bude Hesti kyaknya yg manusia sejati ,, sisa ny cuma makhluk tak kasat mata😒😒😒😒
ryuka
bude hesttiiii cuma kamu yg waras di keluarga itu 🔥🔥🔥🔥🔥🔥 hebaaattt
Muft Smoker
ayoo dantii ,, tegakan kepala mu ,, jgn mau trus di hina dan di rendah kan oleh keluarga Rizal ,, biar hanya mereka yg tenggelam dlm kehancuran ,, sedangkan km harus ttap terbang tinggi ,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!