NovelToon NovelToon
Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius
Popularitas:34.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?

Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sesuatu Yang mulai Berubah

Pagi itu, suasana rumah Dika terlihat lebih sibuk. Beberapa pelayan sudah berlalu-lalang menyiapkan sarapan di ruang makan. Di ujung meja, Miranda sedang memperhatikan putrinya yang sibuk dengan ponsel.

Shiren sesekali tersenyum sendiri membaca sesuatu di layar, entah apa yang membuat perempuan itu tersenyum seperti itu.

"Shiren."

Gadis itu mengangkat wajah. "Iya, Ma?"

"Jangan main ponsel terus. Sarapan."

Shiren meletakkan ponselnya di samping piring. "Iya, bentar dulu Ma, ceritanya masih seru nih."

"Jangan nunda sarapan Nak," sahut Miranda.

Tidak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Dika muncul dengan pakaian kerja yang rapi. Jas hitam melekat sempurna di tubuhnya, membuatnya tetap terlihat berwibawa meskipun beberapa hari terakhir wajahnya tampak lebih lelah.

Miranda langsung memperhatikan suaminya.

"Mas."

Dika berhenti sebentar. "Hm?"

"Kamu kelihatan pucat."

Dika menarik kursi dan duduk. "Aku baik-baik saja."

Miranda menatapnya tidak percaya. "Belakangan ini kamu selalu bilang begitu."

Dika mengambil cangkir kopi di hadapannya."Karena memang tidak ada apa-apa Ma."

"Papa tuh kalau dibilangin jangan ngeyel, Mama gak mau kalau sampai terjadi apa-apa,' ujar Miranda seolah takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada suaminya itu.

Namun saat Dika baru menyesap kopinya. Tiba-tiba saja tangannya berhenti, entah kenapa ia seperti ada rasa nyeri samar di bagian dada.

Pria itu mencoba untuk abai. Mungkin hanya sakit biasa yang datang sekejap. Namun meskipun sakitnya tidak terlalu kuat, tapi cukup membuat napasnya tertahan beberapa detik.

Dika seger meletakkan cangkirnya sementara

Miranda langsung menyadari saat melihat ke arah suaminya.

"Mas?"

Dika mengusap dadanya sebentar, dan hal itu membuat rasa cemas Miranda jadi meningkat.

"Kenapa?"

"Sedikit tidak nyaman."

Shiren yang sejak tadi diam ikut menatap ayahnya. "Papa sakit?"

Dika menggeleng. "Bukan sakit."

"Terus?"

"Cuma masuk angin mungkin."

Miranda menghela napas. "Mas, jangan selalu menganggap semuanya sepele."

Dika menatap istrinya. "Aku punya rapat pagi ini."

"Rapat bisa ditunda."

"Tidak bisa."

Nada suara Dika terdengar tegas sedangkan Miranda hanya bisa terdiam. Ia tahu suaminya memang seperti itu. Selama bertahun-tahun, pekerjaan selalu menjadi hal yang sulit ia tinggalkan.

Dika mengambil serbet dan mengusap sudut bibirnya. "Aku berangkat dan jangan terlalu berpikir macam-macam, aku baik-baik saja.

Shiren mengangkat wajah. "Papa belum selesai makan."

"Sudah cukup."

Lalu kudiam Dika berdiri akan tetapi baru dua langkah, kepalanya tiba-tiba terasa ringan. Ia berhenti dan tangannya refleks mencengkeram sandaran kursi.

Miranda langsung berdiri. "Mas!"

Dika memejamkan mata sebentar. Beberapa detik kemudian rasa itu perlahan menghilang.

"Aku tidak apa-apa."

Miranda mendekatinya. "Kamu yakin?"

Dika mengangguk. "Ya."

Shiren ikut berdiri. "Papa jangan pergi dulu."

Dika menatap putrinya. "Aku hanya sedikit pusing, kamu gak perlu terlalu mencemaskan Papa ya." ucapnya begitu perhatian seolah hanya shiren saja yang menjadi anaknya.

