Dari desa yang sederhana tumbuh cinta yang tak pernah disangka...
Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Vallery gadis cantik yang lahir dan dibesarkan di kota dengan berbagai macam vasilitas mewah kemudian dipaksa untuk tinggal didesa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan kemudahan fasilitas umum yang biasa ia dapatkan setelah diusir oleh nenenk tirinya dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia. Tanpa disang,ka keputusan cepat yang dimabilnya untuk tinggal di Desa Maju Bersama, kampung halaman sang papa untuk tinggal bersama neneknya mengubah seluruh kehidupan Vallery termasuk kisah cintanya yang terejrat kepada seorang kepala desa yang berstatus duda perjaka di kampung neneknya itu yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan hingga membuat hati Vallery pun menjadi luluh...
Kisah cinta romantis namun ada sedikit unsur komedi mewarnai kisah cinta keduanya membuat cerita kali ini bisa terbilang sangat ringan karena jauh dari intrik panjang dan berat.
HAPPY READING.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DEG DEG AN
Kegemparan kasus Sulastri sama sekali tak mempengaruhi kegiatan anak-anak karang taruna beserta warga dalam menghias Desa Maju Bersama agar bisa menang lomba hias desa tahun ini.
Semua warga bergotong royong bahu membahu saling membantu untuk memeriahkan acara peringatan HUT kemerdekaan negeri ini dengan suasana yang lebih meriah dari pada tahun-tahun sebelumnya.
Selama kegiatan tersebut berlangsung, konsumsi dari Dirga terus mengalir. Vallery yang sudah tak lagi bisa melakukan apapun untuk menahan Dirga yang terus berusaha untuk menarik perhatiannya hanya bisa pasrah menerima niat baik pria tampan tersebut, meski disudut hati ya terdalam ada sedikit kekhawatiran karena ia tak menyangka jika Dirga akan sekeras kepala seperti ini padahal ia sudah berulang kali melarangnya.
Nenek Gendhis yang melihat hal tersebut merasa tak enak hati. Apalagi Dirga juga tiap pagi sebelum berangkat kerja selalu menyempatkan diri datang kerumah untuk mengantarkan sarapan buat Vallery.
“Nduk, sebaiknya kamu bicara lagi dengan mas kades, kali ini lebih serius karena jika hal seperti ini terus dilanjutkan, nama baikmu bisa tercemar”
Vallery sendiri sebenarnya sudah paham, jika ia nantinya tak menjadi pasangan Dirga maka namanya akan menjadi omongan banyak orang, secara Dirga sudah memberikan banyak hal untuk dirinya.
“Coba nanti Vallery ajak lagi mas kadesnya bicara baik-baik. Semoga kali ini mas kades mau mengerti dan memahami posisi Valley”, ujar Vallery dengan ekspresi serius.
Nenek Gendhis yang memahami bagaimana keras kepala nya Dirga pun coba memberi jalan tengah, “Jika nanti setelah berbicara denganmu mas kades masih bersikeras seperti sebelumnya, biar nenek saja yang berbicara dengannya agar masalah seperti ini tidak terus berlanjut”.
Setelah ngobrol ringan dengan sang nenek, Vallery yang sudah dijemput oleh Baruna pun pamit untuk pergi.
Hari ini anak-anak karang taruna tinggal melakukan finishing sebelum penjurian yang akan dilakukan esok malam tiba.
Kenapa penjurian harus malam hari?
Hal ini dikarenakan karena sebagian besar hiasan yang digunakan menggunakan lampu sehingga akan terlihat bagus pada malam hari dan penilaian lomba hias desa ini akan dilaksanakan setelah sholat Maghrib, kebetulan Desa Maju Bersama mendapatkan posisi pertama untuk dinilai sehingga mereka pun mempersiapkannya dengan lebih baik.
Vallery yang tengah memasang beberapa printilan kecil yang masih kurang disepanjang jalan desa bersama tiga rekannya dari karang taruna, tak sengaja berpapasan dengan Dirga.
Melihat jika tugasnya sudah hampir selesai, Vallery yang teringat akan obrolan dengan neneknya pagi ini pun segera menghampiri Dirga.
“Mas, bisa nggak kita ngobrol sebentar saja, berdua”, ucap Vallery
Melihat ekspresi serius yang tak biasa Vallery tunjukkan, Dirga pun segera mengangguk, “ Baik, tapi nggak disini. Kita cari tempat lain untuk berbicara”.
“Djo, kamu dan Surip bantu anak-anak prepare kesiapan lomba besok. Aku pergi sebentar, kalau ada apa-apa, kabari aja”, pamit Dirga.
Vallery pun juga pamit sama rekan-rekannya untuk pergi sebentar. Melihat jika Vallery pergi bersama Dirga, semua orang pun mengangguk paham.
Begitu Vallery naik keatas motor, Dirga segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
“Wah, kemajuan ini. Pak kades sudah bisa mengajak Vallery kencan”, celetuk Ningsih.
“Ya, semoga saja mereka bisa cepat jadian supaya kita bisa mendapatkan traktiran mewah dari pak kades”, timpal Lutfi sambil membayangkan makanan enak apa yang akan pak kades belikan untuk mereka jika pria itu benar-benar bisa menaklukkan hati Vallery.
