Terlahir kembali usai tewas disiksa, Aira bertekad membalas dendam pada Azka dan keluarganya. Ia bangkit merebut tahta, menggagalkan pengkhianatan, dan membuka hati untuk paman Azka, Rizky.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4. TOPENG TOPENG YANG TERBUKA
Dua minggu berlalu sejak adegan mengejutkan di sudut kafe itu. Bukannya menutupi hubungan terlarang mereka, Azka dan Rani justru kian berani memamerkan kemesraan di depan banyak orang.
Di saat seluruh persiapan pesta pertunangan makin mendesak, Azka sama sekali tidak pernah mengulurkan tangan untuk membantu Aira. Pria itu justru menghabiskan hampir seluruh waktunya bersama Rani—bahkan di dalam rumah keluarga Aira sendiri.
Di ruang tengah, Aira duduk tenang sambil memeriksa berkas daftar undangan. Tak jauh darinya, Rani duduk sangat dekat dengan Azka di sofa utama. Jemari Rani dengan sengaja mengusap bahu Azka, sementara Azka menatap gadis itu dengan binar penuh kejutan dan tawa renyah.
Melihat tingkah tak tahu malu itu, ayah Aira yang duduk di kursi kerja tak jauh dari sana justru hanya tersenyum memaklumi. Alih-alih menegur Azka yang berstatus calon tunangan anak sulungnya, sang ayah malah mendukung kedekatan mereka dengan alasan menjaga silaturahmi keluarga.
Rani melirik ke arah Aira, lalu memasang raut wajah polos yang dibuat-buat. "Kak Aira tidak marahkan kalau Kak Azka sering pergi dan menemaniku belanja? Soalnya Kak Azka bilang, Kak Aira sibuk dan tidak suka jalan-jalan."
Aira mengangkat pandangannya dari kertas berkas. Matanya menatap Rani dan Azka bergantian dengan dingin tanpa sedikit pun emosi.
"Marah?" Aira menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan makna mendalam. "Kenapa harus marah? Silakan saja. Kalau kamu suka, ambil saja sesukamu."
Jawaban santai Aira membuat Azka mengerutkan dahi, merasa gengsinya sedikit tergores karena Aira sama sekali tidak cemburu. Namun Rani hanya terkekeh manja, makin erat merangkul lengan Azka.
Tak berhenti di situ, beberapa hari kemudian Azka secara terang-terangan memboyong Rani ke rumah besar klan cabang Gunawan. Azka mengenalkan Rani kepada ibu dan adiknya sebagai "adik ipar yang sangat pengertian dan perhatian".
Hampir setiap hari, Azka membawa Rani pulang dengan tangan dipenuhi tas belanjaan barang-barang mewah. Tangan Rani selalu bergelayut manja di lengan tegap Azka di hadapan calon ibu mertua dan adik ipar Aira.
Azka secara berkala menjelek-jelekkan Aira di depan keluarganya—mengatakan bahwa Aira adalah wanita yang kaku, membosankan, tak berkelas, dan sulit diatur.
Sebaliknya, ia melambungkan nama Rani sebagai gadis yang manis, penurut, dan sangat pandai menyenangkan hati orang tua. Cucian otak dari Azka dan kelicikan Rani berhasil membuat ibu dan adik Azka membenci Aira setengah mati. Mereka sepenuhnya berpihak pada Rani dan memperlakukan Rani seolah-olah gadis itu adalah calon menantu idaman mereka yang sesungguhnya.
"Rani, kamu itu jauh lebih cocok jadi menantu di rumah ini daripada kakakmu yang sombong dan sok suci itu," puji ibu Azka suatu sore saat mereka bertiga sedang minum teh di ruang keluarga.
Rani menunduk malu-malu. "Tapi Tante... bukankah Kak Azka harus menikah dengan Kak Aira?"
Ibu Azka mendengus kasar. "Keluarga besar Gunawan tidak akan pernah menerima pernikahan dari anak yang bukan keturunan sah utama. Jadi, kamu harus lebih sabar sebentar, Rani. Biarkan Azka menikahi Aira secara formalitas dulu sampai aset dan saham peninggalan ibunya beralih penuh.
Setelah posisi Azka kuat dan dia diangkat menjadi penerus utama keluarga Gunawan, kami pastikan Aira akan diceraikan, dan kamulah yang akan menjadi nyonya utama di rumah ini!"
Rani tersenyum sangat puas mendengar jaminan itu, memeluk ibu Azka dengan sangat erat.
Namun, tawa mereka terhenti seketika saat langkah kaki berbingkai sepatu hak tinggi berdentang nyaring dari arah pintu masuk. Sosok wanita muda melangkah masuk dengan anggun.
Ia mengenakan gaun berpotongan elegan yang membalut tubuhnya dengan sempurna, riasan wajah yang halus namun memancarkan aura dingin yang sangat dominan, serta tatanan rambut yang begitu berkelas.
