**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**
Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.
Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.
Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.
Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.
Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...
**suamiku sendiri membunuhku.**
Aku pikir kematian adalah akhir.
Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.
Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.
Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.
Suamiku masih belum menjadi suamiku.
Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.
Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.
Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.
Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.
Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04 - PERMAINAN BARU
Adrian Varell.
Nama itu bergema di kepalaku sepanjang langkah menuju lantai teratas gedung Arlena Holding.
Dalam ingatanku di masa depan, Varell Group adalah raksasa bisnis yang nyaris tak tersentuh. Mereka dingin, agresif, dan selalu menjaga jarak dari intrik keluarga Arlena maupun Arkana. Namun di garis waktu ini, pria itu sudah menginjakkan kakinya di sini—sesuatu yang sama sekali tidak ada dalam ingatanku tentang tahun 2016.
Apakah kepulanganku ke masa lalu sudah mulai mengubah alur takdir?
"Masuk, Nadia."
Suara berat Ayah memecah lamunanku. Pintu ganda ruang kerja Direktur Utama terbuka lebar.
Ruangan itu masih persis seperti yang kuingat: rak buku kayu jati yang menjulang, aroma cerutu samar bercampur kopi hitam, dan dinding kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian.
Ayah berjalan ke balik meja kerjanya, mengambil map tebal berwarna biru gelap, lalu meletakkannya di hadapanku.
"Buka."
Aku melangkah maju, membuka dokumen tersebut perlahan. Mataku membelalak.
Proposal kerja sama proyek infrastruktur pelabuhan. Dan di lembar lampiran kedua, tertera nama konsorsium: Arkana Group.
"Keluarga Arkana menawarkan kemitraan modal untuk ekspansi jalur logistik kita," kata Ayah sambil menyandarkan punggungnya di kursi. "Tuan Arkana bahkan menyarankan agar putra sulungnya, Ryan, mulai memegang kendali teknis di lapangan. Dia ingin Ryan belajar langsung di sini."
Jantungku berdegup kencang, tapi kali ini bukan karena cinta, melainkan amarah dingin yang tertahan rapi di balik dada.
Inilah awalnya.
Di kehidupan pertama, proyek pelabuhan inilah pintu masuk Ryan ke dalam internal keluarga Arlena. Dari sini, Ryan perlahan mendapatkan kepercayaan Ayah, menempatkan orang-orang kepercayaannya di divisi keuangan, sebelum akhirnya mengalihkan seluruh aset kami ke perusahaan cangkang di luar negeri.
Dan pada akhirnya... menusukkan pisau ke dadaku.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Ayah tiba-tiba.
Aku mengangkat pandangan, menatap Ayah lurus. "Tolak, Yah."
Alis Edward Arlena terangkat tinggi. Ada keterkejutan nyata di matanya yang tajam. "Tolak? Kau bahkan belum membaca rincian pembagian keuntungannya, Nadia."
"Rasio pembagian keuntungannya tidak masuk akal jika melihat beban risiko yang sepenuhnya ditanggung Arlena Holding," jawabku tanpa ragu, mengingat kembali dokumen audit yang kubaca sebelum kematianku. "Keluarga Arkana hanya memasukkan modal ventura awal sebesar tiga puluh persen, tapi mereka menuntut hak audit penuh atas izin konsesi tanah kita. Jika ada audit internal sebelum izin terbit, mereka bisa menuntut penalti ganti rugi yang nilainya tiga kali lipat dari modal awal. Itu bukan kemitraan, Yah. Itu jebakan likuiditas."
Hening merayapi ruangan.
Ayah menatapku lekat-lekat. Matanya menyipit, seolah sedang membedah sosok anak perempuan berusia sembilan belas tahun yang berdiri di depannya. Tidak ada kecerobohan remaja di sana. Tidak ada kepolosan yang biasa ia lihat.
"Dari mana kau belajar membaca klausul kontrak seperti itu?" suara Ayah terdengar rendah dan berhati-hati.
Aku tersenyum tipis, menyembunyikan getaran di jemariku. "Aku banyak membaca buku di perpustakaan Ayah akhir-akhir ini. Kalau Arlena Holding butuh mitra strategis, kenapa bukan Varell Group?"
Ekspresi Ayah mengeras saat nama itu kusebut. "Adrian Varell pria yang berbahaya, Nadia. Dia tidak berbisnis dengan belas kasihan."
"Setidaknya dia tidak berpura-pura menjadi sekutu untuk mencuri dari belakang," sahutku tenang. "Bukankah pria yang berbahaya lebih mudah diantisipasi daripada musuh yang memakai topeng kawan?"
Ayah terdiam cukup lama. Ketukan jarinya di atas meja menjadi satu-satunya suara di ruangan itu. Sebelum Ayah sempat menjawab, pintu ruangan diketuk pelan. Sekretaris Ayah melangkah masuk dengan ragu.
"Maaf mengganggu, Tuan Edward. Nona Selena Marvia ada di lobi bawah bersama Tuan Muda Ryan Arkana. Mereka mengatakan ada janji temu makan siang dengan Nona Nadia."
Nama Selena dan Ryan terucap dalam satu napas.
Darahku berdesir dingin. Dua orang yang merenggut nyawaku, kini berdiri di lantai bawah, menungguku dengan senyuman palsu mereka.
Ayah melirikku, menanti bagaimana aku akan merespons.
Aku merapikan ujung bajuku, lalu mengangkat dagu dengan senyum paling manis yang bisa kubentuk. "Katakan pada mereka untuk menunggu di kafe lobi. Aku akan turun sekarang."
Aku berbalik dan melangkah menuju pintu. Tepat saat tanganku menyentuh gagang pintu, suara Ayah menghentikanku.
"Nadia."
Aku menoleh.
"Jaga dirimu. Tatapan matamu hari ini... terlalu dingin untuk gadis seusiamu."
"Dunia tidak selalu ramah pada orang yang terlalu hangat, Yah," jawabku pelan sebelum melangkah keluar.
Di dalam lift menuju lantai dasar, aku mengeluarkan ponsel. Pesan dari Selena masih terpampang di sana. Aku mengetik balasan singkat:
Aku turun sekarang. Ryan juga bersamamu, kan? Baguslah, ada hal penting yang ingin kukatakan pada kalian berdua.
Saat pintu lift terbuka, aku melihat mereka.
Ryan Arkana yang masih berusia dua puluh satu tahun, mengenakan kemeja biru muda dengan senyum menawan yang dulu membuatku bertekuk lutut. Di sampingnya, Selena Marvia tampak anggun dengan gaun musim semi, menatap Ryan dengan binar mata yang kini bisa kubaca dengan sangat jelas.
Mereka belum tahu siapa aku sekarang.
Mereka mengira sedang menyambut seekor domba yang penurut. Padahal, mereka baru saja membukakan pintu untuk pemangsa yang baru bangkit dari liang kubur.
Aku melangkah maju menghampiri meja mereka.
"Hai, Selena. Hai, Ryan."
Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, akulah pemegang kendalinya.
Bersambung...