"Daddy, bagaimana bisa menjodohkan Lily dengan pria Arogan itu?" pertanyaan Lily meronta-ronta di hadapan Daddy-nya menunjuk Lucas yang duduk disofa dengan wajah datarnya.
"Lucas itu pria yang baik, Daddy sudah menjodohkan kalian sejak kecil" pernyataan Daddy menatap Lucas yang sejak kecilnya sudah dia anggap seperti anak sendiri.
"Sejak kecil apanya, Lily baru lahir dia sudah tua" komplen Lily, selain terkenal arogan Lucas juga beda 8 tahun darinya.
"Lily menolak perjodohan dengan pria Arogan itu" pernyataan Lily.
"Berani kamu menolak saya?" pertanyaan Lucas dengan suara beratnya.
Yuk baca cerita Lily.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 Hadiah Daniel
"Apa?" kata Lily begitu menjawab telepon Lucas.
"Aku ingin bicara serius dan menanyakan beberapa hal," kata Lucas.
"Besok saja, sekarang sudah malam, Lily mau bobok," kata Lily.
"Jika kamu memilih tidur daripada mendengarkan aku sekarang, baiklah, kamu tidak akan dapat apa-apa," ucap Lucas yang membuat Lily bingung.
"Maksudnya?" tanya Lily.
"Kamu ingin mahar apa? Kesempatan meminta hanya sekarang saja," tegas Lucas.
"Wahhhh, mahar bisa di-request ya Kak?" tanya Lily dengan polos.
"Katakan," tegas Lucas.
"Tapi nanti Kakak nggak mampu lagi," ucap Lily dengan mulut lantam sampai Lucas mendelik mendengarnya.
"Jika aku tidak mampu, aku tidak akan bertanya padamu," ketus Lucas.
"Heheheh, Lily mau anak harimau Kak," kata Lily setelah beberapa saat.
"Lily yang waras ya kamu, mahar itu berbentuk uang, barang, atau aset bukan binatang," kata Lucas dengan sebal.
"Kan boleh minta apa saja, Lily mau anak harimau, nanti kalau sudah besar terus Kak Lucas selingkuh tinggal Lily lepas deh, biar dia makan Kakak," tawa petakilan Lily yang tiba-tiba memenuhi pendengaran Lucas.
.....
"Tuan Lucas tersenyum," batin asisten Lucas yang berdiri di dekatnya, jarang sekali bisa lihat Lucas tersenyum.
"Lily katakan, aku tidak punya banyak waktu, jika tidak mengatakan dalam hitungan ke-3 kamu kehilangan kesempatannya," ucap Lucas mulai berhitung.
"Mau mobil Mini Cooper," kata Lily tanpa pikir panjang.
"Ada lagi?" tanya Lucas tanpa keberatan.
"Wahhhh, bisa request beberapa, aku pikir cuma satu," kata Lily langsung kesenangan.
"Cepat katakan," ucap Lucas yang malas berlama-lama.
Selain sibuk dengan pekerjaan, dia juga muak bicara dengan Lily.
"1 T," kata Lily tiba-tiba menyebutkan nominal yang begitu fantastis sampai Asisten Lucas yang mencatat kaget mendengarnya.
"Kalau nggak mampu, cukup mobil Mini Cooper saja," kata Lily setelah dengan suara menggoda.
"Berikan dia 3 T," ucap Lucas tanpa neko-neko sampai Lily syok mendengarnya.
"Kak Lucas tapi..." Lucas sudah langsung menutup telepon secara sepihak.
"Akkkkkkh," kata Lily tiba-tiba berteriak dan berdiri meronta-ronta di atas ranjangnya mendengar Lucas akan memberikannya 3 Triliun.
"Lily, kau bisa foya-foya seumur hidup," kata Lily langsung salto saking senangnya.
Tok
Tok
"Lily," panggil Daddy yang kebetulan lewat langsung mengetuk kamar putrinya yang terdengar heboh sekali.
"Daddy, Daddy," kata Lily langsung berlari membuka pintu.
Daddy menatap Lily yang berdiri di depan pintu dan menengok ke dalam kamar Lily, takutnya ada seseorang.
"Kamu sedang apa, kok heboh sekali Daddy dengar," tanya Daddy jadi curiga memperhatikan dengan detail.
"Tidak ada siapa-siapa Dad," kata Lily dengan jujur.
"Lalu kenapa berisik?" tanya Daddy yang mendengar teriakan Lily sampai keluar.
"Lily lagi main," jawab Lily asal.
"Sendiri?" tanya Daddy mengangkat sebelah alisnya.
"Heheheh, Iya, selamat malam Daddy," kata Lily mengecup pipi Daddy-nya dan kembali menutup pintu.
