Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Tempat Berteduh Yang Paling Sunyi
Jauh dari hiruk-pikuk bahaya yang mereka tinggalkan, kelompok Danu kini berlindung di bangunan sekolah tua yang berdiri kokoh namun tampak sepi dan tak terurus, terletak di kawasan Jalan Maribaya No.53, Langensari, Lembang—jauh dari keramaian kawasan Savana Cihideung. Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, mereka sepakat untuk beristirahat di sana selama beberapa hari guna memulihkan tenaga, meskipun kekhawatiran mulai menyelimuti mereka. Stok makanan dan minuman yang mereka bawa kini menipis drastis, tinggal sedikit sekali sisa yang tersisa untuk dibagi bagi keempat belas orang yang ada di dalam kelompok itu.
Mereka memilih ruangan yang cukup luas, dulunya adalah ruang guru. Di sana, Andri menemukan tumpukan matras tipis yang masih layak pakai tersembunyi di sudut ruangan yang penuh debu. Meski sederhana dan tak senyaman tempat tidur di rumah masing-masing, bagi mereka yang telah berminggu-minggu tidur di lantai keras atau tanah terbuka, alas itu sudah terasa seperti kemewahan. Satu per satu mereka meletakkan beban di pundak, meletakkan tas dan senjata di sisi tempat berbaring, namun tak ada yang benar-benar berani melonggarkan kewaspadaan sepenuhnya.
"Aku yakin untuk sementara tempat ini aman," ucap Danu memecah keheningan sambil memandangi jendela-jendela yang tertutup rapat, "tapi kita tak boleh lengah sedetik pun. Malam ini juga, kita harus memeriksa setiap sudut sekolah ini—mulai dari ruang kelas, gudang, hingga halaman belakang. Bahaya bisa datang kapan saja, dari arah yang tak pernah kita duga."
Natalia yang sedang duduk di tepi salah satu matras segera bangkit berdiri. "Kau benar, Danu. Biarkan aku ikut bersamamu untuk memeriksa area ini."
Namun Danu perlahan menggelengkan kepalanya, menatap wajah Natalia dengan sorot mata lembut namun tegas. "Tidak, Natalia. Kali ini biarkan aku, Andri, dan Jodie yang melakukannya. Kau istirahatlah bersama Mega, Rafli, dan yang lainnya. Simpan tenagamu untuk hari esok, karena kita belum tahu apa yang menanti kita di luar sana."
Natalia sempat ingin membantah, namun melihat ketegasan di wajah Danu, ia akhirnya mengangguk pelan dan duduk kembali. "Baiklah... hati-hati kalian."
Sementara itu Andri yang sedang memeriksa pintu utama yang sudah dikunci rapat kembali berbicara, suaranya terdengar berat dan penuh kekhawatiran. "Kita berada di Jalan Maribaya... seharusnya jalan ini cukup ramai, tapi lihatlah di luar sana. Sepi sekali. Tak ada suara kendaraan, tak ada tanda-tanda penduduk yang mungkin masih bertahan hidup. Seolah seluruh dunia ini hanya tinggal kita sendiri."
"Sudahlah Andri," potong Jodie sambil merapikan senjata yang ia genggam, "menyesali keadaan tak akan mengubah apa pun. Ayo kita ikut Danu, memeriksa tempat ini. Kita pastikan tak ada satu pun makhluk sialan itu yg sedang bersembunyi di sini sebelum kita benar-benar memejamkan mata."
Danu mengangguk setuju, lalu memberi isyarat agar mereka bergerak perlahan. Mereka berjalan menyusuri lorong yang remang, hanya diterangi cahaya bulan yang sesekali menembus celah jendela yang retak. Langkah kaki mereka sengaja diperlambat agar tak menimbulkan suara bising. Setiap ruang kelas yang mereka lewati pintunya diperiksa, setiap lemari yang tertutup rapat disentuh sekilas untuk memastikan tak ada yang bersembunyi di baliknya. Bau debu dan kertas tua memenuhi udara, mengingatkan mereka pada masa lalu yang begitu damai—tempat di mana anak-anak dulu belajar, tertawa, dan bermimpi, yang kini berubah menjadi tempat persembunyian terakhir bagi mereka yang berjuang bertahan hidup.
*
Di dalam hati, Danu juga menyadari kenyataan pahit yang tak bisa dihindari: perbekalan yang menipis. Jika dalam dua hari ke depan mereka tak menemukan sumber makanan dan air bersih, mereka terpaksa harus kembali melangkah keluar meski bahaya masih mengintai di setiap tikungan. Namun untuk saat ini, yang terpenting adalah memastikan tempat ini benar-benar aman bagi semua orang, terutama bagi mereka yang sudah sangat kelelahan.
