Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.
Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).
Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.
"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."
Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 005 - Kunci Gudang Obat
Langkah kaki juru masak bertubuh gempal itu terhenti dua depa di depan tumpukan kayu bakar. Pria itu menyeka keringat berminyak di dahinya dengan lengan celemek, lalu meludah ke lantai tanah. Bau kubis mendidih yang kembali meluap dari kuali tampaknya mengalihkan perhatiannya. Sambil menggerutu kasar tentang mutu kayu bakar yang terlalu basah, ia berbalik menuju meja kerjanya.
Gu Yuan yang berjongkok di balik bayangan kayu menahan desah napasnya. Jemari tangan kanannya perlahan memetik selembar daun pahit kering dari ikatan rami di sampingnya. Mengikuti pelajaran dari simulasi yang mematikan tadi, ia tidak meremas segenggam penuh; ia hanya mencubit seujung kuku serbuk daun pahit yang paling kering dan rapuh, lalu menggulungnya di antara dua ruas jari.
Takaran ini tidak akan mengubah aroma udara. Rasa pahitnya yang samar akan tenggelam sepenuhnya oleh rasa asam keras tuak beras murahan yang disimpan di sudut lantai.
Dari arah menara utama Sekte Lembah Giok Hitam, gema lonceng tengah hari akhirnya berdentang.
Deng… Deng… Deng…
Tiga dentang panjang bergema membelah lembah, menandakan pergantian regu jaga menara panah dan saat pembagian ransum siang bagi seluruh barak luar.
Mendengar lonceng tersebut, juru masak itu meletakkan sodok kayunya di atas kuali dan meregangkan punggungnya yang pegal. Matanya langsung melirik ke guci tanah liat di dekat kakinya. Dengan gerakan yang sudah menjadi kebiasaan harian, pria itu membungkuk mengambil guci tuak, lalu melangkah ke pintu depan untuk melihat apakah rombongan pengangkut bubur sudah tiba di halaman.
Momen itu hanya berlangsung selama tiga tarikan napas. Saat punggung juru masak membelakanginya dan deru dentang lonceng ketiga masih menggetarkan udara, Gu Yuan meluncur keluar dari balik tumpukan kayu tanpa suara. Kakinya yang melepuh menjejak lantai dengan hati-hati, menghindari papan lantai yang retak.
Tangannya menjentikkan serbuk daun pahit seujung kuku itu tepat ke dalam mulut guci tuak yang terbuka di atas meja samping, lalu ia kembali menyusup ke balik bayangan pintu samping dapur.
Juru masak itu menutup kembali pintu depan sambil mengumpat tentang keterlambatan rombongan barak. Tanpa menaruh curiga sedikit pun, ia menyambar guci tuaknya, menengadahkan kepala, dan meneguk cairan keruh itu dalam tiga tegukan besar hingga cairan menetes membasahi janggutnya yang kasar.
“Hah… tuak murahan ini makin lama makin asam,” gumamnya sambil mengusap mulut dengan punggung tangan.
Pria itu meletakkan kembali guci ke meja dan hendak mengambil pisau daging untuk memotong lobak. Namun, baru dua langkah kakinya berayun, tubuhnya mendadak limbung seperti kapal oleng diterjang badai. Matanya yang sipit berputar redup, mulutnya menganga mengeluarkan dengkur parau, dan lututnya menekuk lemas. Tubuh gempalnya ambruk menimpa meja kerja kayu dengan suara debum berat, disusul dengkuran keras yang berirama kasar.
Racun daun pahit telah bekerja melumpuhkan urat sarafnya tanpa meninggalkan jejak aroma biru yang mencolok.
Gu Yuan segera melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. Ia tidak membuang waktu memeriksa kondisi juru masak itu; ia tahu pria tersebut tidak akan terbangun sebelum senja tiba. Melewati pintu samping dapur, Gu Yuan menyusuri jalan setapak sempit yang terlindung oleh dinding batu tebing menuju bangunan gudang obat luar.
Bangunan gudang itu berdinding batu kapur tebal dengan pintu kayu besi yang kokoh. Dari luar, tempat ini tampak seperti gudang perkakas biasa, tetapi Gu Yuan tahu bahwa di balik dinding inilah para tetua menyimpan pasokan pil penstabil darah, salep luka tambang, dan peta rute saluran bawah tanah yang menghubungkan kompleks lembah dengan sungai pembuangan luar.
Melarikan diri langsung ke hutan belantara di luar gerbang tanpa perbekalan obat adalah tindakan bodoh yang setara dengan bunuh diri. Tubuh Gu Yuan saat ini berada dalam kondisi rapuh: luka bakar di kaki kirinya membatasi kelincahannya, meridian dadanya tertekan akibat efek samping penggunaan cermin maut, dan para pemburu sekte memiliki anjing pelacak yang mampu mencium bau manusia sejauh beberapa li. Tanpa pil penstabil darah untuk menghentikan gejolak meridian dan peta saluran bawah tanah, ia akan mati membeku atau tertangkap dalam waktu setengah hari.
Pintu samping gudang obat terpasang engsel kuningan yang sedikit berkarat. Di ambang pintunya tidak ada gembok luar, menandakan pintu tersebut dikunci dari dalam menggunakan palang kait atau kuncinya tergantung di pos jaga kecil di samping kusen.
Gu Yuan mengintip melalui celah kisi-kisi kayu pembagi hawa di samping pintu. Ruangan di dalamnya temaram, hanya diterangi seberkas cahaya matahari siang yang menembus celah atap genting tanah. Berbagai aroma herbal kering—bau akar manis, belerang gosok, dan daun mint liar—bercampur memenuhi udara yang sejuk.
Di dinding sebelah dalam dekat kusen pintu, tergantung seikat kunci kuningan berukuran panjang yang tergantung pada paku besi.
Gu Yuan mengeluarkan belati kecil bermata tipis dari saku jubahnya. Dengan gerakan terlatih, ia menyelipkan bilah belati ke celah kusen pintu samping, mencongkel gerendel kayu kecil yang menahan daun pintu. Suara klik halus terdengar saat gerendel terangkat dari sanggurnya.
Gu Yuan mendorong pintu perlahan hingga terbuka selebar celah tubuh manusia, lalu menyelinap masuk ke dalam keheningan gudang obat yang dingin.
Pandangannya langsung menyapu deretan rak kayu bertingkat yang dipenuhi toples keramik dan kotak-kotak kayu berlabel tulisan tinta hitam. Ia membutuhkan Pil Penstabil Darah untuk meredakan nyeri retakan tulang rusuk dan luka bakar kakinya, serta gulungan peta gua bawah tanah yang biasa disimpan di meja juru tulis gudang.
Tangannya terangkat ke dinding dekat kusen, jemarinya baru saja hendak menyentuh gantungan kunci kuningan yang bergemerincing halus ditiup angin masuk.
Kertak.
Suara rantai pengikat sabuk dan derap langkah sepatu bot kulit berat mendadak terdengar dari jalan setapak berbatu tepat di depan pintu utama gudang obat luar. Irama langkahnya teratur dan berbobot—dua orang pengawas bersenjata sedang berpatroli memeriksa deretan pintu penyimpanan.