Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!
Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Sinar matahari pagi menyinari pelataran batu giok putih di depan Aula Utama Puncak Pedang.
Seekor burung bangau berbulu emas kristal melayang turun dari lapisan awan tertinggi, lalu mendarat dengan anggun di atas pagar marmer aula.
Di paruh bangau emas tersebut, terikat selembar gulungan sutra merah darah yang memancarkan pendar energi spiritual dingin.
Patriark Song Tianhe yang sedang berdiri di depan aula melangkah maju dengan alis berkerut tebal.
Ia mengulurkan tangan kanannya, melepaskan ikatan pita emas di paruh bangau tersebut. Begitu gulungan sutra berpindah tangan, burung bangau emas itu mengepakkan sayapnya dan melesat kembali menembus langit menuju selatan.
Song Tianhe merentangkan gulungan sutra di hadapan Tetua Tie Gang dan Tetua Chen Feng yang baru saja tiba.
Di bagian atas gulungan, tiga stempel raksasa tercetak tebal: stempel teratai giok milik Paviliun Giok Ilahi, stempel ular berkepala sembilan dari Sekte Racun Seribu Lembah, dan stempel gada petir dari Sekte Guntur Pengguncang Bumi.
“Surat tantangan Turnamen Lembah Naga Jatuh,” bisik Song Tianhe dengan nada berat.
Tetua Chen Feng memegang janggutnya dengan tangan gemetar. “Turnamen antar-penguasa Domain Selatan yang diadakan lima puluh tahun sekali… kenapa mereka memajukan jadwalnya tahun ini?”
Song Tianhe membaca baris demi baris tulisan bertinta emas di atas kain sutra tersebut.
“Aliansi Tiga Sekte menuntut Sekte Pedang Langit mempertaruhkan seluruh hak konsesi tambang batu roh di Lembah Sungai Dingin dan Tambang Bintang Ungu,” lanjut Song Tianhe, rahangnya mengeras. “Jika kita menolak hadir, mereka akan menyatakan perang gabungan.”
Tetua Tie Gang mencengkeram gagang pedangnya. “Mereka ingin membalas kekalahan Sekte Serigala Besi kemarin dengan memanfaatkan panggung turnamen resmi.”
“Bukan itu bagian terburuknya,” potong Song Tianhe seraya menunjuk ke bagian bawah gulungan.
Di bagian daftar peserta wajib dari kalangan generasi muda, sebuah nama tertulis dengan tinta darah pekat yang masih memancarkan hawa pembunuh:
Peserta Wajib Nomor Satu: Gu Ran (Murid Istimewa Klan Song).
Catatan: Jika Gu Ran tidak naik ke panggung duel, Sekte Pedang Langit dianggap menyerah tanpa syarat.
Tetua Chen Feng memucat seketika. “Mereka… mereka secara khusus mengincar anak itu!”
“Tiga sekte itu pasti telah mendengar rumor tentang Gu Ran,” kata Song Tianhe dengan dahi bersimbah keringat dingin. “Mereka sengaja memaksa Gu Ran naik ke arena turnamen Lembah Naga Jatuh untuk membunuhnya di depan puluhan ribu saksi tanpa bisa kita intervensi secara militer!”
Tanpa menunggu rapat dewan tetua, Song Tianhe menyambar gulungan sutra itu dan melesat mendaki jalan setapak menuju Paviliun Awan Mengambang.
Di balkon lantai dua Paviliun Awan Mengambang, Gu Ran sedang berbaring santai di atas kursi rotan empuk.
Angin pagi membelai rambut putihnya yang terurai longgar. Di atas meja kayu kecil di sampingnya, sebuah piring porselen memuat tumpukan manisan buah persik kering yang manis legit.
Song Ming berdiri di samping meja, sibuk mengipasi Gu Ran dengan kipas bulu merak sambil menuangkan teh melati hangat ke cangkir giok.
“Tuan Muda Gu!”
Suara derap langkah tergesa-gesa Song Tianhe memecah keheningan paviliun. Sang Patriark menerobos masuk ke balkon dengan napas tersengal, meletakkan gulungan sutra merah darah itu ke atas meja di depan Gu Ran.
“Lihat ini,” kata Song Tianhe dengan nada cemas tertahan. “Aliansi Tiga Sekte menantang kita ke Lembah Naga Jatuh. Mereka secara eksplisit menuntut kehadiranmu di arena duel hidup-mati!”
Gu Ran tidak langsung mengambil gulungan itu. Ia memasukkan sepotong manisan buah persik ke dalam mulutnya, mengunyahnya pelan, lalu mengambil cangkir teh melati untuk membasahi tenggorokannya.
Setelah itu, ia meraih gulungan sutra merah dengan jari-jari tangannya yang bersih.
Matanya yang kelabu menyusuri nama “Gu Ran” yang tertulis tebal dengan tinta darah di bagian bawah daftar peserta.
“Tinta darah binatang tingkat tinggi,” gumam Gu Ran datar seraya menyentuh tulisan tersebut. “Aromanya wangi kayu gaharu. Tiga sekte ini kelihatannya sangat kaya.”
Song Tianhe tertegun mendengar komentar Gu Ran. “Tuan Muda Gu, ini bukan soal tinta! Ini jebakan pembunuhan terang-terangan! Tiga sekte itu dipimpin oleh Master Yan Wuji, Nenek Gui Hua, dan Zhao Badao—tiga monster di Alam Transformasi Jiwa. Jika kau menginjakkan kaki di Lembah Naga Jatuh, mereka akan mengatur agar kau dibantai di atas panggung!”
Gu Ran melipat gulungan sutra merah itu menjadi empat bagian, lalu menyelipkannya ke lipatan sabuk jubah tidurnya.
Ia menoleh ke arah Song Tianhe dengan tatapan malas tanpa riak kepanikan sedikit pun.
“Tiga monster kaya di Alam Transformasi Jiwa ya?” ucap Gu Ran pelan seraya tersenyum tipis. “Bagus. Kebetulan tabungan batu rohku sedang menipis untuk belanja di toko sistem. Siapkan kereta yang nyaman, kita berangkat ke Lembah Naga Jatuh.”
Song Tianhe mematung di tempat, menatap pemuda berambut putih itu dengan mulut menganga lebar, merasa seluruh insting bertahan hidup manusia normal telah lenyap dari kepala Gu Ran.