Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?
Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.
Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Keesokan harinya, kepastian itu disampaikan langsung kepada Dr. Helena di ruang kendali utama. Tanpa upacara megah atau perayaan, sebuah komitmen baru diresmikan di dalam laboratorium steril yang menjadi benteng terakhir peradaban tersebut.
Di hadapan Dr. Helena dan beberapa staf medis Oase yang tersisa, Hayden dan Fiora saling bertukar janji setia. Bukan sekadar ikatan formalitas untuk menyatukan dua garis keturunan ilmuwan besar, melainkan pengakuan atas jalinan rasa dan rasa percaya yang tumbuh murni di antara desakan peluru dan ancaman kematian.
Leo berdiri di samping mereka, tersenyum polos tanpa sepenuhnya memahami beban sejarah yang kini terpikul di bahu kedua pelindungnya. Namun, senyuman bocah itu menjadi pengingat paling nyata tentang alasan mereka bertahan sejauh ini.
Tiga bulan berlalu di dalam Fasilitas Oase.
Suasana laboratorium yang tadinya dingin dan kaku perlahan terasa hangat oleh kehadiran keluarga kecil itu. Hayden tetap menjalankan fungsinya memimpin sistem pertahanan perimeter Oase, memastikan radar dan barikade luar bebas dari ancaman Aegis Corp, sementara Fiora bekerja berdampingan dengan Dr. Helena mempersiapkan modul sintesis Genesis versi terbaru.
Pagi itu, lampu indikator klinis di ruang pemindaian medis berkedip hijau. Dr. Helena keluar dari ruangan isolasi dengan membawa lembar hasil analisis biologis, wajahnya menyunggingkan senyum lega yang amat jarang terlihat.
Fiora melangkah keluar seraya mengusap lembut perutnya yang masih rata, menatap Hayden yang sedang berdiri menunggunya di luar pintu kaca.
"Hasil pemindaian sel punca awal sudah keluar," ujar Dr. Helena, menyerahkan lembaran data genetik kepada Hayden. "Proses pemisahan jaringan embrionik berjalan seratus persen kompatibel dengan antibodi Leo. Sintesis Genesis versi terbaru resmi dimulai."
Hayden menatap lembar analisis itu sejenak, lalu beralih menatap Fiora. Mantan prajurit yang biasanya berwajah dingin itu mengulurkan tangannya, menggenggam erat jemari Fiora.
Langkah pertama menuju pemulihan dunia baru saja dimulai. Di dalam benteng Oase yang terisolasi, kehidupan baru yang sedang bertumbuh kini menjadi awal dari terbitnya harapan bagi sisa peradaban manusia.
Tapi belum lama ketengan dan kelegaan itu datang.
*BOMM!*
Guncangan dahsyat menghantam dasar Fasilitas Oase. Lampu-lampu steril serta-merta mati, digantikan oleh pendar merah darurat yang meraung-raung diiringi sirene bahaya. Dinding kubah laboratorium retak hebat, memuntahkan puing-puing beton dan kepulan asap hitam yang menyengat.
"Sistem perimeter jebol! Pasukan Aegis berhasil melacak frekuensi energi kita!" teriak Dr. Helena dari balik konsol kendali yang mulai mengeluarkan percikan api.
Belum sempat asap mereda, ledakan kedua mendobrak gerbang baja ruang isolasi. Puluhan prajurit Aegis Corporation berpakaian taktis berat menyerbu masuk dengan senjata otomatis terarah penuh. Tembakan gencar memondong ruangan, menghancurkan tabung-tabung kaca eksperimen dan instrumen medis bernilai tinggi.
"Fiora, merunduk!" raung Hayden.
Hayden menarik senapan serbunya dari rak darurat, membalas tembakan musuh secara presisi sambil menjadikan meja besi sebagai perisai. Namun, gelombang ledakan dari tembakan peluncur roket musuh menghantam tepat di pilar beton dekat posisi Fiora berdiri.
*BARR!*
Hantaman gelombang kejutan dan tumpukan puing-puing berat terlempar keras, menimpa tubuh Fiora hingga ia terpental ke lantai keras.
"Fiora!" teriak Hayden histeris. Dengan mengabaikan hujan peluru yang menerjang sekelilingnya, Hayden melompat dan menembak mati tiga prajurit Aegis terdepan, lalu berlutut memeluk tubuh Fiora yang mengerang kesakitan luar biasa.
Fiora memegang erat lengan Hayden, wajahnya pucat pasi bercucuran keringat dingin. Di tengah kekacauan, bau darah menyeruak. Cairan merah pekat membasahi bagian bawah pakaian Fiora, mengalir di atas lantai keramik putih laboratorium yang steril.
Rasa nyeri yang menyayat di bagian perut membuat Fiora tak mampu berdiri. Embrio yang baru berusia beberapa minggu—katalis utama yang menjadi tumpuan harapan bagi sintesis vaksin Genesis terbaru—gugur seketika akibat trauma benturan keras dan kejut hebat dari ledakan tersebut.
"Anak kita... Hayden..." bisik Fiora lirih sebelum akhirnya tak sadarkan diri dalam dekapan Hayden, meninggalkan rasa duka mendalam di tengah dentuman senjata Aegis yang terus membombardir Oase.
Rasa duka yang menghantam mendadak menguap, berganti menjadi amarah murni yang membakar dada Hayden. Matanya memerah saat membaringkan tubuh Fiora yang tak sadarkan diri di balik perlindungan barikade beton, tepat di samping Dr. Helena dan Leo yang gemetar ketakutan.
"Jaga mereka," geram Hayden, suaranya dingin dan tajam seperti mata pisau.
Ia menyambar senapan serbu *assault rifle* dari lantai, mengokangnya dalam satu gerakan mantap, lalu melompat keluar dari balik perlindungan.
*RATATATATAT!*
Tembakan balasan Hayden menyapu jajaran prajurit Aegis terdepan. Peluru-peluru presisi menembus celah helm taktis musuh, menjatuhkan tiga prajurit seketika. Hayden bergerak bagai hantu di antara asap dan kobaran api, memanfaatkan sisa-sisa pilar laboratorium untuk manuver.
Seorang prajurit taktis berat Aegis menerjang forward membawa tameng anti-peluru dan senapan mesin otomatis. Hayden tak mundur. Ia menembak habis magazinnya ke arah kaca pengintai tameng hingga retak, melompat menerjang tubuh prajurit itu, lalu menusukkan pisau komando tepat di celah leher pelindungnya.
*JASSH!*
Hayden merebut tameng baja musuh, menjadikannya perisai seraya menghujani sisa regu Aegis dengan granat yang ia rebut dari rompi lawan.
*BOMM!*
Ledakan di ruang tengah laboratorium memicu reaksi berantai, menghancurkan sisa pasukan pemburu Aegis yang berada di lorong utama. Asap tebal dan bau mesiu mengepul pekat. Hayden berdiri di tengah pembantaian itu dengan napas terengah dan pakaian bersimbah darah musuh—serta darah Fiora.
"Hayden! Komandan mereka melarikan diri ke area helipad atas bersama sampel darah cadangan!" seru Dr. Helena seraya membalut pendarahan Fiora seadanya.
Hayden menoleh sejenak, melihat raut pucat Fiora yang masih pingsan. Dendam dan tekad mengunci pandangannya. Tanpa menguarkan sepatah kata pun, ia mengisi ulang magazin senjatanya dan melangkah cepat menaiki tangga darurat menuju helipad di atap kubah Oase, siap menuntaskan setiap nyawa yang bertanggung jawab atas tragedi ini.