Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.
Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.
Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Layar tablet di atas meja mahoni itu masih menyala, memperlihatkan rekaman langsung dari kamar tidur bernuansa gold-cream di kediaman mewahnya. Dikta bersandar pada kursi kerja, lalu menatap lurus ke arah figur wanita yang kini tengah terlelap di samping putranya. Sisa senyuman tipis yang sempat terbit di sudut bibirnya. Tiba-tiba saja digantikan oleh rahang yang kembali mengetat karena mengingat Bagas dan Salma.
Ada kemarahan yang tertahan di balik netra kelamnya. Pria itu merenungkan betapa baiknya Arini dengan wanita dari masa lalunya—wanita egois yang melahirkan Arkan hanya untuk menjadikannya alat pemeras harta, lalu pergi begitu saja saat rencananya gagal. Arini sangat berbeda. Wanita itu tulus, polos, dan memiliki hati yang terlalu bersih. Namun, ketulusan itu justru terlihat sangat bodoh di mata Dikta. Bagaimana bisa seorang wanita begitu setia merindukan pria sekelas Bagas yang jelas-jelas telah menjualnya seperti barang dagangan?
Pintu ruang kerja diketuk dua kali. Marco kembali melangkah masuk dengan tegap.
"Ada perintah tambahan, Pak?" tanya Marco seraya membungkuk hormat.
Dikta tidak langsung menjawab. Ia mematikan layar tabletnya dengan satu ketukan kasar, lalu menatap tangan kanannya itu dengan tatapan dingin yang mematikan. "Perketat penjagaan di sekitar rumah. Aku tidak mau ada satu pun surat, telepon, kurir asing, atau informasi apa pun dari luar yang bisa mengakses Arini. Semua jalur komunikasinya harus lewat aku."
"Baik, Pak. Segera saya koordinasikan dengan tim keamanan di kediaman utama," jawab Marco sigap. "Lalu bagaimana dengan pergerakan Bagas dan Ibunya di luar?"
"Biarkan mereka," potong Dikta, nada suaranya merendah, namun penuh penekanan. "Biarkan tikus-tikus itu bersenang-senang dengan uang dua puluh lima juta itu untuk sementara waktu. Aku sendiri yang akan menentukan kapan bom kebenaran ini diledakkan di depan wajah wanita bodoh itu. Kau pastikan saja mereka tidak bisa melarikan diri dari kota ini."
"Dimengerti, Pak. Perintah Anda akan segera saya laksanakan." Marco membungkuk sekali lagi sebelum akhirnya berbalik dan menghilang di balik pintu kayu yang tebal.
***
Sementara itu, jarum jam dinding di kediaman utama Dikta telah menunjukkan pukul lima sore. Suasana mulai terlihat jingga di langit. Aku baru saja selesai memandikan Arkan bersama Bi Ina. Bayi mungil itu kini telah tertidur lelap di dalam boks bayinya yang dihias dengan kelambu putih halus.
Aku melangkah masuk ke dalam kamar mandi utama untuk membersihkan diri, lalu menyentuh leher dan kedua bahu ku yang mulai sedikit berisi. Asupan makanan bergizi tinggi dan susu khusus yang dipaksakan oleh Dikta setiap hari mulai menunjukkan hasilnya. Bukan bahagia yang ku rasa, justru rasa bersalah ku pada Bagas karena mengabaikannya.
“Di sini aku mandi dengan air hangat, tidur di kasur empuk, dan makan makanan mewah... sementara Mas Bagas? Bagaimana kondisinya sekarang? Apa dia baik-baik saja?” Air mata ku kembali mengenang, pandangan ku jadi buram. Pikiran-pikiran itu terus berputar, rasa bersalah karena bahagia dibalik penderitaan Bagas. Meski Bagas belum bisa memberiku kecukupan. Tapi ia pria yang sudah melepaskan aku dari dunia malam.
Setelah membersihkan diri, aku mengenakan pakaian dengan cepat. Melangkah keluar namun tertahan karena sosok Dikta yang muncul tanpa izin seperti biasanya. Jantungku berdetak hebat saat melihat ia berdiri di tengah kamar tidur memandangi putranya. Karena ia tak kunjung pergi, aku pun terpaksa keluar. Aku melihat di meja rias, ada sebuah kotak bludru kecil bewarna biru tua di atas permukaan kaca.
