NovelToon NovelToon
Preman Pasar Belahan Jiwaku

Preman Pasar Belahan Jiwaku

Status: tamat
Genre:Chicklit / CEO / Romansa / Tamat
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Setibanya di kamar VVIP, perawat senior yang tadi menyusul ke rooftop langsung membaringkan Dayang kembali ke atas ranjang dengan raut wajah gusar.

Setelah memeriksa tekanan darah dan memastikan gips pada kaki Dayang tidak bergeser, perawat itu bersedekap dada sambil menatap tajam ke arah Rimba dan Bang Jaka.

"Ingat ya, Pak! Ini peringatan terakhir dari saya," ancam perawat itu dengan suara tegas tanpa kompromi.

"Kalau sampai pasien diajak keluyuran atau bikin emosi lagi sampai kondisinya drop, saya tidak akan segan-segan minta dokter mencabut izin kunjungan Bapak-bapak sekalian! Pasien butuh ketenangan total!"

Rimba hanya menundukkan kepala pasrah, tak sedikit pun berniat merusak suasana.

"Baik, Sus. Kami janji tidak akan mengulanginya lagi," sahut Rimba dengan suara lembut.

Setelah perawat meninggalkan ruangan, suasana kamar VVIP kembali tenang.

Rimba mengambil mangkuk bubur hangat yang baru disiapkan, lalu menarik kursi hingga benar-benar rapat ke sisi ranjang Dayang.

Dengan sangat telaten dan hati-hati, Rimba menyendokkan bubur hangat, meniupnya perlahan agar tidak terlalu panas, lalu menyodorkannya ke depan bibir Dayang.

Dayang yang kini sudah melunakkan hatinya tak lagi menolak.

Gadis itu membuka mulutnya pelan dan menerima suapan pertama dari Rimba.

"Makan yang banyak ya, Dayang." bisik Rimba dengan senyum tulus yang mengembang di wajahnya, matanya berbinar penuh kehangatan.

Dayang menganggukkan kepalanya pelan, menyapu pandangan ke arah jemari Rimba yang mengusap sudut bibirnya dengan tisu saat ada sedikit sisa bubur yang menetes.

Perhatian kecil namun begitu manis itu membuat dada Dayang terasa hangat, perlahan mengikis sisa luka akibat kebohongan sang CEO.

Suapan demi suapan masuk tanpa tersisa hingga mangkuk bubur di tangan Rimba benar-benar kosong.

Rimba lalu memberikan segelas air putih hangat dan membantunya meminum obat yang telah didosiskan dokter.

Namun, saat Rimba hendak meletakkan gelas di atas meja, tangan mungil Dayang perlahan bergerak meraih ujung kemeja Rimba.

Gadis itu menatap gips tebal yang membungkus kaki kirinya dengan raut wajah cemas dan mata berair.

"Mas, kakiku apa tidak bisa digunakan lagi?" bisik Dayang lirih, suaranya sarat akan rasa takut akan kelumpuhan yang membayanginya.

Rimba langsung berlutut di samping ranjang, menggenggam erat telapak tangan Dayang dan mengecupnya lembut penuh kehangatan.

Sorot matanya memancarkan kesungguhan yang tak tergoyahkan.

"Jangan pernah berpikir seperti itu, Dayang." bisik Rimba dengan suara penuh ketenangan.

"Itu, cuma gips sementara untuk menyangga tulangmu yang retak. Aku berjanji, aku akan datangkan dokter spesialis ortopedi terbaik di dunia untuk merawatmu. Kaki ini pasti bisa berjalan, berlari, dan berdiri tegak lagi seperti sediakala. Aku yang akan mendampingi setiap langkah terapi medis kamu."

Dayang bernapas lega, dadanya yang semula bergemuruh kecemasan perlahan mengendur.

Namun, ingatan gadis itu mendadak terlempar pada konflik awal yang memicu segala prahara ini—perjanjian akuisisi dan relokasi antara pihak pabrik milik Rimba dengan kawasan pasar tradisional serta pelelangan ikan tempat Bang Jaka dan para pedagang menggantungkan hidup.

Dayang menatap lurus mata Rimba, menyisakan sedikit nada cemas di suaranya.

"Lalu, bagaimana soal perjanjian kemarin, Mas? Kamu tidak merubahnya, kan?"

Rimba tersenyum tulus lalu menggelengkan kepalanya mantap.

Jemarinya mengusap lembut punggung tangan Dayang, mencoba menghapus sisa keprihatinan wanita yang amat dicintainya itu.

"Tidak ada yang berubah, Dayang. Aku ndak akan pernah merusak mata pencaharian orang-orang yang sudah seperti keluargamu sendiri," tegas Rimba.

