Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.
Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.
Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nonton (1)
**
"Kamu yakin mau ajakin aku nonton?"
Reyhan melirik kesal, dia saja sudah bosan mendengar pertanyaan itu. Apa gadis itu tidak bosan bertanya hal yang sama untuk yang kesekian kalinya?
"Ish ... wajar dong kalau aku merasa curiga dan aneh, saat tiba-tiba kamu ajak nonton gini," bela Ayana atas semua sikap ketidakwajarannya. "Kita sudah hidup bareng beberapa bulan. Selama itu, kamu gak pernah ajak aku pergi kecuali ke pasar."
"Ok. Jadi mau pergi apa enggak ini intinya?" Reyhan bertanya menyerah. "Kalau gak jadi pergi, aku lepas lagi sepatu sama jaketnya!"
Reyhan sudah mau melepas jaket, saat tiba-tiba tangan Ayana sudah menahannya.
"Iya, jadi pergi. Yakali gak jadi, aku udah cantik gini. Langka banget kamu ngajak pergi gini, takutnya ini sekali seumur hidup."
"Gak gitu juga kali Ay, aku gak sejahat itu. Ok, aku minta maaf karena gak pernah ajak kamu jalan-jalan, kamu tahu sendiri uang kita pas-pasan," balas Reyhan sebenarnya merasa bersalah. Dia seperti sudah menjadi suami yang buruk.
"Sekarang, aku udah kerja. Nanti jalan-jalannya lebih sering lagi, yah?"
Reyhan mengangguk. "Iya. Kalau gitu, ayo berangkat!"
"Ayo!" seru Ayana heboh.
Ayana sudah mengikuti Reyhan keluar setelah memastikan semua colokan tercabut. Setelah memastikan lampu di dalam kosan serta menyalakan lampu di luar, Ayana kemudian menutup pintu dan menguncinya.
Ayana melihat Reyhan yang duduk di atas motornya, dengan langkah riang dia menghampiri lelaki itu. Dia tidak menyangka akan pergi menaiki motor Reyhan bukan untuk pergi bekerja atau ke pasar, melainkan pergi untuk menonton. Momen seperti ini sama sekali tidak pernah ada dalam bayangannya.
"Aku masih gak percaya loh, kamu ajakin nonton gini," ujar Ayana saat dia sudah duduk di atas motor dan sedang berjuang memakai helm. "Rey, helmnya macet lagi?"
"Masa?" tanya Reyhan tak yakin, sama sekali tidak melihat ke arah belakang. "Udah, kan? Aku jalan, yah!"
"Rey, belum!" Ayana memukul keras punggung Reyhan, sampai terdengar lelaki itu meringis. "Tali helmnya masih macet. Kenapa sih, ini helmnya gak dijual-jual? Bikin perkara mulu tiap kali mau dipake. Saudaraan banget sama motornya selalu bikin ulah!"
Reyhan buru-buru menutup kedua spion motornya. "Jangan didengerin Sayang, kata-katanya terlalu jahat banget buat kamu."
Ayana mendengus melihat tingkah absurd Reyhan. "Lagian kan emang kenyataannya, ini motor selalu bikin ulah. Lebih baik jujur tapi menyakitkan, daripada berbohong tapi berbicara semu."
"Syut!" Reyhan berbalik, hanya untuk menaruh satu jari telunjuk di atas bibir Ayana, terus memakaikan helm gadis itu dengan mudah. Setelah itu kembali menutup kedua spion lagi. "Kasian, jangan ngomong kasar lagi soalnya dia masih kecil. Belum tahu apa-apa. Belum tahu kejamnya dunia."
"Rey," panggil Ayana serius.
"Gimana kalau kita tunda aja nontonnya, terus ganti pergi ke psikiater. Kayaknya, kamu sekarang lebih butuh itu."
Ayana bahkan sudah menepuk-nepuk punggung Reyhan pelan dengan wajah dibuat se-khawatir mungkin.
"Brengsek!'