Tampilannya berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dari gambaran wanita kaku dan kumal yang selalu diceritakan Azka dan Rani.
Azka dan Rani terperanjat dari duduknya. Suasana ruangan yang tadinya penuh tawa seketika berubah menjadi sangat tegang dan hening. Semua orang mendadak gugup, menyadari kebusukan yang baru saja mereka lontarkan secara terbuka.
Ibu Azka berdiri dengan raut wajah kaget yang berusaha ia tutupi. "Siapa kamu?"
"Saya Aira, Tante," jawab Aira tenang dengan senyum tipis yang tak tersentuh emosi.
Mata ibu Azka membelalak, namun ia berusaha mentralisir situasi dengan kekehan canggung. "O-oh... kamu Aira. Sejak kapan kamu datang?"
"Barusan, Tante. Maaf saya baru sempat berkunjung ke sini hari ini," jawab Aira santai. Matanya melirik ke sudut sofa. "Dan... oh, ada Rani ternyata di sini. Hai adikku sayang. Ngomong-ngomong kenapa semuanya tegang sekali? Apakah ada yang salah?"
"Emm... tidak, tidak ada apa-apa," sahut ibu Azka terburu-buru.
Meski sempat terkejut, kehadiran Aira sama sekali tidak disambut hangat. Ibu dan adik Azka justru sengaja mengacuhkannya dan kembali memfokuskan perhatian pada Rani. Adik perempuan Azka bahkan sengaja memanas-manasi keadaan sambil menatap Aira dari atas ke bawah. "Kak Rani cantik sekali hari ini! Harusnya Kakak yang jadi kakak ipar aku ya, bukan orang lain."
Aira sama sekali tidak menggubris provokasi murahan itu. Ia berjalan menuju sofa tunggal, duduk anggun sambil membuka tablet kerjanya, memfokuskan pandangan pada lembaran dokumen digital di tangannya.
Melihat Aira yang begitu tenang dan mengabaikan mereka, ibu Azka merasa tersinggung.
"Jaman sekarang ya, ada calon menantu datang ke rumah mertua tapi bukannya menyapa malah asyik main tablet. Sok sibuk sekali."
Aira tetap gemetaran sedikit pun, jari-jarinya terus menari di atas layar.
Melihat celah untuk merasa berkuasa dan mencari muka di depan calon ibu mertuanya, Rani berdiri. Dengan raut wajah berani, ia menghampiri Aira dan secara kasar merebut tablet dari jemari Aira.
"Kakak tidak sopan banget sih!" bentak Rani dengan suara melengking. "Ada orang tua yang sedang berbicara bukannya didengarkan, malah asyik main tablet!"
"Heem, memang tidak tahu sopan santun," timpal ibu Azka menyilangkan dada.
Atmosfer ruangan mendadak membeku. Aira perlahan mengangkat kepalanya. Tidak ada raut panik atau takut di wajahnya. Ia berdiri melangkah maju perlahan, mendekat ke arah Rani yang berdiri jumawa.
PLAKKK!
Satu gerakan cepat dari tangan Aira mendarat dengan sangat keras di pipi mulus Rani. Tamparan dahsyat itu menimbulkan bunyi dentuman nyaring yang menggelegar di seluruh ruangan, membuat kepala Rani terlempar ke samping dan menyisakan bekas telapak tangan merah menyala.
Semua orang di ruangan itu melotot terperangah. Azka dan ibunya membisu, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Sebelum ada yang sempat memprotes, Aira mencengkeram rambut Rani dengan kuat, menarik kepala adik tirinya itu mendongak hingga Rani meringis kesakitan.
"Rani, tolong sadar diri sedikit," bisik Aira tepat di depan wajah Rani, suaranya mengandung intonasi dingin yang mampu membekukan darah. "Yang akan menjadi nyonya besar di rumah ini adalah aku. Aira. Putri sah dari keluarga ini. Bukan anak gundik seperti kamu."
Aira makin mengetatkan cengkeramannya di rambut Rani, memaksa mata Rani yang berair untuk menatapnya. "Tolong sadar diri sedikit saja."
"Aira! Apa-apaan kamu!" jerit Azka panik, mulai bergerak maju bersama ibu dan adiknya untuk memisahkan mereka.
Namun sebelum tangan Azka berhasil
menyentuhnya, dengan secepat kilat Aira mendorong tubuh Rani hingga melayang dan jatuh terjerembap ke atas lantai.
Tanpa membuang waktu atau membalikkan badan untuk mendengar teriakan histeris dan makian dari Rani serta keluarga Azka, Aira mengambil kembali tabletnya, memutar tubuh dengan anggun, dan melangkah keluar dari rumah besar itu dengan senyuman kemenangan.