Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8 tawaran di atas tinta
...Lima tahun kemudian.**...
...Kaleng film itu masih tertutup rapat di dasar brankas kecil di ruang server, tempat Axel mengunci dan menjaganya dengan tujuh lapis kode yang tidak ia ceritakan pada siapa pun, sekalipun pada Victor. Mereka tidak pernah membukanya. Setiap kali Kenzo menyentuh gagang brankas itu, ia teringat tubuh Rendra yang tiba-tiba berat dalam pelukannya, dan jari-jarinya mundur sendiri....
...Kenzo dua puluh dua tahun sekarang, dan orang-orang di distrik pelabuhan yang kebetulan mengenal wajahnya mulai menurunkan suara kalau ia lewat. Ia mengambil pekerjaan-pekerjaan kecil dari lelaki-lelaki yang tidak mau ditanyai: mengawal, menagih, kadang menghilangkan seseorang yang memang sudah ingin dihilangkan. Ia tidak pernah menyentuh uang dari Victor lagi, dan Victor tidak pernah bertanya dari mana uang yang ia bawa pulang. Mereka makan di meja yang sama dengan sopan, seperti dua orang yang saling menjaga jarak di atas tali yang sama, dan di antara mereka selalu ada satu kursi kosong yang bernama Rendra....
...Axel dua puluh empat dan hampir tidak keluar dari ruang atas. Tapi malam ini, di dapur sempit yang sudah terlalu kecil untuk tiga lelaki dewasa, ia berdiri di dekat pintu dengan tablet di tangan dan sebuah amplop hitam tebal tergeletak di meja, dan wajahnya tegang dengan cara yang tidak Kenzo sukai....
..."Siapa yang kirim?"...
...Jari Axel bergerak lambat. *Tidak ada pengirim. Dititipkan di kotak surat. Tanpa perangko.*...
...Kenzo membukanya. Di dalamnya hanya ada selembar kartu hitam tanpa tulisan, dengan satu lambang timbul berwarna emas pudar: sebuah tangan terkepal yang menggenggam sebuah tali melingkar. Di baliknya, tertulis dengan tinta putih, tulisan tangan yang rapi dan tenang....
...*Jari Algozo menawarkan tempat bagi Kenzo Adriel. Kami tahu siapa yang kamu cari. Kami tahu siapa yang menyuruhnya. Jemputan tiba pukul sebelas. Datanglah sendiri atau jangan sama sekali.*...
...*Adriel.* Bukan Wicaksana, nama yang sudah ia buang. Adriel, nama tengah yang hanya diucapkan Ayah ketika bercanda....
..."Algozo," gumam Kenzo. Nama itu sudah ia dengar. Semua orang di pelabuhan pernah mendengarnya, dengan suara yang diturunkan dan mata yang melirik ke belakang. Mafia yang tidak berbisnis dengan uang, tapi dengan nyawa. Para eksekutor yang tidak punya wajah, yang menghukum orang-orang yang kebal terhadap hukum. Orang-orang bilang tidak ada satu pun yang pernah membocorkan siapa pimpinan mereka, dan tidak ada satu pun yang pernah keluar hidup-hidup....
..."Mereka tahu siapa yang menyuruh..." Kenzo mengulang kalimat itu pelan, dan Axel yang membaca bibirnya langsung menggeleng keras, menggerakkan tangan dengan gelisah....
...*Ini jebakan. Terlalu pas.*...
..."Bisa jadi." Kenzo menatap kartu itu, jempolnya mengusap lambang emas yang mulai terkelupas. "Tapi lima tahun, Xel. Lima tahun aku nunggu 'waktunya' dari orang yang bahkan nggak mau cerita siapa 'Tuan' itu. Kalau mereka bohong, aku mati sendirian. Kalau mereka jujur..."...
..."Tidak."...
...Mereka berdua menoleh serempak. Victor berdiri di ambang pintu dapur dengan kaus tipis dan rambut yang hampir seluruhnya putih sekarang, tubuhnya lebih kurus dari yang Kenzo ingat, dan di tangannya tidak ada apa-apa, tapi cara ia berdiri membuat ruangan terasa lebih sempit. Matanya tertuju pada kartu di tangan Kenzo dan wajahnya pucat seperti kertas....
..."Dari mana kamu dapat itu?"...
..."Dikirim."...
..."Bakar." Victor melangkah masuk dan mengulurkan tangan, tapi tangan itu gemetar hebat sampai ia sendiri menyadarinya dan menariknya kembali. "Bakar sekarang. Jangan datang. Kenzo, dengar om, apa pun yang kamu kerjakan, kerja apa saja, tagih utang, jadi pengawal, jadi tukang pukul di pelabuhan, om nggak akan bicara satu kata. Tapi *tidak ke Algozo*. Tidak."...
..."Kenapa?" Kenzo berdiri. Kursinya berderit di lantai. "Mereka tahu siapa yang bunuh keluarga aku, Om. Mereka tahu. Dan Om cuma nyuruh aku nunggu."...
..."Karena mereka akan memakanmu!" Suara Victor naik, retak. "Algozo bukan tempat orang mencari jawaban. Itu tempat orang yang menjual dirinya, sedikit demi sedikit, sampai tidak ada lagi yang tersisa untuk dijual. Setiap orang yang masuk ke sana berkata dia akan keluar setelah selesai. Nggak ada yang keluar, Kenzo. *Nggak ada.*"...
..."Om kenal mereka?"...
...Pertanyaan itu jatuh pelan, tapi efeknya seperti pisau. Victor membuka mulut, menutupnya, membuka lagi. Matanya bergeser ke Axel, yang mengamati mereka dengan tangan terlipat dan tatapan yang sudah terlalu cerdas untuk dibohongi, lalu kembali ke Kenzo, dan di antara pertengkaran, napas, dan lima tahun sunyi itu, Kenzo melihat sesuatu terlepas dari wajah lelaki itu. Rahasia lain. Lebih tua dari yang sebelumnya....
..."Om..." Victor mulai, lalu berhenti....
...Dari kartu hitam di tangan Kenzo, sebuah benda kecil jatuh dan berdenting di lantai, terselip di antara lipatan yang tadi tidak ia lihat. Sebuah lencana logam sebesar koin, pudar, bergores, dan lambangnya sama persis dengan yang tertera di kartu itu. Kenzo membungkuk memungutnya, membalik, dan di punggung koin itu, diukir dengan huruf sangat kecil, ada dua kata dan satu angka....
...*V. Pradana — 07.*...
...Ruangan itu tidak bersuara. Axel perlahan menarik napas, mata melebar. Kenzo menegakkan badan dengan koin itu di telapak tangan, menatap Victor tanpa berkedip, dan Victor, lelaki yang tidak pernah gentar di hadapan pasukan bersenjata, mundur satu langkah sampai punggungnya menyentuh kusen pintu....
..."Nomor tujuh," Kenzo berkata pelan, nyaris tanpa suara. "Jadi bukan cuma kenal."...
...Di luar, jauh di ujung gang, sebuah mobil hitam berhenti dengan mesin yang menyala pelan. Jam di dinding menunjuk pukul sepuluh lewat lima puluh sembilan....
...---...
...*Bersambung ke Bab 8*...