"Justru itu." Shiren terlihat khawatir.

"Periksa, Pa."

Dika hendak membantah, tetapi melihat wajah istri dan anaknya membuatnya mengurungkan niat.

"Baik."

Miranda sedikit lega. "Nanti siang kita ke dokter."

Dika mengangguk. "Tapi setelah urusan kantor selesai."

Miranda mendengus. Selalu saja pekerjaan."

Dika tersenyum tipis. "Itu memang pekerjaanku, dan aku sangat menyukai itu.

Ia kemudian mengambil tas kerjanya dan berjalan keluar. Namun kali ini, tatapan Miranda mengikuti kepergian suaminya dengan rasa khawatir yang tidak kunjung hilang.

Sementara Shiren kembali duduk. "Ma..."

"Iya?"

"Papa benar-benar baik-baik saja?"

Miranda menatap pintu yang sudah tertutup. "Entahlah."

Ia menarik napas panjang. "Semoga saja."

☘️☘️☘️☘️

Di tempat lain, pagi Azmira berjalan jauh lebih sederhana. Perempuan itu sedang duduk di meja makan bersama Rina. Tidak ada pembicaraan mengenai rumah sakit. Ataupun ada pekerjaan yang mendesak. Hanya sarapan sederhana dan suara sendok yang sesekali beradu dengan piring.

Azmira menatap ibunya.

"Bu."

"Iya Sayang."

"Besok Mira mungkin pulang agak malam."

Rina mengangkat wajah. "Kenapa?"

"Ada pemeriksaan lanjutan dari program kerja sama perusahaan."

Rina mengangguk. "Perusahaan yang kemarin?"

Azmira menggeleng. "Iya."

Kali ini Rina tidak bertanya lebih jauh, sebagai seorang ia cukup mendoakan kebaikan putrinya saja.

"Kalau begitu hati-hati."

Azmira tersenyum. "Iya, Bu."

Rina kemudian memperhatikan wajah putrinya dalam-dalam. "Kamu akhir-akhir ini kelihatan capek."

Azmira terkekeh. "Namanya juga dokter."

"Jangan terlalu memaksakan diri."

"Insyaallah."

Rina tersenyum. Ia tidak tahu bahwa semakin hari, pekerjaan putrinya justru semakin mendekatkan Azmira kepada sebuah keluarga yang selama ini sengaja ia jauhkan.

☘️☘️☘️☘️

Siang harinya, Dika akhirnya tiba di sebuah klinik perusahaan. Ia sebenarnya masih merasa sehat. Bahkan ia sempat berpikir tidak perlu melakukan pemeriksaan.

Namun hasil pemeriksaan awal membuat dokter perusahaan mengernyit.

"Pak Dika, sebaiknya Bapak melakukan pemeriksaan lebih lengkap."

Dika mengangkat wajah. "Separah itu?"

"Belum tentu." Dokter tersebut menjawab tenang. "Tapi ada beberapa hal yang sebaiknya tidak kita abaikan."

Dika terdiam. "Di rumah sakit mana?"

Dokter menyebutkan salah satu rumah sakit yang memang sudah bekerja sama dengan perusahaan.

Dika mengangguk. "Atur saja."

"Besok pagi bisa, Pak."

Dika akhirnya berdiri. "Baik."

Ia mengambil jasnya lalu berjalan keluar. Tidak sedikit pun ia membayangkan bahwa keputusan sederhana itu akan membawanya ke tempat yang sama dengan seorang anak yang sudah terpisah jauh dengannya.

Dan yang lebih ironis... orang pertama yang akan menyambutnya di sana mungkin justru anak yang selama ini tidak pernah ia anggap ada.

☘️☘️☘️☘️

Malam itu, Dika pulang lebih cepat. Miranda sedang duduk di ruang keluarga ketika melihat suaminya masuk.

"Bagaimana hasil pemeriksaannya?"