Ayana menggeleng. "No ... no ... Rey, jangan ngomong kasar karena dia masih kecil. Ngomong-ngomong yang kamu tutupi itu kedua matanya, bukan telinganya."
"Iya, kah?" Reyhan malah tertawa. "Emangnya, kedua telinganya mana?"
"Nih, di pantatmu!" Ayana sudah memukul keras kedua pantat Reyhan.
"Aw ... pelecehan!" Reyhan berteriak histeris, terlihat seolah tengah ketakutan.
"Mau gelut, gak?"
"Ma--"
"Cie ... yang udah nikah so sweet sekali!"
Terdengar suara dari arah kosan, dimana di sana terlihat lelaki berperawakan tinggi terdengar geli dan menggoda ke arah mereka berdua.
"Mas Anton, matanya belekan, yah? Gak bisa bedakan orang lagi berantem dan so sweet?" tanya Ayana tak habis pikir. Bisa-bisanya, keributan mereka berdua terlihat so sweet di mata bujangan lapuk itu.
"Siapa yang berantem?" Anton malah bertanya polos seakan tidak mengerti.
"Dimana yang berantem?" Sekarang, giliran Reyhan yang bertanya polos seakan tidak mengerti.
Ayana memijit keningnya, terasa semakin setres. Dia merasa dirinya sebentar lagi yang akan masuk rumah sakit jiwa.
Anton dan Reyhan adalah jenis manusia yang bertipe sama. Hidup mereka penuh dengan hal-hal aneh, gila, suka bercanda yang jatuhnya mengajak berantem. Pokoknya, mereka itu satu frekuensi dan jika bertemu pasti akan banyak hal random yang terjadi. Lihat saja sekarang, mereka berdua sedang berakting sembari menengok kesana-kemari seperti sedang mencari sesuatu.
Menghadapi satu Reyhan saja sudah membuat Ayana sering setres, apalagi dua jenis Reyhan seperti ini? Sudah fix, Ayana ini sudah double setres.
Anton adalah salah satu penghuni kosan dan tetangga mereka juga. Lelaki yang sudah berusia 30 tahun, bekerja di bank dengan fisik yang bisa dibilang tampan dengan tubuh tingginya yang porsi pas, bisa dibilang berotot tetapi tidak berlebihan. Kesan pertama Ayana saat mengenalnya yaitu kagum, tapi semakin lama dia semakin tidak bersemangat saat bertemu dengan Anton karena pasti akan bertingkah random seperti Reyhan.
Ayana harus segera mengakhiri ini sekarang juga. Harus! Dia sudah bertekad kuat dalam hati karena ini semua demi keselamatan jiwa raganya.
Puk puk puk
Ayana berulang kali menepuk pundak Reyhan. "Ayo jalan! Kita harus segera pergi menonton di bioskop selayaknya pasangan, gak kaya jomblo di sana selalu menyendiri."
"Wah, bocah ini kurang ajar!" Anton sudah berjalan mendekat ke arah motor mereka.
"Rey, cepetan jalan!" Ayana kembali menepuk-nepuk pundak Reyhan panik, saat melihat langkah Anton semakin mendekat. "Ada bujangan jomblo mendekat mau ngamuk!"
"Ayana sini, Mas mau jewer kamu dulu!"
"Rey!"
Reyhan tertawa. "Iya-iya, ini jalan. Permisi Mas, mau pacaran dulu. Jomblo mana paham."
Ayana seketika tertawa saat motornya akhirnya jalan, saat Anton selangkah lagi akan mencapai tubuhnya.
"By ... Mas Anton jomblo abadi!" Ayana sudah melambaikan tangan sembari mengejek, meninggalkan Anton yang kesal.
"Awas yah, kalian!" teriak Anton, seketika perlahan dia tersenyum kecil. "Semoga kalian terus bahagia dan bersama."
Setelah itu, Anton sudah kembali ke kosan, kembali menikmati kejombloannya. Sedih sekali hidup ini. Kadang bumi memang suka bercanda sama manusia seperti Anton yang susah dalam mencari pasangan, padahal sudah merasa ok semua.
