"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Ia menjadi lebih percaya diri setelah satu buketnya laku. Ia mulai tak malu untuk berteriak, memancing perhatian orang-orang.
"Yang istrinya ulang tahun, yang mau aniversary, yang pengen nembak cewek, yuk beli bunga yuk!"
Laku lagi.
Lama-lama suaranya tidak gemetar. Langkahnya tidak ragu. Ia mulai bisa bercanda: "Pak, beli bunga biar nggak dimarahin bini di rumah."
Jam 09.40. Keranjang Ilona akhirnya kosong. Elang, di luar dugaan, Laki-laki itu berhasil menjual 10 buah buket, bahkan jauh lebih banyak dari Ilona yang hanya berhasil menjual 5 buket.
Mereka duduk di bangku taman, sama-sama ngos-ngosan, tapi senang.
Ilona menyedot es teh cup nya. "Hebat kamu. Tadi jago banget nawarinnya."
Elang tersenyum, meletakkan cup es teh yang hanya tinggal es batunya ke sebelah.
"Aku juga gak nyangka," kata Elang jujur. "Rasanya...wow banget pokoknya."
Ilona tersenyum. "Jualan itu gitu. Capek, tapi pas ada yang bilang 'makasih ya mbak bunganya cantik', rasanya senang sekali. Dan pas lihat duit, capek langsung ilang."
Keduanya tertawa bersama.
Elang menatap Ilona. Gadis yang kakinya ia ambil.
Di dalam dadanya, di penuhi rasa bersalah. Berulang kali buka mulut, lalu menutup lagi, ragu untuk memulai obrolan tentang bagaimana kehidupan Ilona selama ini.
"Ilona..." panggilnya pelan.
"Hmm?" Ilona sedang mengecek ponselnya.
"Boleh nanya nggak? Soal... soal dulu."
Tangan Ilona berhenti. Ia menoleh. "Soal apa?"
"Soal kejadian yang bikin kaki kamu..." Suara Elang tercekat. "Yang bikin kamu jadi gini."
Ilona diam beberapa detik. Lalu ia menarik napas, seperti orang yang sudah ditanya hal ini seribu kali. Ia dipaksa untuk selalu mengingat kejadian itu. Ia menyender. Matanya menatap ke arah pohon beringin yang indah dengan akar gantungnya.
"Maaf, kalau tidak mau, juga tidak apa-apa," ujar Elang.
"8 tahun silam. Dini hari yang masih gelap, sesuatu yang mengerikan terjadi. Sebuah benturan keras, yang lalu mengubah seluruh hidupku. Tubuhku dihantam, aku terpental, sakit, gelap, nafasku seperti berhenti."
Kedua telapak tangan Elang, mencengkeram pinggiran kursi, tenggorokannya tercekat.
"Bangun-bangun sudah di RS. Kakiku tak dapat digerakkan. Dokter bilang tulang kakinya remuk." Dadanya nyeri sekali saat ingat waktu itu. "Sudah tak bisa dipertahankan lagi, dan harus diamputasi. Amputasi." Ulang Ilona dengan mata berkaca-kaca. "Aku masih 20 tahun saat itu, masih kuliah semester baru 3. Banyak mimpi yang ingin kuraih, banyak tempat yang ingin ku kunjungi, tapi duniaku runtuh." Ia menyeka air mata.
"Aku terpuruk, aku mengurung diri dalam waktu yang cukup lama. Hampir 2 tahun aku hanya berada di rumah, tidak berani menghadapi dunia. Aku takut tatapan orang-orang, aku takut bisikan-bisikan mereka tentang kondisi ku. Kuliahku berhenti di tengah jalan, kekasihku yang awalnya mensupport, lama-lama pergi. Satu persatu teman menghilang, aku terlupakan. Aku marah pada Tuhan. Kenapa harus aku? Kenapa aku diberi cobaan yang terlalu berat. Katanya Tuhan memberi cobaan sesuai kemampuan, tapi aku gak mampu. Aku gak kuat. Rasanya, gak gila aja, itu sudah bagus."
Dada Elang sesak sekali mendengar cerita Ilona. Ia menikmati hidup di Jerman, tapi Ilona, dia hampir gila karenanya.
"Untung aku punya keluarga yang tidak pernah meninggalkanku. Ibu, Ayah, Eliana, semua menyayangiku." Ilona mulai tersenyum saat menceritakan keluarganya.
"Kasih sayang merekalah yang membuat aku akhirnya bangkit. Aku tidak boleh membuat mereka sedih terus. Ayahku meninggal dunia 3 tahun setelah kecelakaan itu. Dan itu, menjadi titik balik kehidupanku. Sampai kapan aku begini terus? Terus-terusan menyalahkan Tuhan, tidak akan membuat kakiku kembali. Aku harus bangkit, aku tidak boleh menjadi beban keluarga. Ibu sudah kehilangan Ayah, dan dia tak boleh kehilangan aku juga. Aku dengan keterbatasanku, dan ijazah yang hanya SMA, awalnya bingung mau kerja apa, sampai akhirnya, aku belajar membuat buket, awalnya Eliana yang bantu jualin ke teman-temannya, lalu berlanjut jualan di sosmed. Dan sudah hampir setahun, aku selalu disini setiap Minggu pagi."
"Terus... pelakunya?" Elang memberanikan diri untuk membahas soal itu.
Ilona ketawa kecil. Pahit. "Tidak tertangkap sampai sekarang. Ayahku tidak pernah berhenti mencari keadilan untukku, bahkan disaat-saat terakhir hidupnya. Tapi...orang jahat itu tetap tidak tertangkap. Kasusnya sudah ditutup sekarang, tanpa ada seseorang yang diadili, tanpa aku mendapatkan keadilan." Ia menoleh ke Elang. Senyumnya tipis.
Elang menelan. Tenggorokannya sakit. Ia ingin teriak "Itu aku". Tapi suaranya hilang, yang keluar cuma, "Kamu hebat, Lon."
Ilona tersenyum. "Setiap orang, berjuang dengan caranya sendiri."
Angin berhembus lumayan kencang, membawa sedikit kesejukan di cuaca yang mulai panas bersama dengan matahari yang semakin naik. Beberapa daun gugur, dan di antaranya menyangkut di rambut Ilona yang dikuncir kuda.
Ilona menjauhkan kepala saat Elang mengulurkan tangan ke arah kepalanya.
"Maaf, ada daun di kepala kamu."
"Oh... "
Ilona kembali mengecek ponsel. Hari semakin siang, matahari semakin terik, tapi yang ia tunggu belum juga datang. Ia mengambil ponsel, mencoba menelepon Arya, yang katanya mau datang menjemput.