Setelah berkeliling hampir ke seluruh bagian bangunan utama, mereka kembali ke ruang guru dengan perasaan sedikit lebih tenang. Setidaknya untuk malam ini, tak ada ancaman yang terlihat. Namun kesunyian yang menyelimuti kawasan itu justru terasa lebih mencekam daripada suara geraman yang biasa mereka dengar—seolah alam sendiri sedang menahan napas, menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Langkah kaki Danu, Andri, dan Jodie perlahan memasuki ruangan gudang yang terletak di bagian paling ujung bangunan sekolah. Pintu kayu yang sudah lapuk itu terbuka sedikit saat mereka dorong, menampakkan ruangan yang penuh debu dan bau apek yang menyengat. Senter kecil yang mereka bawa menyapu ke sekeliling ruangan, menyoroti tumpukan meja rusak, kursi yang bertumpuk, hingga rak-rak kosong yang sudah lama tak tersentuh.
Hati mereka yang sempat berdegup kencang karena waspada perlahan mulai tenang. Tak ada geraman, tak ada sosok yang bergerak tiba-tiba dari balik tumpukan barang. Gudang itu benar-benar kosong dari ancaman. Namun saat sorot cahaya jatuh ke sudut paling belakang, mata mereka tertuju pada sesuatu yang membuat napas mereka tercekat sejenak.
Tersusun rapi di atas lantai yang sedikit lebih bersih, ada beberapa kardus besar yang tertutup rapat. Danu mendekat perlahan, berjongkok, dan membuka salah satu ujung kardus itu dengan hati-hati. Saat tutupnya terbuka, sorot mata mereka berubah seketika—penuh takjub dan harapan yang kembali menyala. Di dalamnya tertata rapi makanan kaleng, biskuit, dan kemasan air minum dalam kemasan yang masih utuh.
"Sepertinya dulu sekolah ini mendapat bantuan santunan makanan," gumam Danu pelan, matanya tak lepas dari tumpukan bekal yang luar biasa itu. "Mungkin dari program pemerintah atau donatur sebelum wabah ini meledak. Dan semuanya masih tersimpan di sini, tak sempat dibagikan saat kekacauan terjadi."
Jodie ikut berjongkok, memeriksa tanggal kedaluwarsa pada salah satu kaleng, lalu tersenyum lega yang jarang ia tunjukkan belakangan ini. "Kondisinya masih bagus, Danu. Jika kita bagi dengan hemat, stok ini bisa bertahan untuk kita semua selama satu minggu... bahkan mungkin dua minggu ke depan."
Kabar itu seperti oase di tengah gurun tandus. Beban berat yang selama ini membebani pikiran Danu soal perbekalan perlahan terangkat sedikit demi sedikit. Namun ia tak membiarkan rasa lega itu membuatnya lengah. Ia menutup kembali kardus itu sebentar, menatap kedua rekannya dengan tatapan yang kembali tegas.
"Kau benar, Jodie. Kita bawa semua ini kembali," ucapnya mantap. "Tapi sebelum itu, tugas kita belum selesai. Kita harus memeriksa area halaman belakang dan pagar keliling sekolah terlebih dahulu. Kita pastikan tak ada celah yang bisa dimasuki bahaya, dan tak ada makhluk yang berkeliaran di sana."
Andri mengangguk setuju sambil merapatkan senjata ke dadanya. "Kau benar. Makanan ini akan berguna untuk kita. Ayo kita selesaikan memeriksa halaman belakang."
Mereka kembali melangkah, menutup pintu gudang dengan rapat, lalu berjalan menyusuri lorong menuju pintu belakang yang mengarah ke halaman sekolah. Angin malam yang lebih dingin segera menyambut mereka saat pintu itu terbuka perlahan. Halaman yang luas itu tampak sunyi senyap, diterangi samar oleh cahaya bulan yang tertutup awan. Mereka memeriksa pagar yang tinggi, memastikan tak ada bagian yang roboh atau bolong, serta memindai setiap sudut di balik pepohonan rindang yang dulu menjadi tempat bermain para murid.
Setelah yakin sepenuhnya tak ada ancaman yang bersembunyi, mereka kembali ke dalam dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Di tangan mereka kini bukan hanya keamanan yang sudah dipastikan, melainkan secercah harapan baru yang akan membuat mereka bisa bertahan lebih lama lagi—setidaknya untuk waktu yang cukup merencanakan langkah selanjutnya.
Bersambung