Sementara Ayana dan Reyhan, masih terus tertawa sampai perut mereka sakit. Semenyebalkan apapun Anton, tapi Ayana merasa sangat bahagia mengenal lelaki itu. Terkadang, Anton juga bisa menjadi sosok kakak yang bisa diandalkan.
Ayana semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Reyhan. Entah sejak kapan, dia sangat menyukai posisi ini. Padahal dulu sangat anti berkontak fisik dengan lelaki ini, mungkin karena waktu yang berlalu serta sebanyak mereka juga menghabiskan waktu bersama, semua jadi terbiasa. Walaupun sebenarnya memeluk dengan posisi di motor seperti ini kurang nyaman karena terhalang helm.
Dari jarak sedekat ini, Ayana bisa mendengar detak jantung Reyhan. Detak jantung yang selalu bisa menenangkan dia. Ayana selalu suka berada dipelukan Reyhan sembari bisa mendengarkan detak jantungnya. Sejauh ini, hal inilah yang Ayana suka dari Reyhan di tengah semua sifat menyebalkan lelaki itu.
"Ay?" tanya Reyhan tiba-tiba.
Ayana bisa mendengar suara Reyhan samar-samar karena terhalang helm dan bising suara jalan, karena jarak mereka memang sedekat itu.
"Kenapa?"
"Lihat apa itu yang warna merah?"
"Apaan?"
"Bangun ih!" Reyhan menyentak punggung, mengganggu ketenangan Ayana yang sedang menyender. "Bangun, lihat ih!"
"Ih ... nyebelin!"
Dengan sangat amat terpaksa Ayana bangun, melihat arah tunjuk Reyhan.
"Apa? Yang warna merah?"
"Iya, itu yang warna merah apa?"
"Itu warung maksudnya?"
Reyhan mengangguk kecil. "Iya, itu warung namanya. Takut kamu gak tahu."
"Rey, serius!" Ayana kesal, dia akan kembali bersandar lagi.
"Itu serius apa?"
"Apa lagi?" tanya balik Ayana masih kesal.
"Lihat, serius!"
Ayana anehnya kembali melihat ke arah tunjuk Reyhan, padahal dia yakin itu pasti hal random lagi. "Apa lagi?"
"Itu yang warna hijau, motor tukang grab!" Lagi, Reyhan langsung tertawa keras.
"Apa lagi sekarang?"
"Itu tukang becak."
"Terus?"
"Itu lampu merah."
"Apa lagi?" Anehnya, Ayana sekarang menjadi sangat excited mendengar apa yang akan Reyhan katakan selanjutnya. Dia malah menjadi sangat penasaran.
"Itu tukang sate."
"Rey, itu apa?" Kali ini Ayana yang bertanya, dia menunjuk ke atas langit.
"Yang mana?" Lewat spion, Reyhan melihat apa yang Ayana tunjuk.
"Yang kecil-kecil itu apa, yah?"
"Itu namanya bintang. Indah, gak?"
Ayana langsung mengangguk. "Iya, indah banget, Rey. Terus, itu yang kaya pisang apa?"
"Itu bulan sabit. Kalau udah bulat disebut bulan purnama yang bakal kelihatan lebih indah dari ini."
Ayana langsung kembali memeluk Reyhan erat, kembali menyandarkan kepalanya. "Ini apa?"
Reyhan tertawa, saat Ayana memegang dadanya. "Itu tetek-nya Reyhan. Pelecehan banget, sih!"
Ayana malah semakin semangat untuk menggelitik Reyhan, membuat lelaki itu semakin tertawa.
"Ay, aku lagi bawa motor ini!"
Ayana tertawa. "Iya, tahu."
"Makanya--"
Kittt
Tiba-tiba motor Reyhan berhenti.
"Rey, kenapa berhenti?"
"Gak tahu," jawaban polos Reyhan seketika langsung membuat Ayana panik.
"Jangan bilang bikin ulah lagi!"
"Gak tahu, Ay."
"Motor nyebelin!"
Reyhan seketika tertawa. "Emang."
##