“Makan-makan mulu pikiranmu, Lut! tuh kerjaanmu bereskan dulu!”, ucap Rokhim sambil mengetuk jidat Lutfi dengan kesal.
“Heheheee…namanya juga berharap. Lagian kalau ada makanan enak yang gratis, kamu juga suka kan”, ledek Lutfi yang langsung berlari kencang ketika melihat Rokhim sudah melepaskan satu sandalnya dan bersiap melemparkan kepadanya.
“Weekkk…nggak kena”, Lutfi terus berlari sambil sesekali meledek Rokhim yang terus mengejarnya tanpa henti.
Ningsih, Tedjo dan Surip hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kekanak-kanakan keduanya dan kemudian ketiganya kembali fokus merapikan beberapa hiasan yang sedikit miring atau ada yang kurang dibeberapa sisi agar semuanya bisa beres hari ini juga sebelum malam gladi bersih dilangsungkan.
Sementara itu, Vallery yang dibonceng Dirga tiba-tiba merasa panik setelah cukup lama berkendara , motor yang Dirga kendarai semakin masuk kedalam hutan jati, membuat pikiran Vallery mulai melenceng kemana-mana.
“Mas, ini mau kemana kita? kok semakin masuk kedalam hutan jati?”, cicit Vallery ketakutan.
“Sabar, sebentar lagi sampai”, jawab Dirga santai.
“Ini sudah ketiga kalinya lho mas kamu bilang jika sebentar lagi akan sampai”, ucap Vallery sewot.
Melihat hutan jati yang mereka masuki semakin dalam dan didepan tak ada tanda-tanda ada kehidupan ataupun orang yang lewat, membuat Vallery pun mulai panik.
“Mas, kamu jangan yang aneh-aneh. Ayo kembali”, ucap Vallery yang kali ini dibarengin dengan pukulan di punggung Dirga agar pria itu mendengarkan perkataannya.
“Aneh-aneh opo to dek? tapi kalau kamu mas aneh-aneh in juga boleh, mumpung disini sepi nggak ada orang”, canda Dirga yang langsung mendapatkan tabokan keras di bahunya dari Vallery.
“Ngawur kamu mas! Ayo cepat balik. Jika kamu berani macam-macam, aku nggak akan lagi mau bicara sama kamu!”.
Melihat sang pujaan hatinya marah, Dirga pun tak lagi berani bercanda dan segera menarik gas motornya dan kecepatan motor matic itupun meningkat
Vallery yang tak siap ketika Dirga menarik gas motornya, spontan langsung memeluk tubuh Dirga dari belakang karena kaget dan hampir terjungkal.
“Mas, hati-hati. Aku hampir terjatuh nih”, omel Vallery.
Tak ingin Vallery kembali menarik tangannya yang sudah melingkar pinggangnya, Dirga semakin mempercepat laju motornya, membuat Vallery hanya bisa diam sambil bersandar di punggung Dirga untuk menghindari debu yang ditimbulkan oleh laju motor yang kencang.
Deg deg deg
Jantung Dirga berdetak kencang ketika ia merasakan benda kenyal yang menempel di punggungnya, membuat badannya menjadi panas dingin.
“Sial! Jika diteruskan begini, bisa-bisa ular piton ku terbangun”, gerutu Dirga dalam hati.
Tak ingin terjadi hal yang tidak-tidak, Dirga semakin memacu motornya dengan cepat agar keduanya bisa secepatnya tiba di tempat yang akan mereka tuju.
Begitu tiba, Vallery tak berhenti berdecak kagum akan keindahan warung makanan tradisional ini.
“Aku sama sekali nggak menyangka jika ditempat terpencil seperti ini ada rumah makan besar dengan pemandangan indah seperti ini”, Vallery berkata dengan kedua mata berbinar menatap kolam ikan yang membentang dibawah gazebo.
Disekeliling restoran dengan desain semi outdoor ini, para pengunjung disuguhi pemandangan area persawahan yang hijau dan juga pegunungan menjulang tinggi sebagai latar belakangnya.
Vallery pun segera mengeluarkan ponselnya dan mulai berfoto selfi dengan aneka gaya dengan latar background yang berbeda.
Dirga yang melihat hal itu pun menjulurkan tangannya, “Mana hp nya, aku fotoin”, tawarnya, yang sayangnya langsung ditolak tegas oleh Vallery “Nggak usah, aku suka foto selfie seperti ini’.
Setelah mendapatkan beberapa foto estetik, keduanya pun segera masuk kedalam dan mulai memesan.
Begitu pelayan yang mencatat pesanan keduanya pergi, Vallery pun mulai angkat bicara.
“Mas, sebenarnya aku mengajak mu keluar ini karena ingin membicarakan sesuatu penting denganmu. ini soal…”
Ucapan Vallery yang sedikit mengantung, membuat hati Dirga menjadi deg deg an…
“Apa yang sebenarnya ingin Vallery katakan kepadaku? Apakah ia mau menerima perasaan ku?”
TENG TENG TEEEEEEEEEENNNNGGGGG☕️
SELAMAT PAGI SEMUAAAAAA