"Pabrik, pasar, dan pelelangan ikan, semuanya aman. Aku sudah membatalkan seluruh rencana penggusuran dan mengubah draft kerjasamanya menjadi kemitraan yang saling menguntungkan. Bang Jaka dan seluruh pedagang pasar tidak akan kehilangan lapak mereka."

Mendengar kepastian itu, senyum lega akhirnya terbit di bibir pucat Dayang.

Beban berat yang selama ini menghimpit dadanya seolah terangkat sepenuhnya.

Tok tok tok!

Pintu kamar VVIP terketuk tiga kali, lalu terdorong pelan.

Dio melangkah masuk dengan setelan jasnya yang rapi, membawa sebuah map dokumen tebal di tangan.

Namun, begitu melihat raut wajah semua orang yang sembap dengan mata memerah—ditambah aura emosional yang masih tersisa di ruangan—dahinya berkerut heran.

"Kok ramai sekali? Ada apa ini?" tanya Dio polos, mengalihkan pandangan bergantian dari Rimba, Dayang, hingga Bang Jaka.

Bang Jaka yang sedang duduk di kursi sofa mengusap hidungnya, lalu menyahut spontan dengan nada berseloroh.

"Ada adegan CEO mau loncat dari rooftop tadi, Yo."

"Hush! Sudah, jangan dibahas lagi, Bang!" potong Rimba cepat dengan wajah memerah menahan malu, membuat Bang Jaka dan Bintang terkekeh pelan di sudut ruangan.

Dio menggeleng-gelengkan kepala menggelitik, paham betul betapa nekatnya sang atasan kalau sudah menyangkut perasaan.

Kemudian ia mendekati ranjang Dayang dan menyerahkan map dokumen tersebut kepada Rimba.

"Pak Rimba, saya membawa kabar resmi dari kepolisian," ujar Dio dengan raut wajah berubah serius.

"Bayu sudah resmi ditangkap tim buru sergap di pelabuhan saat hendak kabur menyeberang ke Lampung. Semua barang bukti percobaan tindak kejahatannya sudah diamankan, dan proses hukumnya langsung berjalan tanpa ada celah untuk lolos."

Mendengar nama Bayu disebutkan, tubuh Dayang sempat menegang sejenak.

Namun saat mendengar kepastian bahwa lelaki biadab yang hampir merusak masa depannya itu kini sudah mendekam di balik jeruji besi, Dayang menghela napas panjang.

Beban ketakutan, ancaman, dan trauma ketakutan yang menghantuinya selama beberapa hari terakhir seketika runtuh.

Rimba menyadari perubahan raut wajah Dayang. Pria itu mendudukkan diri di tepi ranjang, lalu mengusap lembut kepala Dayang, menyalurkan rasa aman yang tak terhingga.

"Sudah tidak ada yang perlu ditakutkan lagi ya, Dayang. Dia ndak akan pernah bisa menyentuh atau menyakiti kamu dan Bintang lagi," bisik Rimba penuh kehangatan.

Bang Jaka, Bintang, dan Dio saling berpandangan, paham betul bahwa dua insan di hadapan mereka butuh waktu dan ruang berdua untuk merajut kembali benang-benang cinta yang sempat terputus.

Bang Jaka bangkit dari duduknya lalu menepuk pelan bahu Rimba.

"Yo wis, Rim. Nduk, Bang Jaka pamit pulang sebentar ya. Mau tengok lapak sama nyiapin baju-baju ganti buat kalian di rumah sakit."

"Iya, Bang. Terima kasih banyak ya," sahut Rimba tulus.

Dio melangkah mendekati Bintang sambil merangkul hangat pundak remaja itu.

"Ayo, Bintang. Kakak antar kamu kembali ke apartemen Pak Rimba dulu ya. Kamu harus istirahat dan makan yang benar."

"Mbak, Bintang pulang ke apartemen dulu ya? Mbak cepat sembuh, besok Bintang ke sini lagi," pamit Bintang lembut seraya mencium punggung tangan sang kakak. Dayang tersenyum manis dan mengangguk pelan, mengusap pipi adiknya dengan rasa haru.

Setelah Bang Jaka, Bintang, dan Dio berpamitan serta melangkah keluar, pintu kamar VVIP itu perlahan tertutup rapat.

Ruangan seketika dibalut keheningan yang hangat dan menenangkan.

Rimba menarik kursinya makin dekat ke sisi ranjang, lalu duduk dan perlahan menggenggam jemari mungil Dayang dengan kedua telapak tangannya.

Pria itu menatap dalam manik mata Dayang, memancarkan seluruh kasih sayang dan penyesalan yang kini tak lagi tertutup penyamaran.

"Masih sakit dada sama kakimu, Dayang?" bisik Rimba sangat lembut.

Dayang menggeleng pelan, mengulas senyum tipis yang amat manis di bibirnya yang pucat.

"Tidak terlalu, Mas. Karena Mas Rimba ada di sini."