Lily berlari dan kembali mendarat di atas ranjang empuknya dengan perasaan begitu senang.
.
Ketika hari pernikahan tiba, semua keluarga sibuk dengan acara dan para kolega mereka.
Lucas berdiri di balkon menatap ke arah langit malam bertabur bintang sambil mengelus pelipisnya.
"Dave, sudah dapat data yang aku minta?" tanya Lucas pada asisten yang berdiri di belakangnya.
Lucas meneguk wine di gelasnya dengan cepat begitu mendengar suara Lily.
"Kak Lucas, kau menunjukkan pada dunia kalau aku ini janda," teriak Lily dengan suara cemprengnya.
"Kenapa?" tanya Lucas menatap Lily yang cantik sekali memakai gaun biru muda, tapi kecantikannya langsung hilang karena suara cempreng layaknya Mak Lampir.
"Ayo ke pelaminan, Lily pengin foto juga," omel Lily memeluk sebelah lengan Lucas dan menyeretnya berjalan agar lebih cepat.
"Kamu tidak perlu pura-pura romantis di hadapan para tamu, mereka tahu kita dijodohkan dan kamu tidak mencintaiku," kata Lucas yang berjalan dengan lengan dipeluk Lily.
"Jadi kalau dijodohkan kenapa, apa aku harus seperti janda sendirian di pelaminan," ketus Lily.
"Aku, aku, hanya minum sebentar," gelagapan Lucas yang memang tidak seharusnya meninggalkan Lily juga.
"Cepatlah," kata Lily berjalan lebih cepat, namun karena memakai gaun yang berat serta heels yang tinggi membuatnya hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan.
Lucas dengan sigap menangkap Lily sampai semua tamu yang melihat bersorak melihat mereka yang begitu romantis.
Ketika mata mereka bertemu pandang untuk pertama kalinya ada debaran tak biasa yang Lucas rasakan.
"Sepertinya aku benar-benar harus memfasilitasi kamu dengan kacamata," bisik kurang ajar Lucas ke dekat telinga Lily yang masih dipeluknya.
"Lily cuma terpeleset bukan tidak bisa melihat jalan," cemberut Lily kembali berjalan pelan bersama Lucas menuju ke pelaminan.
Pernikahan mewah kedua anak konglomerat itu dihadiri ribuan tamu yang terdiri dari kerabat dan kolega bisnis mereka.
Di pelaminan Lucas dan Lily menyalami para tamu selayaknya pengantin baru yang sangat bahagia dengan wedding dream mereka.
"Hai, Baby," sapa Daniel tersenyum lebar menatap Lily yang cantik sekali memakai gaun pengantin.
"Hai, Kaka," senyum lebar Lily juga.
"I have a special gift for you, beautiful girl," ucap Daniel memberikan kotak perhiasan sebagai hadiah untuk Lily.
"Thank you, I really like it," ucap Lily begitu membuka kotak perhiasan itu.
"Congratulations on your marriage, Mr. Lucas," ucap Daniel mengulurkan tangannya pada Lucas yang sedari tadi terus menatapnya yang berinteraksi dengan Lily.
"Don't bother my wife if you still want to live," bisik Lucas ke dekat telinga Daniel saat berpelukan agar pria itu tidak mencoba mendekati istrinya.
Daniel hanya tersenyum lebar, menatap Lily dengan tatapan penuh damba tak peduli walaupun dia berdiri di hadapan Lucas.
"No need to worry," ucap Daniel yang sama sekali tidak takut mendengar ancaman Lucas.
"Pria sialan itu," batin Lucas mengepalkan tangannya mendengar keberanian bule sialan yang tidak ada takutnya itu.
"Bagaimana mungkin dia jatuh cinta pada pandang pertama kepada gadis cerewet ini?" batin Lucas menatap Lily dengan sebal.
"Aku tidak akan membiarkannya," Lucas mengepalkan tangannya.
"Ehhhh, kembalikan," kata Lily yang duduk memandang gelang cantik yang Daniel berikan namun tiba-tiba diambil Lucas.
Lucas duduk di samping Lily menutup kotak perhiasan itu dan berbisik, "Ingin gelang ini atau uang 3 Triliun?" tanya Lucas.
"Tapikan itu hadiah untuk Lily," kata Lily dengan tatapan sedih, jujur saja dia memang suka gelang itu.
"Dave," panggil Lucas.
"Buang gelang ini," perintah Lucas memberikan kotak perhiasan itu ke Dave.
"Baik Tuan," kata Dave mengambilnya.
"Tunggu, jangan langsung dibuang, tapi hancurkan dulu sampai berbentuk butiran debu," perintah Lucas.
...........
Jangan lupa vote guys.