"Ini apa?" tanyaku sambil menunjukkan kotak itu.
"Itu vitamin khusus yang dikirim langsung oleh dokter terbaik dari Singapura sore ini," ucapnya dengan suara yang berat dan tegas. "Diminum mulai malam ini."
"Tapi, Pak..." lirihku yang belum berani menatap matanya. "Porsi makanan dari Bi Ina saja sudah membuat perut saya begitu begah. Apakah harus ditambah vitamin lagi?"
"Aku tidak menerima bantahan, Arini," potong Dikta dengan cepat. "Aku juga tidak mau lagi mendengar laporan dari Bi Ina, jika kau menyisakan makanan atau menolak suplemen ini. Kualitas nutrisi untuk putraku adalah prioritas utama di rumah ini. Mengerti?"
Aku meremas ujung baju dengan gemetar. Namun, rasa rindu dan cemas yang sudah menumpuk di dada ini, membuat ku nekat bertanya perihal Bagas. Aku mendongak, menatap sepasang mata elang miliknya.
"Pak Dikta..." panggil ku, suara ku bergetar menahan tangis.
Dikta hanya menaikkan sebelah alisnya, menunggu kelanjutan kalimat dariku.
"Apakah... apakah saya benar-benar tidak diizinkan mendengar kabar dari suami saya?" tanyaku dengan mata berkaca-kaca. "Saya mohon, Pak. Hanya satu menit saja... biarkan saya meneleponnya atau mendengar suaranya. Saya hanya ingin memastikan Mas Bagas baik-baik saja di sana."
Mendengar kata 'suami' dan nama 'Bagas' keluar dari bibirku, rahang Dikta seketika mengeras. Matanya menyipit tajam, memancarkan aura kebencian. Ia melangkah maju. "Suamimu?" bisik Dikta, suaranya begitu rendah dan dingin hingga membuat bulu kuduk ini meremang. Dikta mencondongkan tubuhnya, mengunci pergerakanku. "Kau masih memikirkan pria tidak berguna itu, setelah semua yang terjadi?"
"Dia... dia suamiku, Pak. Dia dipenjara karena aku," isak ku. Air matanya ku benar-benar luruh membasahi pipi. "Bagaimana bisa aku melupakan Mas Bagas begitu saja? Sementara aku hidup mewah di sini?"
"Dengar baik-baik, Arini," desis Dikta, menatap langsung ke dalam manik mata ku yang basah. "Fokus saja pada tugasmu di rumah ini. Rawat Arkan, susui dia, dan jaga kesehatanmu sendiri. Jangan biarkan pikiran bodohmu itu merusak kualitas ASI untuk putraku."
"Tapi saya berhak tahu keadaannya, Pak! Mengapa Anda begitu kejam menyembunyikan informasi tentang suami saya?" protes ku dengan sisa tenaga yang ada.
"Kejam?" Dikta terkekeh sinis, ia mendekatkan wajahnya ke telingaku dengan nada mengancam. "Kau belum tahu apa artinya kejam yang sesungguhnya, Arini. Jika sampai besok pagi laporan tim medis mengatakan berat badan Arkan turun, atau dia demam karena stres konyolmu itu.. kau sendiri yang menanggung konsekuensinya. Aku bisa dengan mudah membuat kehidupan suamimu di dalam sana menjadi jauh lebih menderita dari apa yang kau bayangkan. Paham?"
Aku terengah, tenggorokannya tercekat mendengar ancamannya barusan. Aku hanya bisa mengangguk pelan dan pasrah. "P-paham, Pak..."
Setelah melemparkan ancaman itu, Dikta menegakkan tubuhnya kembali. Tanpa memandangku lagi, ia berbalik dengan langkah tegas dan keluar dari kamar, menutup pintu kayu yang tebal itu dengan satu sentakan keras.
Brak
Di balik pintu yang tertutup, Dikta sempat menghentikan langkahnya sejenak. Pria itu mengepalkan tinjunya dengan kuat, mendengarkan suara isak tangis yang di tahan dalam kamar. Hatinya terasa memanas, bukan karena benci, melainkan karena rasa muak melihat wanita sebaik Arini masih terus saja menangisi pria keparat seperti Bagas.