Dika meletakkan tas. "Dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan besok."

Miranda semakin merasa cemas akan kesehatan suaminya itu. "Di rumah sakit?"

"Iya."

"Miranda."

"Iya?"

"Jangan terlalu khawatir."

Tidak ada jawaban dari istrinya itu tapi dari sorot matanya jelas Miranda menyimpan rasa takut.

Dika kemudian duduk di sofa. "Aku cuma ingin memastikan tubuhku baik-baik saja."

Miranda mengangguk. Namun entah kenapa, ada sesuatu dalam hati perempuan itu yang membuatnya kembali gelisah.

Ia tidak tahu bahwa besok bukan hanya kondisi kesehatan Dika saja yang akan mulai berubah Dan kali ini... tidak ada seorang pun yang bisa menghentikannya.

Bersambung.....

1
Fenty
kok lama g up thot
kiky
Loom up y
Marini Suhendar
thor kapan up lagi
Yeni Astriani
kapan update lagi Author, penasaran nihhhh kelanjutan ceritanya
ceuceu
Dika tetep harta hak shiren ga di ganggu gugat,pdhl bukan anak kandung,azmira dari kecil ga merasakan kasih sayang ga ada harta dari dika tapi dika ga mikirin hak azmira,puck lah dika
falea sezi
jangan mau menerima maafin boleh menerima ogah bgt🤣 di jadiin serep saat si seren bukan anak nya enak bgt si bangsat🤣
Yeni Astriani
memaafkan boleh tapi bukan berarti harus menerima apalagi Azmira sudah terbiasa hidup mandiri tanpa bantuan dari Pak Dika ☺☺☺
Nar Sih
makasih udh up lgi kak🙏
Ilham
berarti sirhen bukan anak kandung Dika yang dia rawat 25 tahun
Sari Nilam
gimana rasanya dika....sakittttt kan
tp tidak lebih sakit apa yang pernah azmira lalui tanpa tahu ayahnya dendiri tdak mengakuinya
Sari Nilam
masih belum sebanding de gan luja yang azmira dan ibunya rasakan
azmira yang malang tapi tangguh
azmira yang cerdas tapu tak pernah diakui
🤣🤣penyesalanmu terlambat kaunmerawat anak yang bukan darah dagingmu. dan darah dagingmu kau abaikan
Ilham
aku mau bertanya,,katanya si Dika pengin anak laki2 buat penerusnya...tapi knapa sama anak selingkuhan nya perempuan juga si Dika mau saja menerimanya...sedangkan anak kadung nya sendiri perempuan juga tapi dia ngk mau menerimanya kan aneh
Ilham
aku ketawa sendiri membawa kata jawaban Mira...aku berharap ceritanya Mira di bantu sama orang kaya
Ilham
buat lah cerita Mira ini sebenarnya enak mungkin...aku suka cerita anak kecil tapi ada juga penolong Mira
Rohmi Yatun
gak ada gunanya kehadiran Dika disaat Azmira sudah sukses.. kalo q jadi Azmira Big No untuk Dika.. gak akan ada istilah anak durhaka untuk seorang ayah seperti Dika.. 👎
Nar Sih
dulu rina yg sdh setiya dan sabar dgn tangisan azmira ,kini saat nya kmu terima kemarahan putri mu dika🤣
ceuceu
Kesalahanmu terlalu fatal dika
Tengku Nafisa
maafmu tdk berlaku dika. sibuk membesarkan anak org. anak sendiri kau telantarkan.
Rohmi Yatun
jujur kalo q jd Azmira.. tidak bisa menerima kehadiran Ayahnya.. untuk apa hadir skrg.. mau tanggung jawab katanya, tanggung jawab dlm hal apa?.. 👎👎👎👎 tidak masuk akal.. kedatangan mu sudah sgt terlambat..
ceuceu
itu hukuman buatmu dika,yg menelantarkan anak dgn sengaja demi anak lain yg ternyata bukan anakmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!