Panggilan 'Mas Rimba' yang mengalir hangat—bukan lagi sentilan dingin 'Tuan Rimba'—membuat dada Rimba berdesir hebat.

Ia mengecup punggung tangan Dayang lama, membiarkan kehangatan menyatu di antara mereka, mengubur dalam-dalam bayangan pahit kebohongan dan menggantinya dengan masa depan yang penuh kepastian.

Di tengah keheningan kamar VVIP yang hangat, Rimba tak melepaskan genggaman tangannya sedikit pun.

Jemari sang CEO mengusap lembut punggung tangan Dayang, meresapi setiap detik kebersamaan yang nyaris sirna akibat kebodohan dan keputusasaannya sendiri.

Rimba perlahan bangkit dari kursi, lalu memajukan langkahnya hingga berlutut di samping ranjang.

Ditatapnya manik mata Dayang dengan sorot yang begitu dalam, tulus, dan penuh keseriusan.

"Dayang," panggil Rimba, suaranya bergetar menahan keharuan yang membuncah di dadanya.

"Kehidupanku sebelumnya penuh dengan angka, rencana bisnis, dan topeng yang harus aku pakai setiap hari. Tapi sejak mengenalmu, sejak merasakan ketulusanmu di pasar itu, aku baru paham apa artinya hidup yang sebenarnya."

Dayang terpaku, menatap wajah pria di hadapannya tanpa berkedip.

Air mata keharuan kembali menggenang di sudut matanya.

"Aku tahu, aku memulai segalanya dengan kebohongan. Aku sudah sangat menyakiti hatimu," lanjut Rimba, menggenggam kedua tangan Dayang lalu menempelkannya tepat di dadanya yang berdegup kencang.

"Tapi malam ini, di hadapan Tuhan dan di depanmu, tanpa penyamaran sebagai Bima, tanpa status sebagai CEO. Aku berdiri hanya sebagai seorang pria yang mencintaimu setulus jiwaku."

Rimba menghela napas panjang, merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru gelap.

Saat ia membukanya, sebuah cincin bermata berlian sederhana namun sangat anggun berkilau di bawah lampu kamar VVIP.

"Dayang, maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Maukah kamu berjalan bersamaku, melengkapi kekuranganku, dan mengizinkanku menjagamu, Bintang, serta keluargamu seumur hidupku?"

Tangis haru Dayang pecah seketika. Bukan lagi tangis kepedihan atau rasa terkhianati, melainkan tangis bahagia yang mengalir membasahi pipinya.

Gadis itu menatap cincin cantik itu, lalu beralih menatap mata Rimba yang memancarkan ketakutan akan penolakan sekaligus harapan yang teramat besar.

Dayang menganggukkan kepalanya perlahan dengan senyum paling manis yang pernah Rimba lihat.

"Iya, Mas Rimba. Aku mau," bisik Dayang lirih namun mantap.

Rimba memejamkan mata sejenak, mengucap syukur yang tak terhingga di dalam hatinya.

Dengan jemari yang gemetar bahagia, ia memasangkan cincin tersebut ke jari manis Dayang, lalu mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening gadis itu lama dan penuh rasa cinta.

1
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
😄
Muft Smoker
kebahagiaan dayang udh lengkap yx,,
suami yg sayang dan triam dayang serta Bintan apa adanya ,,
punya anak kembar yg lucu2 ,, punya keluarga lain seperti bang Jaka , Jamal dan para nelayan serta pedagang di pasar yg selalu solid ma dayang ,,

bahagia selalu dayang dan kluarga ,,


kak makasih buat cerita ny ,,
dtggu karya terbaru ny ,,
sukses trus kak ,,
Muft Smoker: sama2 kak pho ,, ☺️☺️☺️
total 2 replies
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up thor
Muft Smoker
km harus berusaha keras buat ngeluluhin hati dayang rimba ,, dayang itu hidup di dunia yg keras ,, JD tulang punggung keluarga demi adik ny ,,
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
Muft Smoker
akhirnya kebohongan terbongkar juga ,, menyisa kan kekecewaan bagi banyak org ,, terutama dayang ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Muft Smoker
nah kan ,, sudah ku bilang ,,, hapus penyamaran ,, sudah ku bilang ,, toh jujur saja ,, kalo dr awal kontrak ny begini ,, penjelasan ny jelas ,, tanpa kekerasan ,, mungkin dayang bisa berfikir ulang ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂
Muft Smoker
hati2 rimba jgn bermain terlalu jauh ,, nanti klo terbongkar dayang mengetahui sypa km sbnrnya ,, entah ap yg bakal gmn reaksi dayang ,, yg pasti bukan sesuatu yg bagus
Muft Smoker
hati2 rimba km milih lawan yg salah ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuut kak ,, cerita ny seruuu
Muft Smoker
yx kalian yg beres ma si dayang di jadiin ikan asin 🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
hai kak mampir lgi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!